
"bagaimana? Apakah paspor Zeni sudah bisa diambil?" Tanya Paemin kepada anak buahnya melalui ponsel.
("Sepertinya sedikit terlambat bos"..)
"Maksudmu dua hari lagi aku belum bisa keluar negeri?" Tanya Paemin lagi.
("Sorry bos, akan kami usahakan secepatnya"..)
Paemin nampak sedikit kecewa,,
Tok,,tok,,tok,,
"Permisi tuan, sarapan sudah siap"..
"Baiklah,, bagaimana dengan gadis itu, apa dia sudah turun?" Tanya Paemin.
"Saya belum sempat ke kamarnya tuan,, apa perlu saya memanggilnya?"..
"Biar aku saja,," ucap Paemin.
.
.
.
Paemin pun pergi kekamar Zeni dan mendapati Zeni sedang memakai pakaian, dia mengenakan dress merah selutut dan ada pita dibelakangnya, dia nampak sedikit kesulitan menaikan resleting yang berada dipunggungnya.
"Dress ini nampak cantik saat kau kenakan" ucap Paemin dari belakang Zeni sembari menaikan resletingnya.
"Bukankah tidak sopan masuk ke kamar seorang wanita tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" Ucap Zeni sedikit kesal.
"Maaf, kukira kau sengaja menggodaku dengan membiarkan pintu kamar tidak terkunci, aku hanya ingin mengajakmu sarapan,," jawab Paemin.
Mereka pun pergi kebawah untuk sarapan..
("Setelah ini aku harus menjelaskan semua kepada dia" ucap Zeni dalam hati).
.
.
.
"Selesai ini apa kau ingin pergi jalan-jalan denganku ke taman belakang?" Tanya Paemin.
Zeni pun sudah selesai sarapan. "Kak, sebenarnya untuk saat ini apa yang kau rencanakan? Aku bukan boneka yang bisa kau atur sesuka hatimu.." ucap Zeni.
Suasana pun menjadi tegang "lalu, saat kau bersama dengan Jendral itu, apakah dia tidak mengaturmu?!" Tanya balik Paemin.
"Setidaknya aku mencintainya,, tapi dengan dirimu, sama sekali aku tidak merasakan apapun,," jawab Zeni.
"Apa yang kau sukai darinya dan apa yang membuatmu tidak menyukaiku?" Tanya Paemin.
"Aku tak ingin menjawab pertanyaan seperti itu,, dan lagi apa kau mencintaiku? Hmmm.....? Tidak! Kau hanya memanfaatkanku untuk membalas dendam! Jadi kumohon jangan libatkan aku dalam urusan pribadi kalian,," ucap Zeni.
("Hech,,! Jadi menurutmu setelah yang kulakukan ini aku hanya berpura-pura mencintaimu?!" Ucap Paemin dalam hati).
"Kalau begitu sekarang apa maumu?" Tanya Paemin.
"Aku ingin kembali..!" jawab Zeni singkat.
Paemin pun menghela nafas, kemudian berkata "baiklah, kau di ijinkan, tapi dengan syarat!"
"Apa Syaratnya?" Tanya Zeni.
"Malam ini juga besok malam, tidurlah bersamaku, puaskan diriku! Dan lusa kau bebas, kau boleh pergi dari sini dan kita tidak akan bertemu lagi, tapi jika kau tidak mau melakukannya, kita akan pergi keluar negeri dan tinggal bersama, kita akan memulai hidup baru disana.. dan saat ini jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan tahu konsekuensinya!" ucap Paemin dengan tegas, kemudian berlalu dari meja makan dan meninggalkan Zeni sendirian disana.
.
.
.
("Aku harus bagaimana ini?!!!! Kenapa hidup begini amat yak!! Huuu,,,huuuu,,,,huuuuu, kalau tidur dengannya bukankah itu namanya cari mati, bagaimana dengan Jendral,, kenapa dia tidak mencariku, apa iya, tempat ini sangat sulit untuk ditemukan.. Oouch bagaimana ini!! Ucap Zeni dalam hati). Zeni yang masih dimeja makan nampak terlihat sedih dan hal itu diketahui oleh para asisten rumah tangga.
"Kak,, sepertinya Tuan kita dan Nona Zeni sedang bertengkar, lihatlah gadis itu, bukankah dia nampak sangat sedih,,dan juga Tuan Paemin meninggalkannya begitu saja, aku dengar dari pembicaraannya tadi sepertinya Tuan Paemin marah karena nona Zeni tidak mau tidur dengannya, dan jika sampai lusa masih tidak mau, nona Zeni disuruh pergi dari sini (pendengaran jarak jauh yang tidak tepat, dan akhirnya menjadi petaka)...." Ucap asisten satu.
"Hach,, benarkah? Kenapa Tuan tega sekali, bukankah dia sangat menyayangi Nona Zeni, aku pernah melihat mereka saat Tuan memintaku menjemput seorang gadis kecil dan membawanya ke Restoran milik Tuan Paemin, kemudian tak sengaja aku melihat mereka nampak mesra sekali, didepan toilet, saat itu Nona Zeni terlihat sangat antusias, uuuuch,, (satu lagi ini, asisten suka salah sangka, bagi para pembaca yang lupa kejadiannya, bisa cek lagi di episode 10) tapi mungkin saat ini mereka benar-benar sedang tidak rukun,, ceeck....ceeeck...ceck...kasian sekali" ucap asisten dua.
"Entahlah"..
__ADS_1
.
.
.
Tak berapa lama, para asisten pun membersihkan meja makan tersebut.
"Nona, kami akan membereskannya,," ucap asisten satu.
"Aach maaf, aku terlalu lama disini, jadi mengganggu pekerjaan kalian" ucap Zeni.
"Eech sama sekali tidak mengganggu, Nona Zeni jika masih ingin disini silahkan,,".. ucap asisten dua.
"Tidak, tidak,, oya boleh saya bantu,, kebetulan saya tidak ada pekerjaan" tanya Zeni.
"Jangan Non, kalau sampai Nona menyentuh ini, kami akan dipecat" jawab asisten satu.
"Jadi begitu,, baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian" ucap Zeni, sembari meninggalkan meja makan dengan lesu.
("Huch mungkin rencana yang terbaik adalah, aku akan ikut keluar negeri, setelah itu baru merencanakan untuk kabur, tapi sebelumnya aku harus mempunyai uang cukup banyak untuk kabur" Zeni dalam hati, sambil berjalan kearah tangga untuk menuju kamarnya).
.
.
"Kasiannya gadis itu,, dia terlihat sangat baik, kenapa Tuan begitu marah padanya,," ucap asisten dua yang nampak prihatin dengan hubungan keduanya.
"Ahaaa,, aku punya ide kak,, bagaimana jika nanti malam kita .....weeesewesewwawes(berbisik ketelinga asisten dua)" ucap asisten satu.
"Hee,,,heeee,,, oke,,,,,"...
.
.
.
.
.
.
Paemin nampak duduk di samping rumah didepan sebuah kolam renang, sambil memandangi ponselnya yang sudah berganti nomor.
"Tuan teh nya saya taruh disini"..
"Oke.."
.
.
Zeni dari dalam nampak melihat Paemin, ("hach,, sepertinya suasana hatinya sedang baik" ucap Zeni dalam hati). Zeni pun segera menghampirinya.
"Kau?".. Paemin melihat kearah Zeni yang mengenakan gaun tidur panjang, dia terlihat sangat anggun.
"Apa kau sudah memikirkannya?" Tanya Paemin.
Zeni pun mengangguk.
"Lalu?" Tanya Paemin lagi.
"Aku akan ikut denganmu ke luar negeri,, tapi beri aku Rp. 20.000.000,- dan juga kartu identitasku, dan pasporku, dan ponselku, aku harus menerima itu semua sebelum kita berangkat" ucap Zeni dengan percaya diri sembari duduk dikursi yang bersebrangan dengan Paemin.
("Rp. 20.000.000,- bukankah itu nominal yang terlalu sedikit, apa dia meremehkanku" ucap Paemin dalam hati sambil tersenyum melihat sikap Zeni yang lucu).
"Rp. 20.000.000,- akan kuberikan,, namun kartu identitas, paspor dan ponsel, tidak!" Jawab Paemin.
"Iiich,, kenapa?! Hhaaaaaciing... (suara Zeni bersin)!!" Tanya Zeni yang sedikit cemberut.
"Aku tahu kau akan melarikan diri" jawab Paemin singkat sambil melihat kearah ponsel.
"Tapi kan,, hhaaaa,, hhaaaacing!!!" Zeni belum selesai dengan kalimatnya, sepertinya dia mulai kedinginan.
Paemin yang melihat Zeni bersin-bersin segera menggenggam tangan Zeni "kau kedinginan,, minumlah teh ini dulu, dia bisa membantu menghangatkan tubuhmu ".. pinta Paemin.
Zeni pun meminum teh yang seharusnya dibuat untuk Paemin, dia merasa sedikit lega.
"Ayo kita masuk kedalam, disini terlalu dingin" ajak Paemin.
__ADS_1
Disisi lain asisten satu selalu mengikuti pergerakan Paemin dan Zeni, kemudian dia buru-buru kebelakang.
"Kak,,, kak,,, gawat!!!!!!!" Ucap asisten satu.
"Gawat kenapa,,? Obatnya sudah bereaksi?" Tanya asisten dua.
"Bukan, bukan itu, tapi teh yang berisi obat itu, diminum oleh Nona Zeni" jawab asisten satu.
"Apa?!! Kau ini bagaimana? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menyerahkan kepada Tuan!!!" Tanya asisten dua yang mulai khawatir.
"Aku sudah menyerahkannya, tapi ntah bagaimana, teh itu diminum oleh Nona Zeni.. bagaimana ini kak?" Asisten satu pun turut panik.
"Kita harus memastikan Nona Zeni berada dikamarnya agar tidak terjadi sesuatu, kalau Tuan sampai tahu kita menaruh obat perangsang diminumannya, dia akan marah besar,," ucap asisten dua.
"Oke"..
.
.
.
"Nona Zeni apakah kau kedinginan? Saya akan mengantar anda ke kamar anda,," ucap asisten dua.
"Ech, sebenarnya sudah tidak terlalu dingin kok,," ucap Zeni.
"Tapi wajah anda terlihat pucat,, sebaiknya anda istirahat" pinta asisten dua.
"Iya, istirahatlah.." ucap Paemin.
Zeni nampak bingung "hmm baiklah, tapi tidak perlu mengantarku,, aku tidak apa-apa"..
("Kenapa asisten itu aneh sekali sikapnya,, ach,, kenapa tubuhku jadi sedikit panas, mungkinkah teh itu mengandung gingseng,, uuch" ucap Zeni dalam hati sembari jalan ke kamarnya).
.
.
.
"Huch,, aman,,kita bisa istirahat malam ini" ucap asisten satu dan memberi senyum ke asisten dua.
"Tos"...
.
.
.
Tak beberapa lama Paemin yang juga akan pergi ke kamarnya, kamar Paemin melewati kamar Zeni, kemudian dia memeriksa pintu kamar Zeni apakah dikunci atau tidak.
"Hech, kebiasaan sekali gadis ini,,kenapa dibiarkan tidak terkunci,," gumam Paemin, dia pun masuk kamar Zeni namun tidak melihat Zeni ditempat tidurnya.
"Zen,,Zeni,,, Zeniiiii!!!!" Paemin mencari disekitar kamar, dan membuka pintu kamar mandi, tapi pintu itu terkunci dari dalam.
"Zeni! Apa kau di dalam?" Tanya Paemin sambil menggedor-gedor pintunya.
Paemin yang mulai panik karena takut Zeni akan melakukan percobaan bunuh diri atau semacamnya, akhirnya dia mendobrak pintu kamar mandi itu.
Dan didapatinya Zeni berendam didalam bak air dan menyemprotkan air ketubuhnya.
"Aaaach,, kenapa rasanya begini,,seseorang tolong aku..aaach,,aaachh,, aaaach,," ucap Zeni yang mulai merasakan reaksi obatnya.
"Zen,, Zeni kau tidak apa?" Ucap Paemin yang mengeluarkan Zeni dari bak mandi.
"Aaaah kak, tolong aku, aku tidak tahan lagi.. kak..." Zeni memohon kepada Paemin sambil memegangi kerah Paemin.
Paemin sadar Zeni terpengaruh dengan obat.
"Tenanglah,," ucap Paemin dengan lembut.
Namun Zeni mulai merengek "Aaaaaaaaa!! Cium aku kak"..
Paemin pun menciumnya.
"Masih belum cukup,, lagi,,"..
Paemin memberikannya lagi dan lagi.
Zeni semakin memuncak,, "Kak, berikan aku lebih dari ini,,kumohon"..
__ADS_1
Paemin pun mengangkat tubuh Zeni ketempat tidurnya.