MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni & Qei 6


__ADS_3

"sst..ssst... Jendral apa kau mengigau?" Ucap Zeni lirih sembari melambai-lambaikan tangannya.


Tiba-tiba Qei membuka matanya kemudian melihat kearah Zeni. Qei langsung terbangun dari tidurnya dan memeluk Zeni.


Qei memeluknya dengan sangat erat.


"Jen...jen.... Ach.. jendral!! Ini terlalu sesak, tolong lepaskan...." ucap Zeni yang mulai merasa kehabisan nafas.


Qei yang sadar pun akhirnya segera melepaskan pelukan itu.


"Maaf..." Ucap Qei.


"Saya membawakan anda makanan dan obat, makanlah Jendral dan minum obatnya, kemudian anda bisa istirahat lagi..." Pinta Zeni.


Qei tidak terlalu menanggapi ucapan Zeni, namun dia melihat jam yang ada diponselnya.


("Hmm,, pukul sepuluh malam..." Batin Qei).


Qei pun beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil kunci mobilnya.


"Aku harus kembali..." ucap Qei yang sedikit buru-buru.


("Dia tidak memperhatikanku.." ucap Zeni dalam hati yang tiba-tiba kesal).


"Apakah anda baru saja mengabaikan saya?" Ucap Zeni kesal seraya berdiri dari duduknya dan melipat kedua tangannya didepan dadanya kemudian berjalan dengan cepat kearah Qei yang hendak keluar.


"Maaf, tapi aku harus segera kembali..." Ucap Qei, yang geraknya dihalangi oleh Zeni.


"Seberapa penting sampai anda mengabaikan kesehatan anda sendiri, mengabaikan wanita yang katanya anda cintai dan ...... ("iizt kenapa harus keluar kalimat ini sich" batin yang bertolak dengan ucapan), lalu apa gunanya anda melatih Jisung setiap hari, jika anda sakit pun tetap harus anda yang maju?!!! Sekarang kembali ketempat tidur anda, habiskan makanan itu dan minum obatnya!" Ucap Zeni tegas.


"Tapi.." Qei.


"Jangan membantah!!!!" Ucap Zeni lagi dengan nada lebih tinggi.


Qei pun akhirnya menuruti setiap kalimat Zeni dan memakan dengan lahap semua makanan yang Zeni bawa.


Zeni mengawasi Qei dari sofa depan tempat tidur Qei.


"Jangan lupa, hubungi Kak Jisung untuk menggantikan anda, sementara anda istirahat" Ucap Zeni yang masih mengomel disaat Qei makan.


"Baik.." Qei yang terlihat sangat manis ketika menjadi budak cinta penurut.


.


.


Qei sudah selesai makan dan meminum obat.


"Istirahatlah jendral, saya akan menunggu anda disini" ucap Zeni sembari duduk disamping tempat tidur Qei.


"Apa kau tidak mau tidur disampingku?" Tanya Qei yang pura-pura polos.


Zeni hanya memberi lirikan mematikan, kemudian "baiklah aku akan keluar dari sini" ucap Zeni sambil beranjak.


"Ech jangan,, tolong tetaplah disini, temani aku sampai terlelap" pinta Qei sembari tangannya menahan tangan Zeni agar tak meninggalkannya.


Zeni pun menunggu Qei dengan sabar, tak beberapa lama obat yang diminum Qei bereaksi, Qei mulai terkantuk dan tidur.


Zeni yang melihat Qei sudah terlelap lagi, segera merapikan selimut Qei dan meninggalkannya untuk pergi kekamar Elia.


.


.


.


"Ehm,, Elia kau belum tidur? Sudah jam berapa ini?" Tanya Zeni yang baru saja masuk kekamar Elia dan mendapati Elia masih bermain PABJI.


"Iya sebentar lagi.." ucap Elia dengan mata dan jarinya masih sibuk dengan ponselnya.


Zeni hanya menggelengkan kepalanya kemudian memeriksa ponselnya sendiri.


.


.


.


Tak beberapa lama Elia pun selesai dengan permainan diponselnya dan segera menghampiri Zeni dan tidur dipelukannya.


"Cepat tidur, besok kau harus sekolah...." Ucap Zeni, sambil memeluk Elia.


"Kau juga cepat tidur, besok harus berangkat kerja.." timpal Elia yang tak mau kalah.


"Dasar anak kecil...." ucap Zeni seraya mencubit hidung Elia dengan lembut.

__ADS_1


"Sana tidur..," ucap Zeni lagi sambil melepas pelukannya dan membiarkan Elia tidur disampingnya.


"Bagaimana dengan ayah?" Tanya Elia.


"Ayahmu juga sudah tidur, dia hanya kurang istirahat saja" jawab Zeni.


Tak selang berapa lama, Elia pun akhirnya tertidur juga.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi pukul empat dini hari, Zeni terbangun dari tidurnya dan berniat ingin melihat kondisi Qei. Zeni pun turun kelantai satu namun mendapati Qei sudah terbangun dan sedang mencuci wajahnya.


"Jendral..." Ucap Zeni sedikit berbisik.


"Hmmm, Zen... Kau sudah bangun.." Qei.


"Apakah anda berencana pergi sepagi ini?" Tanya Zeni sambil menyerahkan handuk kepada Qei.


"Iya, pagi ini aku ada urusan yang harus aku hadiri sendiri..." Jawab Qei singkat.


("Dalam kondisi seperti ini dia masih memikirkan pekerjaannya" ucap Zeni dalam hati).


Kemudian Zeni memeriksa suhu badan Qei ("hmm.. suhu badannya sudah kembali normal, syukurlah.." batin Zeni).


"Anda yakin akan pergi?" Tanya Zeni lagi.


"Tentu" jawab Qei sembari mengenakan kaos kaki.


Zeni pun keluar dari kamar Qei, dia pergi kedapur untuk membuatkan Qei secangkir jahe hangat dan membawanya kekamar Qei.


"Jendral, minumlah dulu sebelum berangkat, agar tubuh anda lebih hangat...." Pinta Zeni.


Qei yang sudah selesai mengenakah sepatunya, segera berdiri dan menatap Zeni yang membawakannya minuman.


"Terimakasih...." Ucap Qei seraya meminum jahe hangat tersebut.


("Kalau saja hubungan kita saat ini masih berlanjut, mungkin sekarang ini aku sudah memelukmu dan menciumu" ucap Qei dalam hati).


.


.


.


.


.


Setelah Qei pergi, Zeni kembali kekamar Elia, terlihat Elia sudah bangun dan berada dipintu masuk kamarnya.


"Hei..., Kau sudah bangun kenapa tidak turun menyapa ayahmu? Sekarang dia sudah pergi..." Tanya Zeni sembari mengajak Elia masuk kekamarnya lagi.


"Hmm Zeni, apa hubunganmu sedang tidak baik dengan ayahku?" Tanya Elia balik.


"Kenapa kau tanya seperti itu?" Tanya Zeni kembali.


"Dari semalam aku melihat kalian sangat canggung satu sama lain, tidak seperti terakhir kali kita bertemu waktu itu...." Jawab Elia.


"Tak kusangka kau pandai menebak, hiiiizt tidak salah kalau kau itu memang anaknya seorang jendral..." Ucap Zeni.


"So.........?????!!!!" Elia yang sudah tidak sabar untuk mengetahui ceritanya.


"Kau itu masih anak kecil, tak akan paham, dalam suatu hubungan bertengkar itu hal yang biasa, kau tak perlu ikut campur urusan orang dewasa...." Jawab Zeni.


"Jadi hubungan kalian kira-kira berlanjut atau tidak?" Tanya Elia yang semakin penasaran.


"Hmmmm...., Tergantung, kenapa? Kau takut ayahmu mencari wanita lain untuk dijadikan ibu barumu? Heemmmm?" Goda Zeni.


"Iiiizt... Aku sih cuek, terserah ayah mau berhubungan dengan siapa, asalkan kau dan aku masih tetap saling komunikasi, itu sudah cukup bagiku, lagipula aku selalu bersama nenek, aku jarang sekali bersama ayah, jadi aku tidak terlalu memperdulikannya...." Jawab Elia sambil cengingisan dan memegangi ponselnya.


"Hiizt, dasar anak durhaka kau ya..." Ucap Zeni yang sambil memeluk Elia.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi hari.


Zeni sampai ditempat kerjanya seperti biasa satu jam lebih awal untuk melakukan tugasnya terlebih dahulu membersihkan ruangan Daniel.


.


.


.


.


.


Disisi lain Qei dan Jisung dalam perjalanan menuju showroom milik Daniel.


"Siapa lagi yang akan kita temui kak?" Tanya Jisung didalam mobil yang duduk dikursi belakang sebelah Qei.


"Daniel.." ucap Qei singkat.


"Hmm, Daniel kakaknya kista mantan kekasihmu itu?" Tanya Jisung lagi.


"Iya...," jawab Qei.


"Bukankah kau sendiri yang bilang, tidak akan berurusan dengannya lagi?" Ucap Jisung.


"Kau benar, namun dia memiliki cukup banyak bukti mengenai kasus penyalahgunaan wewenang yang telah dilakukan oleh Pejabat Luho" jawab Qei.


"Wow... Beberapa tahun yang lalu ayahmu bisa memenjarakan anaknya Tuan Luho, dan sekarang kau pun akan memenjarakan Tuan Luho.. hiiiizt tak bisa kubayangkan betapa dendamnya suatu saat nanti keluarga itu padamu kak..." Ucap Jisung.


"Haich, bicara apa kau ini..... Ayo turun" ucap Qei, mobil mereka sudah sampai didepan showroom milik Daniel.


"Wach, tak kusangka Daniel memiliki bisnis sebesar ini,, hmmmm tapi bukankah ini tempat kerja Zeni?" Guman Jisung kepada Qei, namun Qei tak menanggapinya.


.


.


.


.


.


Didalam ruang kerja Daniel.


Kriiing...kriiiing....kriiing.... (Telepon didalam ruang kerja Daniel).


"Ya?" Ucap Daniel.


("Manager, tamu anda sudah datang" ucap resepsionis yang berada dilantai satu).


"Och, antar segera mereka keruanganku" pinta Daniel.


("Baik").


Daniel menutup teleponnya.


Kemudian,


"Zen, tolong bantu aku mengenakan dasi ini" pinta Daniel kepada Zeni yang kebetulan masih berada diruangannya.


Zeni pun segera membantunya seperti biasa.


.


.


.

__ADS_1


Tok...tok...tok.....


__ADS_2