
("Hmm, tapi untuk apa dia pergi ketempat perlengkapan bayi????" gumam Zeni lagi dalam hati sambil memandangi Daniel yang sedang menyetir mobilnya).
.
.
.
"Ada apa kau memandangiku? Aku tampan ya?" Goda Daniel.
"Iiizt! Anda terlalu percaya diri" ucap Zeni sembari memalingkan wajahnya kedepan.
"Lalu kenapa?" Tanya Daniel sambil melirik Zeni.
"Kenapa anda belanja kebutuhan bayi?" Tanya Zeni.
"Och, ini untuk adikku, dia akan segera melahirkan, namun belum melakukan persiapan apapun, jadi aku membawamu untuk membantuku belanja semua kebutuhannya ... " Jawab Daniel.
"Hmmmm, jadi begitu ... " Gumam Zeni.
("Kenapa bukan suaminya saja yang melakukan itu semua, atau jangan-jangan mmmm..., " Ucap Zeni dalam hati).
.
.
.
"Nach Zen, kita sudah sampai ... " Ucap Daniel sembari memarkirkan kendaraannya.
Daniel pun turun terlebih dahulu dari mobilnya, kemudian membukakan pintu untuk Zeni, Zeni pun turun dari mobil tersebut dengan anggunnya, dia mengenakan dress berwarna merah maroon sangat sesuai dengan kulitnya, high heels berwarna senada dan rambut yang terurai panjang, membuatnya semakin terlihat menarik, sesaat Daniel dibuat terhipnotis oleh kecantikan Zeni.
("Cantiknya ..., Kapan dia jadi milikku ... Haich! Sepertinya masih butuh waktu cukup lama untuk memenangkan hatinya ..." gumam Daniel dalam hati, sembari memandangi Zeni dari atas sampai kebawah hal itu membuatnya ketagihan dan ingin terus melakukannya).
"Manager! Jangan melihatku seperti itu!!!" Ucap Zeni kesal melihat Daniel selalu memperhatikannya.
"Biarkan saja, aku belum puas melakukannya, lagi pula hanya memandang saja" timpal Daniel.
"Hiizt, itu membuatku tidak nyaman ... " Ucap Zeni.
"Aku tak habis fikir, bagaimana kau bisa menjalani hidupmu dengan banyak mata selalu memperhatikanmu? Kau begitu menarik, sulit bagi seseorang untuk tidak memandangmu, jika kau berada disekitar mereka, lihatlah seperti sekarang ini, pria maupun wanita mereka mencuri pandang padamu ... " Ucap Daniel seraya mereka berdua masuk kedalam toko perlengkapan bayi yang sangat besar.
Zeni pun selama ini tidak terlalu memikirkan hal tersebut jika bukan karena Daniel mengingatkannya, akhirnya dia mengangkat kepalanya dan mencoba melihat sekeliling, dan benar saja, banyak mata yang mengaguminya, entah kenapa Zeni jadi senyum-senyum sendiri.
"Manager ... " panggil Zeni genit dan sedikit manja kepada Daniel yang berjalan disampingnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Daniel.
"Apa saya secantik itu ... He ... He ... He ... " Ucap Zeni yang tersipu dan sedikit narsis.
"Hech, apa kau bahagia? Tentu saja kau sangat cantik" ucap Daniel.
Walaupun Zeni sudah mengetahuinya, tapi tetap saja dia malu saat seseorang mengatakannya.
Kemudian mereka pun melanjutkan berbelanja kebutuhan bayi untuk keponakan Daniel yang akan segera lahir.
.
.
.
.
.
.
Disisi lain, Qei baru saja sampai ke showroom milik Daniel, yang kebetulan arahnya searah dengan urusan pekerjaan setelahnya.
"Lihatlah-lihatlah pria tampan itu datang lagi, Wooow ... " ...
"Dengar-dengar dia seorang duda anak satu, isterinya meninggal saat melahirkan, dan sampai saat ini belum menikah" ...
"Benarkah, wah ..., Apa kira-kira kita punya kesempatan ya? Hi ... Hi ... " ...
Beberapa cuapan-cuapan dimeja resepsionis sebelum akhirnya Qei datang pada mereka, sampai pada, "Ech, dia datang, dia datang" ucap salah seorang dari karyawan itu dengan sedikit berbisik.
"Bisa bertemu dengan manager kalian?" Tanya Qei kepada resepsionis.
"Apakah sudah ada janji sebelumnya?" Tanya salah seorang resepsionis tersebut kepada Qei.
"Belum, kebetulan aku sedang lewat dan kebetulan juga ada keperluan, jadi aku mampir sekalian, siapa tahu manager kalian ada waktu untukku ... " Ucap Qei.
"Mohon maaf Tuan, manager kami sedang berada diluar, apa anda akan menunggunya? Saya akan menghubunginya untuk anda, agar bisa memastikan kapan beliau pulang" ucap resepsionis.
" Ooch jadi begitu, biarkan saja, mungkin lain kali dulu, aku akan membuat janji, terimakasih" timpal Qei sembari senyum ramah dan meninggalkan tempat itu.
"Waaaaach ya ampun, lihatlah dia baru saja tersenyum padaku ... " Ucap resepsionis tersebut kepada rekannya dengan sedikit berbisik.
Qei pun berjalan menuju mobilnya yang kebetulan hanya terparkir didepan pintu masuk showroom tersebut, namun belum sempat Qei masuk ke mobilnya, mobil Daniel pun sudah berada dibelakang mobilnya dan Daniel pun segera turun untuk menyapa Qei, namun sebelum itu, tak lupa dia membukakan pintu untuk Zeni terlebih dahulu.
__ADS_1
Qei sedikit terkejut melihat Zeni turun dari mobil Daniel, sama seperti lainnya, penampilan Zeni pun membuat Qei seketika terhipnotis.
"Och, hai Jendral!" Sapa Daniel, yang membuat fantasi Qei seketika hilang.
"Hmm ya ... " Jawab Qei singkat yang pandangannya masih sebentar- sebentar mengarah kearah Zeni.
"Manager, saya masuk terlebih dahulu" ucap Zeni kepada Daniel.
"Oke ... " Jawab Daniel.
Kemudian kembali kepada Qei "Tiba-tiba sekali kemari? Sepertinya ada keperluan mendesak?" Tanya Daniel.
Pandangan Qei masih mengarah pada Zeni yang berlalu meninggalkan Qei dan Daniel, namun saat itu, Qei sama sekali tidak terlalu menumpuk amarah di dirinya saat sebelumnya melihat Daniel dan Zeni dalam satu mobil. Daniel yang menyadari Qei selalu memperhatikan Zeni pun menegurnya "Ehem ...!"
Dan akhirnya mata Qei beralih menuju Daniel "hmmm, kebetulan tadi aku lewat sini dan kebetulan juga ada yang ingin kubicarakan sedikit hal denganmu, itupun jika kau ada waktu" ucap Qei.
"Och, tentu saja, katakanlah apa yang bisa kubantu ..." pinta Daniel.
"Aku butuh informasi yang kau ketahui mengenai saksi besar yang telah dibicarakan oleh Jisung padamu waktu itu, kau tentu masih mengingatnya bukan?" Tanya Qei.
"Hmmmm ... Tentu saja aku masih mengingatnya, dan bukan berarti aku tidak ingin membantumu, hanya saja ya seperti biasa, setidaknya aku mendapatkan keuntungan dari informasiku" ucap Daniel.
("Aku sudah yakin dia akan mengatakan hal ini, sebagaimana pada waktu itu juga dia memintaku untuk melacak keberadaan seseorang yang telah menghamili adiknya, kali ini apa lagi yang diinginkannya ...," Gumam Qei dalam hati).
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Tanya Qei.
"Menjauhlah dari Zeni sampai kapanpun" pinta Daniel.
"Hech! Bukankah setahuku kau bukan lelaki macam itu, kau hanya suka bermain-main dengan wanita, untuk apa aku menjauhinya, sedangkan cepat atau lambat kau juga akan bosan dengannya" ucap Qei.
"Awalnya memang seperti itu, namun seiring berjalannya waktu, aku benar-benar ingin nemilikinya sepenuhnya" ucap Daniel yang nampak tulus dengan ucapannya.
"Kau mengatakan ini terlihat begitu serius, maka aku harus berhati-hati, baiklah kalau begitu kuanggap kau menolak untuk membantuku, aku pergi dulu ..." Ucap Qei sambil membuka pintu mobilnya.
"Jadi kau menolak untuk menjauh dari Zeni?" Tanya Daniel memastikan.
"Tentu saja, aku tidak akan melepaskannya ..." Jawab Qei dengan tegas.
Daniel tersenyum mendengar jawaban itu, seakan dia empunyai rival untuk mendapatkan cinta Zeni.
"Kalau begitu, hati-hati dijalan" ucap Daniel kepada Qei sembari mengangkat tangannya.
Qei pun segera berlalu dengan mobilnya.
.
__ADS_1
.
("Sepertinya aku harus lebih berusaha untuk mendapatkan hati Zeni" ucap Daniel dalam hati sembari berjalan menuju ruangannya).