MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni & Qei 2


__ADS_3

"Lapor Pak, tunangan anda ingin bertemu,,"


("Tunangan? Sejak kapan Kista membuat keputusan sebelah pihak"), Qei bingung.


"Suruh tunggu sebentar, aku segera turun" jawab Qei.


.


..


...


"Bagaimana Nona, makanan yang kami sediakan? Apakah sesuai dengan selera anda?"


"Ya,, ya,, lumayan" jawab Zeni sambil mengunyah makanan.


"Kalau begitu, apakah kita sudah impas, tolong maafkanlah kami, ini, ini silahkan tambah lagi, ini adalah daging terbaik yang saya pilihkan untuk anda, sangat rendah lemak, walau makan sebanyak apapun, tubuh anda tetap akan ramping"


"Baiklah, aku akan mengatakan kepada Tuan Jendral, kalau kau sangat baik dalam melayaniku.."


Ehem!!!


Dari belakang Zeni nampak berdiri Jendral Qei,,


Jendral Qei memberi kode mata kepada bawahan-bawahannya untuk meninggalkan mereka berdua.


Kemudian Jendral berdiri disamping Zeni,


"Bagaimana sudah kenyang atau belum, TUNANGANKU?!!!"


Zeni spontan kaget, dengan daging yang masih berada dimulutnya, ia menoleh kearah Jendral.


"Eech, Tuan? He,,,heee,,," Zeni sedikit takut.


Dan Jendral Qei pun, tanpa basa basi, langsung memapah tubuh Zeni yang ramping dan membawanya keruang kerjanya. Zeni yang kaget "Hey! Turunkan aku, turunkan, atau aku akan memanggilmu mesum! Banyak orang disini, TURUNKANNNN!!! Teriak Zeni.


"Memangnya kenapa? Bukankah kau tunanganku, bahkan jika aku menciummu di depan mereka, mereka pun juga tidak peduli" jawab Qei dengan santai, sambi berjalan kearah lift menuju ruang kerjanya.


"Bu,,bukan begitu,, tolong dengarkan penjelasanku dulu,,kumohon" ucap Zeni.


"Kita jelaskan di dalam saja" jawab Qei.


("Waaach ternyata jendral kita benar-benar agresif, bahkan dia sangat tidak sabaran ingin segera berduaan dengan tunangannya, aku semakin kagum padanya" bisik-bisik orang disekitar.)


"Jangan ada panggilan untukku, aku akan sibuk sebentar!!" Perintah Qei untuk pengawalnya.


"Baik pak, Jendral tenang saja, walaupun ada gempa sekalipun, saya akan pura-pura tidak tahu dan tetap diam"


"Hach? (Qei nampak bingung), terserahlah"


.


..


...


BRUUUUK..(Qei menjatuhkan Zeni di atas sofa).


"Baiklah Nona sepertinya kau memang benar-benar memanfaatkan kesempatanmu!" Ucap Qei.


"Bukan begitu, aku kemari hanya ingin mengantar pesanan dari Tante Rose, kenapa susah sekali sich, cukup diterima dan saya akan segera pulang" jawab Zeni.


"Seharusnya memang seperti itu, terima dan pulang, lalu bagaimana kau menjelaskan mengenai Bom dan kau adalah tunanganku, hemm?" Tanya Qei.

__ADS_1


"Kalau soal Bom, itu memang betul bom, tapi bukan aku yang membawanya, percayalah, kau bisa melihat rekaman cctv, dan mengenai tunangan, heee,,, demi keselamatanku, aku harus melakukan itu" ucap Zeni dengan senyum tanpa dosa.


"darimana kau tahu itu adalah bom?" Qei masih curiga.


"Hmm aku hanya berfikir jika itu bom" jawab Zeni bohong.


"Baiklah kalau begitu kau bisa tinggal disini lebih lama.." ancam Qei.


"Ayolah, jangan seperti ini, aku masih ada anak kecil yang menungguku dirumah, aku tidak bisa berlama-lama disini" pinta Zeni.


"Aku tidak peduli" ucap Qei.


Qei pun duduk diseberang Zeni dan berfikir,


("Kalau tebakanku tidak salah, mungkinkah gadis ini memiliki kemampuan diatas orang normal, seperti yang dia lakukan saat ingin menolong ibu, dia bisa melihat pisau walau masih berada didalam saku pelaku") Qei berbicara dalam hati.


Qei menghubungi bawahannya,


"kotak yang tadi disiapkan, bawa keruanganku" perintah Qei pada pengawalnya.


Tak lama kemudian, kotak itu sampai diruangan Qei, sebuah kotak hitam di atasnya ada lubang cukup untuk memasukkan sebuah tangan.


"Letakkan saja dimeja itu, dan kau boleh pergi!" Ucap Qei


Zeni mulai curiga dengan apa yang akan selanjutnya dilakukan Qei,,("sial, apakah dia benar-benar ingin menyiksaku").


"Nona Zeni, kau bisa meninggalkan tempat ini, dengan syarat, ambilkan aku barang yang ada di dalam kotak hitam itu, melalui lubang diatasnya, silahkan!" perintah Qei.


"Tidak, tidak,, aku tidak mau" jawab Zeni ketakutan.


"Kalau begitu aku akan membantumu" Qei pun berdiri dari tempat duduknya dan membantu Zeni berdiri dengan paksa dari belakang, dan mencoba memasukkan tangan kanan Zeni kedalam lubang kotak itu.


"Aaach tidak, tolong jangan tuan, jangan,, jangan,,, aku tidak mau" Zeni ketakutan dan mulai mengeluarkan air mata.


"AAaaachh!! Huk,,huk,,," Zeni dengan sekuat tenaga melepaskan tangannya dari genggaman Qei, sambil menangis. Kemudian dia segera membalikan badannya dan memeluk Qei dengan erat, agar Qei tidak bisa meraih tangan Zeni kembali.


"Huuck,,huuuck,huuuuchkk,," Zeni menangis tersedu-sedu dipelukan Qei.


Qei pun menghentikan aksinya memaksa Zeni, dan berubah menjadi sangat lembut, mengelus rambut Zeni.


"Apa yang kau lihat didalam kotak itu?" Tanya Qei dengan penuh perhatian.


"Huuch,,huuuuuck,, Uu,,ular" jawab Zeni sambil terisak-isak.


"Sudah jangan menangis lagi, aku hanya mengujimu" ucap Qei, sambil membantu Zeni melepaskan pelukannya, dan mengusap air matanya.


Setelah suasana kembali tenang.


"Aku akan mengantarmu pulang" ucap Qei.


"Tidak perlu" jawab Zeni, yang masih sedikit kesal.


"Jangan menolak!"


Qei pun mengantar Zeni pulang.


"Sejak kapan kau memiliki mata seperti itu?" Tanya Qei.


"Ntahlah, dua tahun lalu setelah mengalami musibah yang mengerikan, tiba-tiba aku memiliki kemampuan ini" jawab Zeni.


"Lusa datanglah kekantorku, kau bisa bekerja denganku, gajimu jauh lebih besar dari yang kau dapatkan dari tempat kerjamu yang sebelumnya, kemampuan seperti itu jangan kau sia-siakan" pinta Qei.


"Benarkah? Tapi.. aku tidak ingin banyak orang yang tahu mengenai kemampuanku" jawab Zeni sambil menundukan kepala.

__ADS_1


"Kau tenang saja, kau akan menjadi asisten pribadiku, hanya aku yang mengetahui hal ini, bagaimana?" ucap Qei.


"Baiklah kalau begitu.." Zeni nampak senang.


"Rumahmu sebelah mana?" Tanya Qei.


"Stop, aku turun disini saja, rumahku berada dalam gang, tidak bisa dilalui mobil, terimakasih sudah mengantarku" ucap Zeni.


"Sama-sama sampai jumpa lagi" ucap Qei dengan senyum.


("Iiiich senyumnya, ganteng, ganteng, ganteng, hii,,hii,, dan lagi pelukan yang tadi, masih sangat terasa,, uuuch pengen lagi") Zeni berjalan menelusuri gang sambil mengkhayal tinggi.


Begitupun dengan Qei, entah kenapa dia juga merasa senang setelah bertemu dengan Zeni.


.


..


Hemm..hemmm!


"Ech, (tengok kanan kiri) Ehun, ada apa kesini? Ayo masuk dulu,," Zeni.


"Sudah, tadi aku didalam bersama Elia, menunggumu lama sekali, akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, ternyata kita malah berjumpa disini, dan melihatmu sepertinya sedang bahagia" Ehun sambil menggodanya.


"Iiizhh,, apa sih? Oya, ada apa?" Tanya Zeni


"Aku ingin berpamitan denganmu" ucap Ehun.


"Heh? Kenapa? Kau mau kemana?" Tanya Zeni penasaran.


"Nyonya Rose, memasukanku ke sekolah militer dan besok pagi sudah berangkat, aku akan tinggal di asrama maka dari itu aku kesini" jawab Ehun dengan perasaan senang.


"Ooch jadi begitu,, waach akhirnya, selamat ya Ehun,,akhirnya kau bisa kembali belajar" Zeni pun ikut senang sambil memberi tepuk tangan.


.


..


...


Pagi hari..


"Elia, hari ini aku akan check up ke dokter, kau ikut tidak?" Tanya Zeni pagi-pagi.


"Tidak, hari ini nenek akan kesini untuk menjemputku jalan-jalan" jawab Elia sambil tiduran bermain game di ponselnya.


"Cciiih, kenapa kau tak tinggal bersama nenekmu saja, setelah bertemu dengannya, kau ini tiada hari tanpa bersama dengannya" ucap Zeni.


"He,,hee,,,, jangan cemburu, kau boleh ikut kalau mau" timpal Elia.


"No! Sudah, aku berangkat dulu ke rumah sakit, bye,,,jangan lupa kunci rumah saat keluar" ..


Elia melambaikan tangan tanpa melihat Zeni, matanya tetap mengarah ke ponselnya "bye, hati-hati" ucap Elia.


.


..


...


"Wach, baru jam segini, tapi antriannya sudah banyak sekali" gumam Zeni.


("bukannya itu Kista, sedang apa dia di rumah sakit,, hmmmm,, Eech, kenapa dia bawa test pack? apakah dia hamil?") Zeni sedikit kecewa mengetahui hal itu.

__ADS_1


__ADS_2