MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni & Paemin 3


__ADS_3

"Kak,," ucap Zeni gemetar.


Paemin duduk dipinggir ranjang Zeni dan melihat tangan Zeni yang gemetar, kemudian dia langsung menggapai tangannya.


"Hey,, cup,,,cup,,cup,,, jangan takut, aku tidak akan melukaimu, ok,,, kita mulai lagi semuanya dari awal, aku memberimu kesempatan sekali lagi dan hanya sekali, sekarang aku sudah memaafkanmu,,jangan takut ya sayang" ucap Paemin kepada Zeni sembari menggenggam kemudian mencoba memeluk paksa Zeni..


"Apa maumu?!" Ucap Zeni yang masih dalam pelukan Paemin.


"Ikutlah bersamaku" pinta Paemin.


"Tidak,," jawab Zeni.


"Jadi aku harus menggunakan cara apa agar kau mau ikut bersamaku?" Tanya Paemin sambil melepas pelukannya.


"Kak,, pliss, kita akhiri semuanya, oke,, aku tidak mencintaimu, bagaimana aku harus menjelaskannya padamu, agar kau mengerti? Aku sudah cukup menderita karenamu, dari awal kita bertemu tidak ada yang baik..kumohon jangan seperti ini lagi!" Ucap Zeni yang benar-benar sudah putus asa.


Namun saat Zeni sedang berbicara ternyata Paemin sudah menyiapkan suntikan bius disakunya, dan Zeni pun menyadarinya, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa, karena dia tahu, dia tidak akan bisa lolos kalaupun berusaha melarikan diri.


"Coba kau katakan sekali lagi,," pinta Paemin.


Zeni terdiam dan menundukan kepala,,kemudian,,


"Hmm, aku mencintai Jendral Qei.." ucap Zeni lirih.


"Tidak apa, kau akan segera melupakannya" ucap Paemin sambil memeluk paksa Zeni lagi.


Zeni menyadarinya, jika Paemin akan menyuntikan bius itu, saat Zeni dipeluk.


"Kak,, jangan,," Zeni memohon.


"Ini tidak sakit, tenanglah" ucap Paemin lirih sembari menyuntikan bius ditubuh Zeni. Zeni sedikit mencengkram Paemin, setelah tidak terlalu lama, cengkraman itu lepas dengan sendirinya, Paemin pun segera membawa Zeni keluar dari kamar dinas itu, tak lupa dia membawa identitas diri Zeni dan ponselnya yang terjatuh dilantai.


"Kita akan segera keluar dari sini.." ucap Paemin sembari menggendong Zeni.


Tak selang berapa lama setelah Paemin berhasil membawa Zeni, ponsel Zeni pun berbunyi, itu adalah panggilan dari Qei.


Paemin yang mengetahui hal itu, dia hanya membiarkannya saja,,

__ADS_1


"Hech,, setidaknya kau bisa menyelamatkan anakmu, dan biarkan Zeni bersamaku,," gumam Paemin.


("Bukankah tadi dia yang menghubungiku, kenapa sekarang tidak dijawab" Qei dalam hati, namun dia tidak mencurigai apapun).


"Hmmmmm, ayah,, ayah dimana ayahku?" Elia yang baru sadarkan diri dan melihat situasi telah berubah, segera memanggil-manggil ayahnya.


Qei yang mendengar panggilan itu, segera mengantongi ponselnya dan segera menghampiri anaknya.


"Hai sayang, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Qei memastikan.


"Huuuuuu,,huuuuu menurut ayah apakah aku terlihat tidak apa-apa, hatiku sangat syok, ayah tahu betapa menakutkannya diculik? Kenapa ayah lama sekali? Bagaimana jika aku tidak bisa selamat?! Huuu,huuuuu,,,huuuuu,,," ucap Elia yang sedang menangis manja.


Qei pun segera memeluk Elia. ("Anak ini, sama persis tingkahnya dengan Zeni saat pertama kali aku menyelamatkannya waktu itu" Qei berbicara dalam hati sambil tersenyum).


"Kalau begitu kita kerumah sakit dulu ya untuk memeriksakan keadaanmu dan sekalian kita antar tante Tere, bagaimana?" Ucap Qei kepada Elia, sambil menggendong Elia berjalan kearah mobil.


"Tante Tere itu siapa yah" tanya Elia.


"Hmmm,,, Tante Tere adalah kakak dari paman Jisung, dia adalah saudara kembar ibumu" jawab Qei.


"Saudara kembar?" Tanya Elia lagi.


"Hmmm,, wajahnya sangat mirip sekali dengan ibu,," jawab Qei sembari mengelus rambut Elia.


Rumah Sakit.


Tere sudah berada di rumah sakit, dan mulai siuman. Dia membuka matanya dan mendapati Jisung, Qei, Rose, Elia dan Tifany sudah berada disampingnya, Tere pun memberi senyumnya kepada Jisung, Rose dan Qei, kemudian dia melihat kearah Elia dan Tifany.


Jisung pun segera menjelaskannya "hmm,, ini Tifany rekan kerjaku dan ini Elia, anak dari kak Liye" ucap Jisung.


Dan Tere pun tersenyum melihat Elia dan Tifany.


Setelah tidak terlalu lama, mereka semua keluar dari ruangan itu dan menunggu diluar, kecuali Jisung, karena dia masih harus menjelaskan semuanya kepada Tere,,,


"Maafkan aku kak yang tidak berbakti ini, karena aku, mayor Jeno sekarang harus dipenjara, aku takut kehilangan kakak, namun kita juga tidak mungkin mengorbankan Elia" ucap Jisung, yang duduk disamping Tere.


Tere yang awalnya tidak tahu jika ternyata donor yang dimaksud itu adalah harus mengorbankan nyawa Elia, dia tak henti meneteskan air mata, lalu dia pun berkata "aku mengerti, terimakasih karena kau sudah mencegah semua ini terjadi, kau tidak melakukan kesalahan apapun, kakak lebih tenang jika harus mati sekarang, daripada harus hidup lebih lama namun dengan cara yang tidak beradab" ucap Tere dengan lirih dan lemah.

__ADS_1


"Apa kau bilang?! Baiklah kalau begitu, aku segera memberitahu Jendral" ucap Tifany melalui ponsel.


"Jendral, Zeni tidak ada diruangannya, cctv di gedung kamar dinas pun semua terputus, namun sebelum hilang dari kamarnya, sempat ada seseorang bertopeng yang menyemprotkan semacam spray bius sehingga semua penjaga yang ada disekitar ruangan kamar dinas tidak sadarkan diri.." ucap Tifany sesuai laporan yang disampaikan.


Qei yang mengetahui hal itu, benar-benar marah dan mengepal erat tangannya, seakan ingin meninju sesuatu.


"Kalau begitu segera kembali ke kantor" ucap Qei Tegas.


Elia dan Rose masih tertinggal di rumah sakit, karena Elia masih harus melakukan pemeriksaan.


"Elia, ayah kembali dulu, jangan nakal, dan ikuti aturan nenek" ucap Qei sembari mencium kening Elia.


"Bu aku titip Elia"..


"Iya,, tapi kau tidak ingin pulang kerumah dulu?" Tanya Rose.


"Maaf bu, tiba-tiba ada urusan mendesak,," ...


"Sudah berapa lama Zeni diketahui tidak ditempat?" Tanya Qei pada Tifany saat didalam dimobil.


"Sudah ada satu jam yang lalu jendral, saya juga sudah menghubungi ponsel Zeni, namun hasilnya nihil" jawab Tifany.


Setelah sampai, Qei pun segera masuk ke kamar Zeni, dia mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Namun tidak mendapatkan hasil,, ("kenapa kartu identitasnya juga tidak ada?!! Gumam Qei dalam hati).


Qei mulai menaruh curiga jika Zeni sengaja melakukan semua ini, ("dari awal dia memang ingin sekali menemui pria itu!!! Dan sekarang dia berhasil" ucap Qei sembari berdiri menatap cermin yang ada didepan meja rias Zeni lalu meninjunya dengan keras).


Disisi lain, Paemin memarkirkan kendaraannya didepan sebuah Pemakaman, malam itu begitu sunyi, dia melihat Zeni yang berada di sampingnya masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Paemin pun mengecup kening Zeni dan tak lama kemudian dia pun juga tertidur.


Hari menjelang pagi, Zeni yang bangun terlebih dahulu dia melihat sekeliling, ("dia membawaku ke sebuah pemakaman yang entah dimana?" Gumam Zeni dalam hati). Kemudian Zeni memandang wajah Paemin yang tampan ("kenapa hatimu tidak sebaik wajahmu?" Zeni berbicara dalam hati lagi).


Dia pun berencana melarikan diri dari mobil itu dengan membuka pintu pelan-pelan, kemudian dia berhasil keluar.


"Ach, tapi mana mungkin aku keluar dengan pakaian seperti ini (lingerie yang super sexy dan sedikit transparan)" gumam Zeni sambil melihat sekitar, tempat yang begitu asing baginya, kemudian.


BLUUUK!!!


Suara pintu mobil tertutup dan ternyata Zeni kembali kedalam mobil dan duduk disamping Paemin dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Kenapa? Tidak jadi melarikan diri?" Tanya Paemin dengan senyum diwajahnya, yang sebenarnya sudah bangun lebih awal daripada Zeni.


__ADS_2