
"Zen, tolong bantu aku mengenakan dasi ini" pinta Daniel kepada Zeni yang kebetulan masih berada diruangannya.
Zeni pun segera membantunya seperti biasa.
Mereka saling berdiri dan tangan nakal Daniel mulai beraksi lagi memeluk pinggul Zeni yang ramping, Zeni mencoba melepaskannya, namun terulang lagi sehingga membuat Zeni tidak bisa fokus mengikatkan dasi milik Daniel.
"Manager, jangan seperti ini, saya tidak bisa fokus mengikatkan dasi anda" pinta Zeni.
"Kalau begitu, kau harus mencoba melatih fokusmu lagi, jangan pedulikan apa yang kulakukan, fokuslah pada pekerjaanmu maka pelukan ini akan segera kulepaskan, jika kau belum selesai mengikatnya, maka aku tidak akan melepaskan pelukanku..." ucap Daniel kepada Zeni yang merasa senang menggodanya.
("Iizt...., Seenaknya membuat peraturan..!!!" Ucap Zeni dalam hati).
Tok....tok ....tok... (Suara ketukan pintu didepan ruang kerja Daniel).
"Masuklah" ucap Daniel.
Qei dan Jisung pun masuk keruang kerja Daniel.
"Tunggu sebentar, aku sedang mengenakan dasi, duduklah dulu" ucap Daniel lagi.
Belum sempat Qei mengucapkan kalimatnya, yang dia lihat didepan matanya adalah Daniel memeluk Zeni, dan Zeni dengan terampil memasangkan dasi Daniel, Zeni masih belum menyadari jika tamu itu adalah Qei dan Jisung. Qek mulai emosi, namun Jisung menahannya.
"Tahan dulu kak.... Jangan gegabah, kau masih membutuhkan Daniel" ucap Jisung lirih sembari memegang pundak Qei.
Qei hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Manager, sudah..." Ucap Zeni sambil menatap mata Daniel. Mereka pun saling bertatapan.
("Semakin dilihat, wanita ini semakin menarik, jika saja aku bisa memilikinya, aku berjanji tidak akan menjadi seorang playboy lagi, satu wanita seperti dia sudah cukup bagiku" ucap Daniel dalam hati sambil memandangi Zeni).
"Terimakasih Zeni, semakin hari kau semakin terampil saja, kau boleh kembali kebawah" ucap Daniel kepada Zeni sembari melepas pelukannya.
Zeni pun beranjak dari sana dan menuju pintu, namun sungguh terkejutnya dia saat melihat Qei dan Jisung disana, Qei mengalihkan perhatiannya, seolah tak ingin melihat jika itu Zeni. Akhirnya Zeni pun hanya memberikan salam dengan membungkukan badan kepada Jisung kemudian berlalu.
Tapi semua itu tidak lepas dari perhatian Daniel, Daniel mengamati situasi yang sedang terjadi.
("Sepertinya ada sesuatu diantara mereka" gumam Daniel dalam hati).
"Zen, tolong kau bawakan minuman untuk tamuku terlebih dahulu...." Pinta Daniel.
"Baik"..
Driiit..driiiiit...driiiiiit... (Ponsel Jisung berbunyi).
__ADS_1
"Kak, aku keluar dulu untuk menerima panggilan).
Tak berapa lama Zeni pun kembali membawakan minuman untuk mereka.
"Hmmm..., Kalau begitu saya permisi.." ucap Zeni.
"Jangan, kau tetap disampingku dan temani aku..." Pinta Daniel, sembari melirik kearah Qei.
"Ooch, Jendral, kenalkan ini Zeni..." Ucap Daniel.
"Kebetulan kami memang sudah saling mengenal... Bukankah begitu Nona Zeni?!" Ucap Qei dengan mata kearah Zeni.
Zeni sedikit kehabisan kata-kata, dia hanya menundukan kepala.
"Nona Zeni ini memang benar-benar hebat, setahu saya belum ada dua minggu dia bekerja disini, namun sudah bisa membuat kesan pada anda Tuan Daniel" ucap Qei, dengan tatapan masih kearah Zeni.
"Haaaa....haaaaa..... Kau benar sekali jendral, oke tunggu disini sebentar, aku tak ingin membuatmu menunggu terlalu lama, akan kuambilkan yang kau butuhkan, dan kau Zeni, tolong kau temani sebentar Jendral Qei, tapi ingat, jangan menggodanya, haaaa....haaaaaa" ucap Daniel sambil berlalu kemeja kerjanya.
"Jadi ini alasanmu mengabaikanku? Karena kau sudah memiliki pria lain?" Tanya Qei kepada Zeni.
"Maksud anda?" Tanya Zeni balik.
"Kau fikirkanlah sendiri..." Jawab Qei.
Zeni mulai tidak tahan dengan sikap Qei yang selalu berprasangka buruk padanya...
"Baiklah, saya paham apa yang ada difikiran anda, dan saya akan membantu mewujudkannya, dengan julukan wanita jal*ng yang Jendral nobatkan kepada saya waktu itu didepan banyak orang, bisa dikatakan saat ini tidak terlalu sulit untukku segera mendapatkan pria lain... Dan saat ini anda berfikir jika Tuan Daniel adalah priaku yang berikutnya, maka tetaplah berfikir seperti itu, jika itu membuat anda lebih lega..." ucap Zeni kepada Qei.
"Kau benar-benar......" Qei belum sampai selesai melanjutkan kalimatnya.
Daniel pun datang, Zeni segera berdiri dan memeluk Daniel dari samping, Zeni bertingkah sedikit manja untuk membalas dendam kepada Qei.
"Manager, saya bosan....., bolehkah saya pergi kebawah saja" pinta Zeni sembari menempelkan dagunya kepundak Daniel.
("Gadis ini?! Apa dia sedang berpura-pura... Hech..., Menarik" gumam Daniel dalam hati).
"Baiklah, tapi beri aku ciuman dulu" pinta Daniel.
("Pria ini mengambil kesempatan! Enak saja" batin Zeni).
"Aaaach.... tidak mau...., Malulah....." ucap Zeni sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan imut, kemudian segera melarikan diri, dia berpapasan dengan Jisung, namun dia hanya menundukan kepala dan berlalu.
Sore hari, Zeni akan pulang kerja dan berjalan menuju lobi, namun mobil Daniel sudah menunggunya didepan.
__ADS_1
"Zen, biarkan aku mengantarmu..." Pinta Daniel yang sudah berada didepan mobilnya.
"Ach, tidak perlu, saya naik kereta saja" timpal Zeni.
"Cepat masuk kemobil, selama ini tidak ada wanita yang berani menolaku..." ucap Daniel.
"Kalau begitu, biarkan saya yang pertama yang menolaknya, bagaimana?" Tanya Zeni.
"Hmmm oke, tapi dalam hitungam ketiga kalau kau tidak menerima niat baiku, maka aku tak segan menciumu disini didepan umum, satu, dua," Ancam Daniel, belum sampai hitungan ketiga, Zeni sudah masuk kedalam mobil Daniel.
("Dasar, selalu saja terjadi, dimana-mana orang kaya selalu berbuat sesukanya" gumam Zeni dalam hati yang sudah duduk manis didalam mobil Daniel).
"Hech.., gadis penurut..." Ucap Daniel..
Daniel pun akhirnya mengantar Zeni pulang.
"Apa hubunganmu dengan Jendral?" Tanya Daniel dalam perjalanan.
"Mantan kekasih..." Jawab Zeni singkat.
"Kau sangat terus terang sekali, apa kau masih berharap kembali bersamanya?" tanya Daniel lagi.
"Entahlah...., Lagi pula anda tidak perlu tahu sampai sejauh ini kan?" Jawab Zeni.
"Kau benar, tetapi sebagai pria yang menginginkanmu juga, aku harus tahu dengan siapa aku bersaing.." timpal Daniel.
("Iizt, bicara apa sich pria ini" ucap Zeni dalam hati).
"Manager, sampai sini saja mengantarnya, tempat tinggalku masuk gang, mobilmu tidak akan bisa melewatinya..." Ucap Zeni.
"Ooch... Kalau begitu aku akan mengantarmu sambil berjalan.." Daniel.
Zeni melirik Daniel dengan kesal.
"Bisa tidak, untuk tidak memaksakan diri? Saya sudah menolak anda untuk mengantar saya, sampai akhirnya saya terpaksa mau, dan anda tahu apa yang terjadi besok ditempat kerja, akan ada pengumunan jika saya dan anda sedang menjalin hubungan! Dan itu sangat mengganggu saya, jadi saya mohon, saya sudah lelah untuk hari ini.... Tolong pengertiannya, biarkan saya sendiri.. huuuuck ...huuuk..huuuuuuk..." Pinta Zeni sambil merengek.
"Ya lah, ya lah... Aku tak akan mengganggumu lagi hari ini, kau pulanglah dan istirahat yang cukup, siapkan dirimu lagi untuk besok.." ucap Daniel sembari membuka pintu mobil untuk Zeni.
"Maksud anda besok anda akan mengganggu saya lagi? Begitu" tanya Zeni memastikan.
"Ya.. seperti biasa.. heeeee...." Jawab Daniel.
"Dasar..." Ucap Zeni, sembari berlalu meninggalkan Daniel.
__ADS_1
Zeni sudah sampai didepan rumahnya, namun didapatinya Paemin sudah berada didepan rumahnya.
("Oooch.... Ya ampun, apalagi ini.. sudah pusing dengan Jendral dan Manager, ini datang satu lagi perusuh... Oouuch!!!" Ucap Zeni dalam hati yang mulai muak).