MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Jisong & Tifany 2


__ADS_3

Malam itu Jisung sejenak melupakan masalah yang ia hadapi berkat Tifany..


"Jisung, berhenti kau ya,,terima pukulanku ini" ucap Tifany sambil mengejar Jisung.


Tiba-tiba Jisung pun berhenti, dan menyergap Tifany, mereka pun berpelukan, Jisung menatap Tifany lama..


"jangan memandangiku seperti itu,,!" ucap Tifany yang juga memandang Jisung.


"mari kita pacaran" pinta Jisung.


"haiisssh! kau memang benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan ya" ucap Tifany sambil mencoba melepaskan diri dari Jisung.


"aku serius,,"..


"Bisakah kau lebih sopan kepadaku? Usiaku dua tahun lebih tua darimu!" Pinta Tifany dengan tegas.


"Maaf, tidak bisa" jawab Jisung, yang kemudian langsung mencium bibir Tifany dengan lembut.


"Mulai malam ini, kita adalah sepasang kekasih"..


"Kau jangan se....." Belum sempat Tifany melanjutkan ucapannya, bibir Jisung pun segera menyergap bibir Tifany lagi, kali ini lebih lama dari sebelumnya, mereka nampak menikmati ciuman itu dimalam yang dingin nan indah disebuah taman dengan lampu-lampu taman dan bunga-bunga malam, menjadikan malam itu menjadi sangat romantis.


.


.


.


.


.


Tok..tok..tok...


"Kak..." Ucap Jisung.


"Ah,, Masuklah,,, ada apa pagi-pagi sekali datang keruang kerjaku? Tanya Qei sambil menghadapi laptop yang ada di meja kerjanya.


"Kak, aku ingin memberitahumu sesuatu, walau ini mungkin tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ataupun dirimu,," ucap Jisung.


"Katakan saja, ada apa?..


"Kakakku Tere, saat ini sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Kasihan, kami tidak memiliki keluarga lain lagi dan jarak dari kantor ke rumah sakit cukup memakan waktu, maka dari itu aku ingin memindahkannya untuk dirawat dirumah sakit kota ini saja, agar aku bisa memantau keadaannya setiap saat.."ucap Jisung lagi.


"Ooch,, lalu apa yang bisa aku bantu?" Tanya Qei lagi yang pura-pura tidak tahu.


"Hari ini aku izin untuk mengurus kak Tere terlebih dahulu.." jawab Jisung.


"Baiklah, kau boleh pergi, jika Tere sudah dirawat disini, beritahu aku, aku dan ibuku akan menyempatkan diri untuk menjenguknya.." ucap Qei.


Jisung pun berlalu dan segera menuju Rumah Sakit Kasihan.


.


.


.


.


.


"Fany, kirim seseorang untuk mengikuti Jisung" perintah Qei melalui ponsel.


("Siap Jendral" ucap Tifany)..


"Oya, bagaimana keadaan Zeni?" Tanya Qei.


("Och, itu semalam Zeni tidak menjawab panggilan saya dan pagi ini saya belum menemuinya lagi" jawab Tifany).


"Jadi begitu,, biar aku saja yang menemuinya, kau lanjutkan kerjamu"..


.


..

__ADS_1


...


Tok...tok...tok.. 5X


"Zeni,, buka pintunya"..


Tok...tok...tok.. 5X


"Zen!!! Buka pintunya atau kau akan menyesal"..


"Hmmm maaf Tuan, Nona Zeni dari semalam tidak mau membuka pintunya, saya sudah mencoba berulang kali, makanan yang semalam dan pagi ini pun sudah saya taruh didepan pintu, tapi tetap tidak dibawanya masuk.." ucap salah seorang penjaga.


Akhirnya Qei pun, masuk melalui pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Zeni. Saat Qei masuk ke kamar Zeni, Zeni masih berada ditempat tidur, dia membalikan badannya membelakangi Qei. Qei pun hanya tersenyum sembari mendekati Zeni dan duduk disamping tempat tidurnya.


"Hei.. kau marah padaku?" Tanya Qei.


Zeni hanya menggelengkan kepala.


"Kalau begitu lihat aku,," ucap Qei.


Zeni pun membalikan badannya ke arah Qei namun pandangannya kebawah, dia tidak berani menatap wajah Qei.


("Apa gadis ini menangis semalaman? Matanya sangat bengkak" ucap Qei dalam hati, sambil tangannya menyentuh rambut Zeni).


"Mandilah, setelah itu, aku akan meminta penjaga membawakanmu sarapan" perintah Qei.


Zeni tak menjawab kalimat Qei, namun dia menurutinya, dia segera turun dari tempat tidurnya dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri dengan rantai yang masih berada di kakinya, rantai itu cukup panjang, walau kakinya di rantai, Zeni masih cukup bisa leluasa berjalan kesana kemari dalam jangkauan kamarnya.


.


.


.


.


Setelah beberapa saat Zeni mandi, dia segera mengambil pakaian, tapi ("iiiizhhh dasar Jendral sialan kenapa semua baju disini adalah lingerie! Apa dia seorang mesum!!!" Zeni berbicara dalam hati, kemudian menatap Qei dengan tajam), Zeni tidak jadi mengenakan pakaian transparan, dia lebih memilih mengenakan bra, celana dalam dan handuk,,


"Kenapa tidak jadi dipakai?" Tanya Qei yang pura-pura tidak tahu jika Zeni marah.


.


.


Tak beberapa lama Zeni sudah selesai menyelesaikan makannya. Dia segera kembali ketempat tidurnya, namun dihalangi oleh Qei. Zeni minggir ke kiri, Qei pun mengikuti ke kiri, Zeni ke kanan, Qei pun juga ke kanan, Zeni nampak kesal namun dia diam saja, Qei tersenyum melihat tingkah Zeni seperti itu.


"Apa kau benar-benar ingin menjadi bisu seperti ini terus? Bicaralah, katakan padaku apa maumu, jangan menguji kesabaranku" Qei berbicara kepada Zeni dengan nada lembut namun tajam.


Sebenarnya Zeni sedikit takut dengan ancaman Qei, namun entah rasa seperti apa yang Zeni rasakan, dia benar-benar kesal dengan keadaannya saat itu, sehingga dia benar-benar tidak ingin menanggapi Qei. Zeni pun berlalu melewati Qei, namun tangannya ditahan oleh Qei, Zeni berusaha melepasnya, tapi tidak bisa, wajah Qei tiba-tiba berubah menjadi lebih galak.


"Aku tidak suka diabaikan!" Ucap Qei.


Qei pun mendorong Zeni ketempat tidurnya, Zeni yang tak bisa mengimbangi kekuatan Qei, dia sudah terperangkap tertindih ditubuh Qei, kedua tangan Zeni pun sudah tidak bisa digerakan lagi karena genggaman Qei yang terlalu kuat, "kita lihat sampai kapan kau akan mengabaikanku".. Qei pun segera mencium bibir Zeni, dan menjelajahi leher Zeni dengan bibirnya dan terus kebawah sampai dengan perut Zeni yang indah, Qei membuat Zeni mulai merasa panas..


"Aaach,, jendral hentikan,," ucap Zeni dengan matanya yang bersayu-sayu.


"Lalu kau akan mengabaikanku lagi"..


"Tidak,,tidak,, kumohon hentikan, aku sudah tidak tahan lagi.. aaach" Zeni memohon,,


Qei pun melepaskan genggamannya dan turun dari atas tubuh Zeni.


Zeni yang sedikit cemberut merapikan handuknya.


"Katakanlah..."..


"Kakiku terlalu sakit untuk terus dirantai seperti ini, kenapa Jendral memperlakukanku seperti tahanan?,, dan aku juga butuh pakaian, tidak mungkin seharian aku mengenakan pakaian seperti itu terus,," ucap Zeni.


"Rantai itu sebagai hukuman karena kau mencoba kabur dariku dan sengaja hanya ada pakaian sexy itu, agar kau tidak berani keluar dari kamar ini, lagipula baju itu tidak buruk untuk kau kenakan.. dan itu membuatku sangat bersemangat.." senyum Qei menggoda Zeni.


"Hiiishh,, kenapa tiba-tiba aku merasa menyesal mencintai seorang Jendral,," ucap Zeni, yang sembari merapikan tempat tidur bekas kekacauan.


"Kenapa memangnya?" Ucap Qei sambil memeluk Zeni dari belakang, dan tangan Qei yang mulai nakal menuju kebawah, namun belum sampai menyentuhnya,, "Jangan SENTUH bagian itu!!!" Teriak Zeni.


Qei yang kaget, tiba-tiba melepaskannya,,

__ADS_1


"Kenapa?"..


"SEDANG DATANG BULAN!" Jawab Zeni dengan ketus..


"Aaalaaaa" Qei berubah jadi lesu.


.


..


...


....


.....


Jisung yang sudah selesai mengurus kakaknya, dia segera menghampiri Jeno, untuk memberitahukan bahwa Tere sudah dipindahkan ke Rumah Sakit terdekat, dan menanyakan rencana selanjutnya.


"Hmmm, kau fikir aku sebodoh itu? Lepaskan aku dulu, dan bersihkan namaku dengan baik, maka kita baru membicarakan rencana selanjutnya.." ucap Jeno.


"Kau ingin memanfaatkanku?" Tanya Jeno.


"Ayolah, kau sedang tidak di dalam kondisi menguntungkan untuk bernegosiasi, Tere tidak bisa menunggu lebih lama lagi.." ucap Jeno.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jisung menuju ruangan Qei dan menyampaikan rencananya kepada Qei.


"Kau ingin membebaskan Jeno dan membersihkan namanya?" Tanya Qei dengan kaget.


"Kumohon kak, percaya padaku,,".. ucap Jisung.


Qei sebenarnya sedikit tidak yakin, namun akhirnya dia memenuhi keinginan Jisung.


.


.


"Fany,, apa yang terjadi?" Tanya Qei melalui ponselnya kepada Tifany.


("Menurut informasi, Mayor Jeno memiliki hubungan asmara dengan Nona Tere..") ucap Tifany.


......


Tifany merasa ada yang salah dengan Jisung, dia takut jika Jisung gegabah dalam mengambil keputusan. ("Jika kau benar-benar melakukannya, aku tidak akan pernah mencintaimu!!!" ucap Tifany dalam hati).


.


..


...


....


Disisi lain dikediaman Kris (ayah Paemin).


"Ayah kemana kau membawa Elia" tanya Paemin, menghampiri ayahnya yang sedang bersenang-senang bersama beberapa wanita di kolam renang.


"Aku sudah memindahkannya ditempat praktek, Mayor Jeno sudah memberikan uang muka siang tadi,, dua hari lagi kita akan melakukan transplantasi,," jawab Kris.


"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak peduli dengan yang lain, namun untuk Elia, biarkan aku ikut mengambil keputusan!" Timpal Paemin dengan nada marah.

__ADS_1


"Hech,,Kalau maksudmu untuk memancing wanita yang bernama Zeni itu, lupakan, dia tidak akan pernah menemuimu, menurut informasi yang kudapat dari Mayor Jeno, Zeni tinggal dirumah dinas dan tidak mungkin keluar dari sana. Tapi kau jangan khawatir, setelah operasi transplantasi ini berhasil, Mayor Jeno berjanji akan membawakan Zeni untukmu.." ucap Kris, sambil menghibur Paemin dengan memberinya segelas anggur merah.


__ADS_2