
Musim telah berganti, terlihat Tifany duduk dikursi dibawah pohon yang rindang, dia sedang menunggu Jisung disebuah pemakaman sembari melihat pemandangan burung beterbangan disekitar makam.
"Maaf, membuatmu menunggu.." ucap Jisung yang berjalan kearah Tifany.
Ini sudah minggu ke empat setelah kematian Tere, setiap akhir pekan Jisung selalu menyempatkan diri berkunjung ke makam Tere, Tifany pun selalu setia mendampinginya.
"Tidak masalah,," ucap Tifany sambil tersenyum kearah Jisung.
.
.
.
Disisi lain, berkat donor kornea mata dari Tere, Ehun sudah dalam masa pemulihan setelah melakukan transplantasi kornea mata. Saat ini dia sedang melakukan chek up dan ditemani Liza ibunya.
"Apakah saya sudah bisa kembali ke asrama dok?" Tanya Ehun kepada dokter mata yang merawatnya.
"Boleh saja, tapi dalam setahun kedepan kau terpaksa harus membatasi kegiatanmu terlebih dahulu seperti mengangkat barang-barang berat, berenang, olahraga yang terlalu menguras fisik, sebaiknya jangan dilakukan terlebih dahulu agar bisa memastikan bahwa matamu sekarang ini sudah baik-baik saja, obat tetes yang kuberikan harus selalu kau pakai setiap hari.............." Dokter telah memberikan saran kepada Ehun.
.
.
"Sudah selesai?" Tanya Liza.
"Sudah bu, mari kita pulang.." ucap Ehun.
.
.
.
.
.
Akhir pekan yang cerah ini Qei dan Zeni berkunjung kerumah Rose, mereka akan mengadakan pesta barbeque untuk keluarga terdekat.
Zeni terlihat sibuk membantu Rose di dapur, sedang Qei bersama Elia sedang bermain dihalaman depan.
.
.
"Zeni,,, aku akan ke minimarket depan, ada yang perlu aku beli,," ucap Rose.
"Hmm, bagaimana kalau saya saja yang ke minimarket tan?" Pinta Zeni.
"Aach, tidak perlu,, kau tunggu saja disini,," ucap Rose sambil melepas celemek ditubuhnya dan berlalu.
Elia yang melihat Rose pergi keluar, dia pun mengikutinya.
.
.
Zeni melanjutkan mencuci sayuran dan Qei pun datang menggodanya, tiba-tiba dari arah belakang Qei memeluk Zeni dengan tangan nakalnya langsung masuk kedalam switer yang Zeni kenakan, Qei meremas buah dada milik Zeni, Zeni pun terkejut dan menjatuhkan sayuran kedalam wastafel, dia melepas remasan Qei dan segera berbalik badan,, "Jendral!" Ucap Zeni sambil sedikit menonjolkan matanya sebagai tanda peringatan untuk Qei.
"Kenapa?!" Ucap Qei sembari mendorong Zeni, menekannya kearah wastafel, dia mulai menerkam Zeni tanpa memberi Zeni kesempatan berbicara, Qei mulai menaikan switer Zeni, dan menjelajahi tubuh Zeni.
.
.
Namun saat yang bersamaan Ehun dan Liza tiba dirumah Rose, Ehun yang masuk terlebih dulu langsung menuju dapur, namun belum sampai didapur, Ehun melihat pemandangan yang seharusnya tidak dilihat. Dia segera membalikan dirinya, dan cepat-cepat keluar dari suasana itu,,
"Hey, mau kemana? Buru-buru sekali.." tanya Liza yang juga mau kedapur.
Ehun segera menghentikan langkahnya dan menghentikan langkah Liza.
__ADS_1
"Ayo bu, temani aku beli sosis di minimarket depan, aku mau sosis" pinta Ehun bohong.
"Hmm, sosis, bukannya ada ya di kulkas?" Tanya Liza.
"Iya tapi tidak ada yang rasa nanas, aku mau yang rasa nanas" ucap Ehun yang mulai ngelantur.
"Nanas? Memangnya ada?" Tanya Liza lagi yang bingung.
"Nah itulah, ibu tidak tahu, itu rasa baru,, ayo bu, cepat" desak Ehun.
"Ooooch begitu,,, ech, tapi kenapa harus mengajak ibu, biasanya kau jalan sendiri, ibu mau bantu-bantu di dapur.." Liza mulai heran dengan sikap Ehun.
"Aaaaach maunya sama ibu!" Ehun pun merengek.
"Kenapa kau jadi macam Elia,, hiiiiizt!! Ya sudah ayo!" ucap Liza sembari jalan keluar.
("Hiiizt Jendral dan Zeni itu, apa tidak ada tempat lain saja, memalukan sekali harus membuatku merengek didepan ibuku, ouch! Jiwa kejantananku terkoyak" Ehun berbicara dalam hati, sambil berjalan mengikuti ibunya dari arah belakang, persis anak mami).
.
.
.
.
.
.
.
"Aach,, Jendral jangan disini.." ucap Zeni sedikit mendesah.
Qei akhirnya membopong tubuh Zeni ke kamar tamu yang ada dilantai satu, dan meletakkannya di tempat tidur, Zeni berusaha melarikan diri.
"Jendral jangan,,," pinta Zeni.
"Iiiich!!!! Maksudku jangan dirumah ini! Bagaimana jika ibumu tahu,," Zeni sedikit kesal.
"Biarkan saja,," Qei menjawab dengan cuek.
Zeni berusaha merapikan pakaiannya dan kembali ke dapur, namun Qei menahannya dipintu kamar.
"Iiiiiich Jendral, jangan begini sich!" Zeni mulai kesal.
Qei pun tersenyum "baiklah-baiklah,,, tapi berikan aku ciuman dulu.." pinta Qei.
Tanpa mengulur waktu Zeni pun melingkarkan kedua tangannya kearah leher Qei dan menciumnya dengan lembut dan perlahan, mereka sangat menikmati momen itu.
Driiiiiit,,,,,driiiiit,,,driiiiit (setelah beberapa menit, ponsel Qei berbunyi). Zeni pun mengakhiri ciuman itu dan kembali kedapur.
("Halo kak,, hari ini jadi?" Tanya Jisung melalui ponselnya).
"Tentu saja, kau cepatlah kemari, pestanya akan segera dimulai" ucap Qei.
("Baiklah")....
.
.
.
Tak selang berapa lama, Rose, Elia, Liza dan Ehun pulang bersamaan,,
"KAMI PULANGGGGGG!!!" Ucap Ehun dengan kencang.
Seketika membuat Liza, Rose dan Elia melihat kearah Ehun dengan tatapan aneh, Ehun pun membalas dengan tatapan dan senyuman bodoh "heee,,heeee"...
"Hich! Anak ini, sejak datang dari rumah sakit, kenapa jadi seperti ini.." ucap Liza sembari mengeplak kepala Ehun dari belakang.
__ADS_1
.
.
.
Zeni nampak menjumputi sayur yang berjatuhan.
"Zen, apa yang terjadi?" Tanya Rose.
"Hmm maaf, tante, Zeni tak sengaja menjatuhkannya.." jawab Zeni.
"Tak apa, mari tante bantu" ucap Rose.
.
.
.
Sore menjelang malam, mereka berkumpul bersama dan makan malam bersama.
"Kau jadi kembali ke asrama besok?" Tanya Jisung kepada Ehun.
"Hmmm iya kak,," jawab Ehun yang sedikit canggung.
"Baguslah, belajarlah dengan giat, kelak jika ada waktu aku akan mengunjungimu" ucap Jisung dengan ramah, sambil menyodorkan koka kola kaleng kepada Ehun.
"Terimakasih kak, dan aku juga ingin mengucapkan terimakasih kepada kak Jisung, karena telah mengizinkan aku menggunakan mata ini" ucap Ehun sambil menundukkan kepala.
"Jangan sungkan, aku pun merasa lega karena mata itu cocok denganmu, setidaknya aku masih bisa merasakan kehadiran Tere disekitarku saat aku melihat mata itu" ucap Jisung sambil menatap Ehun dengan senyuman hangat, dia merasa sudah seperti memandang adiknya sendiri.
"Jisung,, kau belum makan dagingnya dari tadi, lihatlah tubuhmu itu, harus gemuk sedikit tidak masalah, sini tante suapi" ucap Liza sambil menyodorkan makanan kemulut Jisung dalam jumlah yang banyak.
Ehun terlihat bahagia melihat ibunya perhatian kepada Jisung.
"Sudah bu,,, ini sudah penuh dimulutku.." tanpa sadar Jisung menyebut ibu kepada Liza, kemudian dia terdiam sejenak.
" Tak masalah, panggil aku ibu nak,, kau sudah kuanggap seperti anaku sendiri" ucapan ramah Liza membuat Jisung meneteskan air mata.
Dia menangis sambil mengunyah daging yang ada dimulutnya.
"Hmmmm,, Kenapa paman menangis?" Tanya Elia yang tiba-tiba disampingnya.
"Mungkin dagingnya terlalu pedas,," jawab Tifany yang ikut bergabung, sembari memberi Jisung air putih dan berdiri di depan Jisung, kemudian menghapus air matanya.
Jisung nampak merasakan kehangatan keluarga itu.
("Kak Tere, mulai hari ini aku akan selalu hidup bahagia, begitu banyak sekali orang yang perhatian disekitarku, aku tidak akan kesepian lagi dan semoga kau tenang dialam sana" ucap Jisung dalam hati sambil tersenyum menyemangati dirinya sendiri).
.
.
.
.
.
Hari senin.
Qei kembali bekerja, dia duduk dimeja kerjanya seperti biasa dan,,,,,,
"Hmmmm, amplop ini? Haaiizt, kenapa aku sampai melupakannya, ini sudah satu bulan lebih,,," gumam Qei di pagi hari, sambil memegangi amplop yang belum terbuka.
.
.
.
__ADS_1