
"Tante,, tante,, Elia ingin ke toilet dulu"..
"Ya sudah, tante tunggu kau di depan situ, oke,," Liza.
"Oce,,,!" jawab Elia sambil lari-lari kecil menuju toilet.
.
..
Rose, yang melihat Liza dari kejauhan segera menghampirinya.
".. Liza,,! kau pagi sekali sudah disini, dan tadi sepertinya aku melihat kau bersama seorang gadis kecil, siapa dia?" Tanya Rose.
"Och, Nyonya.. iya hmmm saya bersama saudara Zeni,,kebetulan mereka hanya tinggal berdua, sementara Zeni di rawat dirumah sakit, saya yang merawatnya.." jawab Liza.
"Jadi begitu, kasian sekali dia, semua ini karena ku..(menundukkan kepala, merasa bersalah), hmmm,, Liza, ini Qei anakku, kau pasti mengenalnya kan..? Dan Qei, ini Tante Liza yang pernah ibu bicarakan tempo hari.." ucap Rose.
Qei menundukan kepala, memberi salam kepada Liza, dan Liza pun membalasnya.
"Kalau begitu, kami pergi dulu menjenguk Zeni.." ucap Rose lagi.
Drrriit..driiit.driiiiit..(ponsel Qei).
"Ibu aku menerima panggilan dulu, ibu duluan saja" Qei.
"Baiklah kalau begitu,, dan kau (mata ke arah Kista seolah bertanya mau ikut siapa?)" Tanya Rose.
"Och, saya akan menunggu Qei disini, tante.." Kista menjawab dengan senyum.
"Ya, terserah.." Rose cetus.
.
..
("Pak sudah dipastikan orang itu adalah dia, beberapa hari terakhir ini terlihat mencurigakan, dia seperti menunggu seseorang di sebuah sekolah Dasar Sova, apa kita boleh melakukan penangkapan sekarang?")
"Tahan dulu, untuk saat ini biarkan saja, mungkin kita bisa mendapatkan informasi yang lebih, tetap awasi dia..!" Qei berbicara dengan anggotanya melalui panggilan.
("Siap pak!")..
..
Di dekat lobi, Liza menunggu Elia.
"Elia,,, nak,, sebelah sini.." Liza memanggil Elia, sambil melampaikan tangannya.
Elia berlari-lari kecil menuju Liza.
Disana, Qei mendengar seseorang menyebut nama "Elia" dia nampak kebingungan dan melihat kesekeliling.. berharap bahwa benar ada Elia. Tapi dia tidak menemukannya..
Kista berjalan menuju Qei, dan Qei belum menyadari kedatangan Kista.
"Sayang,,, masih lama kah?" Tanya Kista dengan manja, sambil meraih tangan Qei.
Qei pun kaget,,"Och,,! sudah, mari kita masuk!"
"Oke,,"..
.
..
...
Krreet,,
"Iya, siapa ya?" Tanya Zeni yang pertama kali melihat Rose.
"Hai Zeni, perkenalkan aku tante Rose.." ucap Rose.
Zeni pun kaget dan berusaha duduk untuk memberi salam, tapi malah kesakitan,, "aach,,acch" rintih Zeni.
"Sudah, kau berbaring saja,,!" Pinta Rose.
"Baik Nyonya" jawab Zeni.
"Jangan panggil seperti itu, panggil saja aku tante.." ...
"Och, hmm, iy tante,," ucap Zeni sedikit canggung.
"Terimakasih Zeni, karena kau telah menyelamatkan tante, tapi malah membuatmu harus berbaring seperti ini.." ucap Rose..
__ADS_1
"Saya baik-baik saja tante, dalam beberapa hari juga akan kembali seperti semula,," Zeni sambil tersenyum..
Mereka pun saling perkenalan satu sama lain, kemudian tidak beberapa lama, datanglah Qei dan Kista.
Cling...
("Jadi ini Jendral Qei yang dibicarakan itu, OMG, dia tampan bingiiitzz, tinggi, gagah, iiich pengen dech di peluk..") Zeni melamun, saat Rose memperkenalkan anaknya.
"Zeni,,! Zeni,,!"..panggil Rose.
Zeni kaget "och,, iy.. halo Tuan Qei".. ("huch sayang, aku kalah cepat,, dia sudah punya calon,,").
"Qei, nanti malam kau tinggalah disini, jaga gadis ini" pinta Rose.
"Maaf, tidak bisa" jawab Qei singkat.
"Kenapa?!" Tanya Rose.
"bu, pekerjaanku banyak, bukan hanya menunggui orang sakit, lagi pula suruh saja seseorang untuk menjaganya" jawab Qei.
"Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu kepada orang yang telah menyelamatkan ibumu?" Ucap Rose.
"Menyelamatkan? Bisa jadi ini memang sengaja dilakukannya untuk mendapat simpatik ibu dan dia bisa mendapat keuntungan, kalau tidak, bagaimana dia bisa tepat waktu, pisau itu mengarah kepadanya, kalau bukan karna sudah direncanakan?" Qei berbicara dengan sedikit lebih kasar.
Zeni yang sudah tidak tahan "Terimakasih Tuan, karena telah menyempatkan diri untuk menjenguk saya, yang rendah ini, dan mohon jangan menuduh sembarangan, apalagi anda adalah seorang Jendral, kalau bukan karena saya menghormati ibu anda, saya akan..." (Dipotong oleh Qei, yang tiba-tiba menyela pembicaraannya).
"Akan apa? Apa? Hech? Bicara saja dengan jelas, berapa yang kau inginkan"..
"Qei!!!! Jaga ucapanmu, ibu mengajakmu kesini bukan untuk mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu.." ucap Rose.
"Hmmm, tante, bagaimana kalau saya saja yang menjaga Zeni disini? Saya tidak keberatan." Sela Kista.
Rose belum sempat menjawab,,
"Jangan, aku tidak mengijinkanmu" ucap Qei.
"Tapi sayang, ibumu....."
"Sudahlah kalian tidak perlu ribut disini, dan tante Ros, saya sungguh tidak apa, lagipula nanti malam Ehun akan kemari.. jadi tante berhentilah untuk khawatir,," timpal Zeni.
"Baiklah kalau begitu nak..."
Setelah beberapa menit, mereka semua pamit pulang.
.
..
...
Setelah beberapa hari Zeni dirawat di rumah sakit, Zeni sudah boleh pulang, ternyata Rose pun datang untuk menjemputnya,,
"Semua sudah beres, tinggal menunggu mobil.." ucap Liza, yang sudah datang lebih awal untuk membantu Zeni.
"Tante, kenapa kita harus menunggu tante Rose, aku sedikit kurang nyaman dan canggung.." ucap Zeni.
"Tante sendiri juga tidak bisa menolak" jawab Liza.
Tak lama Rose pun datang, dan mereka bersiap untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang mereka berbincang-bincang..
"Oya Zeni, saudaramu tidak ikut datang, bukankah hari ini libur sekolah,," tanya Rose.
Zeni melirik Liza seolah bingung, bagaimana Tante Rose tahu soal Elia.
"Ooch waktu itu tante yang memberitahu Nyonya Rose, kalau tante merawat saudaramu selama kamu dirawat" jawab Liza.
Zeni pun paham dan segera menjawab pertanyaan Rose..
"Hmmm,, dia bilang hari ini ingin ke taman bermain bersama Ehun,, saya coba hubungi sebentar, siapa tahu mereka belum berangkat, jadi bisa bertemu dengan tante juga,,(senyum)" jawab Zeni, sambil mengeluarkan ponsel.
Tuttt..tuttt....tuttt.....
Tutttt.tuttt...tuttt... 5X
"Iich kemana Elia ni, kenapa tak di angkat juga" gumam Zeni.
Kalimat itupun terdengar oleh Rose.
"Siapa kau bilang?" Tanya Rose dengan hati berdegup kencang..
"Ooch,, ini Elia, dia tidak menjawab ponselnya, mungkin mereka sudah berangkat" jawab Zeni dengan santai..
__ADS_1
Fikiran Rose pun tak karuan, ("mungkin hanya kebetulan saja,,") Rose menenangkan diri,,
Karena rasa penasaran Rose, dia berada di rumah Zeni cukup lama, sampai hari mulai gelap, tapi Elia tidak kunjung datang.. dia pun pergi.
Selang beberapa menit, datanglah Elia.
"Hey, baru pulang jam segini,, kenapa sendiri? mana Ehun?" Tanya Zeni sedikit kasar.
Dengan santainya sambil memegang blackforest yang dibelikan Ehun, dia berkata "udah balik, aku yang suruh,,,"
"Lah,, tadi tante Rose lama disini, dia ingin bertemu denganmu, tapi kau tak kunjung datang juga, ponselmu pun kenapa? Ku hubungi berulang kali tak ada jawaban?" Zeni masih mengomel terus.
Elia seketika sedikit tidak bersemangat, dan menaruh blackforest di atas meja kecil samping buku-bukunya. Kemudian dia berjalan kearah Zeni, yang duduk ditempat tidur, dia duduk disamping Zeni, dan mengelus perut Zeni bekas luka tusuk, dengan lembut "Zeni, apa ini masih sakit" dia bertanya sambil matanya berkaca-kaca,,
Zeni nampak bingung..
"Hey, nak,, tidak biasanya kau seperti ini, pasti ada sesuatu kan? Bicaralah" Zeni yang awalnya memegang wajah Elia dengan kedua tangannya, akhirnya memeluknya. Dia merasa sepertinya ada yang janggal dengan Elia.
Elia pun meneteskan air mata "aku,, aku,,, aku juga merindukannya,, huk,,huuk,," Elia menangis.
"Husst, hussst, huussst,, jangan nangis, siapa sayang yang kau maksud?" Tanya Zeni sambil menenangkan Elia.
"Nenekku, tante yang menungguku itu, dia sebenarnya adalah nenekku" ucap Elia.
"Haach.. lalu kenapa kau tak menemuinya?" Zeni sangat kaget dan bingung, sebenarnya ada masalah apa di keluarga Elia, pantas saja saat menyebutkan nama Elia, tante Rose terlihat gelisah.
Elia menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau menemuinya" jawab Elia.
Zeni yang terkaget-kaget mencoba menenangkan Elia yang menangis, begitupun menenangkan dirinya sendiri yang cukup syok mengetahui bahwa Elia adalah cucu dari Tante Rose, itu berarti dia adalah anak dari Jendral Qei yang pernah diceritakan oleh Ehun kalau Jendral sebenarnya mempunyai anak tapi meninggal karena sebuah kecelakaan mobil dan isterinya sudah meninggal sejak lama pas setelah melahirkan.
.
..
Tapi..... ternyata anaknya disini bersama Zeni, ("oh my God!!! Jadi selama ini aku yang telah menyembunyikan Elia, matilah aku,,,)..
.
..
...
Dua tahun silam
Zeni terburu-buru ingin mengikuti wisuda, dia melewati jalan luar perkantoran sipil (kebetulan kampus Zeni, tepat di depan perkantoran tersebut), trotoar kiri kanan dipenuhi mobil-mobil militer, dan tiba-tiba disebuah taman dari kejauhan terlihat anak kecil minta tolong, anak kecil itu sedang dibawa paksa akan dimasukan ke mobil,,
Zeni melihat kesekeliling, ("kenapa tidak ada orang"),, akhirnya Zeni yang memberanikan diri menyelamatkan anak itu, perlawanan yang cukup hebat, adanya tarik menarik.. salah satu pelaku ingin menembak Zeni.
"Tunggu, jangan tembak, kita bawa saja semua, cepat!".. semua penjahat itu bertopeng, jadi sulit dikenali..
"Tapi bos,,"...
"Tidak ada waktu lagi, mereka sudah menuju kemari"...
Para gerombolan penjahat mengendarai mobil cukup banyak agar polisi-polisi itu kesulitan untuk menangkap...
Dari dalam bagasi, Zeni berulang kali mendengar suara tembakan-tembakan.. dan akhirnya mobil yang didalamnya ada Zeni dan anak kecil itu, tergelincir jauh kedalam hutan,, Zeni juga anak kecil itu berhasil keluar dari mobil itu, dan segera melarikan diri..
.
..
...
Sekarang..
("Seharusnya waktu itu aku bisa menyadari kalau Elia adalah anak orang penting di kota ini,,tapi kenapa dia tidak ingin pulang"),, Zeni memandangi Elia yang sudah tertidur dipelukannya..
Dia membaringkan Elia dengan lembut dan pelan.
.
..
Tok, tok, tok,,, (suara pintu).
"Siapa?",,tanya Zeni tidak ada jawaban.
Tok, tok, tok,,,
Zeni membuka pintu rumahnya dan..
__ADS_1
"Tante Rose,,!" Zeni tiba-tiba kaget sekaligus ketakutan.