
"kalau begitu cium dulu, nanti baru aku lepas,," pinta Jisung sambil menyodorkan bibirnya.
Tifany pun mencium Jisung.
"Ok,, sekarang apa rencana selanjutnya?" Tanya Tifany sambil menatap Jisung.
"Bagaimana kalau kita pesan kamar di hotel?!" Jawab Jisung sambil senyum-senyum menggoda Tifany.
PLAAAKK!!!!!!
"BUKAN ITU! tapi bagaimana rencana selanjutnya untuk menemukan kakakmu dan menyelamatkan Elia..hizzzzt!!!" Tanya Tifany lagi dengan kesal.
"Ooch itu, sekarang kau hubungi Jendral, aku telah memasang chip di koper yang Mayor Jeno bawa, kemungkinan kak Tere dan koper itu menuju tempat dimana akan dilakukannya transplantasi, minta kepada Jendral untuk mengirim prajurit sesuai lokasi yang terlacak dalam chip, kita akan melakukan penyergapan sebelum Elia dibunuh besok pagi,," jawab Jisung yang sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.
Tifany pun segera menghubungi Jendral dan mengatakan sesuai perintah dari Jisung.
Kamar dinas.
"Baiklah kalau begitu,, kirim lokasinya kepadaku, kita akan langsung bertemu disana,," ucap Qei yang sedang berada dimeja kerja didalam kamar dinasnya, dan menerima laporan dari Tifany melalui ponselnya.
Qei pun segera bersiap-siap.
Zeni yang saat itu juga membantu Qei menyelesaikan dokumen-dokumen yang dibawa oleh Qei ke kamar dinas itupun juga mendengarnya.
"Apa aku boleh ikut?" Tanya Zeni.
"Tidak perlu, kau tetap disini,, dan jangan coba-coba kabur, atau aku akan menghukummu lagi.." jawab Qei.
"Baiklah, tapi lepas dulu rantainya ini..bagaimana jika nanti tiba-tiba kebakaran dan aku tidak bisa melarikan diri hanya karena rantai ini?" Pinta Zeni.
Setelah mempertimbangkannya, Qei pun menuruti keinginan Zeni.
"Tapi sebelum ini, aku ingin bertanya kepadamu sekali lagi, apa kau benar mencintaiku?" Tanya Qei dan menatap Zeni.
"Tentu saja,,,,"..
"Tapi kenapa, kadang aku masih sedikit ragu dengan ucapanmu"..
__ADS_1
"Jendral, apa kau sedang mencari-cari alasan supaya kau tidak jadi melepas rantainya?" Ucap Zeni.
"Bukan begitu tapi.." Qei belum sempat melanjutkan kalimatnya.
Tok..tok..tok..
"Jendral, semua sudah disiapkan,, kita bisa berangkat sekarang!" ucap salah seorang pengawalnya.
"Baiklah" jawab Jendral kepada pengawalnya.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, aku akan mengantarmu ke kamarmu" ucap Jendral sembari mengantar Zeni ke kamarnya melalui pintu yang terhubung antara kedua kamar itu, kemudian dia melepaskan rantai yang ada di kaki Zeni.
"Hati-hati Jendral" ucap Zeni, sambil sedikit merapikan kerah kemeja Qei.
Qei pun mencium kening Zeni dan berlalu.
"Kau dimana?" Tanya Qei pada Jisung melalui ponselnya saat dalam perjalanan.
("Aku sudah berada di lokasi bersama Tifany segeralah kemari,," ucap Jisung, yang lokasinya tidak jauh dari gedung bekas klinik).
"Oke, Oya,, Jisung, dengar jangan melakukan penyergapan terlebih dahulu sebelum Elia terlihat ditempat" pinta Qei.
("Siap kak"..)
Paemin yang saat itu juga sedang dalam perjalanan menuju gedung bekas klinik itu, melihat beberapa rombongan mobil dan sedikit heran.
"Tidak biasanya, ada banyak mobil yang melalui jalur ini,," gumam Paemin.
Kemudian dia seketika menyadari ada yang tidak beres.
("Ayah,, celaka, aku harus segera menghubunginya" ucap Paemin dalam hati).
"Ach! Sial,, kenapa ponselku habis baterai,,!!" Paemin marah-marah di dalam mobil yang sedang parkir dipinggir jalan.
"Sudah terlambat" ucap Paemin.
Paemin pun putar balik dan menuju tempat lain.
__ADS_1
Qei, Jisung, Tifany dan prajurit semua sudah berada diposisi, dan segera menyusup masuk untuk menyelamatkan Elia,, terlihat Elia pingsan tak berdaya disebuah tempat tidur dan juga Tere yang bersebelahan dengan Elia, tempat itu dijaga beberapa pengawal Kris, dan tak jauh dari sana disisi lain, terlihat Jeno dan Kris sedang berbincang.
Pertama-tama para prajurit melumpuhkan para penjaga yang ada diluar terlebih dahulu, dengan tangan kosong tanpa pistol agar Kris begitupun Jeno tidak menyadari keberadaan mereka, setelah melumpuhkan penjagaan, Qei, Jisung serta prajurit melanjutkan menyelamatkan Elia dan Tere, disini cukup banyak memakan waktu, namun akhirnya Elia dan Tere berhasil diamankan, tapi salah satu pengawal Kris ada yang berhasil lolos, dan segera melaporkan keadaan diluar, Kris dan Jeno pun nampak panik dan berusaha melarikan diri.
"PERHATIAN, GEDUNG INI SUDAH DIKEPUNG, HARAP SEGERA KELUAR DENGAN TANPA PERLAWANAN!!" Suara Qei, menggelegar di area gedung itu dengan menggunakan pengeras suara. Tempat itu benar-benar sudah tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Kris dan Jeno pun menyerah dengan tanpa perlawanan, keduanya keluar dengan tangan berada diatas kepala.
Jeno yang melihat Jisung, dia menatapnya dengan tajam, kemudian berkata "kau akan menyesal!! Jika sampai Tere meninggal, itu karena kau terlalu pengecut untuk mengambil keputusan!!" Ucap Jeno dengan amarah, kemudian tangannya diborgol dan dibawa oleh beberapa prajurit.
Keberanian Jisung sedikit goyah, dia tak berani menatap Jeno, namun dari belakang terlihat Tifany menepuk punggung Jisung dan memberi semangat "kau sudah melakukan yang benar".
Jisung pun tersenyum dengan sedikit memaksakannya.
Disisi lain Kris yang bertemu langsung dengan Qei, seorang Jendral yang telah memvonis isterinya atas dugaan malpraktek dan meninggal dipenjara, terlihat sangat tidak senang.. "hai Jendral, hampir saja ya? Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa bersenang-senang dengan mayat anakmu dan menyacah-nyacah sisa-sisa bagian tubuhnya yang tidak digunakan,, aaahaaaaa,,,haaa,,haaaaaaaa,,,,!!!! Aku tidak menyesal, aku tidak menyesal,, ahaaaaa,,,,haaaaa,hhaaaaaa"..
"Bawa dia pergi" ucap Qei kepada prajuritnya.
"Baik pak"...
Di kamar Dinas diwaktu yang bersamaan saat proses penangkapan Kris dan Jeno.
Terdengar suara keributan,,
"Kenapa sepertinya ada keributan diluar,," guman Zeni yang berada didalam kamarnya dengan lampu remang-remang kemudian melihat keluar jendela.
"Eech, kenapa tiba-tiba jadi tenang, mana penjaga yang diluar tadi,," Zeni sedikit bingung, namun dia tidak menaruh curiga apapun dan kembali menuju tempat tidurnya.
Kemudian saat dia sedang berada di atas tempat tidur, dia merasa ada suara nafas di atas langit-langit kamarnya, Zeni pun mencoba menerawang menembus langit-langit kamar itu, dan ternyata yang dia lihat, ada seorang pria yang mencoba masuk ke kamarnya, pria itu menggunakan penutup wajah, namun mata tembus pandang Zeni masih bisa melihatnya ("Kak Paemin!!" Gumam Zeni dalam hati, yang mulai ketakutan).
Zeni bergegas mengambil ponselnya dan segera menghubungi Qei, namun beberapa kali menghubunginya tidak ada jawaban.
"Ayo,,,ayo,, kumohon angkatlah Jendral, bagaimana ini,,,,, kenapa tidak ada jawaban (Zeni benar-benar ketakutan) atau jangan-jangan Jendral gagal dalam misi menyelamatkan Elia, dan dia dalam bahaya??? Uuuch, bagaimana ini" gumam Zeni.
BLUUUUKK!! (Suara jejak Paemin yang turun dari langit-langit kamar Zeni).
Zeni yang mendengar suara itu tiba-tiba kaget dan tanpa sengaja melemparkan ponsel miliknya kelantai.
Zeni pun terpaku diatas ranjang tempat tidurnya sambil menatap Paemin yang tiba-tiba berada didepannya.
__ADS_1
"Merindukanku...?" Ucap Paemin, sembari membuka penutup wajahnya dan tersenyum sombong, sambil berjalan kearah Zeni.
"Kak,,,," ucap Zeni gemetaran.