
"Mayor Jeno,, kita sudah bernegosiasi cukup lama, hmmmm,, dan jujur saja, aku sedikit merasa lelah, sepertinya pukulan-pukulan yang anda terima ini masih belum bisa membuat anda jera" ucap Jisung yang sedang mengintrogasi Jeno.
"Heh,, tak ku sangka, kau sama kejamnya seperti Qei saat sedang menginginkan seseorang mengakui sesuatu,,walau kau menyiksaku sampai mati, kau juga tidak akan mendapat informasi apapun, lagipula jika aku mati dan kau masih belum mendapat informasi sedikitpun, apakah kau tidak berfikir, mereka akan mengusut kasus ini, hanya demi anaknya yang hilang, dia (Qei) melakukan banyak sekali tindakan diluar kendali bahkan menghilangkan nyawa seorang Mayor.. puih! (Buang ludah).." ucap Jeno, dengan kedua tangan dirantai keatas, dia pun memiliki banyak luka pukulan.
"Ayolah Mayor Jeno, aku tidak akan sampai membunuhmu, kalaupun itu terjadi, kakaku juga tidak keberatan..kami mempunyai banyak cara untuk berdalih, seperti sebagaimana yang kau lakukan selama ini, Jendral Qei telah menaruh banyak perhatian padamu, tapi kau berkhianat..bukankah itu sangat kurang ajar?" Jisung berbicara dengan duduk santai dikursi di depan Jeno yang tersungkur sembari melipat kakinya agar terlihat keren.
"Hech,, kau memang seorang adik ipar yang sangat berbakti,, seandainya aku memiliki adik sepertimu,, tapi jika kau tahu kebenarannya, apakah kau masih bersikap pura-pura lugu seperti sekarang ini? Hach?!" Tanya Jeno, dengan nada bicara yang songong.
"Apa maksudmu?" Tanya Jisung balik.
"Aku ingin tahu, apa kau sudah bertemu dengan kakakmu Tere (Tere adalah saudara kembar Liye isteri Jendral yang sudah meninggal), jika belum, temuilah dia, selama ini kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, apa kau tidak merindukannya?" Jawab Jeno.
Jisung baru sadar jika sudah ada hampir dua tahun terakhir ini memang jarang sekali menemui Tere kakaknya, Tere tinggal diluar kota selama lima tahun terakhir, mereka jarang sekali bertemu, karena kesibukan masing-masing, tapi setahun terakhir ini memang Jisung dan Tere belum pernah bertemu. ("Apa yang terjadi dengan kak Tere, apa Jeno brengsek ini melakukan sesuatu padanya" Jisung berfikir dalam hati).
Kemudian dia berdiri dari kursinya dan segera mencengkram kerah baju Jeno yang lusuh bersimbah darah "jangan macam-macam dengan kakakku!!! Katakan, apa yang telah kau lakukan padanya!" Ucap Jisung dengan amarah.
"Hah? Haa,,haaaa,,haaaaaa,,,aku tidak akan mengatakan apapun, kau bisa mencari tahunya sendiri" jawab Jeno sambil tertawa aneh.
"Jika kau berani macam-macam dengan keluargaku, maka aku benar-benar akan membunuhmu!" Ancam Jisung.
Jeno hanya menyengirkan bibirnya, seakan meremehkan Jisung.
.
..
...
....
.....
Zeni yang masih didalam kamar mandi setelah selesai mengenakan pembalut, dia mengeluarkan kertas memo yang ia sembunyikan didalam sakunya, dia masih nampak bimbang, untuk menghubungi nomor itu atau tidak,,
("Duch, baiknya bagaimana ya, tapi kalau aku tidak menghubunginya, ini benar-benar sangat membuatku penasaran" Zeni berbicara dalam hati).
Namun pada akhirnya, dia menghubungi nomor tersebut.
("Halo.....")
__ADS_1
("Halooo......")
("Siapa disana,,,?")
("Haloooo kenapa tidak berbicara")
Zeni belum membuka mulutnya, dia masih ingin memastikan suara siapa itu, ("tapi ini suara wanita, dan sepertinya tidak asing"), akhirnya Zeni berani berbicara.
"Hmm, halo?"...
("Ach, Zeni?")..
"Iya, saya menghubungi nomor anda dari kertas memo yang ada didalam kantung plastik milik saya, saya tidak tahu kenapa anda meminta saya menghubungi nomor anda ini, dan sebenarnya ini nomor siapa ya?" Tanya Zeni.
("Zeni, ini tante Liza,,")..
"Ooch, tante, ada apa? Kenapa sampai harus mengirim kertas memo, tante bisa berkunjung kemari?!" Ucap Zeni.
("Tidak bisa sayang, disana sangat banyak sekali penjagaannya, hanya ini yang bisa tante lakukan,,")..
"Lalu, ada apa tan?"..
("Zeni, aku tidak tahu, ini benar atau salah menyampaikan ini padamu, tapi menurutku kau harus tahu tentang ini..")
("Zeni, Elia hilang, saat ini Jendral sedang melakukan pencarian, tante tahu ini, saat tante sedang merapihkan ruangan Nyonya Rose (setelah Ehun dikirim belajar dan tinggal di asrama, Liza pindah kerumah Rose menjadi asisten rumah tangga disana dan menjadi orang kepercayaan Nyonya Rose), tak sengaja tante mendengar pembicaraan Nyonya dan Jendral dua hari yang lalu, saat tante ingin segera menemuimu, tante tidak bisa masuk, karena terlalu banyak penjaga").
"Apa?!! Apa tante tidak salah dengar?".. tanya Zeni lagi untuk memastikan.
("Tante yakin Zen, maaf jika tante memberitahumu hal ini")..
"Tidak apa tante, terimakasih karena telah membantuku memberi informasi ini"..
Tok..tok..tok...
"Zen,,,,kau baik-baik saja di dalam?" Tanya Tifany yang khawatir, dari luar kamar mandi.
"Aku baik kak, tenang saja" Teriak Zeni yang sedikit panik.
"Kenapa lama?"..
__ADS_1
"Ehmmmm,,, panggilan alam"...
"Iiuch,,, ueeeck,,tak perlu kau jelaskan!" Tifany kembali ke sofanya tanpa curiga.
("Jadi ini alasannya kenapa Jendral melarangku keluar dan menambah penjagaan diluar, tapi bagaimana ini, Elia kemungkinan dia dibawa kak Paemin, apa yang harus aku lakukan,," Zeni berbicara dalam hati).
.
..
...
....
.....
Jisung mencoba menghubungi kakaknya Tere, namun sudah berulang kali tidak ada jawaban. Akhirnya, dia pergi kekediaman kakaknya yang diluar kota, setelah dua jam perjalanan dia sampai di apartemen kakaknya, namun Tere tidak ada disana. Dia memaksa masuk ke apartemen Tere, Jisung menyusuri apartemen itu, berharap bisa mendapat suatu informasi, dan benar saja, dia menemukan beberapa pakaian pria didalam lemari Tere,, ("pakaian siapa ini" Jisung berbicara dalam hati). Kemudian dia membuka sebuah laci kecil ditempat meja rias kakaknya, dia pun terkejut, disana ada foto Tere dengan Jeno, foto-foto tersebut menggambarkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Jisung masih mencoba memahami semua itu, lalu dia menghubungi markasnya..
"Tolong kau lacak nomor ponsel dan IMEI yang aku kirim, carikan aku dimana posisinya"..
("baik pak")..
"Butuh waktu berapa lama?" Tanya Jisung yang sudah tidak sabar.
("Sebentar,, oke sudah ketemu, akan saya kirim kepada anda lokasinya, sepertinya ada di Rumah Sakit Kasihan")..
"Rumah Sakit Kasihan?! Itu tak jauh dari sini"..
Jisung pun segera menuju lokasi tersebut.
.
..
...
Setelah menuju lokasi, akhirnya Jisung menemukan Tere, diluar dugaan Jisung, dia sangat syok saat melihat Tere lemas tak berdaya diranjang tempat tidur, banyak sekali selang dan kabel ditubuhnya, selama ini Jisung tinggal bersama kakek nenek dan kedua kakak kembarnya, namun setelah Liye menikah, Liye meninggal saat melahirkan Elia, tak lama kemudian kakek dan neneknya mengalami kecelakaan sepulang dari menghadiri pemakaman cucunya Liye, sejak hari itu, keluarga itu hanya tinggal Tere dan Jisung.
__ADS_1
Jisung meratapi kesedihannya dibalik pintu tempat Tere dirawat.
Tak beberapa lama setelah Jisung memulihkan mentalnya, dia pergi menemui dokter yang merawat Tere, dan menanyakan apa yang sedang di derita oleh kakaknya.