MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni kembali keprofesi lama..


__ADS_3

Setelah istirahat cukup lama, Zeni mulai bebenah membereskan dan membersihkan rumahnya, dan sekitar dua jam rumah itu sudah tertata rapi lagi.


"Aaach, oke, sekarang waktunya membuat surat lamaran kerja lagi, setelah itu baru mandi" gumam Zeni sembari menyiapkan alat tulisnya.


Tok...tok...tok...


(Suara ketukan pintu diruang kerja Qei).


"Hmm, Fany ada apa?" Ucap Qei.


"Mengenai kartu identitas Zeni, sudah selesai dibuat, Jendral ingin saya yang memberikan kepada Zeni, atau anda sendiri yang datang menemuinya?" Tanya Tifany.


"Och itu, kau saja.." jawab Qei singkat.


"Baiklah" timpal Tifany, seraya berbalik kearah pintu untuk keluar.


Belum sampai keluar pintu, Qei sudah berubah fikiran dan mendahului Tifany, sambil membawa kunci mobilnya.


"Biar aku saja" ucap Qei, sambil menyerobot kartu identitas milik Zeni dan melalui Tifany.


"Halo, Jisung,, kirim kepadaku alamat Zeni sekarang,," ucap Qei melalui ponselnya.


("Akhirnya kakak sadar juga,, heeeee" goda Jisung).


"Jangan banyak bicara, kirim saja alamatnya kepadaku!" ucap Qei lagi, yang sedikit gengsi.


Jisung pun memberikan alamat Zeni, dan Qei segera menuju alamat rumah itu.


Setelah tiga puluh menit mengendarai mobilnya, Qei pun tiba di depan gang, sesuai petunjut dari Jisung, dia menelusuri gang tersebut dan menemukan rumah Zeni.


("Benarkah ini rumah Zeni,," Qei berbicara didalam hati sembari memandangi rumah kecil tersebut).


Tok..tok..tok..


"Zen,, apakah kau mendengarku? Ini aku Qei.." ucap Qei yang sedikit ragu tidak akan dibukakan pintunya.


Zeni yang ada didalam rumah, baru selesai mandi segera mengintip kearah jendela.


("Kenapa Jendral itu tiba-tiba kemari" batin Zeni).


Tok..tok..tok..


Qek mengetuk pintu rumah Zeni sekali lagi.


"Zen, aku mengantarkan kartu identitasmu, kebetulan sudah jadi,," ucap Qei lagi.


("Oiya kartu identitasku, aku membutuhkannya untuk melamar kerja" batin Zeni lagi).

__ADS_1


Zeni pun segera membuka pintu rumahnya.


Qei mendapati Zeni dengan celana pendek dan kaos oblong, terkesan santai namun tetap tak menghilangkan pesonanya.


"Jendral,, Jendral,, Jendral!!!!" Ucap Zeni yang melihat Qei tiba-tiba saja melamun.


"Hmm,, ini kartu identitasmu" ucap Qei sedikit gugup.


"Hmmm Terimakasih, seharusnya tidak perlu sampai Jendral juga yang mengantarkannya kemari.." timpal Zeni pelan.


"Tak masalah,," ucap Qei singkat.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih Jendral,," ucap Zeni sembari menutup pintu, namun tangan Zeni ditarik oleh Qei.


"Kau tak menyuruhku untuk masuk dulu?" Tanya Qei yang berharap lebih kepada Zeni.


"Aach, maaf Jendral, mungkin lain kali, saat ini aku ingin istirahat dulu,," jawab Zeni sambil berusaha melepas genggaman Qei kemudian masuk kedalam rumah dan segera mengunci pintu.


("Kenapa aku tiba-tiba menjadi muak saat melihat Jendral, rasanya sesak sekali.." Zeni berbicara dalam hati).


Qei masih didepan pintu rumah Zeni. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi, cukup lama sekali dia disana, sampai pada akhirnya ada panggilan dari kantornya mengenai pekerjaan, dan akhirnya dia baru mau beranjak dari depan pintu rumah Zeni.


Setelah lebih dari seminggu Zeni mencari pekerjaan kesana kemari, dia pun mendapat pekerjaan menjadi SPG lagi disebuah showroom mobil.


"Kau sudah bisa mulai bekerja besok, untuk seragam dan jadwal shiftnya kau bisa menemui Tuan Sindong dia HRD senior disini.." ucap Daniel selaku Manager di showroom tersebut.


"Baik pak, terimakasih banyak" ucap Zeni yang sama sekali tak memalingkan pandangannya dari Daniel.


("Ya ampun, kenapa manager disini bisa seganteng ini yak,, bikin betah kerja ni,,heeeee" ucap Zeni dalam hati).


"Permisi, bisa bertemu dengan Tuan Sindong?" Zeni memasuki ruang HRD seperti yang dikatakan oleh Daniel.


"Och, ya, sini, sini,,, kau pasti Zeni kan?" Tanya Sindong, yang sedang duduk dimeja kerjanya sambil menikmati burger dan kentang goreng, juga masih banyak cemilan disekitar meja kerjanya, tak heran jika tubuhnya cukup berisi.


Zeni pun segera menuju meja kerja Sindong, untuk mengambil seragam kerjanya berikut melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan.


"Oya Zen, kau bisa menyetir mobilkan?" Tanya Sindong.


"Bisa pak,," jawab Zeni.


"Baguslah kalau begitu, SPG mobil memang harus bisa mengendarai mobil, dan selama satu minggu kedepan kau akan dibimbing oleh SPG senior, kau akan diajari bagaimana cara menghadapi tamu-tamu disini, kau mengerti?" ucap Sindong.


"Hmmm dan satu lagi,,(sindong matanya melirik kiri dan kanan) kau jangan terlalu terpesona dengan manager itu, dia selalu mendekati SPG baru disini, dan setelah dia mendapatkan apa yang ia inginkan, dia akan segera mencampakan wanita itu" ucap Sindong lagi.


"Hah, benarkah, tapi dia terlihat seperti sangat berwibawa, tak sedikitpun memperlihatkan tampang-tampang pria playboy,," timpal Zeni.


"Nah, itulah hebatnya dia, setiap ada karyawan baru terutama SPG aku selalu memperingatkan mereka, tapi pada akhirnya mereka tidak mendengarkanku, setelah semua terjadi barulah menyesal, banyak yang mengundurkan diri karena malu setelah dicampakan olehnya, namun masih banyak juga yang kebal wajah" ucap Sindong dengan berbicara bisik-bisik kepada Zeni.

__ADS_1


("Heh, padahal Tuan Sindong ini pria, tapi kenapa mulutnya seperti wanita,,,suka gosip,, hiiihiiiii" gumam Zeni dalam hati).


"Saya mengerti pak, saya akan mendengar setiap nasehat anda,," jawab Zeni.


Setelah satu minggu Zeni pun resmi menjadi SPG. Zeni mengenakan mini dress berwarna putih yang ramping mengikuti bentuk tubuhnya.


"Hai Zeni,,," ucap Daniel dari belakang Zeni.


"Och, hai,, manager,,," Zeni sedikit kaget dan membungkukan tubuhnya.


"Bisa keruanganku sebentar?" Pinta Daniel.


Tak beberapa lama Zeni berada diruang kerja Daniel, Daniel melepas dasinya dan menyerahkan kepada Zeni.


"Kau bisa memasangkan dasi ini?" Tanya Daniel.


"Bisa, tapi bukankah sebelumnya sudah terpasang dengan rapi?" Zeni bertanya balik.


"Belum,, aku ingin kau membantuku, jariku sedikit terkilir" jawab Daniel.


Zeni pun bersedia memasangkan dasi Daniel. Tubuh mereka cukup dekat, Zeni sedikit berdebar dan sulit untuk bernafas.


("Huuuch, benar sekali nasehat dari Tuan Sindong, pesona pria ini benar-benar membuat nafasku sesak" ucap Zeni dalam hati).


"Hey, kau sedang memikirkan apa?" Tanya Daniel, sembari jari kanannya menyentuh dagu Zeni dan tangan kirinya memegang pinggang Zeni yang ramping.


Zeni sedikit terkejut dan keluar dari lamunannya.


"Tuan Daniel, dasi anda sudah terpasang" ucap Zeni yang ingin segera lepas dari sentuhan Daniel.


Namun Daniel kembali melepas dasinya.


"Tolong rapikan lagi" Pinta Daniel.


Zeni mulai sedikit kesal, dia pun kembali memasangkannya lagi dan lagi. Sampai terulang lebih dari lima kali. Zeni masih menahan emosinya.


"Zen, apa kau sudah mempunyai kekasih?" Tanya Daniel.


Zeni menatap Daniel dengan tatapan kesal sembari membenahi dasi dileher Daniel.


"Tidak, tapi aku baru saja putus" jawab Zeni.


"Jadi?" Ucap Daniel yang berharap Zeni mengucapkan untuk mengajaknya berkencan.


"Jadi untuk saat ini, aku belum ingin menjalin hubungan dengan pria lain lagi!" Jawab Zeni seraya mengakhiri memasang dasi milik Daniel, dan segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Hech!! Menarik,, kita lihat saja, kau bisa mempertahankan ucapanmu itu sampai kapan?" Gumam Daniel dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2