
Zeni pun berhasil keluar dari ruangan Daniel dengan terburu-buru dan hampir menabrak Sindong.
"Wuuuih!!! Hiiztt!! Hampir saja" ucap Sindong yang terkejut sambil memegangi tangan Zeni yang hampir terjatuh.
"Ach, maaf Tuan Sindong,, tadi saya tergesa-gesa,," timpal Zeni sambil membungkukan diri.
"Lagi pula kau darimana sampai tergesa-gesa begitu" Ucap Sindong, sambil matanya mencari tahu arah kedatangan Zeni.
"Aaach,, kau dari ruangan manager ya?" Ucap Sindong lagi dan menaruh curiga kepada Zeni.
"Iiich, iya,, tapi tidak seperti yang anda fikirkan!" Jawab Zeni.
"Iyakah.....?!" Tanya Sindong, dengan mengrenyutkam dahinya seakan tak percaya.
"tentu saja, kalau begitu saya akan lanjut kerja lagi.." jawab Zeni sembari meninggalkan Sindong, namun belum sempat pergi, Daniel sudah datang terlebih dahulu.
"Sedang apa kalian disana? Aku tak menggaji orang yang kerjanya hanya mengobrol saja saat bekerja!!" Ucap Daniel yang datang kearah Zeni dan Sindong sambil merapikan Jasnya.
"Hmm, aku pergi dulu, bye Zeni" Ucap Sindong dan segera melarikan diri dari situasi itu.
"Ech,,, tunggu saya!!!" Pinta Zeni kepada Sindong, namun Sindong sudah berlalu dan tak menghiraukan Zeni.
"Mau kemana kau?!" Tanya Daniel kepada Zeni dengan tatapan tajam.
"Hmmm,, saya akan kembali bekerja.." jawab Zeni.
"Karena kau mengabaikan tata tertib dalam bekerja, kau akan diberikan sanksi, sekarang aku minta kau membersihkan toilet!" Pinta Daniel.
"What?! Mana bisa seperti itu?" Zeni melakukan pembelaan.
"Buktinya bisa" jawab Daniel sembari mendekati Zeni dan Zeni terlihat berjalan mundur.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Sindong?!" Tanya Zeni.
"Hmmm, masalahnya aku adalah manager disini, jadi peraturan ada ditanganku, tapi kau bisa mengubahnya kalau kau mau, bagaimana? Apa kau paham maksudku?" Ucap Daniel yang berhasil menangkap tubuh Zeni.
"Ooch,, baiklah,, baiklah,, saya akan bersihkan toilet,, heeeee,,," Ucap Zeni, sembari melepas pelukan Daniel dan segera kabur untuk kedua kalinya.
("Ooouch,, benarkah harus seperti ini" batin Zeni kesal sembari menyikat kloset yang ada di toilet).
"Sssst, ssssst,,"..
("Hmm sepertinya ada suara?" Ucap Zeni dalam hati sambil melihat kekanan dan kekiri, namun tidak ada siapa-siapa).
"Ssst,, Zen, sebelah sini,,," Ucap Sindong yang ternyata bersembunyi di pojokan toilet tersebut.
Zeni pun meliriknya dengan kesal. "Heech! Apa lagi?!" Tanya Zeni yang tangannya masih sibuk dengan aktifitasnya.
"He,,he,, janganlah marah,, tadi aku tak bermaksud meninggalkanmu" Ucap Sindong.
" Ya lah,, ya lah,, ada apa?!" Tanya Zeni lagi.
__ADS_1
"Kenapa kau sampai membersihkan toilet segala?" Tanya Sindong balik.
"Kata manager, ini sanksi karena kesalahanku,, hhuuuuchh,," jawab Zeni yang kesal.
"Hmmm benarkah,,? Biasanya manager tidak pernah setega ini kepada karyawan wanita.. Kau,,,, melakukan kesalahan yang lain mungkin?" Ucap Sindong.
"Hm,, sepertinya begitu,, kenapa dia bisa menyalah gunakan jabatannya,, bukankah dia hanya seorang manager? Aku akan membuat pengaduan keatasan! Hech, lihat saja nanti.." Ucap Zeni.
"Hiiizt! Jaga ucapanmu, menurutmu, kenapa dia sampai berani melakukan semua hal sesukanya disini?" Tanya Sindong.
"Kenapa?" Tanya Zeni balik.
"Karena dia yang memiliki showroom ini, jabatan sebagai manager yang dia pilih hanyalah keisengannya belaka,," Jawab Sindong.
"Apaaaa!!!" Zeni kaget.
"Heh,, kenapa? Kau terkejut,," Ucap Daniel yang tiba-tiba datang dari arah pintu masuk toilet.
("Kenapa pria ini selalu saja muncul" ucap Zeni dalam hati).
Dan Sindong pun kembali berusaha melarikan diri lagi.
"Aku sudah selesai di toiletnya, permisi..." Ucap Sindong sambil berjalan keluar.
("Iizt, pria gendut ini juga! Dasar!!" Zeni semakin kesal).
"Apa sekarang kau menyesal telah menolakku, setelah mengetahui kedudukanku yang sebenarnya?" Tanya Daniel kepada Zeni.
Namun Zeni tidak menjawabnya.
"Ayolah,, kau masih belum terlambat,," ucap Daniel sambil mendekati Zeni lagi.
"Hmm, saya akan segera menulis surat pengunduran diri..." timpal Zeni sambil menghindari Daniel.
"Och, lakukanlah,, kutunggu suratnya dimeja kerjaku, jika kau besok masih terlihat disini, selama tiga bulan kedepan, setiap paginya sebelum melakukan pekerjaanmu sebagai SPG kau harus datang satu jam lebih awal dan membersihkan ruang kerjaku juga memasangkan dasiku, dengan tanpa gaji tambahan, kecuali kau memohonnya,," Ucap Daniel lagi.
"Iizt, kejam sekali" gumam Zeni sambil meninggalkan Daniel.
Zeni pun pergi keruangan HRD.
"Apa!!!!!! Dua milyar! Yang benar saja,,? aaaaaachhhh!!!" Teriak Zeni yang duduk didepan ruang kerja Sindong.
"Iya, bukankah kau membaca kontraknya saat menandatanganinya waktu itu? Disini tertulis jika tiga bulan kedepan pihak terkontrak memutuskan kontrak maka dendanya dua milyar" timpal Sindong.
"Aku tidak membaca apa-apa,,, Aaacgrh!!" Jawab Zeni yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
"Iizt itulah salahmu sendiri.." ucap Sindong.
"Apakah tidak ada cara lain?" Tanya Zeni.
"Ada, yaitu manager sendiri yang harus memecatmu, atau kebanyakan wanita-wanita lain mereka memohon sendiri kepada manager,," jawab Sindong.
__ADS_1
"Ich,, memohon,, tak sudi,, tapi kalau kerjaku tidak bagus, otomatis manager akan memecatku dengan sendirinya,, he,,he,,," gumam Zeni.
"Hiizt,, kau fikir semudah itu, dikontrakmu juga tertulis jika kau tidak bisa melakukan pekerjaan sebagaimana yang harus kau kerjakan dan itu menyebabkan kerugian diantaranya material, finansial maupun phisical kau harus menggantinya sepuluh kali lipat!" Tegas Sindong.
"Peraturan macam apa itu,,,!! TIDAAAAAAAK....!!!!!!"...
Keesokan harinya,
Sesuai kesepakatan sebelumnya, Zeni harus datang lebih awal.
("Selama tiga bulan kedepan aku harus melakukan ini,, uuch melelahkan sekali, bisa-bisa aku akan kurang tidur, jarak tempat kerja kerumah saja sudah empat puluh lima menit sendiri, haich,, kalau kelelahan begini terus, lama-lama akan mempengaruhi kecantikanku.." keluhan Zeni dalam hati dipagi hari).
("Hmmm, bukankah itu manager? Dia sudah ada ditempat kerjanya sepagi ini,, jam berapa dia berangkat? Kalau begini caranya, bagaimana aku membersihkan ruangannya" gumam Zeni dalam hati yang berdiri dibelakang pintu masuk keruang kerja Daniel).
Daniel yang menyadari keberadaan Zeni,, "masuklah" ucap Daniel.
Zeni pun masuk keruang kerja Daniel, Daniel memberi senyum memikatnya kepada Zeni.
"Lakukanlah pekerjaanmu, kau tenang saja aku tidak akan merasa terganggu, hmmm tapi sebelumnya, tolong buatkan aku kopi dulu" Pinta Daniel.
"Baik..."..
Tak berapa lama Zeni pun membawakan kopi pesanan Daniel dan kemudian melanjutkan melakukan pekerjaannya, begitupun Daniel yang terlihat amat sibuk dengan laptop didepannya.
Zeni pun selesai melakukan pekerjaan bersih-bersihnya kemudian dia beranjak dari ruangan Daniel untuk mempersiapkan dirinya sendiri bekerja dilantai dasar sebagai SPG.
Pukul delapan pagi.
"Zen, kau dipanggil keruang manager.." ucap salah seorang teman SPGnya.
"Hmm, baiklah,,"
("Ada apa lagi,, bukankah sudah kulakukan tugasku,," Zeni berbicara dalam hati).
Tok..tok..tok..
"Masuk"..
"Manager memanggilku?" Tanya Zeni.
"Hmm, iya, pakaikan dasiku" ucap Daniel singkat dan nampak buru-buru.
Tanpa berkata-kata Zeni pun segera membantu memakaikan dasi Daniel, begitupun dengan Daniel sibuk mengenakan jam tangannya.
"Lain kali jangan lupa memakaikan dasiku, oke?" Pinta Daniel sembari mengelus rambut Zeni kemudian meraih laptopnya dan bergegas keluar dari ruangannya.
"Aku ada rapat diluar, kau lanjutkan pekerjaanmu" ucap Daniel lagi dan berlalu.
Zeni sedikit tertegun dengan sikap Daniel yang lebih dewasa daripada sebelumnya.
Zeni melihat kearah tempat duduk Daniel dan mendapati Jasnya masih disana, Zeni dengan mata tembus pandangnya melihat dompet dan ponsel milik Daniel juga berada didalam saku jas tersebut.
__ADS_1
"Hmm, sengaja ditinggalkah atau tertinggal? Apa aku harus mengejar manager itu untuk membawakan jasnya,, iizt tapi bukankah sangat memalukan, aku kan bukan istrinya, bagaimana jika dilihat karyawan-karyawan lain, aaaaach bagaimana ini?" Gumam Zeni yang bimbang.
Driiittt,,,,driiiiiiiitt,,,driiiiiiiitttttttttt,,,,,, (ponsel Daniel berbunyi).