
("Benarkah hidupku akan menyerah begitu saja ditangan pria ini, aaaach, aaaaach....!!!! Kumohon, siapapun tolong aku....." Ucap Zeni dalam hati).
BBRRRUUUAAKKKKK!!!!!!!!! (Suara pintu kamar Zeni didobrak).
"ZENIIII!!!!!" Ucap Qei dengan keras.
Paemin nampak terkejut melihat kedatangan Qei dan Jisung. Qei langsung menarik Paemin dari atas tubuh Zeni dan menendangnya, hingga membuat Paemin tersungkur kelantai, Paemin pun melakukan perlawanan, tapi dia masih kalah jago dalam bela diri daripada Qei, akhirnya Paemin pun mengeluarkan pistolnya, namun dari arah pintu masuk kekamar Zeni, Jisung sudah siap untuk menembak Paemin, kaki Paemin pun terkena tembakan Jisung, dan terkapar tak berdaya.
"Segera kau bawa dia, aku akan mengurus Zeni" Ucap Qei dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.
"Siap kak..." Ucap Jisung.
Jisung pun memborgol tangan Paemin dan membawanya dengan paksa, Paemin nampak merintih kesakitan akibat timah panas yang mengenai betis kakinya.
Disisi lain Zeni terlihat tak berdaya dengan tali yang ada dimasing-masing tangannya dan tubuhnya yang hampir tak mengenakan pakaian, dia hanya menggunakan pakaian dalam saja akibat dari ulah Paemin.
Qei pun melepas kedua ikatan yang ada ditangan Zeni.
"Zeni, kau tidak apa-apa kan? Maafkan aku karena sedikit terlambat" ucap Qei kepada Zeni sembari menutupi tubuh Zeni dengan selimut yang ada diranjang Zeni.
"Aach Jendral, jangan, ini terlalu panas" ucap Zeni yang terlihat lemas.
"Tapi...." Ucap Qei yang sedikit bingung sambil memandangi tubuh Zeni.
"Jendral....., Aku tidak tahan lagi" ucap Zeni dengan penuh ambisi sembari membuang selimut yang menempel ditubuhnya.
Kemudian Zeni beralih duduk diatas pangkuan Qei dengan saling berhadapan, dia mulai mencium bibir Qei dan membuka kancing bajunya.
"Zeni, sadarlah....." Ucap Qei.
("Sial, apa dia terpengaruh obat" ucap Qei dalam hati sembari melihat sekeliling untuk mencari tahu).
Dan benar saja, ada bekas botol obat perangsang disekitar ranjang Zeni.
"Jendral, tolong aku....." ucap Zeni yang semakin merasakan panas ditubuhnya, dia menggoyangkan tubuhnya diatas Qei.
__ADS_1
"Tapi Zen.......," Ucap Qei yang tak bisa melanjutkan kalimatnya karena ciuman lembut yang diberikan Zeni.
Qei pun perlahan memindahkan tubuh Zeni keranjangnya lagi dan Qei berada disampingnya dengan gerakan bibir mereka yang masih saling menikmati satu sama lain.
"Lebih lagi jendral kumohon..." Pinta Zeni dengan rintihan gairahnya.
"Jendral, aku sangat menginginkanmu, aku sangat mencintaimu, kumohon lakukanlah...." ucap Zeni lagi dengan lirih dan mata bersayu-sayu.
Jari Qei pun mulai beraksi kebagian bawah milik Zeni yang sudah basah, Qei memeriksanya, namun ("hmm apa???" Gumam Qei dalam hati).
"Maaf Zen, aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa menghancurkan masa depanmu, jika saat ini kau sadar, kau pasti juga tidak ingin melakukannya" ucap Qei lirih sambil mencium kening Zeni.
Zeni merintih karena tersiksa akibat pengaruh obat itu, Qei hanya bisa membantu memuaskan Zeni dengan mencium dan mengelus daerah basah milik Zeni.
Zeni mulai kelelahan dan tertidur, Qei pun menemani Zeni semalaman.
Pagi hari.
Qei nampak sudah rapi dan menyiapkan sarapan untuk Zeni dilantai satu.
Zeni yang saat itu baru bangun dari tidurnya, mendapati tubuhnya penuh dengan merah-merah, dan tanpa mengenakan pakaian, hanya sebuah selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
("Ach...., Apa yang kulakukan semalam, aku sungguh-sungguh tidak mengingatnya dengan pasti, tapi aku tahu, aku melakukannya dengan jendral..."gumam Zeni dalam hati yang baru bangun dari tidurnya).
Zeni yang hanya mengenakan selimut pun turun kebawah dan mendapati Qei tengah mengenakan pakaiannya.
Zeni tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya mengamati Qei.
("Tidak mungkin semalam kita melakukannya kan? Walaupun dia kadang bertindak mesum, tapi tidak mungkin melakukannya jika dia tahu aku terpengaruh oleh obat" Zeni berbicara dalam hati sambil memandangi tubuh Qei untuk memastikan sesuatu).
"Kau sudah bangun?" Ucap Qei saat pertama kali melihat Zeni yang baru bangun dipagi itu.
Zeni hanya menganggukan kepala dan duduk disebuah kursi yang biasa ia gunakan untuk makan, didepan kursi itu sudah terdapat sarapan yang disiapkan oleh Qei.
"Makanlah dulu, kau pasti sangat kelelahan akibat semalam kan?" Ucap Qei.
__ADS_1
Zeni hanya meminum susu yang berada didalam gelas disamping sandwich yang ada didepan Zeni.
("Apa maksud dia dengan kelelahan akibat semalam, iiiiizt....., Mungkinkah kita telah melakukannya,, bagaimana ini, apa aku perlu memastikannya, ouch, bukankah sangat memalukan sekali jika aku menanyakan hal ini, sedangkan hubunganku dengannya saja sedang tidak baik..." Gumam Zeni lagi didalam hati).
"Kau, sedang memikirkan apa?" Tanya Qei yang mulai memahami situasi Zeni.
Zeni hanya menggelengkan kepalanya.
("Sepertinya dia mengira bahwa kita semalam melakukan hal yang lebih, hech..., Bukankah seharusnya dia memeriksa ranjangnya, apakah ada bercak darah atau tidak, ceroboh sekali gadis ini..., Hmmm apa aku perlu memanfaatkan kesempatan ini...." Ucap Qei dalam hati).
"Semalam kau sangat hebat sekali, sampai-sampai aku kewalahan" Ucap Qei bohong.
"Hem, benarkah?" Zeni mulai berbicara karena ingin memastikan sesuatu.
Qei pun membuka kancing bajunya dan memperlihatkan kepada Zeni begitu banyak bekas cengkraman ditubuh Qei.
("Hach, kenapa banyak sekali, jadi semalam kami benar-benar melakukannya,, aaaach,,,Tidaaaaaaaaak" ucap Zeni dalam hati yang sangat ingin berteriak).
"Huuk....huuuuuk....huuuuuukkk" tiba-tiba Zeni menangis.
"Kenapa anda tidak menghindarinya? Huk..huuk...huuuk.... Bukankah seharusnya anda tahu bahwa saya dalam kendali obat" ucap Zeni yang menangis sembari menutup wajahnya.
"Benarkah? Aku tidak tahu itu, kukira kau benar-benar menginginkannya, sampai-sampai tak memberiku kesempatan untuk pergi, kau selalu menahanku, bukankah kau juga mengingatnya, kau yang menindihku dan bertindak agresif" ucap Qei yang semakin menjadi-jadi.
("Ach, benar juga, aku sedikit mengingatnya saat aku menahannya semalam itu, aaach... Aku harus bagaimana ini?" Ucap Zeni dalam hati yang semakin bingung).
"Baiklah, tak perlu terlalu difikirkan, anggap saja yang semalam itu tidak pernah terjadi, aku harus kembali ketempat kerja..." Ucap Qei yang mulai bersiap-siap.
("hmmm... apa maksudnya dengan menganggapnya tidak terjadi apa-apa? bagaimana jika aku hamil? siapa yang akan bertanggung jawab!" ucap Zeni dalam hati).
"Tu...tu...tunggu! apa maksud anda dengan berbicara seperti itu? bagaimana jika aku hamil? anda mau melarikan diri?!" tanya Zeni berapi-api.
"jadi sekarang apa maumu? aku memintamu kembali kepadaku, tapi kau tidak mau, jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Qei balik.
("Ooouch!!! bagaimana ini!!!!!! aku kehabisan kata-kata..." ucap Zeni dalam hati).
__ADS_1
Qei menahan tawanya saat melihat Zeni seakan frustasi dengan apa yang telah terjadi.
"hmmmm, oya jika kau berubah fikiran, maka keluarlah dari pekerjaanmu itu dan kau bisa kembali kepadaku, juga jangan berhubungan lagi dengan Daniel, sebagai gantinya aku akan memperbaiki kesalahanku sebelumnya yang pernah kulakukan padamu, dan aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada kita....." Ucap Qei dengan senyum hangatnya, sembari meninggalkan rumah Zeni.