
Dua minggu telah berlalu,, Zeni tetap tinggal dikamar dinas, begitu selesai pekerjaan kantornya, dia hanya kembali ke tempat persembunyiannya.. ("sampai kapan hidup seperti ini, hari libur pun tidak bisa keluar, seharusnya aku memikirkan cara bagaimana menyampaikannya kepada Jendral, bahwa penculik-penculik itu bekerja untuk Paemin, tapi bagaimana caranya,,)..
Keesokan harinya, dikantin dikantor tempat Zeni bekerja,,
"Zeni,,,mari gabung makan disini,," panggil Jisung dari sebuah meja makan yang disitu terdapat Tifany juga.
"Iich, harus ya manggil dia kesini?" Tanya Fany dengan nada ketus.
"Selamat pagi,, Tuan Jisung dan Nona Fany,,," sapa Zeni sembari duduk disebelah Jisung.
Jisung pun membalasnya dengan senyum, namun Tifany tak memperdulikannya.
"Zeni, usia kita hanya terpaut empat tahun panggil saja aku kakak, biar kita lebih akrab, bukan begitu fany,,? Ucap Jisung.
"Bagaimana jika kau memanggilku kakak juga, karena bagaimanapun juga aku lebih tua dua tahun daripadamu,," timpal Tifany kepada Jisung.
"Alach, hanya dua tahun ini,," jawab Jisung sambil tersenyum genit kepada Tifany.
"Zeni, bagaimana kau bisa menjadi asisten pribadi jendral, sedang latar belakang pendidikanmu tidak mengarah kesana, dan lagi nilai akademikmu juga buruk, kenapa bisa-bisanya jendral memilihmu? Trik macam apa yang kau pakai? Sedang aku yang sudah bersamanya tujuh tahun, sama sekali dia tidak melihatku" ucap Tifany.
("Sepertinya ada yang iri padaku,,tapi bagaimana aku menjelaskannya") gumam Zeni.
Belum sempat Zeni jawab, datanglah Qei, yang tiba-tiba bergabung dengan mereka dan duduk disebelah Tifany.
"Pagi semua" ucap Qei.
"Sudah lama sekali kakak tidak pernah makan di kantin, hari ini tumben sekali?" Tanya Jisung pada Qei.
Jisung sendiri adalah adik dari isteri Jendral yang sudah meninggal, maka dari itu, dia terlihat sangat santai saat bertemu dengan kakak iparnya.
"Karena aku ada urusan mendadak, besok harus pergi ke Pulau T,, ada yang harus diselesaikan disana, aku butuh satu orang untuk menemaniku kesana, cukup yang bersedia saja, karena disana sangat terisolasi, jaringan internet pun tidak ada, kemungkinan kembali dua minggu kedepan" ucap Qei.
Belum sempat Zeni dan Jisung mengajukan diri, Tifany nampak sudah mengangkat tangannya,, "Jendral, aku saja yang ikut, Jisung dan Zeni biarkan mengurus urusan kantor pusat,,"..
"Kalau kau tidak keberatan, maka semua beres,,"..
"Tentu saja tidak"
"jangan lupa membawa pakaian hangat, karena disana sedang musim dingin"
"Baik.."
Bla,bla,bla,bla,,, (mereka berdua berbicara terlalu banyak dan terlihat sangat bahagia)..
.....
.....
.....
Jisung dan Zeni yang melihat pemandangan itu, nampak tidak senang.
"Zen, sebentar lagi Mayor Jeno akan datang, untuk menyerahkan dokumen dan membuat laporan, segera datang keruanganku, untuk membantu" Perintah Qei.
"Baik Jendral",,jawab Zeni.
Mayor Jeno, kedudukannya dua tingkat dibawahnya Jendral Qei, namun dia juga adalah sahabat Qei.
.
__ADS_1
..
...
Tak beberapa lama Mayor Jeno datang dan berbincang dengan Qei di ruang kerjanya.
"Aku tidak habis fikir, kenapa kasus mengenai sekelompok organisasi penculikan ditarik dan diserahkan kepada Komisaris Besar Polisi,,dulu mereka sendiri yang menyarankan agar dari kemiliteran yang menyelesaikannya" ucap Jeno.
"Biarkanlah saja, ini menguntungkan kita, setidaknya beban kita sedikit berkurang" timpal Qei.
Tok,,tok,,tok,,
Zeni masuk keruang Qei,, Jeno pun tidak bisa melepas pandangannya dari Zeni.
"Tuan Jeno, mohon diminum dulu,,"
"Terimakasih.."..
"Zeni kau bawa berkas-berkas ini dan serahkan pada Jisung, dia sudah tahu apa yang akan selanjutnya dia lakukan." Perintah Qei.
Zeni pun segera pergi meninggalkan ruang kerja Qei, Jeno masih saja tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Apa kau akan melakukan itu sepanjang waktu" ucap Qei, sedikit kesal..
"Heeiii,, jangan begitu, tak kusangka kau pandai mencari asisten pribadi,, hiii,hii aku bangga padamu"..
"Hentikan, omong kosongmu itu"...
.
..
...
"Fany, kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" Tanya Jendral yang berjalan menuju Tifany,,
"Oh, Jendral,, iya ini sudah selesai, sekarang mau kembali ke kamar dinas, kebetulan sekali bertemu jendral,," jawab Tifany nampak malu-malu.
Qei dan Tifany pun jalan bersama,,
Dari kejauhan Zeni yang juga akan kembali ke kamar dinas pun melihat Qei dan Tifany jalan bersama. Zeni pun membuntuti mereka "iizt,, kenapa mereka berjalan bersama-sama seperti itu",,gumam Zeni.
..
..
Tiba-tiba,, PRAANK!!! Sebuah bola terlempar melewati Tifany dan Qey kemudian membentur ke kaca disalah satu kamar, dan menyebabkan kaca itu pecah.
"Aaach" Tifany yang nampak terkejut itupun hampir jatuh, namun ditahan oleh Qei, tapi tak sengaja jari kanan Qei terkena goresan kaca yang pecah saat ingin menangkap Tifany yang hampir jatuh..
"Hei! Siapa itu?! lain kali lebih hati-hati,,!!"...
"Maaf jendral kami tak sengaja"..
"Jendral kau tidak apa-apa?" Tanya Tifany yang panik.
"Tidak, kau sendiri bagaimana?"..
"Saya baik-baik saja, tapi jari kanan anda terluka"..
__ADS_1
"Biarkan saja, hanya luka gores"..
"Itu harus diobati, kalau tidak, nanti bisa infeksi"..
Akhirnya Tifany membantu membersihkan luka Qei.
("Iich apa yang terjadi, kenapa pakai peluk-peluk segala, terus kenapa Jendral itu masuk ke kamar itu, bukankah seharusnya kamar jendral berada disebelahnya, apa yang mereka lakukan").. Zeni bergumam bersembunyi dibalik semak.
Disisi semak yang lain terdapat Jisung yang ternyata juga menguntit mereka, Zeni yang melihat jisung akhirnya berjalan kearah Jisung dengan menunduk-nunduk.
"Kak?!" Kata Zeni sambil memegang punggung Jisung.
Jisung pun sedikit kaget.
Kemudian "ssssstttz,," sambil mengamati kedepan.
("Apa kak Jisung juga mengikuti mereka"),,batin Zeni.
"Kenapa mereka lama sekali tak keluar-keluar?" Tanya Jisung kepada Zeni sambil berbisik.
"Mana kutahu.." jawab Zeni juga berbisik..
"SEDANG APA KALIAN DISANA?!!!!" Tanya Qei yang sedikit teriak.
Tiba-tiba saja Qei dan Tifany berdiri tepat berada dibelakang Jisung dan Zeni, Jisung dan Zeni pun nampak terkejut.
"Eech, hmm kita,, sedang mengamati serangga,,tapi sudah selesai kok.. yuk Zeni,," jawab Jisung sembari menggandeng tangan Zeni dan berjalan dengan cepat meninggalkan Qei dan Tifany.
"Apa-apaan mereka ini",,ucap Qei.
("Iizh, kenapa harus ada mereka sih? Dasar mengganggu saja" guman Tifany dalam hati sangat kesal).
.
..
"Huch, huch,huch,, memalukan sekali, kenapa sampai ketahuan seperti itu" ucap Zeni dengan nafas tersenggal-senggal,,,
"Kak, lepas tanganku, aku mau pulang,,",,
Jisung pun melepasnya,, dan mereka jalan masing-masing..
"Eech, kenapa kakak masih mengikutiku?" Tanya Zeni.
"siapa pula yang mengikutimu? Kamarku disebelah sana" jawab Jisung.
"Lah, kak, kau tinggal disebelah kamarku? Dan selama ini aku tidak tahu" Ucap Zeni.
"Benarkah?" Tanya Jisung
Kemudian Jisung melirik ke kiri dan kekanan..dan berbisik dengan Zeni, "Zen, kamarmu punya pintu menuju kamar Jendral?"..
"Hmm iya, kakak sendiri?"tanya Zeni balik.
"Punyaku tembus ke tempat Fany,," jawab Jisung.
"Hach? Jadi selama ini kau menyu...." Zeni belum sampai selesai berucap tapi sudah disela Jisung.
"Ssszzzzt,, jangan keras-keras, yasudahlah, kalau sudah begini, sepertinya kita berada diperahu yang sama, bagaimana jika kita bekerja sama saja, jika kita berhasil, kau bisa bersama Jendral dan aku dengan Fany?" Ajak Jisung..
__ADS_1
"Hmmm..heeheee ide bagus,,,sepakat"..
Mereka berjabat tangan.