
"kak, aku tak bermaksud ikut campur dalam urusanmu dengan Zeni, tapi kali ini coba jangan turuti egomu terlebih dahulu, jangan selalu berfikir negatif soal Zeni, atau kau akan benar-benar kehilangannya..." ucap Jisung yang mencoba menasehati Qei dalam perjalanan pulang menuju tempat dinasnya sore itu.
"Lalu menurutmu, apa yang harus kulakukan?" Tanya Qei yang mulai pasrah mengenai urusan percintaannya.
"Temui Zeni dan dengarkan setiap ucapannya, bukankah mencintai itu harus didasari dengan kepercayaan juga, untuk kasus Zeni ini, wajar bila banyak pria yang menginginkannya tapi tidak lantas Zeni yang disalahkan..." Ucap Jisung.
.
.
Qei berfikir sebentar, lalu.....,
"Hmm pak, tolong putar balik" pinta Qei kepada supirnya untuk putar balik menuju rumah Zeni.
"Eech! Hey kak, maksudku tidak sekarang juga, besok masih ada waktu, lagipula kenapa harus bawa-bawa aku segala,, hiich,, jadi obat nyamuk saja...." ucap Jisung kesal.
"Tak apa, kau bisa mencairkan suasana, karena Zeni pasti akan marah besar dan tak mau menemuiku... Tapi jika membawamu akan lain ceritanya" timpal Qei yang cukup percaya diri.
.
.
.
.
.
.
.
Disisi lain,
Paemin yang sedang menunggu Zeni didepan rumah Zeni pun akhirnya mereka saling bertemu.
"Kau sudah pulang? Hemm? Dimana pria yang mengantarmu tadi? Kukira dia akan mengantar sampai kesini..." Ucap Paemin yang berdiri tepat didepan Zeni dan memainkan helai demi helai rambut Zeni.
__ADS_1
("Apa dia selama ini selalu mengawasiku?" Ucap Zeni dalam hati).
"Kenapa diam saja disini? Kau tak ingin masuk kedalam rumahmu?" Ucap Paemin lagi.
Namun Zeni hanya terdiam, dia terlalu bimbang karena jika dia benar-benar masuk rumah, maka Paemin tidak akan melepaskannya. Kemudian Zeni mencoba perlahan berjalan mundur untuk melarikan diri, tapi trik itu sudah diketahui oleh Paemin. Paemin pun segera menarik lengan Zeni dengan paksa sampai-sampai sendal Zeni terlepas kemudian mengambil tas milik Zeni, dan mencari kunci rumah Zeni untuk segera membawa Zeni masuk kedalam rumah.
.
.
.
.
Pintu rumah Zeni berhasil dibuka, Zeni langsung dibawa masuk oleh Paemin dan segera mengunci pintunya.
Zeni terlempar dikarpet didepan televisi.
"Aaach...!!!" Teriak Zeni yang tersungkur, sepertinya kakinya sedikit terkilir.
Paemin duduk disebuah kursi kecil yang biasa Zeni gunakan untuk makan disamping karpet tempat Zeni jatuh. Paemin menyilangkan kakinya dan segera mengitrogasi Zeni.
"Siapa pria itu? Dan apa hubunganmu dengannya?" Tanya Paemin.
Zeni hanya diam dan menundukan kepala.
"Kau tak ingin mengatakan sesuatu? Apa kau ingin mendapatkan peringatan dariku?" Ancam Paemin.
"Hech...., Bukankah sudah kubilang jika aku tak takut dengan ancamanmu, sebaliknya, jika kau bertindak lebih maka aku tak segan-segan untuk bunuh diri!" Ancam Zeni balik.
"Och, oke aku ingat kalimat itu, kau pernah mengucapkannya tempo hari, dan asal kau tahu pada saat itu aku menerima keputusanmu, aku membiarkan keputusanmu dengan catatan setelah kau berpisah dari Jendral itu maka tidak ada satupun pria lain yang boleh menyentuhmu, namun apa yang kulihat? Hemmm? Kau begitu nakal Zeni, aku tidak terima ini...." Ucap Paemin.
"Zeni, kenapa sangat sulit bagimu untuk memahami situasi? Biar kujelaskan, jangan membuat ini terlalu rumit, cukuplah kau menjadi wanitaku, tolak semua pria yang mengikutimu, maka aku tidak akan mengekangmu, kau bisa menjalani hidupmu sesuai keinginanmu, aku bisa memberikan segalanya untukmu..." Ucap Paemin lagi.
"Dia hanya atasanku..." Ucap Zeni singkat.
"Benarkah? Hmmm lalu apa kau bisa menjelaskan ini?" Tanya Paemin kepada Zeni, sembari memperlihatkan beberapa lembar foto Zeni dengan Daniel. Foto-foto tersebut menampakan sebuah kemesraan jika hanya dilihat dari pengambilan gambarnya.
__ADS_1
"Kak..., Ini tak seperti yang kau bayangkan, aku sama sekali tak ada perasaan apapun dengan pria itu..." Jawab Zeni sedikit menjelaskan.
"Jadi kalau begitu, benar dugaanku, dia hanya pria mata kranjang, sepertinya aku harus memberikan pelajaran untuknya, apa aku harus membuat tangannya cacat agar dia tidak bisa menyentuhmu lagi..." Ucap Paemin sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Tidak...tidak... Kak, kau tidak bisa melakukan hal keji seperti itu.." pinta Zeni.
"Ssssst, kata siapa tidak bisa? Kau lihat saja besok hasilnya, ssssst aku sedang menghubungi sessorang untuk melancarkan strategi ini, kau tenang saja, mulai besok pria itu tidak akan berani macam-macam denganmu.." ucap Paemin yang semakin menjadi, dia menaruh ponselnya ditelinganya.
Belum sampai panggilan itu diterima, Zeni segera merangkak dari tempatnya tersungkur dan menuju kemeja disamping Paemin duduk, yang kebetulan disana ada sebuah pisau, Zeni segera mengambil pisau tersebut dan menaruhnya di lehernya sendiri, dan
"Kak, hentikan tingkah gilamu itu, atau aku akan benar-benar mengakhiri hidupku!!!!!" Ancam Zeni.
Paemin menatap tajam Zeni dan menutup panggilannya. Dia dengan gesit mengambil pisau yang ada dileher Zeni dan menjauhkannya. Paemin yang sebelumnya masih terlihat sabar namun saat itu dia benar-benar menjadi marah. Paemin membopong Zeni ketempat tidurnya dan mengikat kedua tangan Zeni dimasing-masing sudut ranjang tempat tidur Zeni.
"Sudah kukatakan padamu jika aku tak suka diancam, dan kau sekarang benar-benar berani mengancam ingin bunuh diri hanya demi pria itu?! Hah?! Sudah bermain apa saja kau dengannya, sampai-sampai kau membelanya dengan nyawamu? Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu, namun sebelum kau bunuh diri, puaskan diriku terlebih dahulu...." Ucap Paemin dengan amarah yang menggebu.
Paemin membuka paksa pakaian kerja Zeni, Zeni hanya tinggal menyisakan pakaian dalamnya.
Zeni yang meronta-ronta tidak dihiraukan oleh Paemin.
"Kak....jangan kumohon, jangan lakukan itu, kumohon kak? Tolong dengarkan aku..." Ucap Zeni sambil meneteskan air mata.
"Tenanglah Zeni, seharusnya kau tidak memperdulikan ini, bukankah kau sendiri yang bilang akan bunuh diri, maka lakukanlah setelah kau menikmati masa-masa terakhir hidupmu, kau tidak akan menyesal..." ucap Paemin, sembari menjelajahi tubuh Zeni yang indah.
Zeni hanya terisak, Paemin yang melihat itu kemudian,
"Hey, tak akan seru jika kau menangis seperti ini, kalau begitu minumlah ini, agar kita sama-sama bisa menikmatinya" ucap Paemin lagi sembari meminumkan paksa obat perangsang.
"Kak, kenapa kau menjadi sangat jahat sekali?" Ucap Zeni lirih.
Paemin yang masih mengagumi keindahan tubuh Zeni pun berkata "seperti dirimu, aku tak punya pilihan lain, hanya kau wanita yang saat ini berada dalam fikiranku, namun betapa sulitnya diriku mendapatkanmu, mungkin dengan cara ini kau mempunyai pilihan lain lagi, hidup bersamaku atau mati bersama orang-orang yang ada disekelilingmu, jika kau berhasil mengakhiri hidupmu, maka akan kuakhiri juga hidup mereka yang pernah ada disekitarmu, apa kau mendengarku Zeni" ucap Paemin sambil meremas-meras kekenyalan milik Zeni dibalik bra-nya.
Zeni mulai merasa panas akibat pengaruh obat yang diberikan oleh Paemin.
("Aach....., Benarkah hidupku akan menyerah begitu saja ditangan pria ini, aaaach, aaaaach....!!!!" Ucap Zeni dalam hati, sambil menahan nafsu yang mulai menggebu dalam dirinya).
.
__ADS_1
.
.