
Qei berencana membuka amplop tersebut, namun,,
Tok,,tok,,tok,, (suara orang mengetuk pintu), itu adalah resepsionis yang membawakan beberapa dokumen dan surat-surat kiriman dari instansi-instansi lain untuk Qei.
"Hmm, kenapa ada amplop coklat tak beralamat lagi, kau tahu ini kiriman dari mana?" Tanya Qei.
"Hanya seorang kurir yang membawanya, mungkin alamatnya ada didalam amplop, apa Jendral belum pernah membuka kiriman-kiriman yang sebelumnya?" Tanya resepsionis tersebut.
"Kiriman-kiriman?" Qei sedikit bingung.
"Iya, ini sudah yang ketiga kalinya, kiriman yang pertama, nona Zeni sendiri yang membawakan untuk anda" ucap resepsionis tersebut.
"Hmm,, jd begitu, baiklah kau boleh pergi" ucap Qei.
.
.
.
("Seingatku Zeni tidak pernah menyerahkan dokumen apapun kepadaku, dia selalu diruangan Tifany, apa aku perlu menanyakannya,," gumam Qei didalam hati).
.
.
"Halo Zen, bisakah kau keruanganku" ucap Qei melalui ponsel.
("Baik Jendral")......
.
.
.
Sembari menunggu Zeni, Qei membuka amplop yang dia pegang dan Qei melihat isi dari amplop tersebut, yaitu Zeni dengan Paemin.
Qei langsung naik pitam, masing-masing isi foto dalam amplop tersebut ada sepuluh lembar. Qei segera keluar dari ruangan kerjanya dan menemui Zeni dengan amarah.
.
.
.
Akhirnya mereka saling bertemu ditengah-tengah atrium dimana banyak sekali staf dan prajurit lalu lalang.
"Jendral..." Ucap Zeni dengan sedikit lari-lari kecil menuju Qei dengan senyum bahagianya.
"Kenapa malah keluar, bukankah Jendral menyuruhku keruanganmu?" Tanya Zeni kepada Qei tanpa menaruh curiga apapun.
"Saat kau bersama pria itu, apa saja yang kau lakukan?" Tanya Qei dengan amarah.
("Hmm kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal seperti itu? Apa jangan-jangan dia mengetahui sesuatu, atau mungkinkah.... Hahh!" Zeni sedikit ketakutan).
"Sepertinya.." belum sempat Zeni melanjutkan kalimatnya, Qei memperlihatkan selembar foto mesra dirinya denga Paemin.
"Sepertinya kau sangat menikmatinya, bukan?" Ucap Qei, setelah mengucapkan kalimat itu, kemudian Qei melempar semua lembaran-lembaran foto itu kearah wajah Zeni, sehingga foto-foto tersebut, berjatuhan dimana-mana, foto Zeni yang hampir tak mengenakan pakaian berhamburan sampai akhirnya para staf dan prajurit banyak yang melihatnya.
Zeni yang malu mencoba mengumpulkannya, namun percuma saja, tetap tidak semuanya terkumpul.
__ADS_1
"Jendral, kau tidak seharusnya berbuat seperti ini, sebelum mendengar penjelasanku,," ucap Zeni sambil meneteskan air mata karena dipermalukan oleh Qei.
Qei yang berbalik badan berkata, "heh?!!! Penjelasan?! Penjelasan macam apa? Apa kau malu? Bahwa ternyata belangmu itu terbongkar? Akulah yang seharusnya malu, bahwa kenyataannya kekasih seorang Jendral ternyata seorang wanita ******!!!" Qei pun berlalu meninggalkan Zeni yang terduduk dilantai atrium dan menjadi bahan tontonan orang-orang disekitar.
"Iich tak kusangka, ternyata dia wanita seperti itu.."..
"Bukankah Jendral sangat menyukainya, tapi kenapa dia main dengan pria lain"..
"Eech, lihat-lihat foto ini,, waaach sepertinya dia benar-benar menikmatinya"..
(Beberapa cuapan-cuapan orang disekitar).
Zeni merasa harga dirinya benar-benar hancur, dia berlari kearah kamar dinasnya sambil menangis.
.
.
Zeni sangat menyesali dirinya sendiri karena telah mengenal dua pria itu yaitu Qei dan Paemin.
Zeni menangis semalaman, ketukan-ketukan pintu dari Tifany dan Jisung dari arah luar tak dihiraukannya.
.
.
.
.
.
"Zen, kau belum makan dari kemarin siang aku menaruh sarapan di depan pintu ya,, jangan lupa memakannya.." ucap Jisung yang sudah rapi siap bekerja, dia meninggalkan segelas susu dan omelet di depan pintu kamar Zeni.
.
.
Zeni sedang sibuk mengepak pakaiannya untuk segera meninggalkan kamar dinas.
"Heh,, dia benar-benar tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu dan langsung mempermalukanku di depan banyak orang" gumam Zeni sambil tersenyum bodoh.
"Lihat saja, saat dia mengetahui kebenarannya, dan ingin kembali lagi, aku tidak akan memaafkannya, bahkan jika dia mati sekalipun.. huuch, kenapa sulit sekali dunia memihakku,, Aaaarggghhh,,,!" gumam Zeni lagi, ("krruuuuuucuuuuk,,," perut Zeni berbunyi).
"Sepertinya aku harus mengisi energi.." kemudian Zeni menuju keluar untuk mengambil sarapan yang ditinggalkan Jisung didepan pintu. Namun saat dia ingin mengambil makanan yang ditinggalkan Jisung, ternyata makanan tersebut sudah dikuasai oleh dua ekor kucing.
"Och, oke, nikmatilah,," ucap Zeni kepada kucing-kucing tersebut dan langsung menutup pintu.
"Kucing pun juga tidak berpihak padaku,, hukkk,, huuuukk,,"...
.
.
.
.
.
Zeni berencana keluar dari Gedung Militer tersebut saat jam masuk kantor, agar tidak terlalu banyak orang yang melihatnya.
__ADS_1
"Aaach, sepertinya sebelum pergi aku harus menuju kantin dulu untuk makan, perutku lapar sekali.." gumam Zeni, sembari menuju kantin dengan koper besarnya.
.
.
Dari kejauhan nampak Qei dan Tifany sedang berjalan bersamaan, namun Zeni yang menuju kantin tidak melihatnya.
"Jendral, itu sepertinya Zeni akan meninggalkan gedung militer, apakah anda tidak ingin mencegahnya?" Tanya Tifany kepada Qei, yang melihat Zeni membawa koper.
"Biarkan saja dia, hanya buang-buang waktu saja memperdulikan wanita seperti itu.." ucap Qei.
.
.
.
"Bibi Jisoo, omeletnya satu ya?" Ucap Zeni kepada staf kantin.
Namun datanglah dari arah belakang beberapa staf wanita "bukankah, kantin ini hanya diperuntukan untuk staf saja,,"..
"Benar juga,, tapi kenapa ada bau-bau wanita buangan disini ya,,"..
"Kalau aku jadi dia,, aku akan segera pergi dari sini, bukannya malah masih numpang makan gratis, dasar tak tahu malu,,"..
"Huuuzt,, biarkan saja, mungkin memang urar malunya sudah tidak ada, kalau tidak, bagaimana bisa sudah jadi kekasih Jendral tapi masih suka bermain dengan pria lain,, ooups!"...
"Ahaaaaaa,,,,ahaaaaaaa,haaaaaa" mereka pun tertawa bersama..
Zeni yang tidak tahan dengan sikap mereka, segera meninggalkan tempat itu.
Jisoo yang melihat Zeni pergi begitu saja, segera membungkus omelet pesanan Zeni dan menambahkan sebotol jus, dia segera mengejar Zeni yang sudah berjalan cukup jauh.
"Zeni...!" Panggil Jisoo.
Zeni menoleh kearah belakang "iya bi,,?" Ucap Zeni.
"Ini bawalah, jangan lupa dimakan ya? Jangan hiraukan apa kata mereka, bibi tahu kau pasti punya alasan tersendiri" ucap Jisoo sembari menyerahkan bungkusan makanan kepada Zeni.
Zeni pun menerimanya sambil meneteskan air mata "Terimakasih bi,," ucap Zeni lirih.
"Sudahlah jangan bersedih lagi,, kalau suatu saat kau ada waktu, jangan lupa kunjungi bibi ya,," ucap Jisoo.
"baik.." Zeni pun keluar dari Gedung Militer itu.
Nampak dari ruangan Qei, yang melalui jendela tempat kerjanya melihat kearah gerbang dan mendapati Zeni benar-benar keluar darisana.
"Kenapa,, kenapa kau benar-benar keluar dari sana! Tidak bisakah kau memohon padaku dan meminta maaf padaku, aku masih bisa menerimamu dan memberimu kesempatan! Kenapa kau sangat keras kepala, apakah itu artinya kau memilih pria itu?!!!" gumam Qei.
.
.
.
("Bos,, target keluar"..)
"bagus,, ikuti saja dia kemana perginya, jangan sampai menimbulkan kecurigaan, lakukan saat dia sedang sendiri"..
("siap bos..")
__ADS_1