
Jalan sudah di blokade sesuai permintaan Qei. Jisung pun saat itu segera menuju lokasi kejadian, dan menuju ruang keamanan mall Lotre dia meminta rekaman saat kecelakaan terjadi untuk menemukan mobil yang telah sengaja menabrak Ehun.
"Halo Tifany, aku sudah mengirimkan gambar mobil itu, tolong kau lacak keberadaannya dan segera kirim lokasinya padaku" ucap Jisung melalui ponselnya.
("Baik.." jawab Tifany).
.
.
.
.
.
.
.
Rumah sakit.
Zeni walau sedang sedih dan ingin menangis, nampak sibuk mondar mandir mengurus dokumen-dokumen mengenai Ehun dan Elia.
"Zeni.." ucap Qei sambil berlari kearahnya.
"Ach, Jendral.." Ucap Zeni, yang masih sibuk mengisi formulir.
"Dimana Elia dan Ehun?" Tanya Qei langsung.
"Elia dan Ehun diruangan terpisah, Elia hanya luka ringan saja, dia bersama dengan tante Rose" jawab Zeni.
"Dan Ehun?" Tanya Qei lagi.
"Ehun,,, (Zeni diam sejenak) saat ini sedang berada diruang operasi, Jendral kau temui saja dulu tante Liza, temani dia, saat ini dia sangat ketakutan, setelah urusanku selesai, aku akan segera menemani tante Liza dan anda bisa bertemu dengan Elia" ucap Zeni.
"Baiklah"..
.
.
.
.
Setelah beberapa jam, Ehun sudah dipindahkan keruang ICU dengan kondisi masih belum sadarkan diri, terdapat perban dibagian lengan dan kepalanya.
"Tante, istirahatlah dulu di sofa, baringkan sejenak tubuh anda, biar aku yang menunggu Ehun disini" ucap Zeni yang berdiri di samping Liza yang sedang duduk di sisi kiri ranjang Ehun.
"Tante sangat takut kehilangan Ehun, Zeni.." ucap Liza.
"Tante, tenang saja, bukankah tadi dokter bilang Ehun baik-baik saja,, sekarang pergi ke sofa, minum air yang sudah Zeni siapkan dan istirahat sebentar, kalau Ehun bangun, Zeni akan segera panggil tante.. oke?!" Timpal Zeni sembari memapah Liza yang lemas berjalan kearah sofa.
.
.
.
.
__ADS_1
Jisung yang sudah selesai dengan misinya, bergegas menuju rumah sakit.
"Kak,, bagaimana keadaan Elia dan Ehun?" Tanya Jisung.
Qei duduk diluar ruang rawat inap Elia.
"Elia baik-baik saja, tapi Ehun sepertinya cukup kritis,," jawab Qei.
"Kasihan sekali,," ucap Jisung.
"Dan kau sendiri,, bagaimana hasilnya,,?" Qei menanyakan hasil pengejaran atas orang yang melakukan tabrak lari.
"Sudah tertangkap, dia adalah orang suruhan Mayor Jeno" jawab Jisung.
Driiiit....driiiiiiit.....driiiiiiiiiit... (Ponsel Jisung berbunyi).
Itu adalah panggilan dari asisten dokter yang menangani penyakit Tere.
("Bisakah anda kerumah sakit sekarang pak, ada yang ingin dokter bicarakan kepada anda" ucap asisten tersebut).
"Och, kebetulan sekali, saya akan segera menemuinya" ucap Jisung.
"Kak,, aku pergi dulu.." Jisung berlalu buru-buru dan lari-lari kecil sambil melambaikan tangan.
.
.
"Kondisi nona Tere memburuk, bisa dikatakan alat-alat penunjang yang ada ditubuhnya saat ini sudah tidak banyak membantu.." ucap Dokter tersebut.
.
.
.
Jisung terngiang-ngiang kalimat dari dokter tersebut, dia menuju ruangan Tere, terlihat dari jendela luar kamar rawat inapnya, Tere sedang terbaring dan melihat acara televisi.
Tere pun sadar jika Jisung melihatnya dari arah luar, dia tersenyum pada Jisung, Jisung segera menghapus air matanya dan masuk kedalam.
"Hai kak,,," Jisung berusaha tersenyum kepada Tere.
"Sepertinya kau baru saja bertemu dengan dokter sialan itu?" Ucap Tere.
"Kenapa kakak berbicara seperti itu" tanya Jisung sembari duduk disamping Tere dan menggenggam tangannya.
"Karena, kakak tidak pernah melihatmu menangis, terakhir kakak melihat saat orang tua kita meninggal, dan sekarang satu-satunya orang yang bisa membuatmu meneteskan air mata adalah seorang dokter,,huuuuuch,, coba katakan pada kakak, dokter itu mengatakan kalimat apa lagi padamu,,, biar kakak yang memberi pelajaran kepadanya nanti jika bertemu!" ucap Tere, yang sedikit menghibur Jisung, karena pada dasarnya Tere juga sudah tahu, jika Jisung menangis karena dirinya.
Jisung pun tersenyum dan mencium tangan Tere yang lemah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Setelah beberapa hari berlalu, kondisi Tere semakin lemah dan Ehun pun masih tak sadarkan diri.
Rose yang pada beberapa hari kebelakang dia lebih sering mengunjungi Tere, disaat Jisung sibuk bekerja, Rose lah yang menemaninya.
Sampai pada dimana "hmmm, sudah ada tiga jam, tapi kenapa Tere masih belum bangun-bangun" gumam Rose yang berada disamping Tere.
Rose merasa ada yang tidak beres, dia segera menghubungi dokter dan Jisung.
.
.
.
.
Disisi lain, Ehun akhirnya sadarkan diri.
("Hmmm, bukankan aku sudah membuka mataku? Tapi kenapa masih gelap" ucap Ehun dalam hati). Dan Ehun pun mulai menyadari ada yang salah dengan pengelihatannya.
"Apa ada orang disini?" Ucap Ehun sedikit teriak.
"Kau sudah bangun nak? Syukurlah,,," ucap Liza yang setia menunggu Ehun siang dan malam.
("Itu suara ibu" batin Ehun).
"Hmmm bu, aku dimana?" Tanya Ehun.
Liza mulai meneteskan air mata lagi, saat mengetahui sepertinya Ehun tidak bisa melihat.
"Bu,, ibu jangan menangis, ini mungkin hanya efek samping obatnya saja, atau karena aku terlalu lama tidur, ibu tenanglah,," Ehun yang sebenarnya juga ingin teriak, namun dia lebih memilih menenangkan ibunya.
"Hukk,,,hukk,,,, ib,,ibu,, akan memanggilkan dokter untukmu nak, jangam turun dari ranjang ya,, ibu segera kembali" ucap Liza sembari bergegas mencari dokter yang menangani Ehun.
.
.
.
Kembali ke Tere, dia masuk ke ruang ICU, Jisung yang sudah sampai tempat itu, terlihat mondar mandir dan panik, Rose mencoba menenangkannya.
"Jisung, nak, duduklah,,, kau harus tabah,,, tenangkan dirimu" ucap Rose.
"Aku takut tante, Tere adalah keluargaku satu-satunya,," ucap Jisung panik, yang duduk disamping Rose dengan membungkukkan tubuhnya dan siku-sikunya berada di antara paha dan telapak tangannya menutupi wajahnya yang sedih.
Tiba-tiba Rose mengeluarkan secarik kertas dan sebuah flashdisk, dia menyerahkan itu kepada Jisung.
"Sepertinya ini harus kau terima sekarang" ucap Rose.
"Apa ni tan?" Tanya Jisung.
"Bukalah".. pinta Rose.
kertas itu ditulis oleh Tere sendiri,, "Jisung adiku, saat kau membaca ini mungkin kakak ada di ruang ICU, sengaja kakak minta kepada Tante Rose untuk menyerahkan kertas ini disaat kakak sedang sekarat, tapi untuk flashdisknya, kau hanya diizinkan membuka saat kakak benar-benar sudah tiada.
Kakak hanya ingin kau menyetujui jika kakak benar-benar tidak bisa menemanimu lagi, tolong donorkan organ tubuh kakak yang masih berguna, untuk membantu mereka yang membutuhkan, setidaknya kau juga masih bisa merasakan keberadaan kakak melalui mereka.. maafkan kakak, kau baik-baik disini dan hiduplah dengan bahagia,, ayah, ibu, dan kak Liye sudah menunggu kakak,, kau jaga dirimu ya,,,,"
Seketika air mata Jisung tak hentinya mengalir, dia tersungkur dari tempat duduknya karena tak kuat menahan rasa sesak dalam dirinya, Rose yang ada disampingnya pun hanya bisa memeluknya.
__ADS_1