MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Qei


__ADS_3

Qei.


("Segera kirim mata-mata untuk mengikutinya, berhati-hatilah jangan sampai menimbulkan kecurigaan" Qei sedang menerima telpon diruang kerjanya).


Tok ... tok ...


"Permisi pak, ibu anda sedang menunggu diluar" ajudan melapor.


Qei "biarkan beliau masuk".


.


.


.


"Ibu, kenapa pagi-pagi sekali tiba-tiba datang ke tempat kerjaku, ada masalah apa?" Tanya Qei.


"Lah, apa harus ada masalah dulu baru boleh menemui anaku? Sengaja aku datang sepagi ini, agar bisa menemuimu dan mengajakmu mengunjungi makam ayahmu, kau pasti lupa kalau hari ini tepat tanggal meninggalnya ayahmu?" Timpal ibu Rose, ibunya Qei, sambil berjalan ke sofa samping meja kerja Qei, dan mengambil bingkai kecil foto keluarga yang berada di lemari pendek depan sofa, duduklah ibunya Qei, sembari mengelus-ngelus foto tersebut.


Qei berdiri dari tempat duduk berjalan kearah ibunya, kemudian duduk disamping kiri ibunya, tangannya menggenggam jari jemari ibunya seakan-akan memberi kekuatan kepada ibunya "maaf bu, akhir-akhir ini aku sangat disibukan dengan pekerjaanku, maaf juga sudah lama sekali aku tidak mengunjungi rumah" Qei, sambil memandang ibunya.


"Tak apa nak, aku mengerti pekerjaanmu berat, aku tidak akan berharap lebih, ibumu ini hanya ingin kau selalu baik-baik saja, karena hanya kau satu-satunya yang ibu miliki saat ini, sampai sekarang tidak ada kabar mengenai Elia (sedih berkaca-kaca), ayahmu meninggal tepat dihari ulang tahun cucunya, seharusnya sekarang kita juga merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh" jawab Rose sedikit terisak.


"Sudahlah bu, aku yakin Elia masih hidup, saat ini aku masih berusaha" Qei.


("Kalau saja saat itu aku lebih mempunyai banyak waktu dengannya, kalau saja aku lebih perhatian kepadanya, kalau saja, kalau saja, aaach ...!" Qei dalam hati).


Qei kembali ke meja kerjanya dan menghubungi bawahannya untuk membatalkan beberapa janji hari ini agar bisa menemani ibunya untuk memperingati kematian sang ayah.


"Lapor pak, mobil sudah siap" ...


"kita berangkat sekarang bu,," ajak Qei.


.


.


.


Cuaca sore pun masih mendung.


Klunting.


Zeni yang sedang berjalan menuju stasiun kereta hendak pulang, berhenti sejenak melihat pesan di ponselnya.


(Zeni, jangan lupa membeli kue ulang tahun, ingat harus rasa coklat, jangan seperti tahun lalu (strowberi) aku tidak suka) isi pesan dari Elia.


"Hiiizt baru ini biasanya orang segan minta kue ulang tahun, mereka lebih memilih untuk diberi surprize, kenapa dia terus terang sekali" gumam Zeni sambil senyum tipis.


.

__ADS_1


.


.


Qei dan ibunya sedang dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam sang ayah.


"maaf Qei, akhirnya harus sampai selarut ini" Rose.


"tidak apa-apa bu, semua masih dalam kendali, lagipula hari ini memang hari penting keluarga kita" Qei.


"bagaimana dengan penyelidikan mengenai kasus yang menimpa cucuku?" tanya Rose.


"sedikit ada perkembangan, ibu tenang saja, aku tetap selalu memprioritaskan untuk mencari keberadaan Elia" jawab Qei.


"jika memang Elia bisa lolos dari penculikan itu, kenapa dia tidak segera kembali? apa kau tidak berfikir sampai sejauh ini?" tanya Rose lagi sedikit kesal mengingat masa lalu.


"sudah ku bilang dari awal, sejak kecil dia tidak mendapat kasih sayang ibunya, tapi kau terlalu mengabaikannya, kau terlalu menyalahkanya, kau menganggap dia adalah penyebab kematian istrimu, haiich ...! tapi sudahlah, kau juga sudah menyesalinya, sekarang lakukan yang terbaik, segera temukan Elia" ucap Rose lagi. Sembari memandangi hujan diluar mobil.


Qei, terlihat termenung dan terlihat meratapi kesalahannya dimasa lalu, ibu Qei yang menyadari hal itu, segera menggenggam tangan Qei dan tersenyum memberi semangat, Qei pun sedikit tenang dan percaya bahwa dia bisa menemukan Elia.


"Terimakasih bu" ucap Qei.


.


.


.


"Qei, ibu akan turun di gang depan setelah lampu merah, ibu ingin mengunjungi seseorang dia dulu pernah menjadi orang kepercayaan ayahmu, tinggalkan ibu satu mobil saja dan dua pengawal agar tidak terlalu mencolok" pinta Rose kepada Qei.


"Heich, ibumu ini bukan anak kecil ..." Rose.


"Baiklah kalau ibu memaksa" Qei.


.


.


.


"Blackforest Total Rp.250.000,- ada lagi kak?" Kasir.


"Sudah, Terimakasih" Zeni.


Zeni menuju keluar setelah membeli pesanan Elia, dia berdiri didepan toko dan melihat sekitar.


("Huch, kenapa malah hujan, padahal jarak rumah tinggal beberapa gang dari sini" Zeni).


"Hm, oh, ha ... hay ..." ...


Zeni menoleh kesamping karena ada yang menyapanya.

__ADS_1


"Hmmm ..." Zeni.


"Itu, sepertinya kita searah, aku ada payung, kau boleh ikut kalau mau" pria itu sedikit takut dan malu.


("Sepertinya familiar (mikir sebentar dan ...) Ooch si Ehun ganteng, hiii,hiii")


"Ooch hay, kebetulan sekali, kau pulang kerja kah atau ..." tanya Zeni.


"Iya aku sudah selesai bekerja, dan tak sengaja atau memang jodoh (malu-malu) aku melihatmu disini, mau ikut sekalian aku akan mengantarmu kalau tidak keberatan?" Tanya Ehun sopan.


"Oke ..." Zeni.


.


.


.


"Sudah, cukup sampai sini saja mengantarnya" Ucap Rose.


"Terimakasih karena telah berkunjung" ...


"Sulit sekali menemukan alamat barumu, aku harus mengirim seseorang untuk melacak keberadaanmu dan lagi kenapa kau tidak datang padaku saat kesulitan seperti ini, suamimu adalah orang kepercayaan keluargaku, dia telah lama sekali bekerja dengan kami? Maafkan aku, aku tidak tahu jika suamimu meninggal setahun lalu, dan dimana anakmu?" Rose.


"Ehun, dia bekerja paruh waktu di sebuah toko kecil, setelah kematian ayahnya, kami meninggalkan banyak hutang untuk biaya pengobatan ayah Ehun, segalanya telah kami jual untuk melunasi hutang, sekarang kami menyewa tempat kecil ini, dan Ehun terpaksa harus putus kuliah sementara waktu, karena kami tidak ada biaya" jawab Liza ibu Ehun.


.


.


.


Zeni dan Ehun berdampingan perjalanan pulang dengan sebuah payung. Di jalan sempit yang tidak bisa dilalui mobil, yaitu gang H. Miun. Dari kejauhan Ehun melihat seorang wanita tua sedang berbicara dengan ibunya ditengah hujan.


("Siapa yang berbicara dengan ibuku, dan mobil hitam juga orang-orang berkemeja hitam di depan gang H. Miun tadi begitu sangat asing" Ehun dalam hati).


Disisi lain yang Zeni lihat ada bayangan ditengah hujan lelaki bertopi hitam memakai jaket hitam juga, dia tepat dibelakang wanita tua itu, dia membawa pisau tajam didalam saku jaketnya dan tangannya sepertinya siap untuk mengeluarkan pisau untuk menikam ibu tua itu.


("Wach ini tidak betul!") Zeni dalam hati.


Tanpa fikir panjang Zeni pun lari dengan kencang kearah orang misterius itu, dia meninggalkan Ehun dengan payung ditangan kanannya dan blackforest ditangan kirinya


"Zeni!!!! ADA APAAAAA ...?!!!" Teriak Ehun yang bingung melihat Zeni tiba-tiba lari kencang.


.


.


.


"Aaaachhh ...!!!!" ...

__ADS_1


"HACH ..." ...


payung jatuh terbang, blackforest pun jatuh kececer ... (Alamaak, Rp. 250.000 hilang, Ehun yang jatuhin jadi harusnya dia yang gantiin, atau Elia jadi murka "Haaarggggrh").


__ADS_2