MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni & Paemin


__ADS_3

Rapat pun dimulai, Zeni duduk disamping Jendral Qei,, Zeni yang masih penasaran dengan alat yang ada pada diri Jendral tadi, dia pun berbisik pada Jendral Qei, untuk menanyakan hal tersebut,,


"Jendral, ngomong-ngomong, alat apa yang kita buang tadi?" tanya Zeni.


"entahlah namun, jika ketahuan membawa alat semacam itu, maka akan langsung di eksekusi" jawab Qei.


"apa Jendral tahu siapa yang melakukan ini semua?" tanya Zeni lagi sambil berbisik.


"tentu saja.." jawab Qei singkat.


"lalu kenapa Jendral diam saja, seharusnya Jendral berbuat sesuatu, untung saya melihatnya, kalau tidak ada saya, pasti Jendral sudah ..." Zeni mulai mode cerewet.


"iizt kau bisa lebih diam sedikit? aku tidak bisa berkonsentrasi, mendengarkan apa yang dibahas didalam rapat jika kau terus saja mengoceh disampingku" Qei mulai kesal.


"tapi hari ini saya yang menyelamatkan nyawa Jendral, bukankah seharusnya saya dapat reward?!" timpal Zeni


"kau baru kerja hari pertama,, sudah minta yang macam-macam, sudah jangan bicara lagi,,"..


Zeni yang menjadi kesal, sambil bergumam "iiizt, setidaknya bisa kan bilang terimakasih.."


Qei yang melihat tingkah Zeni, sedikit tersenyum namun dia tidak memperlihatkannya.


.


..


...


Qei dan Zeni dalam perjalanan pulang, setelah selesai menghadiri rapat.


Mereka tidak banyak berbincang, Qei yang sibuk dengan ponselnya membaca laporan-laporan penculikan anak ("makin banyak sekali kasus penculikan anak, dalam minggu terakhir ini sudah ada tiga laporan dari wilayah yang berbeda-beda") Qei yang nampak serius menangani kasus-kasus itu.


Sedangkan Zeni terlihat sangat kelelahan setelah menghadiri rapat, ("Uuch, lelahnya mengikuti rapat, aku sama sekali tidak paham apa yang mereka bicarakan, otakku tidak sampai sana" Zeni bicara sendiri didalam hati, dia terlihat lemas dan lapar (kruucuk,,) (suara perut Zeni), "ya ampun.. memalukan sekali..aach bagaimana jika jendral mendengarnya")..


"Kalau begitu kita mampir ke restoran dulu" ucap Qei, sembari tangannya menutupi bibirnya yang sedang tersenyum melihat tingkah konyol Zeni yang duduk disampingnya.


Zeni hanya menundukkan kepala karena malu.


.


..

__ADS_1


...


Setelah mereka menyelesaikan makan, dan berjalan kearah mobil, Qei pun berencana mengantar Zeni pulang.


Namun Zeni menolaknya karena khawatir Qei akan tahu keberadaan Elia.


"Jendral tidak perlu mengantar saya, saya bisa pulang sendiri." Ucap Zeni.


"Ooch, apakah kau takut kekasihmu marah jika aku mengantarmu?" Tanya Qei.


"Bu,,bukan begitu,, lagipula aku tidak ..."..


"Hay sayang,," datang Paemin dari arah belakang dan langsung memeluk pinggul Zeni dengan tangan kanannya dari samping kiri Zeni. Paemin melempar senyum kewajah Zeni yang terlihat terkejut.


Qei pun yang menyaksikan pemandangan itu, tidak ingin berlama-lama disitu.


"Kalau begitu aku akan pergi" dia berbalik badan dan segera menuju mobil.


"Bye,,," ucap Paemin sambil melambaikan tangan.


"Eech tung,,tunggu, anda salam paham" ucap Zeni, sembari mencoba melepaskan pelukan Paemin. Namun Qei tetap berlalu, dan sama sekali tidak menghiraukan Zeni.


"Kau, kau,, benar-benar sudah kelewatan!!!"..


"Kenapa? Aku hanya membantumu keluar dari situasi yang menyulitkanmu..kenapa kau begitu marah? Sepertinya kau menaruh hati padanya? Kau harus ingat dia sudah mempunyai kekasih!" Ucap Paemin.


"Heh,, kau tahu apa tentang Jendral Qei?" Tanya Zeni sambil berbalik badan dan sedikit meremehkan Paemin.


Paemin yang nampak tidak suka disepelekan, segera dia memutar tubuh Zeni dan mendekapnya, matanya tajam mengeluarkan aura kebencian "aku tahu segalanya tentang dia, bahkan tentang anaknya, apa kau tahu sekarang Elia sedang melakukan apa dan dimana?!"...


Tiba-tiba Zeni nampak ketakutan ("apakah, dia ada dendam dengan Jendral Qei? Atau dia adalah seorang pengutit, kenapa dia bisa tau semuanya?! dia benar-benar bukan orang baik, sejak awal aku sudah mencurigainya, lalu Elia, Elia apakah dia dalam bahaya") Zeni berfikir terlalu keras untuk keluar dari dekapan Paemin, dia mengangkat pahanya keatas dengan kencang dan keras,,


"Aacrg!!" Paemin kesakitan ("sial, buah zakarku,, aaagrh!!!!")..


Zeni pun lari sekuat tenaga, ("iiizh kenapa ditempat parkiran seluas ini, tidak ada orang satupun"), dia menemukan sebuah lorong, dia bersembunyi didalam lorong itu dan segera menghubungi Elia, dia menghubungi Elia berulang kali. Namun hasilnya nihil ("kumohon Elia, kau dimana?!")..


("Jika aku menemukanmu, aku tidak akan sungkan lagi") Paemin berjalan mengitari parkiran itu dengan mobilnya, kemudian dia menepi sebelum lorong tempat Zeni bersembunyi. Dan dia menunggu disitu.


("Tadi sepertinya ada suara mobil, tapi kenapa tiba-tiba hilang, apa mungkin pria jahat itu sudah pergi?!") Setelah cukup lama, Zeni pun keluar dari persembunyiannya. Dan dia terkejut melihat Paemin sudah menunggunya di depan, Zeni pun berjalan perlahan mundur, kemudian di ikuti oleh Paemin, sampai akhirnya Zeni tak menemukan jalan keluar lagi, dia berada dijalan buntu, satu-satunya jalan adalah yang di blok oleh Paemin.


"Jangan salahkan aku,,, semua karena ulahmu sendiri, seharusnya kau tidak perlu muncul dua tahun yang lalu, maka hal ini tidak akan terjadi" ucap Paemin yang sudah ada tepat di depan Zeni.

__ADS_1


Zeni pun mulai memahami maksud Paemin ("jadi dia adalah pelaku penculikan itu, dan kemungkinan besar kasus penculikan anak yang terjadi selama ini adalah ulahnya, itulah alasan kenapa dia selalu membawa obat bius dan senjata kemana-mana,, aah,, ya ampun, bagaimana ini..).. Zeni benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Sekarang aku benar-benar menginginkanmu" ucap Paemin, sambil sedikit mengangkat tubuh Zeni,,


"Kak, kumohon jangan macam-macam,, kak,,aach jangan!!!"


Tangan Zeni ditahan oleh Paemin dan bibir Paemin mulai menjelajahi leher Zeni, Zeni merasa panas.


"Kak, kumohon jangan diteruskan atau aku akan teriak!!" Zeni mengancam.


"Teriaklah, maka kau akan segera bertemu dengan mayat Elia"..


"Aa,,apa yang kau lakukan pada Elia"..


"Turuti keinginanku, maka Elia baik-baik saja"..


"Aaaaach,, kak,, jangan sentuh bagian itu, kumohon" Zeni yang nampak pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Paemin, nafsu Paemin sedang didalam puncak, dia tidak peduli dengan yang diucapkan oleh Zeni, dia ******* habis bibir Zeni, dan tangan nakalnya mulai beraksi. Zeni berusaha menahannya, agar Paemin tidak melakukan lebih dari itu, tiba-tiba....


Driiit...driiiittt.. driiiiiit..( suara ponsel Paemin)


"Ada apa?" Paemin menjawab telepon sembari tangannya merapikan rambut Zeni, yang terlihat berantakan.


("Operasi transplantasinya, akan dimulai sebentar lagi")..


"Baik, aku akan segera kesana"..


Paemin menutup teleponnya, dan melihat kearah Zeni yang sedang mengancingkan bajunya.


"Hari ini sampai disini dulu" ucap Paemin, sambil memeluk dan mengecup bibir Zeni dengan lembut. Kemudian dia menggendong Zeni menuju mobil, Zeni tidak banyak bicara dan melawan.


"Aku akan mengantarmu pulang"..


"Aku ingin menemui Elia,,"..


"Kau akan segera bertemu dengannya"..


.


..


...

__ADS_1


__ADS_2