
"Tuan,,, tuan,, bangun tuan Jendral,, nona Zeni kabur.." ucap salah seorang penjaga.
Qei yang terkejut, langsung terbangun,,
"Bagaimana bisa terjadi?!!! Apa saja kerjaan kalian, hanya menjaga seorang gadis saja tidak bisa!" Ucap Qei yang belum sadar jika baju dan celananya tidak pada tempatnya.
"Ini,, ada apa dengan pakaianku dan kenapa ada alat kontrasepsi kond*m, celana dalam?" Ucap Qei bingung sembari menatap para penjaganya. Penjaganya pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi, dan memberikan kertas yang ditulis oleh Zeni.
"Cepat cari dia sampai ketemu, dia pasti belum terlalu jauh dari sini..!" Perintah Qei sambil meremas kertas yang telah ia baca.
("Apa maksudmu ingin menyelamatkan Elia dengan menyerahkan dirimu kepada pria yang pernah kau temui itu!!! Lalu apa gunanya selama ini aku melindungimu agar dia tidak bisa menemukanmu?! Dasar bodoh!!!" Qei berbicara dalam hati dengan penuh amarah).
.
.
.
(" Halo,,, kak, kau bisa kembali ketempat dinas,, aku menemukan Zeni dijalan dan membawanya kemari..").
"Baiklah.." Qei sedikit lega, dan segera kembali ke kantornya.
.
..
...
....
.....
"Mana Zeni?" Tanya Qei langsung, setibanya dikantor.
"Dia berada dikamar dinasnya.." ucap Jisung.
"Kamar dinas? Sejak kapan dia tinggal dikamar dinas?" Tanya Qei.
"Seperti yang diucapkan Tante Rose waktu itu, setelah penculik mengincar Elia, Zeni pun ikut bersembunyi, dan selama ini dia tinggal di kamar dinas" jawab Jisung.
"Jadi begitu.."..
Qei pun menghampiri Zeni ke kamarnya, namun Zeni belum juga siuman.
.
.
__ADS_1
.
.
"Aaach..kepalaku sakit sekali" ucap Zeni saat pertama kali sadarkan diri.
("Hmm, sepertinya aku berada dikamar dinasku sendiri, ach sial, si Jisung itu, benar-benar tidak bisa dipercaya,," ucap Zeni dalam hati yang masih belum menyadari keberadaan Qei).
"Hmmm, kenapa bajuku sudah ganti dengan dress sexy seperti ini,,dan kakiku juga di rantai..aach Tidaaaaaak!!! Siapa yang berani melakukan ini..!" Zeni bergumam kemudian berteriak.
"Aku, kenapa?!" Ucap Qei yang menahan amarah, dia berdiri menyenderkan tubuhnya ketembok, dengan tangan menyilang diantara dadanya yang bidang sambil memandang Zeni dengan tajam.
Zeni yang terkejut, segera menutupi dirinya dengan selimut untuk berlindung diri..("uuuuuch, Jendral sepertinya marah besar, bagaimana ini" Zeni bergumam dibalik selimutnya).
Kemudian Jendral berjalan kearah ranjang Zeni, dan menarik paksa selimut yang Zeni kenakan, sehingga Zeni tidak bisa melawan.
Qei duduk dipinggir ranjang Zeni yang tak berani berkutik.
"Ada yang mau kau jelaskan, selain kata maaf?!" Tanya Qei dengan tegas.
Zeni hanya terdiam dan menundukan kepalanya.
"Kenapa kau ingin kembali kepada pria itu? Apa kau mencintainya?" Tanya Qei lagi.
"Tidak..!" Jawab Zeni.
Zeni tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menitikan air mata.
"Akan kujelaskan sedikit kepadamu,, anggap saja kau berhasil menukar dirimu dengan Elia, tapi kau tidak bisa kembali kesisiku, dan walau Elia selamat dari satu penculik, tapi dia tetap masih dalam incaran, penculik-penculik lain pun sudah menunggunya, apa sampai sini kau paham? Kumohon jangan berbuat apapun, atau kau akan menghambat rencanaku, mengertilah, dengan kau tinggal disini, itu sudah sangat membantu, selebihnya biar aku yang mengurusnya.." ucap Qei, sambil berlalu meninggalkan kamar Zeni.
Zeni pun tak kuasa menahan air matanya, dia berbaring ditempat tidur sambil menangis.
("Aku, tak tahu apa yang membuatku menangis, apakah aku menangis karena tidak bisa menyelamatkan Elia, atau karena Jendral yang terlalu kecewa padaku, atau mungkin karena ucapan Jendral terlalu kasar menurutku.." Zeni bergumam dalam tangisannya).
.
..
...
"Ah, Fany, kau sudah kembali? Bagaimana? Apa yang kau dapat?" Tanya Qei kepada Tifany yang sudah menunggunya di ruang kerja Qei.
"Sesuai dugaan Jendral, nona Tere mengidap penyakit Jantung, saat ini beliau sedang dalam keadaan kritis, nona Tere harus segera melakukan transplantasi jantung, namun pihak rumah sakit masih kesulitan dalam mencari donornya.." ucap Tifany.
"Jadi begitu,, baiklah kau boleh pulang, hari sudah malam, istirahatlah, lanjutkan pekerjaanmu besok"..
"Baik Jendral",,
__ADS_1
"Hmm Oya Fany, aku minta tolong padamu, tolong ajak Zeni makan malam bersamamu,,jika dia mau, kau boleh membuka rantai dikakinya" ucap Qei.
"Ooch,, oke" jawab Tifany.
.
.
.
.
Setelah selesai membersihkan diri, Tifany berencana ke kamar Zeni, namun saat diketuk-ketuk pintunya, Zeni tak kunjung keluar..
"Hmmmmm sudah tidurkah, tapi ini baru pukul delapan malam" gumam Tifany.
Tifany pun berlalu, namun tak jauh dari situ, terdapat Jisung yang duduk di kursi taman depan kamarnya, dia nampak sedang dalam kebimbangan, Tifany pun menghampirinya.
"Hey,,," sapa Tifany, yang kebetulan Jisung ingin menyalakan rokok yang sudah ia taruh dibibirnya. Tapi rokok tersebut langsung ditarik keluar dari bibir Jisung dan dibuangnya.
"Tidak biasanya kau merokok, jadi tidak usah merokok, kalau kau ada masalah, kau bisa berbagi cerita denganku, mungkin itu bisa sedikit mengurangi bebanmu" ucap Tifany, sembari duduk disamping Jisung yang nampak tak semangat.
"Hech,, maafkan aku",, ucap Jisung.
Tifany tersenyum "kenapa minta maaf, memangnya kau punya salah padaku"..
Jisung menggelengkan kepala sambil tersenyum paksa.
"Fany, menurutmu apa itu arti sebuah keluarga?" Tanya Jisung.
"Keluarga? Hmm bagaimana ya menjelaskannya, aku pernah mendengar sebuah kalimat yang mungkin bisa mewakili jawaban atas pertanyaanmu,, keluarga ibarat sebuah cabang pohon, kita semua tumbuh kearah yang berbeda, namun akar kita tetap satu, apa kau paham maksudnya?" Tanya Tifany sambil memandang Jisung.
"Tapi bagaimana jika semua cabang itu rapuh lalu patah dan hanya meninggalkan sebuah cabang pohon saja, bukankah akhirnya pohon itu akan mati?" Ucap Jisung.
"Kenapa kamu mengkhawatirkan hal itu? Cabang pohon yang sudah rapuh dan patah memang tidak akan bisa disambung lagi, namun walaupun hanya tersisa satu cabang pohon, tapi jika dia hidup dilingkungan yang baik, maka akan tumbuh cabang-cabang yang baru, akhirnya pohon itu tidak akan mati,," ucap Tifany.
"Benarkah begitu?" Tanya Jisung.
"Entahlah,,setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda, intinya jika saat ini kau dalam masalah, selesaikan masalahmu dengan berfikir jernih, jangan menyelesaikan sebuah masalah tapi menimbulkan masalah baru,, iQ mu cukup tinggi, jadi pasti kau paham kalimatku kan, dan satu lagi, jangan merokok, aku tidak suka dengan pria perokok" ucap Tifany sambil melihat bintang dilangit.
Jisung yang mendengar Tifany berbicara sangat merasa nyaman, dia pun memandang wajah Tifany yang sedang memandangi bintang,, kemudian..
Cup..... (Jisung mencium pipi Tifany) dan membuat Tifany terkejut..
"Heich! Apa yang kau lakukan!!!!" Ucap Tifany kesal, dia memegang pipinya dan segera mengejar Jisung yang berusaha lari.
"Aku hanya sedang berfikir jernih......!!!!"..ucap Jisung sambil berlari, menghindari pukulan dari Tifany.
__ADS_1
"Itu bukan berfikir jernih! Tapi mengambil kesempatan dalam kesempitan!!!! Awas kau ya..".....