MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni 2


__ADS_3

"Halo bu,, pagi ini aku jadi berangkat, sebagaimana yang aku kabarkan beberapa hari yang lalu, maaf aku masih belum bisa mengunjungimu" Ucap Qei yang sedang menghubungi orang tuanya (Rose).


("Kau hati-hatilah nak, tidak masalah kau tidak mengunjungiku, aku baik-baik saja, apa kau pergi bersama Zeni?" Tanya Rose).


"Tidak, tapi dengan Fany, oya bu, orangku bilang sekarang rumah ibu banyak sekali penjaga, apa yang terjadi? Apakah ada yang berusaha mencelakaimu?" Tanya Qei.


("Hmmm,, ibu hanya merasa butuh banyak penjaga saja" jawab Rose bohong).


"Hm, baiklah kalau begitu, aku akan bersiap-siap dulu" Qei pun menutup teleponnya.


.


..


...


"Zen, coba kau lihat Tifany, apakah sudah siap?" Tanya Qei pada Zeni, diruang kerjanya.


"Sepertinya sudah Jendral, nona Fany sudah terlihat diluar,," jawab Zeni dengan tampang sedikit lesu. Qei pun yang menyadari hal itu, kemudian menghampiri Zeni yang sedang sibuk mengatur berkas di meja kerja di samping mejanya.


"Hey,, kau kenapa?" Tanya Jendral yang sambil mencoba mengancingkan baju kerjanya namun kesulitan karena luka dijarinya.


Zeni tak menjawabnya, dia hanya melirik Jendral, lalu berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di depan Jendral kemudian membantu Jendral mengancingkan baju.


"Zen, apakah hari ini aku ada salah atau kau yang ada masalah? Tanya Jendral lagi, namun Zeni hanya mengatakan "belum juga berangkat, kenapa jari anda sudah terluka seperti itu?"..


"Ah, ini bukan apa-apa, hanya sedikit kurang berhati-hati" jawab Jendral, ("gadis ini, kenapa akhir-akhir ini aku merasa ada yang beda, dan lagipun aku juga tiba-tiba merasa berat meninggalkannya" Jendral berbicara dalam hati).


"Lain kali anda harus lebih hati-hati, setelah sampai sana, berusahalah untuk membuka kancing baju anda sendiri, jangan meminta bantuan siapapun, terutama nona Fany!" ucap Zeni.


("kenapa dia lucu sekali, seandainya aku bisa memeluknya,, apakah dia sedang cemburu?" Qei berbicara dalam hati sambil tersenyum dan melihat Zeni). Kemudian dia berkata "apa kau akan merindukanku?"..


Zeni yang nampak malu-malu itupun menganggukan kepala, dan itu membuat Qei merasa bahagia.


"Aku paham, kalau begitu, selama aku pergi jaga dirimu baik-baik, setelah aku pulang nanti, kita bicarakan tentang hubungan kita selanjutnya,," ucap Qei sembari menyentuh pundak Zeni. Zeni tidak bisa berkata-kata lagi,, dia hanya menganggukan kepala, dan Qei membalasnya dengan senyum..


("apa itu maksudnya Jendral juga menyukaiku? Iich, benarkah?" Ucap Zeni dalam hati).


.


..


...


"Bos, sepertinya Polisi sudah mencurigai keberadaan anda, menurut laporan mereka sudah mulai melakukan penangkapan kepada beberapa orang untuk dijadikan saksi, hmmmm...kemungkinan nona Zeni juga akan tertangkap,,"

__ADS_1


Paemin terdiam ("jika kau tertangkap, apa itu salahku? Kau sendiri yang meninggalkanku, kalau saja kau tetap disisiku, cepatlah kembali dan aku akan melindungimu" ucap Paemin dalam hati).


"Bagaimana dengan Elia, kenapa masih belum kau bawa kemari?!!!?" Tanya Paemin kepada salah seorang anak buahnya.


"Sory bos, tempat itu benar-benar telah dijaga dengan ketat, sedangkan anak itu belum pernah lagi terlihat sejak saat itu, begitupun disekolahnya, tapi kami masih mengintainya dan segera mengambil anak itu jika ada kesempatan"..


.


..


...


Setelah sepuluh hari sejak kasus penculikan ditangai oleh kepolisian, akhirnya mereka menemukan seseorang yang benar-benar bisa dimintai keterangan, yaitu Zeni, karena terdapat beberapa kali Pelaku itu (Paemin) terekam oleh kamera cctv sedang bersama dengan Zeni.


"Lapor pak, menurut penyelidikan, gadis tersebut bekerja di Gedung Pertahanan.."..


"Kalau begitu segera bawa kemari"..


"Siap laksanakan"


.


..


...


Dan dalam penyelidikan tersebut, Zeni merasa sangat tersiksa, dia dipaksa untuk memberitahukan dimana keberadaan Paemin, dia menjawab benar-benar tidak tahu, dia sudah menyebutkan restoran milik Paemin, namun restoran tersebut bukanlah milik Paemin, tapi orang lain, begitupun dengan apartemen milik Paemin, setelah dilakukan penyelidikan tidak ada Paemin disana dan tempat itu pun ditinggali oleh orang lain, penyelidik pun sudah memeriksa surat-surat kepemilikan mengenai restoran dan apartemen, tidak ada nama Paemin di dalam dokumen tersebut. Penyelidik pun mengira jika Zeni sedang mempermainkan mereka, sehingga mereka benar-benar membuat Zeni tersiksa, luka lebam berada dimana-mana disetiap tubuh Zeni.


("Kenapa aku sangat sial, kenapa aku harus bertemu dengan pria jahat itu, sampai kapan seperti ini, siapa yang akan menolongku..ini sudah lima hari, huk,,,huk,,,huk,,,,,rasanya aku ingin mati saja" Zeni sangat putus asa) tangannya diikat kiri kanan, dia diperlakukan seperti penjahat, tubuhnya penuh luka, lemas tak berdaya.


.


..


...


Qei pun kembali dari tugas luarnya, dia ingin menuju rumah ibunya untuk sekalian mengunjunginya,,, namun ponselnya berbunyi, Jisung menelponnya untuk segera ke kantor, dia mengetahui kabar penangkapan Zeni dari Jisung saat dalam perjalanan ke kantor,


("Yang pertama aku tidak tahu jika Zeni ada hubungannya dengan kasus ini, dan kedua ternyata pria yang bersama Zeni itu adalah penculiknya, ketiga kenapa polisi bisa menyelidiki kasus ini secepat itu, sedang Jeno,,,,, ataukah Jeno ternyata salah satu dari mereka, dan aku terlalu percaya padanya saat dia menawarkan diri ingin menyelesaikan kasus ini, namun sudah dua tahun lebih, hasilnya nihil, apa motif dia melakukan ini?! kenapa banyak sekali pengkhianat disekitarku..") Qei yang sedang berbicara sendiri dalam hati, sambil mendengar Jisung berbicara melalui ponsel.


("Hmmm, tapi kak,, sebenarnya ada yang lebih mengejutkan lagi dari kabar ini, kau harus melihatnya sendiri dikantor.." ucap Jisung).


"Baiklah, aku segera tiba"


.

__ADS_1


..


...


Setiba diruang kerja, dia langsung menemui Jisung, tidak ada waktu baginya beristirahat.


"Cepat beritahu aku, ada masalah apa lagi ini?" Ucap Qei.


Jisung pun segera memberikan ponsel Zeni kepada Qei.


"Ini milik Zeni, kebetulan saat dia ditangkap, ponselnya sedang di isi baterai dibawah lacinya, polisi tidak sempat membawanya, awalnya aku hanya berniat ingin menyimpankannya, namun dua hari setelah penangkapan itu, ada panggilan dari seseorang bernama Elia lebih dari lima puluh kali panggilan, akhirnya aku mencoba menerima panggilan itu, dan terdengar suara anak kecil memanggil-manggil Zeni, sepertinya mereka sangat akrab, tak berfikir sedikitpun dariku jika itu Elia keponakanku, sampai pada akhirnya aku mencoba memeriksa galeri Zeni, dan lihatlah sendiri kak..." Jawab Jisung.


Qei pun melihat galeri ponsel Zeni, disitu banyak sekali foto Zeni bersama Elia, tak terasa air mata Qei seorang lelaki jantan tiba-tiba menetes. Jisung pun juga mendapat isi percakapan antara Zeni Elia dan Rose.


"Kak, isi dari percakapan ini bisa membuktikan jika Zeni tidak bersalah, dan daripada itu yang lebih penting adalah, saat ini Elia berada dirumah neneknya, dia selamat dari penculikan itu, kau harus menemuinya terlebih dahulu",,


Qei langsung mengambil kunci mobilnya,,


"Hei mau kemana?" Tanya Jisung tiba-tiba.


"Tentu saja kerumah ibuku"..


"Mandi dulu sana, bau sekali, sudah berapa hari kakak tak mandi, kau ingin menemui anakmu yang sudah lama tak bertemu dengan bau seperti itu?!"


Qei pun, melihat dirinya sendiri, dan tersenyum, dia berjalan kearah kamar dinasnya untuk membersihkan diri.


("Kenapa hatiku seperti ini, disatu sisi aku bahagia karena Elia selamat, tapi disisi lainnya aku juga merasa sedih, karena Elia tidak ingin menemuiku, hatiku juga sangat sakit karena Zeni tidak ada disini untuk menjelaskan semua ini, kenapa penangkapan ini harus terjadi saat aku sedang tidak ada disini).


.


..


Qei yang sudah selesai membersihkan diri, berjalan menuju mobil, namun mobil Jisung dari belakang sudah menunggunya..


"Kak, sini..." Panggil Jisung.


"Kau mau kemana?" Tanya Qei kepada Jisung dan melihat Jisung sudah tidak mengenakan baju Dinas, melainkan baju santai untuk keluar rumah.


"Tentu saja mengunjungi keponakanku" Jisung berbicara kepada Qei dengan cuek sambil melihat penampilannya yang keren di depan kaca didalam mobilnya.


Qei hanya tersenyum kecut, "siapa yang memberimu izin keluar?" Tanya Qei sambil membuka pintu mobil dan duduk disamping Jisung.


"Tentu saja, Tuan Jendral Qei yang baik hati" goda Jisung.


.

__ADS_1


..


...


__ADS_2