MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
PAEMIN


__ADS_3

("transplantasi jatung harus segera dilakukan, kerahkan semua orang-orangmu untuk bekerja lebih keras lagi mencari anak itu, dan kau jangan berlama-lama di depan pemanggangan, Pasien tidak bisa menunggu lebih lama lagi")...


"Ayah tenang saja, sebentar lagi, aku akan segera membawa anak itu,,," ucap Paemin, sembari menutup teleponnya dan kembali menyajikan daging panggang kepada pelanggannya.


.


..


...


Tujuh tahun yang lalu,,


Di dalam sebuah persidangan, seorang dokter kandungan di dakwa telah mengakibatkan seorang pasien meninggal dunia setelah melahirkan, dokter tersebut di duga lalai dan kemudian melakukan malprakter, dia pun di penjara, izin prakteknya pun di cabut, entah kenapa itu menjalar ke suami dari dokter tersebut yang juga seorang dokter dia adalah dokter bedah, izin prakteknya pun turut dicabut juga, begitupun dengan anaknya yang baru saja lulus kuliah kedokteran dari Universitas Oxpret, sebuah Universitas paling populer dimana lulusan-lulusan dari Universitas tersebut adalah calon-calon dokter hebat, namun tidak ada satupun rumah sakit yang mau menerimanya walaupun kemampuanya luar biasa.


.


..


...


Pagi yang cerah, Zeni berolah raga untuk memulihkan kesehatannya dia jogging di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, tapi dikejauhan nampak mobil terparkir ditengah jalan yang masih sepi,,


("Hmm,, kenapa ada mobil parkir ditengah jalan,,") Zeni dalam hati, Zeni pun penasaran dan pergi ke arah mobil itu, dia membungkukan tubuhnya untuk melihat ada orang atau tidak di dalam mobil tersebut.


("Hach, kak Paemin!! Kenapa dia seperti nampak kesakitan"), Paemin terlihat memegangi kepalanya dan sedikit menekan-nekannya.


Tok,, tok,, tok,, "kak, apa kau baik-baik saja?" Tanya Zeni cemas.


Paemin pun membuka pintu mobilnya, tapi masih dalam keadaan duduk dibelakang setir mobil "sepertinya fertigo ku kambuh",,


Zeni sambil memeriksa keadaannya, dia memegani tanganya dan kepalanya..


"Lalu apa kau membawa obatmu? Tanya Zeni yang ketakutan.


"Aku meninggalkannya di apartemenku,, Aaaach!!!" Jawab Paemin sambil kesakitan.


"Kalau begitu kuantar kakak pulang, biar aku yang menyetir, beritahu aku alamat apartemenmu" Zeni bergegas sembari membantu Paemin pindah dari kursi kemudi, Paemin pun nampak pasrah.


Diperjalanan cerewetnya Zeni pun kumat.


"Bisa-bisanya kau meninggalkan obat yang begitu penting, bagaimana kalau terjadi apa-apa, kalau meninggal gimana?" ...


Paemin yang kesakitan masih bisa tersenyum dan menjawab "heee,, fertigo tidak sampai membuat orang mati, ini karena semalam aku terlalu banyak minum",,


"Ya pokoknya tetap saja bahaya!!! Jangan begitu lagi lain kali,,"..timpal Zeni.


Paemin hanya tersenyum.


.


..


...

__ADS_1


"Kita sampai, kau sendirian saja tinggal disini? Dimana kau menaruh obatnya? Biar kuambilkan,," tanya Zeni. Zeni memapah Paemin menuju sofa besar tempat tinggal Paemin.


"Ada di meja itu" jawab Paemin sembari merebahkan badannya.


Segera Zeni mengambilnya dan memberikannya kepada Paemin.


"Bagaimana? Sudah baikan?" Tanya Zeni.


"Baru juga diminum sudah tanya baikan atau belum? Kenapa? Apa kau sedang buru-buru dan tidak ingin merawatku sebentar?" Tanya Paemin, sambil memegang tangan Zeni.


Zeni yang nampak kaget, segera menarik tangannya "hmm, bukan begitu,, biar aku bereskan gelasnya dulu, Oya kak, tadi kakak mau kemana?" Zeni mengalihkan perhatian sembari menaruh gelas ke atas meja.


"Sebenarnya tadi ingin ke restoranku, tapi belum sampai sana, sudah seperti ini, kau sendiri santai sekali pagi ini? Tidak berangkat kerja?" Tanya Paemin.


Zeni menggelengkan kepala "tidak, aku cuti minggu depan baru bekerja lagi"


Zeni melihat sekeliling..


"Apartemenmu luas sekali,, Waaw.." Zeni nampak kagum sambil menuju arah jendela, dimana jalanan yang ramai, sungai yang mengalir dan sebuah taman yang nampak hijau, semua terlihat indah dari atas.


"Aaaach seandainya aku bisa tinggal di tempat seperti ini" ungkap Zeni sambil memanyunkan bibirnya, matanya masih melihat kearah luar dan tangannya memegang dinding jendela, dia terlihat sangat senang.


Tiba-tiba Paemin dari belakang memeluk tubuh Zeni, dan menyandarkan kepalanya dipundak Zeni "Kau boleh tinggal disini kalau kau mau?" Ucap Paemin berbisik ditelinga Zeni dengan lembut.


Zeni nampak deg-degan dan mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan Paemin, tapi tidak bisa.


"Kak,, kumohon jangan seperti ini.." Zeni memohon.


"Menurutmu, kalau aku ternyata menyukaimu bagaimana?" Tanya Paemin dengan tatapan tajam, tangan kirinya memeluk erat pinggul Zeni yang ramping dan tangan kanannya memegang leher bagian belakang Zeni, Paemin menengadahkan kepala Zeni keatas, agar dia bisa menciumnya. Zeni menjadi sangat sensitiv dan terasa panas, dia tidak tahan lagi...


"Aaaach kakak,, jangan,,!!!" Zeni mendorong Paemin dengan sekuat tenaga.


"Kita baru saja kenal, ini terlalu cepat, aku akan pulang!!!" kata Zeni, sambil berjalan ke arah pintu dengan cepat.


Tapi, tiba-tiba...


"Eech, kata mau pulang? Kenapa, tidak jadi?" Tanya Paemin bingung.


"Bagi Rp. 100.000,-" pinta Zeni..


"Hach?!" Paemin nampak bingung.


"Hissst, aku tadi mengantarmu kesini tanpa membawa dompet, beri aku 100, untuk naik taksi!" Paksa Zeni.


Paemin yang masih sedikit bingung menurut saja apa yang dikatakan Zeni, dia mengeluarkan dompet dari kantong celana bagian belakangnya dan mengeluarkan uang yang Zeni minta.


"Bagaimana kalau aku antar pulang?" Tanya Paemin, sembari menyerahkan uang kepada Zeni.


"TIDAK!!!" Teriak Zeni, dia mengambil uangnya kemudian membalikan badan dan pergi menuju pintu.


BAAMM!! (Suara pintu).


.

__ADS_1


..


...


("Huch,,mesum,,!!! dia fikir dia siapa berani-beraninya peluk-peluk sembarangan, tahu akan begini, lebih baik kutinggalkan saja tadi, biarlah dia kesakitan,, hhiizt, dasaaaar,,!!! (Melihat ke kanan dan ke kiri) Iich kenapa juga tidak ada taksi!") Zeni mengomel-ngomel sendiri, sambil menghentak-hentakan kakinya.


"Bukankah itu Zeni?! Sedang apa dia disini?!" Pak, tolong tepikan dulu mobilnya disamping gadis yang berdiri itu"...


"Baik bu,,"...


"Zeni,,,"...


Zeni pun menoleh..


"Eh tante Rose,," sapa Zeni..


"Masuklah, kau darimana?" Tanya Rose..


"Mengantar teman, tante sendiri darimana? Atau mau kemana?" jawab Zeni.


"Kebetulan ingin mengunjungi kalian" jawab Rose terlihat senyum gembira.


"Ooch, tapi Elia masih di sekolah, hmm bagaimana kalau kita jemput saja Elia, sekaligus memberinya kejutan... Hiii..hiii" ucap Zeni.


Rose yang melihat Zeni terlihat sangat menyayangi Elia, membuat Rose senang.


.


..


...


Depan halaman sekolah Sofa.


Zeni dan Rose menunggu Elia keluar dari ruang kelasnya,,


"Zeni, terimakasih telah merawat Elia selama ini, aku tenang dia bersamamu, dia nampak bahagia daripada saat dia bersama ayahnya, seperti yang kuceritakan saat itu, Qei masih belum bisa menerima keberadaan Elia setelah kepergian isterinya, dan itu membuat Elia juga ikut terguncang, maka dari itu, saat ini Elia lebih memilih tinggal bersamamu, aku memakluminya, asal dia bahagia" ucap Rose, sambil memegang tangan Zeni.


"Tidak apa tante, saya juga sama sekali tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Tuan Qei, beliau masih belum mengetahui kalau sebenarnya Elia ada bersama saya, saya hanya takut ada masalah kedepannya.." ucap Zeni.


"Kau tenang saja, masalah Qei biar itu aku yang hadapi..tunggu waktu yang tepat untuk memberitahunya, setidaknya sampai Elia mau memaafkan ayahnya" jawab Rose.


"Baiklah kalau begitu" Zeni tersenyum.


Melihat ke halaman sekolah sudah banyak anak-anak yang mulai keluar dari kelasnya untuk pulang..


"Bukankah seharusnya Elia sudah mulai keluar dari kelasnya? tapi kenapa belum terlihat juga?" Tanya Rose yang nampak gelisah.


.


..


...

__ADS_1


__ADS_2