MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni Kabur


__ADS_3

"Nona Tere sudah lama menderita penyakit jantung, sepertinya ini adalah bawaan dari lahir, namun baru di diagnosa lima tahun terakhir ini saat nona Tere mulai merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya, tapi setahun terakhir ini, nona Tere sudah berada didalam kondisinya yang kritis, dia harus segera mendapatkan donor jantung yang tepat dengan dirinya, atau dia tidak akan selamat" ucap dokter yang menangani penyakit Tere.


"Lalu kenapa lama sekali belum ada donor jantung yang sesuai dengan kakakku?" Tanya Jisung


"Soal itu, kami selalu mengusahakannya, namun masih belum mendapatkan hasil, kami minta maaf, kami selalu berusaha yang terbaik untuk nona Tere" ucap Dokter tersebut.


Jisung yang mendengar kabar itu, dia sangat terpukul, ("kenapa kakak menyembunyikannya selama ini dariku, dia selalu melakukan segalanya seakan dia baik-baik saja" ucap Jisung dalam hati).


.


..


...


Keesokan harinya Jisung mendatangi Jeno dan kembali menggali informasi darinya.


"Kau kembali dengan tampang yang masam, biar kutebak kau pasti sudah bertemu dengan kakakmu..?" Tanya Jeno.


Jisung belum menanggapi ucapan Jeno, dia hanya duduk dikursi depan Jeno dengan tangan didalam saku celananya.


"Hei nak...... Kenapa diam saja? Mana sikap angkuhmu yang biasanya? Hah?!! Haa,,haa,,,haaaa,,," ucap Jeno dengan nada songongnya.


"Ceritakan semua tentang hubunganmu dengan kakakku!" Pinta Jisung.


"Hech,,! Apa untungnya bagiku?" Ucap Jeno.


"Mungkin aku bisa membebaskanmu dari tuduhan ini" jawab Jisung.


"Apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Jeno.


"Semuanya, dimulai sejak kapan kalian saling mengenal? Kenapa kakaku tidak pernah memberitahuku akan hal ini? Dan apa hubungannya dengan Jendral juga anaknya?" Ucap Jisung.


"Cukup banyak juga yang ingin kau tahu, baiklah.. aku bertemu dengan Tere saat pernikahan Qei dengan kakakmu Liye, dan enam tahun terakhir kami menjalin asmara, Tere tak ingin kau mengetahuinya karena dia tak ingin kau sedih, akupun juga baru mengetahuinya tiga tahun terakhir ini, dan apa hubungan semua ini dengan Jendral, sebenarnya tidak ada hubungan dengan dia, tapi ada hubungannya dengan Elia, kau tahu sendiri sampai sekarang belum ada donor jantung yang cocok dengan Tere, Tere tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku tidak bisa kehilangan dia, dan hanya Elia lah yang dapat menolongnya.." jawab Jeno.


"Maksudmu kau ingin mengorbankan Elia, demi Tere?!!!" tanya Jisung lagi.


"Hech,, akhirnya kau paham maksudku,, dunia memang tidak adil.. sekarang kau sudah mengetahuinya, keputusan ada ditanganmu, kau ingin menyelamatkan kakak kandungmu atau keponakanmu!!!" ucap Jeno.


Jisung, hanya bisa terdiam, tapi tiba-tiba datang suara langkah kaki,,


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat informasi darinya?" Qei datang, dan langsung bertanya pada Jisung.


Jisung mencoba bersikap dengan tenang,,


"Hmm, dia masih sama seperti biasa, keras kepala" ucap Jisung.


Qei menatap lama kearah Jisung. Kemudian Qei tersenyum kepada Jisung dan berkata "kalau begitu, tetap lakukan pekerjaanmu seperti biasa, aku ingin menjenguk Zeni sebentar"..Qei pun berlalu.


"Baik kak,," ucap Jisung, dengan tatapan merasa bersalah dan bimbang.


"Kau mengambil keputusan yang tepat" ucap Jeno sambil tersenyum.


"Aku belum mengambil keputusan, camkan itu!!"..


.

__ADS_1


.


.


.


"Halo,, Fany, ada tugas untukmu, lacak dimana Tere kakak Jisung dirawat dan cari tahu apa yang dia butuhkan, ini misi rahasia, jangan sampai ada yang tahu, terutama Jisung!"..


("Baik Jendral,,," ucap Tifany).


.


..


...


....


.....


"Zen, aku harus menghadiri rapat penting sekarang, sebentar lagi Jendral akan kemari, dia sedang dalam perjalanan.." ucap Tifany.


"Iya kak, hati-hati dijalan,,,"..


"Hmmm, kumohon jangan mencoba keluar ruangan sampai Jendral datang, atau aku akan mendapat masalah,," pinta Tifany.


"Oke, kakak tenang saja,, aku akan duduk manis disini.." ucap Zeni, yang sedang duduk di sofa.


Tifany pun meninggalkan Zeni.


("Aku harus segera keluar dari sini dan mencari cara agar bisa bertemu dengan Elia,, aku yakin aku bisa menyelamatkannya, namun aku tak bisa kabur, atau aku akan membuat orang disekitarku dalam masalah" Zeni berbicara sendiri dalam lamunannya).


("Pasti berat bagimu, atas apa yang terjadi pada Elia,,belum sempat kalian melepas rindu, tapi Elia sudah hilang lagi" Zeni berbicara dalam hati, sembari memeluk Qei untuk melepas rindu).


"Jendral,, jika lelah tidurlah dulu disini" ucap Zeni dengan lembut.


Qei yang daritadi hanya diam, dia pun tersenyum, membelai rambut Zeni dan berkata "maaf telah membuatmu tidak nyaman, dengan tidak mengijinkanmu keluar dari sini, tapi terimakasih karena kau telah menuruti perkataanku,,tetaplah seperti ini, agar aku bisa selalu bersamamu"..


Tak lama, Qei benar-benar tertidur di sofa dengan kepala dipangkuan Zeni.


Zeni pun berpindah pelan-pelan dari sofa itu, kemudian dia mengambil sebuah kertas dan menulis beberapa kata,


"Jendral, maafkan aku, aku tahu kau sangat ingin bertemu dengan Elia, maka dari itu aku akan membantumu menemukannya, percayalah padaku,,bukan maksudku tak menurutimu, tapi Elia tidak bisa menunggu terlalu lama, dia hanya seorang gadis kecil, dia pasti sangat ketakutan, aku tahu apa yang harus aku lakukan, kumohon mengertilah"..kertas itu ia taruh dimeja depan sofa.


Kemudian Zeni memulai skenarionya.. Dia membuka kancing baju Jendral dan celana Jendral dengan perlahan.


Mata tembus pandang Zeni kesulitan untuk melewati batas tembok beton ruangan itu, namun ia bisa melihat samar-samar, jika diluar ruangan itu tepatnya di depan pintu ada empat penjaga, dia pun segera keluar untuk melancarkan aksinya,,


"Adakah yang bisa membelikan Jendral pakaian dalam? Celana dalam Jendral basah." Ucap Zeni dengan sedikit berbisik.


Para penjaga pun sedikit heran dan saling pandang,, Zeni pun berpura-pura polos manja,, ("ternyata Jendral nafsunya benar-benar diluar kendali ***,,, ***,, ***,," yang terlintas di dalam fikiran penjaga).


"Eehemmm,, saya akan membelikanya, nona Zeni tenang saja"..


Tak lama penjaga pertama pergi, Zeni meminta tolong lagi kepada penjaga kedua "hmm.. Jendral minta dibelikan balon itu (alat kontrasepsi), Jendral tadi hanya memiliki satu dan sudah dipakai, sekarang Jendral masih ingin lagi, adakah yang bisa membantuku?" Ucap Zeni dengan senyum tanpa rasa malu sama sekali.

__ADS_1


"Ba,,baik,, saya saja yang pergi mencarikannya",,("belum juga tiga puluh menit Jendral di dalam, tapi sudah mau dua ronde, yang benar saja" yang terlintas dalam fikiran penjaga).


Setelah penjaga kedua pergi, Zeni meminta penjaga ketiga dan keempat untuk masuk kedalam kamarnya.


"Hai, bisakah kalian membantuku, sepertinya ada serangga di dalam toilet, tolong kalian memeriksanya?" Ucap Zeni bohong.


Kedua penjaga itupun masuk, dan mendapati Jendral yang tertidur di sofa dengan hanya pakaian setengah terbuka ("wach,, sepertinya Jendral sangat menikmatinya,, Hech,,")..


"Hei,, jangan melamun, cepatlah kalian masuk ketoilet dan segera periksa, ada apa disana,," pinta Zeni.


Mereka pun bergegas menuju toilet, sesampainya disana, Zeni segera mengunci pintu toilet, penjaga-penjaga itu pun terjebak didalamnya dan dia segera melarikan diri dari rumah sakit.


Zeni berhasil keluar dari rumah sakit, dia terus berlari dan berlari sejauh mungkin, kemudian..


Cekiiiiiittttttt!!!!!! (suara mobil ngerem mendadak).....


.


.


.


.


.


"Zeni,,,!" Teriak Jisung, ternyata mobil itu adalah milik Jisung.


"Ach, kak Jisung" Zeni nampak kebingungan.


"Sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau tidak boleh keluar dari rumah sakit? Apa Jendral mengetahui kau disini?" Tanya Jisung yang curiga.


"Kak, kumohon jangan beritahu Jendral,," ucap Zeni.


"Tapi ini tidak baik Zen"..ucap Jisung, memandang Zeni.


"Kak, aku harus menyelamatkan Elia, aku tahu jika Elia dalam bahaya, kumohon biarkan aku pergi,,kau cukup berpura-pura tidak bertemu denganku saja" pinta Zeni.


"Tapi bagaimana caranya kau bisa menyelamatkan Elia,," tanya Jisung.


"Aku tahu caranya, aku tahu siapa pelakunya, pria itu menginginkanku, mungkin aku bisa menukar nyawa Elia dengan diriku"..Zeni memohon sambil menangis.


"Baiklah, cepat pergi!" Ucap Jisung.


"Terimakasih kak"..


Zeni pun berbalik dan akan segera pergi.. namun..


"Eeemmm,, mmmm,mmmm,,,"


Zeni pingsan akibat bius yang ia terima dari Jisung, kemudian segera Jisung membopong Zeni memasukannya kedalam mobil.


("Aku juga menyayangi Elia,,tapi,,, maafkan aku Zeni, aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini" ucap Jisung dalam hati sambil memandangi Zeni yang tergeletak tak berdaya dikursi belakang).


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2