
"Nona Kista,,," sapa Zeni.
Kista yang nampak gelisah ("izh, kenapa harus bertemu dia")..
"Oh, hay,,, kau disini?" Tanya Kista.
"Iya, check up,, nona sendiri? Tanya Zeni balik.
Belum sempat Kista menjawabnya, datanglah seorang dokter dari arah belakang Zeni, datang dan melalui Zeni.
"Sudah siap semua, ayo mari masuk,," dokter itu berbicara kepada Kista.
"Zeni aku duluan.." Kista meninggalkan Zeni begitu saja.
"Och.. ok" Zeni melambaikan tangan.
.
..
Zeni sudah selesai melakukan pemeriksaan.
Dia berjalan ke arah lobi,,tiba-tiba ada yang menyekapnya dari belakang,,
"Hhmmmm,,hmmmmm,,si,,sia..mmmmm.." Zeni tidak dapat berbicara, dia dibawa masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil tersebut sudah ada Paemin yang menunggunya.
"Hay..." Sapa Paemin santai, sambil menyilangkan kakinya.
"Iiizh,, bisa tidak pakai cara yang lebih sopan?" Zeni marah sambil merapikan bajunya
Paemin pun ikut merapikan.
"Iiich udah, udah, jangan sentuh".. ucap Zeni kesal.
"Biarkan aku turun,," ucap Zeni lagi, sembari memegang gagang pintu mobil.
Paemin tidak memperdulikan apa yang diucapkan Zeni.
"Pak, kita jalan" Paemin memberi perintah kepada supirnya.
Mereka menuju kesebuah restoran sushi bintang lima,,
"Silahkan duduk,,"ucap Paemin, sembari menarik kursi yang akan di duduki Zeni.
"Ada apa membawaku kemari" tanya Zeni.
"Hanya ingin mentraktirmu, sebagai ucapan terimakasihku karena telah menolongku" jawab Paemin.
"Ooochh,,, itu bukan masalah, seharusnya kakak tak perlu melakukan semua ini, dan tidak biasanya kakak membawa supir?" Ucap Zeni.
"Kondisiku masih belum stabil,,terpaksa harus membawanya.."..
"Kenapa tidak istirahat saja?,, Lain kali tak perlu seperti ini.."
"Apa kau mengkhawatirkanku? Jika aku meninggal, kau sedih tidak?" Paemin bertanya, sambil menggenggam tangan Zeni.
Zeni berusaha melepaskannya, tapi percuma.
Diwaktu yang bersamaan, datanglah Qei dan Kista, awalnya mereka juga ingin pergi kerestoran tersebut, namun Qei balik arah setelah melihat Zeni dengan pria lain, Zeni tidak menyadari kedatangan Qei.
"Sayang kenapa tidak jadi?" Tanya Kista.
"Tiba-tiba aku ingin daging panggang..." jawab Qei.
"Och"...
__ADS_1
("Kenapa hatiku terasa sesak, hanya karena melihat dia bersama dengan laki-laki lain" Qei berbicara dalam hati).
.
..
...
Hari pertama Zeni masuk kerja, dia nampak sedikit gugup.
Zeni sudah memasuki halaman gedung tempat ia bekerja.
"Zeni, sedang apa kau disini?"..tanya Kista yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.
Zeni pun terkejut.."ech Nona Kista.."
Kemudian datanglah lagi seseorang suruhan Jendral Qei. "Hey, nona, kau tunangan Jendral itu kan? Jendral berpesan, jika kau datang, langsung saja keruangannya" ucap orang itu, sembari menatap Zeni.
Kista pun terlihat marah, dan kemudian Zeni dan Kista saling pandang, ("och, ya ampun, ternyata masalahnya masih berlanjut, uuuh,, matilah aku" ucap Zeni dalam hati).
Kista maju kedepan dan mendorong orang tersebut, "hech, lain kali sampaikan pesan kepada orang yang tepat, lihat baik-baik dan besok-besok jangan salah lagi, akulah satu-satunya kekasih Jendral Qei.."
(orang suruhan Jendral nampak kebingungan "sepertinya kemarin betul, wanita yang itulah yang bersama Jendral, bukan yang ini..." Dia masih berfikir dengan keras).
Kista pun berlalu, dan Zeni berada dibelakangnya dengan jarak yang cukup jauh dari Kista untuk menghindari pertanyaan yang tidak diinginkan.
"Biarlah dia lebih dulu pergi keruangan jendral, aku tunggu sini saja" gumam Zeni, sambil duduk di ruang tunggu, depan ruang kerja Qei.
"Kenapa mereka lama sekali,," Zeni pun penasaran dan berfikir bagaimana jika dia melihat keadaan didalam dengan pengelihatan tembus pandang melewati tembok yang ada dihadapannya. Tapi ternyata pengelihatan Zeni tidak sampai kesana, dan karena terlalu bekerja keras, dia sedikit pusing dan kehilangan keseimbangannya.
.
..
...
("Oouch sakitnya,, hmmm dimana ini?" Zeni berbicara dalam hati). Dia terbaring di sofa samping meja kerja Qei.
"Eh, iya, maaf Jendral" ucap Zeni.
"Jika kau masih tidak enak badan, pulanglah untuk istirahat, kau boleh mulai bekerja besok" ..
"Aach, tidak, tidak, saya siap kerja hari ini"..
"Hm.. kalau begitu bersiap-siaplah, kita akan segera keluar, ada pertemuan anggota kemiliteran di markas pusat!"
"Baik"..
"Tapi, mana nona Kista?" Tanya Zeni.
"Dia sudah pulang"
.
..
...
"Mohon perhatian! Semua peserta rapat tidak diperbolehkan membawa senjata dan barang elektronik dalam bentuk apapun, jika ada yang melanggar, maka akan dianggap sebagai mata-mata"
Zeni nampak gugup sekaligus kagum, dia tidak menyangka akan bekerja ditempat seperti ini.
"Och hay Qei, lama tidak berjumpa denganmu, hee,,hee,, setelah kau menjadi seorang jendral, kau benar-benar sibuk dan tak pernah mengunjungi pamanmu ini" ucap Luho paman Qei.
"Maaf paman, tapi bukankah dari awal aku memang tidak pernah mengunjungi paman?" Jawab Qei dengan ketus.
Luho nampak menahan amarah "heehee,, iya kau benar, kalau begitu aku pergi dulu, hmm dan kau,,(memperhatikan Zeni dari bawah sampai atas) terlihat cantik, hee,,hee dasar Qei, memang pandai memilih wanita, aku akan masuk terlebih dahulu kedalam" Luho berlalu sambil menepuk-nepuk punggung Qei.
__ADS_1
Luho dan Qei memang sudah lama keluarga mereka terlihat cekcok, lebih lagi setelah Qei di angkat menjadi Jendral, karena seharusnya anaknya lah yang menduduki posisi itu, tapi karena anaknya terlibat dalam kegiatan perdagangan ilegal senjata, Qei lah yang akhirnya diangkat.
"Jendral, seharusnya anda lebih bersikap sopan kepada paman anda" tutur Zeni. Namun Qei tidak menggubrisnya.
"Ayo masuk" Qei berjalan di depan Zeni dan Zeni di belakangnya.
Beberapa langkah, sebelum Qei melakukan pemeriksaan, tiba-tiba Zeni dengan cepat menarik Qei dari barisan.
"Ada apa?!" Tanya Qei sedikit membentak dan akhirnya menjadi perhatian banyak orang.
("Ooops, bagaimana ini, aku tidak bisa mengatakannya disini")..
"Hmm, saya ingin ke toilet,,"
"Pergilah kesana" ucap Qei..
"hmmmm, tolong Jendral temani" ucap Zeni malu.
Orang-orang disekitar yang mendengar pun nampak heran.
("Dasar wanita ini, membuatku malu saja") "baiklah, aku antar"...
Mereka berjalan kearah toilet..
"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu di depan banyak dewan?" Qei sangat kesal.
"Aku tidak ada pilihan lain, ayo ikut aku kedalam, aku akan memberitahumu,," Ajak Zeni.
"Aku tidak mau masuk toilet wanita" ucap Qei.
"Iich, disini bahaya kalau sampai ada yang tahu"..Zeni berbisik.
Qei pun menurutinya, "baik ada apa?" Tanya Qei.
"Ada semacam benda kecil seukuran nano memori card di bagian jas di punggungmu, aku tidak tahu sejak kapan itu disitu, aku baru saja melihat saat jendral akan melakukan pemeriksaan, kupikir itu akan membahayakan jendral" jawab Zeni.
("Hech, ternyata paman Luho menggunakan cara murahan seperti ini untuk menjebakku, tapi bagaimanapun juga Zeni telah membantuku, kalau tidak,,,,,," Qei berbicara dalam hati).
"Kalau begitu apa kau bisa mengambilnya?"
"Coba lepas jas anda,,"..
Qei pun melepas jasnya..
"Mana apakah sudah terjatuh?" Tanya Qei.
"Sepertinya tidak, mungkin masih tersangkut di kemeja anda,, bisakah anda sedikit membungkuk, biar saya bantu" perintah Zeni.
Jendral pun sedikit membungkuk dan kepalanya sama rata dengan dada Zeni, tanpa sengaja dia melihat sebagian dari buah dadanya "gluk" (jendral menelan ludahnya), Zeni tidak menyadari itu,,
Petugas kebersihan mulai memasuki toilet namun langkahnya terhenti, dia berdiri dibalik pintu,,
"Sudah belum? Posisi seperti ini membuatku tidak nyaman.
"Sedikit lagi, sepertinya tersangkut"..
Petugas kebersihan pun menjadi tegang ("ya ampun, apakah tidak ada tempat lain selain toilet, ck,,ck,,ck,,")...
"Ach sudah,,silahkan pakai kemeja anda lagi, ini dibuang kemana?" Tanya Zeni.
"Buang saja kedalam lubang toilet" ucap Qei.
("Och, mereka sudah selesai")..
Zeni dan Qei pun keluar dari toilet sembari Qei merapikan pakaiannya. Saat didepan pintu, Zeni kaget ada seseorang disitu. Mereka bertiga saling pandang, kemudian petugas kebersihan berkata "ach tenang, anggap saja aku tidak tahu apa-apa, dulu saat aku masih muda pun, kadang juga tidak bisa menahannya,,melakukan ditempat yang tak biasa itu, memang menyenangkan, hee,hee"..
Zeni dan Qei, memikirkan hal yang sama tentang apa yang di fikirkan oleh orang itu.
__ADS_1
"Ta,,tapi bukan begitu kejadiannya" Zeni mencoba menjelaskan, namun ditarik paksa oleh Qei "sudahlah ayo, biarkan saja dia berfikir apa!"..
"Hee,,hee,, dasar anak muda"...