
Driiiit,,,driiiiit,,,,,,driiiiiiiittttt (ponsel Daniel berbunyi).
("Ach sial, kenapa harus ada panggilan masuk..." gumam Zeni dalam hati).
Akhirnya mau tidak mau Zeni pun bergegas mengantarkan jas milik Daniel yang tertinggal.
Zeni berlari sebisanya, dan mendapati Daniel masih berada di lobi depan showroom.
"Manager...." panggil Zeni yang masih sedikit jauh dari Daniel.
Daniel pun menoleh dan menanggapi panggilan Zeni.
"Jas anda tertinggal..." ucap Zeni dengan nafas sedikit tersenggal-senggal.
"Dan ponsel anda berbunyi..." lanjut Zeni.
"Och..." ucap Daniel seraya mengambil ponselnya yang masih berbunyi dan mengangkat panggilan itu, kemudian menyerahkan jasnya lagi kepada Zeni, seakan memberi kode untuk membantunya mengenakan Jas.
Namun Zeni sedikit canggung karena banyak mata yang melihat, Zeni memandangi sekeliling dan masih memegangi jas milik Daniel.
"Ehem..." Daniel memberi kode lagi.
Zeni pun akhirnya membantu Daniel mengenakan jasnya.
"Terimakasih.." ucap Daniel sembari mengelus rambut Zeni kemudian meninggalkannya masuk kedalam mobil.
Zeni hanya membungkukan badannya.
("Hiizt, beberapa detik lagi pasti akan ada yang mendekat dan mewawancaraiku.." gumam Zeni dalam hati).
"Zen.., kau sudah lamakah dekat dengan manager?" Tanya Dita teman kerja SPGnya.
"Maksudnya?" Tanya Zeni balik yang pura-pura tidak paham.
"Itu....., Masa kau tak tahu?" Goda Dita.
"Izh.., apa sih, ayo kerja..." Timpal Zeni sembari mendorong Dita.
Sore hari, saat itu sedang hujan rintik.
Zeni keluar dari showroom untuk perjalanan pulang.
Disisi lain terdapat Qei yang saat itu berada tepat didepan showroom tersebut, dia mengenakan pakaian biasa, sengaja dia menunggu Zeni keluar satu jam sebelum Zeni pulang kerja.
"Zeni..." Panggil Qei.
Zeni pun menoleh dan sedikit terkejut.
"Jendral, ada apa kemari?" Tanya Zeni.
"Hmmm, Elia ingin menemuimu.." ucap Qei bohong.
"Och..... Lalu mana Elia?" Tanya Zeni lagi.
__ADS_1
"Dia dirumah neneknya, kalau kau tidak keberatan, maukah kau pergi bersamaku untuk menjenguknya?" Pinta Qei.
Zeni berfikir cukup lama, namun akhirnya dia pun menyetujuinya.
Dalam perjalanan mereka menempuh waktu sekitar tiga puluh menit.
"Kenapa kau mengganti nomor ponselmu?" Tanya Qei dalam keadaan menyetir mobil.
"Agar Jendral tidak bisa menghubungi saya, karena saya tahu cepat atau lambat anda pasti akan melakukannya, seperti halnya hari ini, anda tiba-tiba berada didepan tempat kerja saya yang baru, sebenarnya saya ingin menghindari bertemu dengan anda, tapi sayangnya saya kalah cepat" Jawab Zeni.
"Sebegitu inginnya kah kau meninggalkanku?" Ucap Qei, sambil menepikan mobilnya.
"Elia tidak sedang ingin bertemu denganku, ini hanya akal-akalan anda bukan?" Timpal Zeni.
"Oke... Baiklah, apa yang ingin anda sampaikan kepada saya?" Tanya Zeni lanjut.
"Kembalilah padaku..." Pinta Qei terus terang.
"Atas dasar apa?" Tanya Zeni lagi.
"Karena aku mencintaimu, maafkan atas kesalahan yang pernah kuperbuat sebelumnya..." Pinta Qei lagi.
"Dan jawaban yang seperti apa yang anda inginkan???? Baiklah saya akan kembali kepada anda dan saya sudah memaafkan atas sikap anda yang telah mempermalukan saya didepan umum waktu itu, juga saya akan menganggap semua itu tidak pernah terjadi dan mari kita mulai lagi dari awal....., Apakah jawaban seperti ini yang anda inginkan? Lalu apakah anda pernah membayangkan jika seandainya anda berada diposisi saya, jawaban seperti apa yang akan keluar dari bibir anda sekarang ini?" Ucap Zeni dengan tenang namun tegas.
"Aku tahu aku salah, jadi tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan memperbaiki semuanya... Kumohon..." Pinta Qei.
"Maaf Jendral, saya sedang tidak ingin membahas ini, kita jadi menjenguk Elia atau tidak? Jika tidak, maka biarkan saya turun disini..." Ucap Zeni.
"Baiklah, aku tidak akan membahasnya...." Ucap Qei, kemudian melajukan kendaraannya lagi menuju kediaman Rose.
Zeni dan Qei sudah cukup lama berada dirumah Rose, mereka juga sudah melepas rindu dengan Elia.
"Elia..., Aku harus pulang, ini sudah jam delapan malam" ucap Zeni.
"Yaach....., Kenapa tidak menginap saja? Malam ini kita tidur bersama seperti dulu, oke?" Pinta Elia.
"Iiizt, mana boleh begitu...!" Jawab Zeni.
"Menginaplah Zen untuk malam ini saja, kasihan Elia, dia kekurangan teman disini, lagipula diluar masih hujan dan cuaca sangat dingin, tidak baik untuk kesehatanmu..." Ucap Rose.
Zeni berfikir sebentar, dan
"Kalau begitu baiklah tante..." Jawab Zeni.
"Yeeeeey... Hore, hore...., Yeeeeey!!! Zeni menginap, Zeni menginap..., Yeeeey!!!" Elia sangat bahagia.
"Hisssh! Nanti sebelum tidur jangan lupa pijat kakiku seperti dulu...." Pinta Zeni kepada Elia.
"Siap bos..." Elia.
Rose dan Qei yang melihat mereka berdua sama-sama ikut tersenyum.
"Baiklah, aku akan menyiapkan baju ganti untukmu dan menyiapkan makan malam, kau mandilah dikamar Elia..." Ucap Rose.
__ADS_1
"Oke tante.." jawab Zeni.
Zeni pun berjalan kelantai dua untuk membersihkan diri.
"Dan kau Qei, mau menginap atau kembali ketempat dinas?" Tanya Rose kepada Qei.
"Aku akan istirahat sebentar dikamar tamu bu, sepertinya aku sedikit kurang enak badan" jawab Qei sembari beranjak dari ruang keluarga, dia berjalan kekamar tamu yang ada dilantai satu disamping ruang keluarga.
Zeni, Elia dan Rose mereka berkumpul diruang makan.
"Hmmm ayah mana nek?" Tanya Elia kepada Rose.
"Ayahmu kurang enak badan, dia sedang istirahat..." Jawab Rose.
"Ooch..." Timpal Elia.
Zeni yang mendengar itu merasa khawatir.
("Apa karena terlalu lama menungguku diluar showroom tadi ya...," Batin Zeni).
"El, kau pergi saja dulu kekamar ya, nanti aku menyusul.. aku akan mengurus ayahmu dulu, kasihan dia belum makan malam..." Ucap Zeni.
"Okelah kalau begitu, urus betul-betul ya, jangan sampai sakitnya tambah parah...!" Ucap Elia.
"Hiiiiizt, anak ini, kenapa bawel sekali...." Ucap Zeni sembari mengangkat tangannya ingin mencubit Elia.
Namun Elia sudah lari terlebih dahulu kelantai dua sambil menjulurkan lidahnya, Rose yang melihat tingkah Elia hanya tersenyum.
"Tolong maklumi Elia ya Zen...," Pinta Rose.
"Tidak masalah tante, Zeni sudah terbiasa, Elia sangatlah periang dan pandai, beruntung sekali jendral memiliki anak seperti dia" ucap Zeni sambil tersenyum kepada Rose.
"Oya tan, saya kekamar Jendral dulu..." Ucap Zeni lagi sembari membawakan Qei nasi dan obat.
Tok...tok...tok.... (Zeni mengetuk pintu kamar Qei).
"Jendral, bolehkah saya masuk? Saya membawakan makanan untuk anda" ucap Zeni dibalik pintu kamar Qei. Namun tidak ada jawaban darinya, beberapa kali sudah Zeni mengetuk pintu tapi tidak ada respon, akhirnya Zeni memutuskan membuka pintu kamar Qei.
("Hmmm, tidak terkunci" batin Zeni sembari membuka pintu kamar Qei).
Zeni pun masuk kedalam kamar Qei dan didapati ternyata Qei sedang tertidur, Zeni menaruh makanan dan obat disamping tempat tidur Qei, lalu dia duduk disamping tempat tidur Qei, Zeni memeriksa suhu tubuh Qei dengan menaruh tangannya diatas dahi Qei.
("Ternyata memang demam" ucap Zeni dalam hati).
Zeni bergegas keluar mencari kompres untuk Qei.
Namun belum sampai Zeni beranjak dari duduknya, Qei sudah lebih dulu memegang tangan Zeni.
"Jangan pergi" ucap Qei yang masih memejamkan matanya.
Zeni mencoba melepaskannya namun tak berhasil, Qei masih memejamkan matanya.
"Jangan pergi...." Ucap Qei lagi.
__ADS_1
("Iich, dia ini mengigau atau sadar sich...." Gumam Zeni dalam hati, yang bingung sambil melambai-lambaikan jari-jarinya kearah wajah Qei untuk memastikan kondisi Qei saat itu).