
Qei pun pergi meninggalkan kediaman Zeni.
Zeni terpaku ditempat duduknya cukup lama, dia pun melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi, fikiran Zeni yang sedang kacau dipagi itu, membuatnya malas untuk bekerja "aaach... Sepertinya hari ini aku akan terlambat" gumam Zeni seraya berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
.
Disisi lain Qei dipagi itu didalam mobil yang menjemputnya terlihat sangat gembira karena mengetahui jika sebenarnya Zeni masih sangat mencintainya dan ternyata Zeni memanglah seorang wanita baik-baik.
("Zeni, cepat atau lambat kita akan bersama lagi, dan pada saat itu tiba, apapun yang terjadi, aku tak akan melepaskanmu lagi..." Gumam Qei dengan senyum penuh percaya diri).
Qei pun kemudian menghubungi Jisung melalui ponselnya.
"Bagaimana dengan pria itu?" Tanya Qei.
("Dia sedang melewati masa kritisnya kak, tapi belum bisa di interogasi" jawab Jisung melalui ponsel).
"Tetap awasi dia dan satu lagi, aku ingin kau mengirim beberapa pengawal untuk mengawasi dan menjaga Zeni..." Pinta Qei.
("Baik kak, oya lalu bagaimana dengan kasus Tuan Luho? Dari informasi yang kudapat masih ada satu lagi saksi kunci yang memberi pengaruh cukup besar sebagai bukti atas penyalahgunaan wewenangnya sebagai pejabat, tapi aku belum mendapatkan informasinya, namun ada informasi lagi jika orang tersebut kenal dekat dengan Daniel, sayangnya saat aku menanyakannya kepada Daniel, dia selalu mengelak..." ucap Jisung).
"Jadi begitu.... Biar aku saja yang menanyakan hal tersebut padanya, sepertinya dia menginginkan imbalan" ucap Qei.
Qei pun mengakhiri panggilan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Zeni baru saja sampai tempat kerjanya dengan wajah kusam dan tidak bersemangat, padahal lima belas menit lagi akan ada briefing pagi diruangan kerja Daniel yang dihadiri oleh tim-tim pemasaran showroom tersebut.
"hmmm, baru berapa hari masuk kerja, kau sudah terlambat tiga puluh menit? Apa ada alasan yang mungkin bisa kuterima?" Tanya Daniel kepada Zeni.
"Iya ada...." Jawab Zeni singkat sembari bersih-bersih ruangan terbuka milik Daniel yang akan digunakan untuk briefing.
"Dan apa alasannya?" Tanya Daniel lagi.
"Hmmm, manager, sebelumnya saya ingin mengetahui sesuatu terlebih dahulu.." ucap Zeni.
"Mengetahui apa?!" Tanya Daniel.
"Apa karena saya terlambat ini, gaji saya akan dipotong?" Tanya Zeni.
"Tentu saja, gajimu akan dipotong sekitar lima persen" jawab Daniel yang berharap Zeni ketakutan dan tidak mengulangi kesalahan lagi.
"Ooch, kalau begitu potong saja... Saya sedang tidak ingin membahas mengenai kenapa saya bisa terlambat..." Timpal Zeni dengan wajah lesu sambil melakukan pekerjaannya dengan tanpa semangat.
("Haiich...!! (Daniel terkejut dengan jawaban Zeni)... Ada apa dengan gadis ini.... Dari pagi pun nampak tak semangat macam biasa pun" ucap Daniel dalam hati).
"Hmmm... Apa kau sedang ada masalah Zen?" Tanya Daniel yang akhirnya khawatir dengan keadaan Zeni.
Zeni melirik Daniel dengan wajah memelasnya juga bibir manyunnya kemudian dia menganggukan kepala.
Daniel yang setiap harinya selalu menggoda Zeni itupun menjadi iba dan kemudian menggenggam jari jemari Zeni menggunakan ekspresi wajah yang sedikit lebay.
__ADS_1
"Coba ceritakan padaku...." Ucap Daniel.
"Huk..., Huk....., Huk....., Manager! Kalau saya hamil bagaimana?!!!!! Aaaahaaaa....aaaaahaaaaaa!!!!" Ucap Zeni sembari menangis.
Namun ternyata saat Zeni mengucapkan kalimat itu, team briefing sudah hadir disana dan berada dipintu masuk yang terbuka, mereka pun terkejut dengan ucapan Zeni, begitupun dengan Daniel, mata mereka saling terbelalak, kemudian....
"Eech..ma...maaf, sepertinya masih ada dokumen yang tertinggal, oya kamu dan kamu print lagi berkas-berkas yang kuminta tadi, dan kamu bikin kopi untuk kita semua, lalu kamuuuuu..... pergilah ke toilet! priksa apakah tisu toilet sudah terpasang dengan benar..... Cepat lakukan!!!" ucap ketua pemasaran dengan gugup karena takut mengganggu pembicaraan antara Daniel dan Zeni.
"Baik..!!!!!" Jawab team briefing pagi itu dengan serentak kemudian bubar kocar kacir seakan kehilangan arah, mereka saling bertabrakan.
.
.
Keadaan pun mulai sunyi dan tinggal Zeni juga Daniel lagi.
"Haaach!!!! Mana mungkin, menciumu saja aku belum pernah, bagaimana mungkin akan hamil, selama ini aku hanya memelukmu saja, dan itu tidak akan membuatmu hamil, kau tenang saja...." Ucap Daniel yang salah paham dengan perkataan Zeni seraya memeluknya dan menepuk-nepuk punggung Zeni agar berhenti menangis.
Tak berapa lama ponsel Daniel pun berbunyi.
Driiiiit...... Driiiiiiit....... Driiiiiiiiit... (Dari ibunya).
"Aku menjawab panggilan dulu" ucap Daniel seraya meninggalkan Zeni.
Zeni pun pergi ke toilet untuk merapikan diri.
.
.
.
.
.
Daniel yang selesai melakukan panggilan, kembali menghampiri Zeni yang juga baru selesai merapikan dirinya sendiri.
"Zen, nanti siang kau temani aku keluar pergi ketoko perlengkapan bayi" pinta Daniel.
"Hmmm, kenapa harus saya yang menemani anda keluar?" Tanya Zeni yang masih terlihat lesu.
"Baiklah, tapi saya tidak ingin memakai baju kerja seperti ini saat keluar nanti" pinta Zeni, sembari mengikatkan dasi dileher Daniel.
"Tenang saja aku akan membelikanmu dress yang indah sebelum berangkat nanti.." ucap Daniel.
Zeni pun terlihat senang ("yes...." Gumam Zeni dalam hati).
Daniel pun melanjutkan briefingnya yang tertunda dan Zeni kembali ke lantai satu untuk bekerja dibawah.
.
.
.
.
Zeni menuruni tangga kelantai satu, karena terlalu buru-buru dia hampir saja terpeleset, untung saja ada Dita yang kebetulan dari arah belakang, dia segera menangkap Zeni.
"Ouch! Ya ampun Zeni, hampir saja! Kau harus lebih hati-hati" ucap Dita yang sedikit terkejut, saat melihat Zeni akan terjatuh ditangga.
"Ach, iya.. terimakasih ya..." Ucap Zeni.
"Iya, sama-sama, oya lebih baik besok pakai sandal atau slop datar saja, untuk jaga-jaga...." Saran Dita.
"Hmmm, memangnya kenapa?" Zeni sedikit bingung.
Dita pun melihat Zeni kemudian "sudahlah, kami semua sudah pada tahu, jika kau ...... (Dita memberi kode kearah perut) kami semua mendukungmu, maka dari itu, mulai sekarang kau harus hati-hati, awal-awal kehamilan sangatlah rawan...." Ucap Dita sambil berbisik.
"Hah?! Kata siapa? Siapa yang bilang?" Tanya Zeni yang sedikit panik dengan gosip tersebut.
"Adalah.... Heeeeheeeheeee... Aku sebagai sahabatmu yang baru kenal dua minggu ini, turut bahagia, kelak jangan lupakan aku ya" jawab Dita.
"Och ya ampun, Dita bukan seperti itu, aku sama sekali tidak hamil... Percayalah.. dan lagi, hubunganku dengan manager tidak seperti yang kau bayangkan!" Kata Zeni menjelaskan.
__ADS_1
"Cukup Zeni, sepandai apapun kau menutup-nutupinya, kelak kita juga akan tahu, sudah-sudah ayo cepat kerja" timpal Dita.
Dita berjalan lebih dulu daripada Zeni.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang hari.
Para SPG berkumpul untuk istirahat sejenak.
Tiba-tiba Daniel datang, sembari menyerahkan dress yang ia janjikan untuk Zeni, dan
"Zen, kita pergi ke toko perlengkapan bayi sekarang saja, bagaimana?" Ucap Daniel, dan terdengar oleh seluruh karyawan yang kebetulan berada disana.
("Dasar manager sialan!!!!! Apa dia sengaja melakukan ini!!!!" Gumam Zeni dalam hati).
Para karyawan pun saling melirik satu sama lain, sambil senyum-senyum kegirangan, hanya Zenu saja yang merasa tertekan..
"Wach.. manager so sweet sekali..."...
"Beruntungnya Zeni, dapat kekasih yang begitu perhatian..."...
"Padahal janinnya belum juga genap sebulan, tapi mereka sudah memikirkan sejak dini,, aaach betapa irinya aku..."...
Itulah cuapan-cuapan dari beberapa karyawan yang berada disana. Dan semakin membuat suasana salah paham itu semakin menjadi-jadi.
.
.
.
.
.
Zeni dan Daniel pun sudah berada dimobil.
"Manager! Lain kali jangan seperti itu sich..." Pinta Zeni.
"Hemmm? Memangnya ada yang salah?" Tanya Daniel.
"Tentu saja, mereka semua mengira kalau saya hamil!" Jawab Zeni yang kesal.
"Lah? Bukankah itu kesalahanmu sendiri, kau sendiri yang mengatakannya, aku juga yang disalahkan, dasar wanita..." gumam Daniel sambil senyum-senyum melihat Zeni kesal.
("Tapi maksudku bukan itu, aach bagaimana ini, kenapa jadi rumit begini sich...." Zeni mengeluh dalam hati).
.
.
.
("Hmm, tapi untuk apa dia pergi ketempat perlengkapan bayi????" gumam Zeni lagi dalam hati sambil memandangi Daniel yang sedang menyetir mobilnya).
.
__ADS_1
.
.