
Paemin pun mengangkat tubuh Zeni ketempat tidurnya.
Zeni memeluk Paemin dan selalu meminta Paemin untuk bertindak lebih.
"Kak,, lagiiiii,,,,," ucap Zeni yang merasa tersiksa karena keinginan dari pengaruh obat itu belum terpenuhi.
Paemin membantu memenuhi keinginan Zeni dengan memeluknya, memcium bibir dan tubuhnya, meremas dan menghisap kedua kekenyalan miliknya. Nafas Zeni begitu menggebu-gebu,, "Aaaaach,,, aaach kak, lagi,, kak,,,"....
("Sebenarnya aku juga ingin melakukannya, namun aku ingin melakukannya atas kesadaranmu,, bukan pengaruh dari obat ini.." ucap Paemin dalam hati).
Setelah sekitar dua jam Zeni kelelahan dan tidur, Paemin segera mengganti pakaian Zeni yang basah.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya.
Paemin dan Zeni duduk diruang tengah, mereka tidak saling berbicara. Datanglah kedua asisten rumah tangga dan mereka segera meminta maaf kepada Paemin dan Zeni.
"Tuan tolong ampuni kami, kami tidak bermaksud menaruh obat itu untuk Nona Zeni, sungguh.." ucap salah satu asisten itu.
"Jadi maksudmu kau ingin aku yang meminumnya?" Tanya Paemin.
"Iya,,, ech,, maksudnya bukan, walaupun tujuannya demikian, kami tidak ingin bermaksud buruk, kami hanya ingin menyatukan hubungan Tuan dan Nona yang sedikit renggang" jawab salah seorang asisten lagi.
("Apa maksud mereka itu? Menyatukan hubungan yang renggang" ucap Zeni dalam hati sembari menepuk jidatnya).
"Lain kali jangan ulangi lagi, atau aku akan membuat perhitungan kepada kalian" ucap Paemin.
"Ba..baik Tuan.." ucap para asisten. Dan mereka pun segera kembali bekerja.
Zeni yang tidak terima atas keputusan Paemin pun berkata kepada Paemin "apa, hanya begitu saja? Kau tidak sadar jika aku adalah korban? Hah!" Ucap Zeni kesal.
"Hech,, korban? Akulah yang jadi korban, masih beruntung kau yang meminum teh itu, bagaimana jika aku yang meminumnya, kau mungkin sudah kubuat kenikmatan tadi malam,," ucap Paemin dengan sedikit songong.
"Hiiiich apa maksudmu!!!" Timpal Zeni sambil memukul-mukul Paemin dan Paemin menahan tangan Zeni dengan tangannya.
"Sudah, sudah jangan pukul lagi, aku sudah cukup menderita tadi malam, kau tidak lihat,,(Paemin pun membuka bajunya dan memperlihatkan beberapa luka cakaran ditubuhnya),, lihatlah, ini hasil ulahmu semalam" ucap Paemin.
__ADS_1
"Hah?! Benarkah aku seliar itu semalam?" Zeni yang sedikit tidak percaya melihat luka cakaran itu dan kemudian menyentuhnya.
"Aau,,!" Paemin sedikit kesakitan saat lukanya disentuh oleh Zeni.
Zeni pun berubah menjadi simpatik kepada Paemin "sakit kah?"..
"Lumayan.. tapi tidak masalah, ini salahku sendiri karena menolak memenuhi hasratmu" jawab Paemin dan tersenyum.
"Akan aku bantu obati, aku ambil kotak obat dulu ya,," timpal Zeni seraya berjalan mengambil kotak obat.
.
.
.
Tak beberapa lama Zeni pun mengobati luka-luka Paemin dengan tangan lembutnya dan begitu lihai.
"Nah sudah,,," ucap Zeni sembari membereskan kotak obat itu.
Namun tak disangka dia menemukan obat tidur disana, Zeni pun segera menyelipkannya dibalik gaunnya.
("Sepertinya obat tidur ini adalah penolongku.." ucap Zeni dalam hati dengan penuh percaya diri).
"Aku akan membuatkanmu teh hangat" ucap Zeni dengan senyum ramahnya dan pergi kedapur.
Kemudian dia menghubungi seseorang,,
"Bagaimana perkembangan kasus ayahku?"
("Mengenai kasus itu, seperti dugaan, Tuan Kris tidak bisa lolos, karena dari kepolisian memilik cukup banyak bukti, dan bukti-bukti tersebut semakin diperkuat dengan laporan-laporan yang dimiliki oleh Jendral Qei, namun informasi yang saya dapat nama anda dari kasus ini bersih dengan kata lain, anda tidak bersalah, Tuan Kris mempunyai cukup banyak cara dan alibi agar nama anda tetap baik, polisi pun tak cukup memiliki bukti atas anda, jadi untuk saat ini anda dalam keadaan aman..")
"Terimakasih atas kerja kerasmu, dan video yang kukirim semalam, aku minta kau cetak fotonya, cetak bagian saat Zeni menciumku, dan kirim ke kediaman Jendral, dua lembar saja cukup"..
("Baik Tuan..")..
.
.
.
"Ini tehnya.." ("segera minumlah agar aku bisa segera kabur dari sini, dan segera menemui Jendral" ucap Zeni dalam hati).
Paemin pun meminumnya.
"Oya aku ingin pergi keperusahaanku sebentar, apa kau mau ikut?" Tanya Paemin.
__ADS_1
"Wow.. kau punya perusahaan, perusahaan apa?" Tanya Zeni kagum.
"Hmmm,, kau tahu merk minuman anggur Taste of gold? Itu adalah salah satu produknya,, Sebenarnya aku hanya mewarisi, Perusahaan itu dahulu milik kakekku, kemudian diwariskan kepada ibuku, tapi karena ibuku meninggal begitu cepat, akhirnya aku yang menjalankannya.."
"Waaach setahuku, itu merek anggur termahal di dunia,, keluargamu begitu kaya, tapi kenapa masih harus melakukan tindakan kriminal?" Zeni yang sedikit heran.
"Sudah kubilang, ayahku begitu sakit hati, dan dia jadi gelap mata,, seharusnya kau tahu siapa yang harus disalahkan dalam semua ini.." ucap Paemin.
Zeni terdiam sebentar ("sepertinya jangan membicarakan soal Jendral, atau suasana hatinya akan berubah dan dia tidak jadi membawaku keluar dari sini.." ucap Zeni dalam hati).
"Kau sudah memiliki segalanya, tapi kenapa masih ingin menjadi seorang dokter?" tanya Zeni.
"Menjadi dokter adalah cita-citaku sejak lama,," jawab Paemin singkat. Dan segera mengajak Zeni untuk keluar dan menuju mobil.
.
.
.
"Hmmm,, kak, biarkan aku yang menyetirnya, boleh?" Tanya Zeni dengan hati-hati.
("Sepertinya dia khawatir jika obat tidur itu mempengaruhi konsentrasiku" ucap Paemin dalam hati).
"Baiklah" ucap Paemin sembari menyerahkan kuncinya kepada Zeni.
.
.
.
Dalam perjalanan Paemin sudah tidak tahan lagi ingin tidur.
"Zen, jika aku tertidur apakah kau akan melarikan diri dari sini..?" Tanya Paemin yang matanya mulai terlelap.
"Hmmm apa kak,,?" Zeni yang sedikit kurang mendengar kalimat Paemin kemudian menoleh kearahnya dan didapatinya,, ("hah,, sudah tidur").
Zeni pun segera menepikan mobilnya di pinggir jalan raya, dimana begitu banyak mobil berlalu lalang, kemudian dia melambai-lampaikan tangannya kearah wajah Paemin untuk memastikan jika Paemin benar-benar sudah terlelap.
("Oke,, saatnya beraksi,, pertama-tama aku harus punya uang terlebih dahulu, karena itu paling penting,, heeeee,,,heeeeee,,,"). Zeni pelan-pelan mengambil dompet Paemin dan mengambil uangnya sebanyak Rp. 500.000,- ("sepertinya ini lebih dari cukup, tempat ini juga tidak jauh dari gedung militer" ucap Zeni dalam hati).
"Kak,, setelah aku pergi,, tolong jangan mencariku lagi...dan jalani hidupmu dengan baik" ucap Zeni lirih, kemudian turun pelan-pelan dari mobil Paemin yang menepi dipinggir jalan.
Zeni sudah berjalan sekitar lima puluh meter, namun dia berhenti sejenak kemudian,, "hmm, apakah tidak apa, jika mobilnya dipinggir jalan raya seperti itu,,(Zeni menoleh kearah mobil dan melihat sekeliling), mungkin aku harus memarkirkannya ditempat yang lebih aman, sangat berbahaya jika tiba-tiba ada kecelakaan lalu lintas?" Gumam Zeni.
Dan akhirnya Zeni pun kembali lagi ke arah mobil Paemin dan berencana memarkirkannya di dekat pom bensin terdekat.
__ADS_1