MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
ZENI...


__ADS_3

"Aaaaach ...! (Zeni tertusuk bagian perut tapi tidak parah kok, yang penting segera dibawa ke rumah sakit) aaaaach ... Sial!setiap ingin menjadi pahlawan kenapa selalu begini endingnya .. aaach ... aaach!" Zeni kesakitan.


Rose dan Liza kaget dan ketakutan banyak darah mengalir dalam hujan.


"Zeniiiiii ...!!!!" Teriak Ehun.


Pria misterius itupun juga terkejut, dia segera melarikan diri, dia berlari kearah Ehun, dengan maksud ingin menuju luar gang tersebut.


Pria itu berlari melewati Ehun, Ehun pun tersadar dan segera berbalik arah, berlari dan menendang punggung pria tersebut dengan jurus lompatan kaki kedepan, "Hhiiiach!"... Bruuuuuck ...


(penjahat tersungkur kedepan), (ceritanya Ehun jago beladiri, pokoknya pembaca bayangin aja si Ehun gayanya keren pas lagi berantem).


kemudian diputar badannya si pria itu oleh Ehun, dia menonjok bagian wajah penjahat dengan gaya cool "siapa kau sebenarnya, BbuUk, PuuuoOk, Paack, PaaAck,!!! Kenapa kau mencoba membunuh Zeni" Ehun dengan marah.


"Dia, dia sendiri yang tiba-tiba muncul dihadapanku" jawab pria itu.


"Halach, omong kosong! hiaaaach (Buk ... buk ... buk ...!!!)" Ehun sedang dipuncak kemarahan.


Tak lama orang-orang yang berkemeja sebelumnya datang dan segera mengamankan penjahat tersebut.


Liza "Ehun cepat kemari, segera hubungi ambulans, gadis ini kesakitan ..."


Rose "kita bawa dia dengan mobilku saja"


.


.


.


Rumah sakit.


Tiga jam kemudian.


Ehun "Zeni kau akhirnya sadar ..."


Zeni "hmmmm ... dimana ini?"


"Kau dirumah sakit" jawab Ehun.


Zeni mencoba duduk,


"Aaa ... aaaah" Zeni kesakitan.


"Jangan banyak bergerak dulu, lukaku baru saja dijahit" pinta Ehun.


"bisakah kau pergi kerumahku, Elia pasti sedang menungguku ..." Zeni memohon bantuan kepada Ehun.


Ehun "bagaimana kalau kita telfon saja ..."


Liza yang tadi duduk di sofa di dalam kamar rawat yang ditempati Zeni, berjalan ke arah ranjang Zeni dan berdiri di belakang Ehun.


"biar ibu saja yang kerumah Zeni dan menjaga Elia, kau istirahatlah dan jangan khawatirkan dia, berikan tante foto Elia dan alamatmu ya, tante siap-siap dulu"


"Terimakasih tante" Zeni.


Liza tersenyum.

__ADS_1


"Ssuttz, (mata melirik kearah Ehun), itu ... ibumu kah?" Tanya Zeni.


"Iya ..." jawab Ehun.


"Baguslah kalau begitu aku tidak khawatir lagi mengenai Elia, oya kue yang kuberikan padamu tadi titipkan sekalian ke ibumu" pinta Zeni..


"Hhhmm ... ooch kue itu sudah jatuh tadi heee,heeeeee" Ehun cengingisan merasa bersalah


"Iiich kok bisa sih, ganti balik!!!! Itu punya Elia, hari ini adalah hari ulang tahunnya!!!" Zeni kesal ...


"Nanti ya setelah gajian heee" pinta Ehun sambil garuk kepala.


"Ya lah, tapi kau sendiri yang harus menjelaskan ke Elia, dia sangan cerewet kalau keinginannya tidak sesuai ..." Zeni.


"Ok, kau sangat perhatian sekali pada Elia, bahkan disaat seperti ini pun masih sempat memikirkan kue ulang tahun" Ehun memuji Zeni dengan senyum bangga.


"Ibu pulang dulu, besok ibu bawa Elia kesini, Ehun, jaga Zeni baik-baik, ingat pesan Nyonya Rose" Liza sembari jalan kearah pintu.


"Baik bu ..." Ehun.


"Hati-hati tante ..." Zeni.


Zeni melihat kearah Ehun "Siapa Nyonya Rose, yang baru saja disebutkan oleh ibumu itu?"


"Dia wanita yang kau selamatkan tadi, dia adalah orang penting, orang tua dari Jendral Qei yang ada di Kota ini" jawab Ehun.


("Ooch sepertinya aku akan dapat banyak uang,, heeheeeheee ... pantas saja, kamar rawat inapku sangat menakjubkan") Zeni dalam hati.


"Lalu mana Nyonya Rose?!" Tanya Zeni.


"Och, hmm ngomong-ngomong kenapa bisa ibumu bisa akrab dengan orang sepenting Nyonya Rose?" Zeni mulai kepo.


"Hmmmm memangnya hanya orang-orang kaya saja yang bisa bertemu dengan orang penting seperti itu, heeeheee ..." jawab Ehun sambil slengek'an.


"Iizt kau ini, ya lah, ya lah, kali ini kau yang menang ..." Zeni.


"Aaahaahaahahaaa" tawa mereka berdua.


Malam itu Zeni ditemani Ehun, mereka berbincang banyak hal, walau usia Ehun tiga tahun lebih muda dari pada Zeni, mereka terlihat sangat akrab.


.


.


.


Dikantor Qei,


"Bagaimana hasil penyelidikan mengenai pria yang ingin mencelakai ibuku" Qei.


"Lapor Pak, tersangka hanya orang biasa yang baru saja keluar dari penjara, setelah 10 tahun dipenjara, dia balas dendam karena dulu ayah anda yang memasukannya ke penjara atas kasus tabrak lari, kemungkinan ini hanya mengenai masalah pribadi tidak ada hubungannya dengan sindikat atau kelompok tertentu yang mengincar keluarga anda" ...


"Baguslah kalau begitu, segera bereskan dia, dan pastikan tidak terulang lagi!!!" Qei.


"Baik" ...


Driit drriiiiit drriiiiiitt (suara ponsel Qei).

__ADS_1


"Ya bu ..." Qei.


("Kapan kau menjemput ibu?") Rose.


"Sebentar lagi ada mobil yang akan menjemput ibu, ibu siap-siap saja, kita langsung bertemu di rumah sakit" jawab Qei.


("Baiklah kalau begitu") Rose pun menutup panggilannya.


.


.


.


"Huuaaaach, huaaaacchh,huuuh, huuuuaaah, waaaaah, waaaaaaah" ...


"Hey, kau tak lelah kah? Menangis sudah hampir dua jam, sudah kubilang aku tidak apa-apa, dalam beberapa hari aku akan kembali fit ... kau fikir aku akan mati? Hach? Cepat usap air matamu itu" Zeni.


"Tapi ... tapi, kenapa jadi begini, kenapa orang itu kejam sekali, kenapa kau juga ceroboh sekali, harusnya saat dia mulai menusukmu kau menangkisnya, kenapa kau malah menyerahkan dirimu, sudah tahu dia membawa senjata, kenapa bodohmu tidak berkurang, huaaachh,huuaach,hhuaaach" Elia.


"Kalau ngomong itu enak, coba kau berada disituasinya saat itu, hiiizt" Zeni kesal.


"Sudah, sudah ... kenapa malah jadi bertengkar, Elia kita kembali ke sekolah sekarang ya, tadi kan Elia janji mau pergi sekolah kalau sudah melihat keadaan Zeni, kau sudah telat satu jam, tante hanya minta ijin sebentar kepada gurumu" Liza.


"Oke tante" Elia senyum ramah kepada Liza setelah mengusap air matanya.


"Zeni kau istirahatlah, biar tante yang merawat Elia sementara ini, nanti sore setelah pulang kerja, Ehun akan langsung kemari menjagamu" Liza.


"Terimakasih banyak tante, Elia dengar apa yang dikatakan tante Liza, jadi anak yang baik dan manis ..." Zeni mengingatkan Elia.


"Siap bos ...!" Elia sambil slengek'an.


Disisi lain Rose sudah tiba di lobi rumah sakit, bersama dengan Qei dan Kista kekasih Qei.


"Pantas saja kau tidak mau menjemput ibu, jadi karena dia ..." Sindir Rose.


"Ssssst, ibu kita sedang berada di rumah sakit, tolong jangan membuat keributan" Pinta Qei.


"Halo tante, lama tidak bertemu, bagaimana kabar tante?" Tanya Kista sembari menundukan kepala dengan sopan.


"Hmm, tante baik, ayo cepat!" jawab Rose singkat.


Rose memang kurang menyukai hubungan anaknya dengan Kista, pasalnya Kista sangat menyukai clubbing dan minum-minuman.


("Hiiizt, entah apa yang Qei lihat dari gadis ini, kalau hanya karena dia cantik, diluar sana juga banyak wanita cantik" Rose dalam hati).


Kista sebelumnya adalah sahabat Iren (isteri Qei yang sudah meninggal), saat masa-masa berkabungnya Qei sampai dengan saat ini, bisa dibilang Kista selalu ada untuk Qei. Dan sudah tiga tahun terakhir ini Qei dan Kista menjadi sepasang kekasih.


.


.


.


Liza dan Elia menuju pintu keluar rumah sakit, mereka hampir berpapasan dengan Rose dan Qei, dan ...


"Hmm, bukannya itu Liza" Rose berbicara sendiri, sambil dari kejauhan memandangi Liza yang sedikit terlihat samar karena lalu lalang orang di sekitar, dia pun segera menuju menemui Liza.

__ADS_1


__ADS_2