MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni & Qei 4


__ADS_3

Paemin baru selesai melakukan operasi transplantasi tulang belakang disebuah bangunan bekas tempat praktek ibunya, setelah ibunya dipenjara tujuh tahun lalu, dua tahun kemudian dikabarkan jika ibunya meninggal akibat sebuah penyakit, akhirnya selama lima tahun terakhir ini, bangunan tersebut ia pakai untuk praktek ilegal yang dibantu oleh ayahnya.


Paemin keluar dari ruang operasi dan segera menerima laporan.


"Bos, Nona Zeni pergi dari rumahnya begitupun dengan Nona Elia,,"..


"Kemana mereka pergi?",,


"Elia dibawa oleh keluarganya, sedangkan Nona Zeni, kami minta maaf, kami kehilangan jejaknya"..


"Segera tangkap Elia dan bawa kepadaku" ("Jika Elia bersamaku Zeni akan datang dengan sendirinya, dan aku tidak akan memberimu ampun, dasar pengkhianat").


.


..


...


"Pagi Jendral,," sapa Zeni dengan senyum manis.


"Pagi,, kau awal sekali sudah sampai?"


"Tentu saja.." ("dia tidak tahu kalau aku juga tinggal di tempat dinas" gumam Zeni dalam hati).


"Baguslah, pagi ini ikutlah denganku ke rumah sakit, ada jasad anak kecil yang telah ditemukan tanpa organ dalam, aku harus memeriksanya kesana" ucap Qei.


"Kenapa harus anda, bukankah yang lain bisa melakukannya?, Pekerjaan anda juga banyak disini,," tanya Elia.


Namun Qei enggan menjawabnya.


Sejak terjadi penculikan terhadap anaknya sendiri pada waktu itu, setiap ada kabar ditemukan jasad anak kecil, jendral lah yang akan memeriksanya sendiri, dan selalu berharap bahwa itu bukan Elia.


.


..


...


Qei dan Zeni dalam perjalanan kerumah sakit,,


"Saat dirumah sakit nanti, sementara aku memeriksa mayat anak itu, kau periksakan bekas lukamu.." ucap Qei.


"Ech, tidak perlu, saya sudah memeriksanya dua hari yang lalu, bahkan saya bertemu Nona Kista juga"..


("Kista? Sedang apa Kista kerumah sakit, tiga hari yang lalu Kista bilang akan pergi ke Kota S, dan baru kembali kemarin..sepertinya ada yang disembunyikan..") Qei berbicara dalam hati, sembari menyetir mobil.


Kemudian "ooch, benarkah?" Dia menggunakan kalimat ini, untuk memancing Zeni mengucapkan kalimat selanjutnya.

__ADS_1


"Tentu saja, tapi kenapa anda tidak menemaninya? Dan lagi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Zeni.


"Kenapa kau menanyakan hal semacam itu?" Tanya Qei balik..


"Bukan, tapi bagi wanita yang sudah memiliki janin, dia tidak bisa menunggu lama-lama lagi, karena perutnya akan semakin besar, sebaiknya segera anda fikirkan baik-baik rencana pernikahan anda, jangan hanya sibuk dengan pekerjaan, fikirkan juga Nona Kista dan janinnya, tega sekali anda membiarkan seorang wanita memeriksakan kandungannya sendiri, sebagai pria seharusnya dalam hal seperti itu, anda sebaiknya berada disampingnya.." jawab Zeni dengan polos, tanpa mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.


"Jadi begitu kejadiannya,," Qei tersenyum kecut..


.


..


...


"Kau tunggu disini, aku akan memeriksa kedalam dulu"..perintah Qei.


"Baik".. Zeni pun duduk diruang tunggu.


Tak beberapa lama, dia melihat Kista...


("Apa hubungan Jendral Qei dengan Nona Kista sedang kurang baik,, sampai-sampai mereka berada di tempat yang sama pun tapi tidak saling tahu") Zeni bergumam sambil mengamati Kista,, "Oh, ya ampun dia membawa surat persetujuan aborsi, apa maksudnya itu,,bagaimana ini, apa aku harus memberi tahu Jendral" Zeni semakin bingung setelah melihat Kista memasuki sebuah ruangan. Zeni pun berlari mencari Qei keruang otopsi.


"Jendral,, jendral,," panggil Zeni, sambil nafas tersenggal-senggal.


"Ada apa buru-buru begini?" Tanya Qei.


"Sudah,,"..


"Baguslah kalau begitu, ayo sekarang kita selamatkan anakmu".. Zeni berbicara sambil berbalik dan menggandeng tangan Qei.


"Hech, anak" Qei bingung, dia menahan tangan Zeni, dan hampir membuat Zeni jatuh, namun ditahan oleh tubuh Qei.


"Iya, nona Kista, saya melihat nona Kista memasuki ruangan dan membawa dokumen persetujuan aborsi".. Zeni menjawab dengan tergesa-gesa. Namun respon Qei sangat terlihat santai.


"Och, biarkan saja" ucap Qei.


Zeni yang nampak kesal, dia memarahi Jendral Qei "hei, itu adalah calon bayimu, kenapa kau begitu kejam? Apa kalian begitu tidak menginginkannya?!" Ucap Zeni.


"Baiklah kalau kau memaksa, tapi kau harus ikut denganku, diruangan mana dia masuk, tunjukan padaku..." ..


.


..


...


Tak beberapa lama Qei memasuki sebuah ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu..

__ADS_1


Kista nampak kaget.


"Qei..?" Ucap Kista sambil ketakutan.


"Tak perlu takut, dan terkejut seperti itu, tetap duduklah,,jadi kau ingin melakukan aborsi, agar aku tidak mengetahui bahwa kau sedang hamil, dan berfikir akan tetap bersamaku, maka dari itu akan kuluruskan, kita akhiri hubungan kita, dan jika kau mengikuti saranku, temui pria yang membuatmu hamil, biarkanlah janin yang ada dalam kandunganmu, dia tidak bersalah" ucap Qei dengan tenang.


"Sayang, tolong dengarkan aku dulu"..


"Oya satu lagi,,mulai hari ini, panggil aku Jendral Qei".. ucap Qei lagi, sembari meninggalkan ruangan itu.


Zeni yang berada dibelakang Qei dari tadi nampak bingung dan bersalah.


.


..


...


Perjalanan pulang tiba-tiba terasa sunyi. Zeni pun membuka suara..


"Apa anda baik-baik saja? Maafkan saya, karena saya anda jadi..." Belum selesai Zeni berbicara tapi Qei sudah menyela kalimatnya.


"Tenanglah, ini bukan salahmu, bagus kau mengetahui hal ini, sebenarnya aku sudah lama ingin mengakhirinya, namun aku tidak punya alasan,," ucap Qei.


"Tapi apakah itu benar yang ada didalam kandungannya bukan anak anda?" Tanya Zeni memastikan.


"Tentu saja, sejak kita menjalin hubungan, aku tidak pernah menyentuhnya, bahkan menciumnya" jawab Qei.


("Hach, yang benar saja, hubungan macam apa seperti itu"),,


"Kau mungkin bingung, Kista saat itu sangat perhatian padaku, kemudian dia menyatakan perasaannya padaku, saat itu aku berfikir, terlalu egois jika aku menolaknya, namun ternyata aku masih tidak bisa mencintainya, semakin lama aku merasa telah memberi harapan palsu kepada Kista, maka dari itu saat aku tahu dia hamil, aku sama sekali tidak marah padanya, akulah yang bersalah dalam hal ini, karena tidak bisa membuatnya bahagia"...


Zeni yang mendengar cerita Qei, dia bisa memahaminya.


("Jadi dengan kata lain, sekarang jendral lagi jomblo,,hee,,hee,,hee,,,kesempatanku") Zeni senyum-senyum sendiri.


("hmm apa aku boleh menggodanya sekarang") gumam Zeni yang benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


"Setelah kita sampai dikantor, kau datanglah segera keruang dokumen, bantu Jisung dan Tifany dalam mengatur berkas-berkas, mereka adalah tangan kananku, belajar banyaklah dari mereka,," perintah Qei.


"baik Jendral",, ucap Zeni sambil memberi senyum dan mengibaskan rambutnya, tak lupa dia menyilangkan kakinya dan memperlihatkan bentuk indah pahanya yang mengenakan rok cukup pendek..


Jendral yang menyadari hal itu ("ada apa dengan gadis ini, tiba-tiba bertingkah seperti itu")..


"lain kali saat sedang bekerja pakailah celana saja, jangan biarkan orang lain melihat tubuhmu" Qei berbicara sambil menelan ludah tapi tidak memperlihatkannya.


Zeni yang tiba-tiba malu, langsung merapikan posisinya.

__ADS_1


Qei nampak tersenyum namun dia menutupinya dengan tangan yang pura-pura menggaruk bagian hidung, agar tidak ketahuan oleh Zeni.


__ADS_2