MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni & Qei 5


__ADS_3

"bu, aku pulang"..


"Qei, kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu?,, Ooch hai Jisung sayang,, kau juga kemari,," ucap Rose yang sedikit gugup mengetahui Qei datang berkunjung.


"Selamat siang tante.." Jisung memberi salam dan masuk kerumah mengikuti Qei dan Rose.


Qei pun tanpa basa basi langsung menanyakan keberadaan Elia dan menceritakan keadaan Zeni, begitupun Rose akhirnya menjelaskan bagaimana selama ini Elia bersama Zeni dan tidak ingin pulang, Qei pun memahami apa yang diceritakan oleh ibunya, dan dia bisa menerima semua itu, karena itu memang kesalahan masa lalunya.


"Dia berada di kamarnya di atas, coba saja kau temui dia dan bicarakan baik-baik" Rose.


"Baik bu,," ucap Qei.


Tok..tok..tok.. 5X


"Elia, ayah tahu kau di dalam, dan kau juga sudah menyadari keberadaan ayah, maukah kau memberikan ayah kesempatan sekali lagi? Beri ayah kesempatan untuk menjadi ayah yang baik untukmu..buka pintunya ya sayang, ayah merindukanmu" ucap Qei dengan lembut dan penuh harap.


Elia yang mendengarkan keinginan ayahnya dibalik pintu nampak bimbang,,dia hanya diam saja.


"Elia,,bagaimana jika kita membicarakan hal mengenai Zeni yang ceroboh itu, kau pasti sangat merindukannya kan?" Qei membujuk Elia.


Tak disangka Elia membuka pintunya, Qei pun segera memeluknya.


"Apa kau sangat merindukan Zeni?" Tanya Qei sambil memeluknya.


Elia menganggukan kepala,, ("anak ini begitu menyayangi Zeni, baguslah kalau selama ini dia bahagia" Qei berbicara dalam hati).


"Kau tak merindukan ayah?" Tanya Qei lagi.


"Rindu" jawab Elia singkat.


"Hmm kalau begitu ayah akan bertanya padamu, kau lebih merindukan ayah atau Zeni?" Tanya Qei menggoda Elia.


"Zeni" jawab Elia lagi dengan singkat.


"Wach, kenapa?" Qei pura-pura terkejut.


"Karena ayah jahat, aku tidak suka ayah" jawab Elia sambil memanyunkan bibirnya.


Qei pun tersenyum dan menggendong Elia menuju tempat tidurnya, Qei mulai mengajak Elia berbincang dan bermain, setelah hampir dua jam mereka melepas rindu, Elia tertidur, Qei pun kembali kebawah dan berpamitan kepada ibunya, karena dia masih harus menyelamatkan Zeni.


Qei meninggalkan Jisung yang tertidur di sofa tamu, karena terlalu lama menunggu Elia turun.


"Kau tidak membawa Jisung?" Tanya Rose.


"Biarkan saja dia istirahat bu, dia sudah bekerja terlalu keras selama aku diluar, dan lagi dia ingin bertemu dengan Elia,,," jawab Qei.


"Baiklah, hati-hati dijalan.."


.


..


...


Setelah cukup lama Qei bernegosiasi dan memberikan semua bukti bahwa Zeni tidak bersalah dan menjelaskan jika penculik itu mengincar anaknya, akhirnya Qei bisa membebaskan Zeni, Qei menuju ruang interogasi dan mendapati Zeni sangat tak berdaya.


"Zeni, kau tak apa?" Tanya Qei yang panik.


"Heh, menurutmu?! Apakah ini terlihat baik-baik saja..!!!" Zeni melihat Qei dan mulai merengek.

__ADS_1


"Kau lihat sendiri tubuhku ini penuh lebab, bagaimana jika nanti tidak bisa mulus lagi, tidak menarik lagi, huuuu...huuuuuu? Kenapa lama sekali menjemputku? Kenapa tidak sekalian menungguku jadi mayat saja!!! Hhhuuuaa,,huuaaa,huuua" Zeni meluapkan amarahnya kepada Qei, sambil memukul-mukul dan menjabak rambut Qei.


Qei hanya menerima saja pukulan dan jambakan Zeni,, setelah Zeni kehabisan tenaga, dia membopong Zeni keluar dari sana dan segera membawanya kerumah sakit.


"Maafkan aku yang terlambat" ucap Qei dengan lembut, sembari mencium kening Zeni yang tertidur kelelahan.


.


..


...


Selama satu minggu Zeni dirawat dirumah sakit, Qei selalu menemani Zeni dan melakukan pekerjaannya dirumah sakit, tak lupa dia juga yang menyiapkan segala kebutuhan Zeni, menyuapinya, memapahnya jika ingin ke toilet, mengikatkan rambutnya, semuanya ia lalukan sendiri.


"Jendral, apakah aku terlalu merepotkanmu?" Tanya Zeni.


"Tentu saja tidak, pengorbananmu jauh lebih besar dari ini, bahkan kau merawat dan memberikan kasih sayangmu kepada Elia, yang belum bisa aku berikan kepadanya selama ini, aku benar-benar berhutang budi padamu" jawab Qei.


"Elia anak yang manis dan baik,, (Zeni tersenyum) Jendral, jika kau sibuk atau ingin istirahat, pulanglah, kau pasti juga merindukan Elia kan,,huch,, aku juga merindukannya sudah hampir dua bulan aku tak bertemu dengannya" ucap Elia sembari memandangi foto-foto di galeri ponselnya.


"Kau tenang saja, Jisung sedang menjemput Elia dan ibuku, mereka sedang menuju kemari"..


Kreeeet..(suara pintu).


"Itu mereka, baru juga dibicarakan" ucap Qei.


"Zeeeniiiiiiiiii,,,,,,!!!" Teriak Elia sembari lari menuju Zeni yang sedang terbaring, dan langsung memeluknya.


"Aau,, aaau,,aaauuuu,, kau menindih lukaku" Zeni.


"Uups, sory" Elia, sambil mengecup pipi Zeni.


"Halo tante,," Zeni menyapa Rose yang berdiri disamping Elia.


"Hay sayang,,bagaimana kabarmu" ucap Rose.


"Yach, seperti yang tante lihat, belum ada setengah tahun setidaknya aku sudah dua kali dirawat di rumah sakit" jawab Zeni sambil tersenyum.


Mereka pun berbincang dan melepas rindu. Disisi lain Qei dan Jisung sedang membicarakan pekerjaan mereka, "aku ingin kau mengirim mata-mata untuk mengawasi Jeno, selama ini dia hanya membuat laporan-laporan mengenai keberadaan penculik kelas teri, tapi tidak pernah mengungkapkan dalang terbesar dari sekelompok penculik itu, aku khawatir, dia ikut andil di dalamnya.."


"Baik kak, akan segera kulakukan"..


Jawab Jisung dan segera pergi.


Tak lama, Elia dan Rose pun pamit pulang juga.


"Aku akan mengantar mereka sampai bawah dulu,," ucap Qei.


"Hmm baiklah, Jendral jangan kembali sebelum satu jam!" Pinta Zeni.


"Kenapa?!" Tanya Qei.


"Aku perlu mandi untuk membersihkan badanku, kalau Jendral ada disini, itu membuatku tidak leluasa.." jawab Zeni dengan malu.


"Oooch"...Qei tersenyum.


.


..

__ADS_1


Setelah tiga puluh menit, Zeni selesai membersihkan diri, dan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk ditubuhnya.


"Omo!!!! Jendral,, iiich bukannya aku sudah memintamu untuk tetap diluar,," Zeni kaget, saat melihat Jendral sudah duduk di sofa samping ranjang rumah sakit yang Zeni tempati sambil membaca sebuah dokumen.


"Iya kau memintaku untuk tetap diluar, tapi aku kan tidak berkata iya mau" jawab Jendral tanpa memandang kearah Zeni, pandangannya tetap menuju kesebuah dokumen yang ia baca.


"terserahlah".. Zeni tak memperdulikan Jendral dan berjalan kearah Cermin besar di depan kamar mandi, dia memandangi sebagian tubuhnya yang tak tertutup handuk, dan mengamati luka-lukanya.


"Syukurlah, bekas lukanya mulai memudar, ternyata bagus juga dokter spesialis yang direkomendasikan oleh Jendral" gumam Zeni sembari tersenyum melihat tubuhnya baik-baik saja.


Kemudian dia memandangi Jendral melalui pantulan cermin ("sebenarnya dari kemarin-kemarin kita memiliki banyak waktu untuk berdua, tapi karena kondisiku tidak memungkinkan aku tidak ada waktu untuk mencuri perhatiannya,, mungkin sekarang saatnya,, heeee,,heeee"Zeni berbicara dalam hati).


Zeni pun melakukan aksinya, dia berpura-pura sibuk berjalan kesana kemari dengan masih mengenakan handuk, awalnya Jendral tak memperdulikannya, namun lama-lama tingkah Zeni membuat Jendral kehabisan kata-kata.


"Cepat pakailah bajumu dulu,,sebelum ada orang yang kemari dan melihatnya.." ucap Jendral.


"Kenapa, Jendralkan lihat sendiri, aku masih sibuk mengeringkan rambutku, memakai pelembab ditubuhku, mengoleskan salep dilukaku" jawab Zeni.


"Iya, tapi kau terlalu lama, ini sudah tiga puluh menit lebih.."..


"Memang kenapa? Jendral tidak tahan ya,,,"goda Zeni sembari mengeringkan rambutnya.


"Heh, kau fikir aku pria macam apa?!"..


"Pria yang masih normal, jika lihat wanita cantik sepertiku, pasti tidak tahan, ya kan?" Jawab Zeni semakin menggoda ("memalukan sekali kenapa aku berbicara seperti itu pada Jendral" Zeni meronta geli di dalam hati).


"Jaga ucapanmu,,"..


"Jendral lupa ya, kalau aku bisa melihat sampai area terdalam, mulut Jendral mengatakan tidak tapi hiiii,,hiii,,,, itunya Jendral mengatakan sebaliknya, sepertinya dia sudah sangat keras"..


Jendral yang merasa tidak nyaman, segera menutupi celananya dengan bantal sofa, namun Zeni masih saja menggodanya "hmmm masih kelihatan" ucap Zeni sambil tersenyum,,


"Cepat pakai bajumu, atau kau akan menyesal!" Ancam Qei kepada Zeni.


Zeni yang sudah merasa cukup menggoda Jendral, segera mengambil bajunya dan berjalan kearah ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.


Namun Qei mengikuti Zeni dan mendorongnya pelan menuju kamar mandi, tanpa basa-basi, dia segera mencium bibir Zeni, kemudian Zeni mendorong Qei.


"Iich Jendral, katanya tidak akan tergoda,," ucap Zeni.


"Menurutmu pria mana yang akan diam saja jika kau bertingkah seperti ini?" Tanya Jendral.


"Ooch, lalu saat hanya bersama dengan nona Fany, saat dia menggoda Jendral, apa Jendral juga akan seperti ini? Dia kan sangat menyukai Jendral"..


"Tahu darimana kalau dia menyukaiku?!"..


"Tentu saja aku tahu, kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" Ucap Zeni.


Mendengar pertanyaan itu, Qei pun mendekati Zeni lagi dan memeluknya, dia tahu jika Zeni menyukainya dan cemburu terhadap Tifany.


"Walau Fany menyukaiku, dia bertingkah sewajarnya, bekerja dengan profesional dan lebih sopan, tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan atau bertingkah liar seperti yang kau lakukan" jawab Qei, sambil menyusuri telinga Zeni dengan bibirnya.


"Apa Jendral menyukai wanita seperti dia?" Tanya Zeni yang mulai benar-benar panas..


"Tidak, aku menyukaimu,,,dan jangan pernah bertingkah liar seperti ini di depan pria lain, atau kau akan menerima hukuman dariku, paham?" Jawab Jendral, yang mulai kehilangan kendali, dia meluapkan semuanya kepada Zeni, handuk Zeni pun sudah berada dilantai, dia benar-benar meremasnya, meremasnya dengan nafsu yang menggebu, desahan-desahan Zeni membuat Qei semakin bergairah. Dia ingin membuka celananya namun ditahan oleh Zeni.


"Jendral jangan, aku belum siap" ucap Zeni lembut dengan pandangan sayunya.


......

__ADS_1


__ADS_2