
("pria macam apa sebenarnya dia ini, saat dia menginginkanku dan menyentuhku, dia sama sekali tidak membuatku kesakitan, bahkan malah sebaliknya, sangat hangat dan setiap sentuhannya entah kenapa membuatku nyaman, tapi dibalik sikapnya kecuali terhadapku, dia adalah pria yang sadis dan berdarah dingin, namun untuk saat ini aku tidak bisa melakukan perlawanan, aku harus memastikan keselamatan Elia terlebih dahulu" Zeni, berbicara dalam hati sembari melihat keindahan kota pada malam hari melalui jendela mobil yang dikemudikan Paemin, kemudian pandangan matanya beralih melihat Paemin "benarkah pria ini mencintaiku? Sebenarnya mungkin aku sedikit beruntung jika dia memang betul mencintaiku, setidaknya dia tidak akan melukaiku dan juga Elia, asal aku menuruti keinginannya, namun jika dia hanya menginginkan tubuhku, itu berarti dia bisa membunuhku kapan saja jika dia merasa aku sudah tidak menarik lagi baginya, Aaah,, apa aku perlu mengujinya untuk memastikan itu" Zeni berfikir cukup lama)..
.
..
...
Sampailah mereka di restoran milik Paemin, ternyata Elia ada disana sedang melahap daging panggang, tanpa berfikir bahwa dirinya dalam bahaya.
"Zeni,,,,,,!!!" Teriak Elia senang,,
"Akhirnya kau menjemputku, tadi kak Paemin datang menjemputku, dia bilang kau memintanya untuk menjemputku.." Elia mengoceh banyak sekali sambil memeluk Zeni.
"Maaf ya, aku datang terlambat, ayo kita pulang" ajak Zeni sambil mengelus-elus rambut Elia.
"Eech, kau tak ingin makan dulu kah? GRAAAAATIIIIIISSSSSS!!!!!" ucap Elia dengan polos, tanpa mengetahui situasi.
Paemin yang mendengar Zeni akan pergi, langsung menatap Zeni tajam, seolah-olah mengatakan untuk tetap tinggal.
("Mungkin sekaranglah saatnya aku mengujinya, jika dia benar menyukaiku, dia tidak akan menolak keinginanku")..
"Elia, kau lanjut makanlah dulu, perutku sedang tidak nyaman, aku ke toilet dulu" ucap Zeni bohong, sembari berjalan kearah toilet, diikuti Paemin dari belakang.
Setelah sampai depan toilet, Paemin ingin mengatakan sesuatu kepada Zeni, namun Zeni lebih dulu mengatakan keinginannya.
"Kak, biarkan aku dan Elia pulang dulu, lagipula kakak sudah tahu tempat tinggalku,, kumohon" Zeni berbicara, dengan nada lembut.
"Bukankah kau ingin melarikan diri dariku?" tanya Paemin.
Zeni pun buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, sebagai gantinya, kita lakukan sekali lagi, seperti saat berada diparkiran, bagaimana? (Goda Paemin),, tapi kali ini kau yang harus berinisiatif terlebih dahulu, kuberi waktu lima detik untuk berfikir,, satu,,dua,,tiga,,empat,,li,"..Paemin berbicara sambil berjalan membalik badan.
Zeni akhirnya menyerah dan menahan lengan Paemin, melingkarkan tangannya keleher Paemin yang tinggi, dan segera menutup bibir Paemin dengan bibirnya, agar Paemin tidak bisa melanjutkan kalimatnya,, Zeni melakukannya dengan lembut, sampai membuat Paemin benar-benar menikmatinya, mereka berdua sama-sama panas.
"Sudah kak, ini sudah terlalu lama,,"pinta Zeni dengan lirih..
"Baiklah, kau bisa pulang dan istirahat.. aku masih harus melakukan sesuatu"
Zeni merasa senang "akhirnya bisa lolos juga"..
Zeni segera membawa Elia pulang.
.
"Ikuti gadis itu,,jangan sampai kehilangan jejaknya" Paemin memberi perintah kepada anak buahnya, untuk mengawasi Zeni, tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
.
..
...
Sesampai dirumah, segera Zeni mengunci pintu rapat-rapat, dan segera menghubungi Nyonya Rose, dia menceritakan bahwa Elia sedang dalam bahaya,,setelah itu dia pun segera menjelaskan dan membujuk Elia agar mau pulang bersama neneknya, awalnya Elia masih tidak mau, Zeni pun menjelaskan jika dia tidak pulang bersama neneknya, dirinya pun juga dalam bahaya.
"Tapi bagaimana dengan dirimu? Bagaimana kalau kau ikut denganku, tinggal bersama nenek" Tanya Elia kepada Zeni.
"Aku akan baik-baik saja, kau tenang saja, tapi jika kita bersama, itu yang akan bahaya,,"..
"Tapi ayahku tidak menginginkanku"..ucap Elia.
"Elia, dengarkan aku, seperti apa yang pernah dikatakan oleh nenekmu, ayahmu sekarang benar-benar menyesal akan apa yang telah ia lakukan padamu waktu itu,,saat ini ayahmu masih berusaha mencarimu dan ingin menangkap semua penjahat-penjahat itu, berilah ayahmu kesempatan sekali lagi,," Zeni memberi pengertian kepada Elia.
"Tapi sampai kapan kita tidak akan bertemu?" Tanya Elia.
"Hmmm mungkin sampai penjahatnya tertangkap"..jawab Zeni.
"Kan, sudah ketahuan siapa penjahatnya, kenapa tidak segera ditangkap?!" Tanya Elia lagi dengan polos..
"Masih belum cukup bukti, untuk menangkapnya, tapi kau tenang saja,, kita akan berkumpul lagi, setelah semua aman" jawab Zeni lagi.
"Baiklah kalau begitu.."
"Zeni kau benar tidak ingin ikut kami?" Tanya Rose.
"Demi kebaikan bersama, mungkin ini yang terbaik tan,,," jawab Zeni.
"Zeni, maafkan aku, kalau saja aku tahu, dia orang jahat, aku tidak akan dekat-dekat dengannya" ucap Elia.
"Sudahlah, memang dari awal dia sudah lama mengintai kita" ...
"Zeni, kau pergilah kegedung militer, dibelakang gedung itu, disediakan kamar dinas untuk para anggota-anggota militer, jangan lupa bawa kartu identitasmu kesana, agar penjaga tahu jika kau juga bekerja untuk kemiliteran.." ucap Rose.
.
..
...
Zeni pun pergi ke gedung militer, tempat ia bekerja seperti yang dianjurkan oleh Rose,, ("hmmm, akhirnya Elia aman, dan sekarang mungkin, gedung militer inilah yang cukup aman untukku, pria sadis itu tidak akan berani menjangkau sampai sini"..)
.
..
__ADS_1
...
"Ooch, bukankah itu nona Zeni tunangan Jendral, ech maksudnya asisten jendral,,,"
"Ooiya, betul lah..'
"Sedang apa malam-malam kemari, bawa koper besar pula"..
"Nona Zeni, ada apa datang malam-malam seperti ini?" Tanya salah seorang penjaga.
("Wach,,,sepertinya aku memang sudah sangat terkenal dikalangan mereka karena kejadian waktu itu,, bahkan tanpa mengeluarkan ID ku pun mereka sudah tahu siapa aku")..
("Bagaimana aku menjelaskannya, masa iya aku mengatakan kalau mau menumpang menginap") Zeni pun berfikir. Aaha...
"Pak, sementara ini, saya akan tinggal disini, karena sedang melakukan sebuah misi khusus,,apakah saya bisa menggunakan salah satu kamar dinas yang ada disini?" Tanya Zeni.
(Kamar dinas adalah fasilitas yang disediakan untuk para anggota yang sedang melakukan misi khusus, terutama misi-misi bahaya yang mengancam nyawanya, maka dari itu dibuatlah Zona aman agar anggotanya merasa dilindungi).
"Ooch, baiklah nona, mari saya antar, tapi akhir-akhir ini cukup banyak sekali anggota kemiliteran yang menggunakan kamar dinas disini, jadi maaf jika kamar yang tersisa kurang nyawan untuk anda"..
"Tidak masalah.. hmm ngomong-ngomong apakah Jendral Qei juga menggunakan kamar dinas.." tanya Zeni dengan berbisik.
"Hee,,hee,, betul sekali nona,, apa mungkin nona ingin aku mengatur kamar yang bersebelah atau bersebrangan dengan kamar Jendral?" Tanya penjaga dengan pandangan nakal.
"Eeeeh,, tidak, tidak,, carikan aku kamar yang jauh dari tempat dia" pinta Zeni.
"Aach tenanglah, nona tidak perlu sungkan, aku akan mencarikan kamar terbaik untuk anda dan tetap menjaga privasi kalian, hee,hee"..
("Sepertinya ada yang salah lagi" gumam Zeni).
"Nah ini dia, kamar anda tidak berada di sebrang ataupun bersebelahan dengan kamar Jendral"..
("Akhirnya..." Zeni lega)..
"Kamar Nona dan Jendral saling membelakangi, hiihiii,, tapi dibalik lemari itu ada pintu rahasia" ucap sang penjaga.
Zeni penasaran "pintu rahasia apa?" tanya Zeni..
"Pintu rahasia menuju kamar Jendral!" jawab sang penjaga sambil berbisik.
"APAAAAA!!!!"
"Sudah, sudah,, nona jangan khawatir, privasi kalian tetap aman"..
("Tapi bukan itu maksudku,,," Zeni kehabisan kata-kata").. "sudahlah terserah...."...
("Akhirnya, bisa istirahat dengan tenang..) Zeni pun merasa lega.
__ADS_1