MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni & Qei Baikan


__ADS_3

"Tapi kenapa jendral mengabaikanku,,," tanya Zeni lirih sambil menunduk.


Qei yang melihat Zeni masih sedih, dia pun menengadahkan wajah Zeni, kemudian mereka saling bertatapan dalam pelukan.


"Aku terlalu terbakar rasa cemburuku, aku tidak rela jika kau meninggalkanku, tolong jangan pergi tiba-tiba begitu lagi,," jawab Qei.


Mereka pun saling berciuman untuk melepas rindu.


.


.


.


Kriiiing.....kriiiiiiing.....kring... (suara telepon diruang kerja Qei).


Qei pun melepaskan pelukannya dan berjalan kearah meja kerjanya.


("Tuan ada kiriman dokumen untuk anda, apa bisa saya antarkan sekarang?" Tanya seseorang dari ruang resepsionis).


"Hmmm, nanti saja, aku sedang sibuk" jawab Qei kemudian menutup panggilan itu, dia duduk di belakang meja kerja dan melihat kearah Zeni yang sedari tadi berdiri disampingnya.


"Kemarilah.." ucap Qei sembari menarik tangan Zeni dan membuat Zeni terduduk dipangkuan Qei.


Zeni ingin berdiri namun ditahan oleh Qei.


"Jendral jangan begini, bagaimana jika ada yang lihat" ucap Zeni.


"Biarkan saja" jawab Qei sembari menciumi lengan Zeni yang kenyal dan mulus.


"Coba ceritakan apa saja yang terjadi selama dua hari kau menghilang,," pinta Qei.


("Hmmm sepertinya aku harus mengemas ceritanya supaya jendral tidak terbakar cemburu lagi dan melakukan yang tidak-tidak kepada Kak Paemin").


"Kenapa tidak memeriksa cctv?" Tanya Zeni.


"Cctv ditempat kejadian terputus tidak ada jejak sama sekali dan lagi ponselmu dan kartu identitasmu juga tidak ada" jawab Qei.


"Kartu identitasku dan ponsel masih berada ditempat pria itu,, aku melarikan diri begitu saja saat ada kesempatan" ucap Zeni singkat.


"Tak apa, nanti akan aku belikan ponsel lagi dan mengurus kartu identitasmu yang baru,," ucap Qei.


"Tapi kenapa Jendral tidak mencariku? Aku benar-benar menunggu Jendral menjemputku, tapi tidak kunjung datang, tapi setelah aku bisa sampai sini, Jendral malah mengabaikanku, sedih sekali rasanya.." ucap Zeni dengan sedikit kesal dan murung.


"Aku sudah mengirim orang untuk mencari keberadaanmu, tapi sulit untuk menemukan jejakmu, apalagi ponselmu juga mati, dan untuk masalah mengenai aku mengabaikanmu, itu kesalahanku, sudah kukatakan sebelumnya aku terlalu cemburu, aku sangat mencintaimu, tapi rasa amarahku tidak bisa dibendung,, maukah kau memaafkanku,,? kedepannya aku akan lebih mempercayaimu" ucap Qei sambil mencium telapak tangan Zeni.


Zeni pun menaruh kedua telapak tangannya ke kedua pipi Qei, kemudian menatap Qei dan berkata "baiklah, tapi lain kali jika begini lagi, lebih baik aku keluar dari pekerjaan ini saja, aku kemari hanya karena ingin tetap berada disisimu, tapi jika kau mengabaikanku lagi, lebih baik aku keluar dari sini,,"


"Jangan begitu,," pinta Qei.


"Makanya jangan mengabaikanku lagi!" Ancam Zeni.


"Siap bos.." ucap Qei, sembari memberi hormat kepada Zeni dan membuat Zeni tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


Kriiiiiing,,,kriiiing,,,kriiing,, (telepon di meja kerja Qei berbunyi lagi).


"Ya halo.."..


("Ada Tuan Ehun ingin menjemput Nona Elia,,"..)


"Och, baiklah, suruh tunggu sebentar,," ucap Qei.


Zeni dari samping ikut mendengarkannya,, "hmmm Ehun? Sejak kapan dia jadi pengasuh?" Tanya Zeni bingung.


"Bukan begitu,, dia hanya sedang berlibur, beberapa hari,, dan selama libur dia tinggal dikediaman ibuku" jawab Qei.


"Hmmm,, kalau begitu bolehkah aku menemuinya? Tanya Zeni.


"Boleh saja, tapi jangan menggodanya.." ucap Qei, Zeni hanya tersenyum dan mencium kening Qei, kemudian beranjak dari pangkuan Qei untuk menemui Ehun.


.


.


.


"Oooi,, Ehun,,,!!" Panggil Zeni.


"Zen,,, tak ku sangka kita bertemu disini, kenapa ibuku tak pernah bercerita kalau kau sekarang bekerja disini..." Ucap Ehun dengan penuh semangat.


"Heee,,,heeeee,,,,, lalu mana Tante Liza? Kenapa kau tak mengajaknya kemari?" Tanya Zeni.


"Ibuku dan Nyonya Rose sedang berada dirumah sakit, menunggui kak Tere,,, dan ini, aku mau menjemput Elia untuk membawanya kesana,," jawab Ehun.


"Hmmmm,,, jadi begitu,," ucap Zeni.


"Sedang dipanggil Jendral, sebentar lagi mungkin,, kau duduklah dulu" jawab Zeni sambil menyuruhnya duduk di antara ruang tunggu di depan meja resepsionis.


.


.


.


.


.


Disisi lain, ada seseorang yang sudah berniat jahat ingin mencelakai Elia, tak lain orang itu adalah suruhan Jeno, orang tersebut sudah mengitai Elia sejak keluar dari kediamannya.


.


.


.


"itu dia Elia bersama ayahnya,,," ucap Zeni yang sambil melambaikan tangannya kearah Elia. Elia pun lari-lari kecil menuju Zeni dan Ehun


"Kak, Ehun,, ayo kita berangkat,, tapi sebelum kerumah sakit, kita ke Mall Lotre dulu ya,," ucap Elia dengan manja kepada Ehun.


"Izin ayahmu dulu, kalau diperbolehkan, kita akan mampir kesana,," jawab Ehun.


"Ayaaaaaah,,,boleh ya,,?" Elia menggelayut manja kepada ayahnya.

__ADS_1


"Baiklah,, tapi jangan lama-lama dan jangan membuat kak Ehun kesulitan" pinta ayahnya.


"Yeeeeey.... siap" Elia nampak bahagia.


"Hmm, Jendral bolehkah aku ikut dengan mereka juga? Rasanya rindu sekali dengan tante Rose dan Tante Liza, sudah lama kita tidak bertemu dan berbincang dengan mereka.." tanya Zeni yang juga meminta izin kepada Qei.


"Ya,,ya,,ya,, baiklah pergi sana,," ucap Qei yang sebenarnya sedikit tidak rela.


"Terimakasih Jendral.." ucap Zeni dan mereka bertiga pun segera berlalu menuju mobil.


.


.


Jarak Mall Lotre dan Gedung militer tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan beberapa menit saja, mereka sudah sampai.


.


.


Qei menuju ruang resepsionis, untuk mengambil dokumen.


"Mana dokumen yang kau katakan tadi?" Tanya Qei kepada salah seorang resepsionis.


"Och,,ini Jendral" ucap salah seorang resepsionis sambil menyerahkan sebuah amplop tipis yang sama persis saat waktu itu Zeni menerimanya dari resepsionis juga.


Kriiiiiiing....( Suara telepon dimeja resepsionis).


Qei pun segera meninggalkan ruang resepsionis tersebut agar tak mengganggu pekerjaan mereka.


"Hmmm, kenapa tidak ada data pengirimnya?" Gumam Qei, yang sedang berdiri didepan lift sambil melihat amplop yang ada ditangannya, namun belum sampai Qei naik kedalam lift, seorang resepsionis yang sebelumnya tadi mengejar Qei sambil terengah-engah.


"Jen,,,jendral,,, telah terjadi kecelakaan,," ucap seorang resepsionis.


"Maksudmu?!" tanya Qei sedikit panik.


"Nona Zeni menelpon, saat Nona Elia hendak turun dari mobil, tiba-tiba ada mobil dari arah belakang yang menghampiri Nona Elia dengan kencang, namun Tuan Ehun masih sempat menyelamatkan Nona Elia, Nona Elia terpental kearah taman, tapi Tuan Ehun....." resepsionis itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi.


"lalu kemana mereka sekarang?" tanya Qei.


"ambulans kemungkinan sudah tiba disana" jawab resepsionis.


"Suruh Jisung pergi kelokasi kejadian, dan ini (Qei menyerahkan amplop yang dia pegang tadi) taruh saja dimeja kerjaku, aku akan kerumah sakit" ucap Qei dan segera bergegas menuju mobil.


.


.


.


"Halo Tifany,, segera blokade semua jalan keluar yang ada di kawasan Mall Lotre, dan selanjutnya ikuti perintah Jisung" ucap Qei yang sedang menyetir mobil dengan kecepatan penuh sambil menghubungi Tifany.


("baik Jendral..." ucap Tifany).


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2