
Sore itu seorang perempuan terlihat duduk melamun seorang diri di sebuah kursi tunggu yang ada di salah satu stasiun di Yogyakarta. Ia duduk termenung dengan memeluk tas ransel yang berada dipelukannya.
Perempuan itu tak lain adalah Briona Summer Matahari. Seorang perempuan cantik yang baru saja menginjak usia 19 tahun. Kala itu raut wajah matahari terlihat nampak sendu dengan kedua mata yang sedikit bengkak. Sebab, ia sedang memikirkan keidupannya yang malang. Kehidupan yang begitu rumit dan menyedihkan. Di usiannya yg begitu muda, yang seharusnya masih bersenang senang dengan teman teman dan sahabatnya tapi dia justru harus dilibatkan dalam masalah hidup dan politik bisnis yang membuatnya pusing.
Pasalnya matahari adalah pewaris tunggal dari sebuah perusahaan ternama di Yogyakarta. Bahkan bukan hanya di Yogyakarta, orang tua matahari juga memiliki beberapa anak perusahaan di kota kota besar di indonesia.
Entah apa yang harus dilakukan matahari dengan dirinya kini. Kenyataannya bahwa dia harus dewasa dari usianya. Mungkin istilahnya dia harus jadi wonder women.
Kini matahari sudah memantapkan dirinya untuk meninggalkan Yogyakarta. Bukan untuk lari dari kenyataan tapi untuk mejalani hidup yang lebih nyata lagi. Karena saat ini dia berharap bahwa dirinya hanya bermimpi, mimpi yang paling buruk. Bahkan ibarat seekor burung yang terbang tinggi namun menabrak sebuah pohon besar hingga terjatuh kebawah hingga dimakan binatang buas.
Tapi nyatanya ini adalah kenyataan yang menyakitkan.
Matahari akan pergi ke jakarta. Melanjutkan pendidikan dan mengurus perusahaan peninggalan dari orang tuanya yang sudah turun temurun. Dengan berat hati dia harus meninggalkan kota kelahirannya. Kota dimana dia dibesarkan. Banyak kenangan disini, kenangan bersama keluarganya, kenangan bersama teman sekaligus sahabatnya dan tak lupa kenangan bersama teman masa kecilnya yang entah dimana saat ini dia berada.
__ADS_1
flashback on
*D**ua belas tahun yang lalu*...
Disebuah taman di yogyakarta ada sepasang anak kecil sedang bermain gelembung sabun. Mereka sangat serasi. Mereka berdiri didekat air mancur, anak lelaki itu meniupkan gelembungnya sedangkan si perempuan mengejar gelebung itu, mereka berlarian kecil saling mengejar. Hingga mereka kelelahan dan duduk di bangku dekat air mancur tersebut.
"Matahari apa kamu lelah? " Tanya anak laki laki itu.
"Tidak... aku tidak lelah sama sekali. Bahkan aku sangat bahagia." Jawab matahari dengan senyum polosnya
"Tidak. Bagaimana aku tau kau saja tidak memberitahu ku" Jawab matahari
"Suatu saat nanti aku pasti merindukan tempat ini dan merindukanmu." Kata anak itu.
__ADS_1
"Benarkah? Kenapa bisa seperti itu? Kita kan bisa bermain seperti ini terus diakhir pekan dan liburan sekolah. seperti hari hari biasanya. Bukankah kita selalu melakukannya? " Timbal matahari dengan kepolosannya yang menggemaskan
"Ini akan jadi hari terakhir kita bertemu matahari. Besok ayah akan pindah keluar kota karena pekerjaan bisnis dan kita harus menetap disana. sebenarnya aku ingin sekali megajakmu ikut dengan ku." Jawab anak itu
"Kenapa begitu? Kenapa kau tak disini saja bersamaku. Katamu kau akan selalu menemaniku bermain gelembung dipantai. Melihat aku terbit dan tenggelam. Bahkan kau setiap hari mengatakan itu kepadaku." Kata matahari
"Mana bisa begitu? Harusnya kau yang ikut denganku. aku kan laki laki dan kau perempuan. " Timbal anak itu
"Lalu apa hubungannya?" Tanya matahari yang masih tidak mengerti
"Seperti ayah dan bunda. bunda selalu mengikuti kemana pun ayah ku pergi. Begitu pula dengan aku. Kau harus ikut denganku, karena aku laki laki. aku akan menikahimu seperti ayah menikahi bunda jadi kau akan ikut kemana pun aku pergi. Bagaimana? " Tanya anak itu yang dewasa sebelum waktunya.
"Mana boleh begitu? Kita kan masih kecil. Emang boleh menikah? Tapi menikah itu rumit. Kadang saja papa sama mama berantem mereka juga sudah menikahkan? Aku tidak mau seperti itu. Berantem itu melelahkan dan menyebalkan. Butuh tenaga dan teriak teriak. kau kan tau aku tidak suka marah marah apalagi berteriak itu membuat mulutku sedikit bengkak kedepan hhehe " Jawab matahari dengan kepolosannya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak pernah melihat ayah dan bunda bertengkar apalagi berteriak. Aku selalu melihat mereka berpelukan dan berciuman. Ayah selalu mencium kening bunda sebelum dan sesudah bekerja. Seperti ini.... Emuuuach, serukan. " Timbal anak itu.
"Benarkah? "