Matahari

Matahari
Dia kembali part2


__ADS_3

Ceklek


Suara pintu kamar mandi terbuka. Semua mata tertuju pada pintu itu.


"Bi kenalkan ini temanku tadi waktu di depan!!" Jelas bumi memperkenalkan dan mengalihkan pembicaraan.


"Bundaa......" Ucap matahari terkejut melihat wanita paruh baya yang baru saja keluar dari balik pintu kamar mandi itu.


"Matahari!!" Sahut bunda yang tak kalah mengejutkan baginya.


Matahari pun beranjak dari duduknya dan berhambur kepelukan wanita yang di rindukannya beberapa tahun ini. Memeluknya dengan erat seakan tak ingin kehilangannya kembali. Wanita itu pun membalas pelukan matahari. Mengusap punggung matahari dengan lembut saat terdengar suara tangisan matahari.


"Bunda kenapa ga pernah kasih kabar ke ata? Ata sendirian bunda! Ata ga ada temannya!" Ucap matahari ditengah isak tangisnya.


"Maaf nak." Hanya kata itu yang mampu di ucapkan wanita paruh baya itu.


"Bunda jangan bilang kalau yang tertidur itu bang langit?" Tanya matahari pada wanita paruh baya yang dipanggilnya bunda itu, setelah mengurai pelukannya. Tapi wanita itu hanya diam tak berkata apapun.


"Bumi apa dia sahabatku yang sempat ku ceritakan padamu? Jawab bumi! Kenapa hanya diam!!" Tanya matahari mengguncangkan lengan bumi. Teman yang di kenalnya beberapa bulan ini. Tapi hal yang sama dengannya. Hanya diam dan membisu.


"Kenapa kau hanya diam saja? Tak bisakah kau menjawabnya. Tolong bicaralah! Kenapa kau membohongi ku bumi? Kenapa? Kau sungguh tega bumi! Kau jahat!" Ucap matahari dengan memukul dada bidang bumi. Matahari pun beralih kehadapan mina. Seorang gadis yang dikenalnya beberapa menit yang lalu.


"Maaf. Mungkin aku baru mengenal mu beberapa menit yang lalu. Tapi tak bisakah kau menjawab pertanyaanku? Benarkah dia bang langit. Langit Riyazd Yusuf?" Tanya matahari kembali pada mina.


"Kenapa diam? Kenapa tadi kau berbicara seolah-olah sedang memberitahu ku? Seolah-olah kau sedang menghakimi ku! Seolah-olah hanya aku yang tersakiti disini! Kenapa kalian semua hanya diam saja? Kenapa?" Tanya matahari ditengah tangisannya.


"Ya. Dia langit. Langit Riyazd Yusuf. Sahabatmu. Orang yang mungkin sedang kau tunggu." Kata itu lolos dari mulut mungil mina.


Kata yang singkat tapi sempurna membuat matahari terduduk lemah di atas lantai yang dingin. Ada perasaan senang karena orang yang ditunggu telah kembali. Dia telah kembali bersamanya. Tapi kenyataan juga membuat perasaannya bersedih dan hancur. Harapan dan penantiannya selama ini seakan tiada gunanya. Impiannya seakan musnah tak tersisa. Hanya air mata yang mengungkapkan segala isi hatinya.


Dia pun berdiri dari tempatnya. Walaupun kakinya lemah untuk melangkah dan tubuhnya bergetar hebat. Namun sebisa mungkin dia mendekat ke arah brankar itu. Di lihatlah seseorang yang tertidur pulas diatas brankar itu. Seakan dia tak punya masalah berat didunia ini. Senyum indah menghiasi wajah tampannya. Damai dan tenang. Seakan menggambarkan keadaannya saat ini. Tangan mungil matahari menyentuh lembut keningnya, beralih ke pipinya dan berakhir pada bibir tipis yang pucat itu. Didekatkan wajahnya ke hadapan wajah pucat itu.


Cup.... Dikecup lembut keningnya,


Cup cup.... Dikecupnya kembali kedua matanya,

__ADS_1


Cup cup.... Kemudian kedua pipinya


Cuuuuppp....... Dan beralih ke bibir pucat itu.


"First kiss." Ucap matahari setelah melepaskan kecupannya.


Oh God, ini sungguh sakit. Tapi kuharap ini yang terbaik! Batin bumi saat melihat matahari mencium langit.


Perlahan kedua mata yang terpejam itu terbuka. Menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu. Ruangan VVIP dengan satu brankar pasien, satu tempat tidur mini dengan lemari sudut, satu toilet, satu sofa persegi, lalu ada meja beserta kursinya, credensa dan partisi. Tak lupa sebuah kulkas mini dan TV melengkapi ruangan itu juga.


Pandangannya tertuju pada wanita paruh baya itu, lalu ke bumi, pindah ke mina dan yang terakhir pandangannya tertuju pada seorang gadis disampingnya. Sorot matanya menandakan sebuah kerinduan yang amat dalam. Semua orang yang berada di dalam ruangan keluar satu persatu. Menyisakan dua insan manusia yang sedang merindu. Tak ada pembicaraan diantara mereka, hanya saling menatap satu sama lain. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang. Kerinduan yang terpendam bertahun-tahun akhirnya terobati.


"Maaf." Ucap seseorang yang terbaring lemah diatas brankar itu yang tak lain adalah laki-laki bernama langit.


"Kenapa harus kata maaf?" Ucap matahari dengan tatapan sendu. Jemarinya masih tergenggam kuat saling bertautan. Matanya seakan tak ingin berkedip dari pandangan di depannya. Tak ingin kehilangan moment untuk terus bisa melihatnya.


"Aku bahagia bisa melihat mu kembali." Kata langit seraya telapak tangan kekarnya yang dingin menyentuh lembut pipi matahari. Senyum manisnya tak pernah pudar dari wajah pucatnya.


"Aku lebih bahagia akan hal itu." Sahut matahari menggenggam tangan langit yang tertempel pada pipinya.


"Aku lebih lebih sangat bahagia. Kenapa harus ada kata maaf lagi?" Tanya matahari.


"Maaf. Maafkan aku. Sungguh aku tak ingin semua ini terjadi. Maafkan aku. Maaf!!" Pinta langit.


"Tak ada yang perlu dimaafkan. Kita bisa memulai semuanya dari awal." Kata matahari.


"Tidak. Tidak ata, semua itu tidak mungkin terjadi. Aku harus pergi, waktuku tidak akan lama lagi. Maafkan aku. Maafkan aku. Sungguh ini bukan keinginan ku." Pinta langit dengan air mata yang lolos begitu saja dari ujung matanya.


"Tidak. Kita akan bersama seperti dulu lagi. Tak akan ada yang bisa memisahkan kita. Kita bisa memulai semuanya kembali." Kata matahari.


"Maafkan aku." Ucap langit kembali.


"Berhentilah meminta maaf. Semua akan baik-baik saja. Percayalah." Ucap matahari menenangkan.


"Tapi........ "

__ADS_1


"Ssssttttt..... Diamlah semua akan baik-baik saja." Potong matahari.


"Istirahatlah, aku akan keluar sebentar." Ucap matahari kembali dan beranjak dari tempatnya untuk keluar ruangan menemui bumi. Karena ada hal yang harus dia pastikan.


Ceklek


Pintu ruangan itu terbuka. Dan dilihatlah mereka bertiga duduk di kursi tunggu. Matahari pun segera mendekat ke arah bumi.


"Bisa bicara?" Tanya matahari saat sudah didepan bumi.


"Ya. Silahkan." Jawab bumi seraya menunjuk kursi disebelahnya.


"Kita bicara di kantin saja. Sepertinya kita belum makan dari tadi pagi." Ucap matahari. Walaupun hatinya sedikit terluka karena telah di bohongi tapi tidak membuatnya harus membenci bumi.


"Baiklah." Singkat bumi dan berjalan mendahului matahari.


"Bunda titip abang sebentar ya, ada yang harus aku selesaikan dengan bumi." Pinta matahari pada ibunda langit.


"Ya nak." Singkat ibunda langit.


"Nak,, percayalah ini semua bukan salahnya. Jangan menyalahkannya nak." Pinta ibunda langit.


"Iya bunda." Jawab matahari dan beranjak menyusul bumi yang sudah berjalan menjauh darinya..


.


.


.


.


#jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment mu, dan langkahkan vote dalam ceritaku....


thanks 💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2