
"hey...kamu.....!!!" sapa kakak pembina.
Matahari pun menoleh ke arahnya dan bertanya.
"saya?" Tanya matahari.
"iya. Siapa lagi!" kata kakak pembina ketus.
"kemarilah " sambungnya dengan sedikit berteriak.
"hey ata kenapa tidak membawa name tag?" Tanya bulan berbisik kepada matahari.
"lupa." Jawab matahari santai sambil berjalan kedepan menuju sang kakak pembina.
Dasar itu anak. Sudah tau ini hari pertama ospek kenapa malah membuat masalah sih. membuat kesan buruk saja. sejak kapan murid sedisiplin dia menjadi hilang ingatan. bodoh sekali! human bulan dalam hati.
"apa kamu melupakn sesuatu?" Tanya kakak pembina dengan tatapan mengintimidasi setelah matahari sudah sampai didepan.
"name tag." jawab matahari tegas.
"Bagus jika kamu menyadarinya. Lihatlah! Dari ujung sampai ke ujung hanya kamu satu satunya mahasiswa yang melalaikan tugasmu!" ujar kakak pembina tegas dengan sedikit membentak.
"maaf kak." ujar matahari lirih dengan menundukkan pandangannya. Bukan Karena takut, tapi lebih tepatnya menghargai.
"maaf kamu bilang? hah!!! kamu tau bahwa ini adalah uiversitas terbaik dan terfavorite di Indonesia?" Tanya kakak pembina dengan membentak.
tanpa disadari ada sepasang mata yang mengawasi adu mulut mereka.
"tau kak." jawab matahari masih denan posisi yang sama.
"kamu tau ribuan pelajar berlomba lomba agar bisa masuk dan mengenyam pendidikan di universitas ini? Dan sekarang kamu adalah Satu dari sekian ribuan yang beruntung itu tapi dengan entengnya kamu yang sudah berdiri disini malah melalaikan tugasmu. Disini tidak hanya membutuhkan mahasiswa yang pandai tapi juga Disiplin dan taat terhadap aturan. Kamu mengerti? " ujar kakak pembina itu panjang lebar.
"mengerti kak." jawab matahari yakin.
"Sebagai hukuman kamu harus membersihkan toilet digedung kelas management." titah kakak pembina.
Sepasang mata tadi masih mengamati mereka. Dia kaget mendengar hukuman yang diberikan temannya terhadap mahasiswa baru itu.
"apa?" Tanya matahari sedikit berteriak, mengangkat wajahnya yang tetunduk lalu menatap ke arah kakak pembina dengan tatapan mengintimidasi.
"apa kamu tuli? Sebagai hukuman kamu harus membersihkan toilet digedung kelas management." titah sang kakak pembina kembali dengan nada tinggi. Membuat para mahasiswa yang mendengarnya menoleh ke arah mereka.
"saya mendengarnya dengan jelas, anda tidak perlu mengatai saya tuli. Apa dikampus sebesar dan semewah ini tidak ada seorang cleaning service? sehingga saya harus membersihkan ruangan toilet" Tanya matahari sedikit membentak.
"hey beraninya kau bicara dengan nada tinggi terhadap kakak pembinamu." Ujar kakak pembina ketus dengan penuh amarah.
"anda? kakak pembina? bahkan anda tidak pantas menyandang gelar itu." ujar matahari ketus.
"saya disini untuk mencari ilmu bukan mencari masalah apalagi mencari pekerjaan sebagai cleaning service. Apakah seperti ini cara anda menghukum anak ospek. Saya disini tamu yang akan menyandang jadi tuan rumah, bukan pembantu yang bisa anda perbudak semau anda." Sambung matahari.
__ADS_1
"beraninya kau! Mau kutambah hukumanmu. hah!?" bentak kakak pembina dengan melayangkan tangannya hendak menampar pipi mulus matahari.
Dengan sigap sepasang mata tadi sedikit berlari menuju kearah mereka lalu ditangkaplah tangan yang hampir saja melayang ke pipi mahasiswa tadi.
"apa yang kau lakukan Helen." Tanya sepasang mata tadi yang tak lain adalah seorang laki laki.
"Lihatlah kak. Anak ini sudah tidak disiplin. Aku memberinya nasehat tapi Malah Dia berkali kali membentaku." adu kakak pembina tadi yang tak lain bernama Helen.
"Tapi tak sepantasnya kau berbuat kasar seperti ini. Ini akan menjadi citra buruk terhadap sekolah dan dirimu sendiri." tegas laki-laki tadi.
"maaf kak, aku hanya ingin memberi efek jera terhadapnya itu saja." ujar Helen membela diri.
memberi efek jera? yang benar saja, padahal aku baru sekali melanggar tugasku. Dasar rubah licik. pintar sekali bersandiwara.
"hey.. siapa namamu?" Tanya laki-laki tadi setelah menatap matahari.
Sesaat pandangan mereka bertemu. Keduanya saling tertegun dengan posisi mereka masing masing tanpa memindahkan pandangan mata mereka.
bukankah laki-laki ini yang berada di perpustakan waktu itu. lihatlah matanya! Mengingatkanku dengan mata kak langit. gumam matahari dalam hati.
aku seperti pernah melihatnya tapi dimana ya? ah mungkin aku hanya salah Lihat Saja. batin laki-laki tadi.
"hey kau? Ditanya kenapa malah diam saja." teriak Helen membuyarkan lamunan mereka berdua.
matahari pun tersadar dari lamunannya, lalu menundukkan wajahnya kembali.
"nama saya Briona Summer Matahari kak. panggil saja Matahari." jawab matahari.
Matahari mendongakkan wajahnya menatap lekat manik laki-laki itu dengan tatapan penuh tanda tanya dan tidak percaya.
hah! dasar mereka berdua sama saja. Lihatlah rubah itu. tersenyum licik Karena kau membelanya. Laki-laki macam dia ini!!
"aku tidak akan menyuruhmu membersihkan toilet." ujarnya. Bibir matahari pun mengembang dengan sempurna, dan seutas senyum terpancar dari wajahnya.
"temui aku diperpustakaan saat Jam makan siang. Ingat aku tidak menyukai seseorang yang tidak disiplin, jadi datanglah tepat waktu." Katanya kembali.
"baik kak. terima kasih." jawab matahari.
"OK, sekarang kembalilah ketempatmu." ujar laki-laki itu kembali.
"baik kak." kata matahari dan berjalan kearah kebelakang menuju tempatnya berdiri tadi.
Setelah kepergian matahari, si Helen pun melontarkan pertanyaan yang dari tadi mengganjal di benaknya.
"kak hukuman apa akan kakak berikan? Kenapa harus diperpustakaan kak? Kenapa tidak Sekarang saja kakak memberikan hukuman untuknya?" Tanya Helen.
"Diamlah Helen. Jangan mencampuri urusanku. Biarkan dia menjadi tanggung jawabku. Ingat?! jangan melakukan kekerasan apapun itu alasanmu. Mengerti." ujar laki-laki itu memberi peringatan.
"baiklah kak." jawab Helen.
__ADS_1
Sekarang matahari sudah berdiri disamping saudaranya. Bulan pun langsung melontarkan ribuan kata kata pertanyaan terhadap matahari.
"hey apa yang dikatakan wanita itu? Apa dia bersikap kasar? apa dia memberi hukuman? apa dia tidak bersikap baik? Apa.......?" Tanya bulan tapi segera di tepis matahari dengan suaranya.
"diamlah, gadis cerewet!" kata matahari.
"galak sekali." gumam bulan lirih namun masih terdengar.
"diamlah bulan. Atau kau mau dihukum juga?" Tanya matahari mengancam bulan.
Bulan pun membekap mulutnya dengan kedua telapak tangnnya. Merutuki dirinya sendiri.
*********
detik demi detik berlalu, menit demi menit membentuk waktu. Hingga tiba saatnya acara akan tertunda dengan terbenturnya jadwal makan siang. Matahari pun mengingat hukumannya untuk bertemu dengan kakak pembina laki-laki tadi untuk mengambil hukumannya.
Matahari yang sudah menghafal letak gedung perpustakaan itu pun melangkahkan kakinya ke arah menuju gedung perpustakaan sekolahan. Sedangkan bulan menuju kantin untuk memesan makanan terlebih dahulu.
Matahari sudah sampai di perpustakaan. Dia mulai meliarkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya. Pandangan matanya berhenti pada bangku pojok yang pernah mereka tempati beberapa hari yang lalu. Dan laki-laki itu pun berada disana. Matahari pun berjalan mendekati laki-laki itu yang sedang sibuk menatap laptopnya. Tanpa disadari matahari pun Sudah berada di sampingnya.
"kak." panggil matahari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.hay readers yang budiman.
jangan lupa setelah membaca biasakan memberi rate, like n comment.
dan jangan Lupa kalo GA keberatan berikan sedikit poinnya untuk ngevote ya..
__ADS_1
thanks 😘😘😘😘