
~Cinta boleh membutakanmu, tapi jangan sampai membodohimu. Biarkan cinta yang memilih hati yang akan menjadikannya penikmat. Bukan hanya perasa yang hanya mencicipinya dengan sesaat 💕💕
Dikantin Permata Depok Hospital
Sinar matahari yang begitu bersemangat menyinari bumi, seakan panasnya begitu membara memaksa menelusup ke celah-celah kehidupan orang lain. Begitupun dengan suasana kedua orang yang sedang duduk di bangku kantin rumah sakit ini. Seolah takdir mempermainkan nama mereka dalam ikatan perjodohan yang konyol. Bumi dan Matahari. Memang sangat cocok nama mereka, seakan hidup dalam lingkaran tata Surya.
Begitu pun dengan perasaan hati dan pikiran otak mereka. Suasana yang begitu hening tanpa sepatah kata pun yang melayang dari mulut keduanya. Yang hanya berandai-andai dan saling menerka satu sama lain tanpa mengungkapkannya.
Suara dentuman sendok dan garpu yang saling bertengkar diatas piring, seakan menjadi saksi keadaan mencekam saat ini. Bahkan sampai makanan yang mengisi piring itu habis tak tersisa oleh sendok dan garpu yang saling mengambil alih untuk Memindahkanny ke dalam mulut sang penikmatnya.
Haruskah mereka saling diam? Haruskah mereka saling berandai-andai dengan perkiraan pemikiran mereka masing-masing? Siapa yang sebenarnya harus dibenarkan? Dan siapa yang harus bertanggung jawab dalam kesalahan pahaman ini? Haruskah bumi yang mengawali perbincangan ini dengan kata maaf? Atau Matahari yang harus memulai bertanya tentang semua kebohongan ini? Entahlah. Keduanya hanya saling memandang dan tetap membisu.
"Maaf." Ucap bumi mengawali suasana yang mencengkam ini setelah menegak habis minumannya.
"Untuk?" Tanya Matahari yang sebenarnya sudah tau pokok permasalahannya.
"Semuanya. Untuk hari ini dan hari-hari yang lalu. Bahkan mungkin untuk hari-hari kedepannya!" Kata bumi tak berani memandang Matahari.
"Tapi kenapa?" Tanya Matahari yang seakan belum puas dengan pernyataan maaf oleh bumi.
__ADS_1
"Kenapa harus ada kata KENAPA?" Ucap bumi dengan penekanan di akhir katanya. Matahari hanya diam tak bersuara, seakan lidahnya kelu tak tau harus berkata apa.
"Kenapa?" Ulang bumi. Dan Matahari pun tetap diam.
"Mungkin aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukanmu dengannya. Mungkin aku terlihat egois jika aku berkata jujur! Bahwa alasan awalnya aku tak ingin orang lain memilikimu. Mungkin dimatamu aku terlihat jahat. Menyembunyikan kenyataan yang seharusnya kau inginkan sedari dulu. Walaupun ini menyakitkan untuk ku, hingga alasan akhirnya aku tak bisa menahan mu untuk terus berada disampingku. Dia telah kembali dan harusnya
kau juga kembali padanya. Harusnya aku senang bisa menemukan sahabat kecil saudaraku dengan cepat sebelum kepergiannya. Walau kenyataan ini membuatku menjadi sangat egois dengan tetap membohongi semua orang, bahkan membohongi diriku sendiri. Kuharap kau tak mengecewakannya. Walau hanya sesaat, tapi dia berhak bahagia. Dengan orang yang begitu dinantikannya, dengan orang yang dicintainya dan sebaliknya pun juga begitu. Seseorang yang selalu kau nantikan dan kau rindukan. Seseorang yang selalu kau puja disetiap cerita yang mengalir indah dari bibir mungilmu. Seseorang yang selalu kau cintai dan selalu mengisi ruang hatimu." Kata bumi menatap lembut ke manik Matahari.
Oh God, apa ini sudah benar? Ini tak sesuai ekspetasi ku. Sungguh sangat menyakitkan! Oh God, jangan biarkan aku menjadi pria lemah dihadapannya dengan tangisan air mata ini. Sungguh, itu akan sangat memalukan! Batin bumi.
"Aku memang menginginkannya dan begitu merindukannya. Tapi tak dipungkiri kau juga pernah mengisi hari-hari sepiku yang membosankan. Aku pernah mencoba belajar untuk melupakannya dan memulai yang baru bersama orang lain. Tapi seolah takdir mempermainkanku. Aku tak bisa begitu saja melupakan dan meninggalkanmu." Kata Matahari.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Disatu sisi aku bahagia dengan kembalinya dia dihadapanku. Disisi lain aku tak ingin menjadi jahat dengan mengabaikannya!Aku akui dia pernah menggoyahkan hati ku untuk ingin berada didekatnya. Entah apa sebenarnya mau hatiku! Ini benar-benar membuat ku merasa wanita paling serakah diduni ini. Aku tak ingin kehilangan dia kembali. Tapi aku juga tak ingin melepaskannya!Oh ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?? Batin Matahari.
Cinta memang tak menuntut kita untuk harus memiliki. Tapi aku juga tidak bisa membuat hati ini mencintai dalam diam untuk selamanya. Walaupun tak memilikimu, setidaknya hati ini pernah berkata jujur dan pernah berada dekat dengan penikmatnya.
Walau hanya sesaat tapi itu sangat berarti dalam ingatan hati dan pikiranku. Walau tak dapat menyatu dalam sebuah ikatan cinta seperti sepasang kekasih, setidaknya hati ini begitu hidup dan nyata. Kau dengannya berada dalam satu keyakinan yang sama. Itu akan membuatmu lebih mudah bersatu dengannya. Tidak seperti ku. Mungkin aku terlihat bodoh dihadapanmu.
Berulang kali menyatakan cinta, tapi berulang kali pula kau menolak ku dengan alasan yang sama. Sebuah keyakinan. Seharusnya begitu mudah untuk menghapus keyakinan dalam hidupku. Tapi begitu sulit untuk meyakinkan hati ku.
__ADS_1
Cinta memang membuat ku gila, tapi aku tak ingin menjadi sangat bodoh untuk melepaskan keyakinanku. Aku tak bisa menukarnya dengan cinta yang belum tentu memilih hati ku. Karena kenyataannya cinta dan hatinya milik orang lain.
Dia berhak bahagia. Kembalilah padanya dan jangan hiraukan aku. Jangan pikirkan aku dan perasaan ini. Hati ini akan tetap sama, walau harus menunggu lama. Sekali lagi maafkan aku!" Ucap bumi mengungkapkan semua isi hatinya.
Mengungkapkan dengan kata-kata memang begitu mudah! Tapi asal kau tau, begitu sulit untuk ku menerima kenyataan pahit ini! Oh God, tolong kuatkan hati ku!! Batin bumi.
"Aku yang seharusnya meminta maaf. Tak seharusnya aku membuatmu menunggu sendirian dengan akhir yang tak kau inginkan. Aku yang seharusnya meminta maaf. Karena aku begitu jahat mengabaikan semua perhatianmu selama ini. Aku begitu bodoh dengan berlarut dari ikatan masa laluku. Padahal disini ada orang yang begitu tulus mencintaiku. Aku begitu dibutakan akan kenangan masa lalu yang belum selesai aku rangkai bersamanya. Sungguh, tak ada niatku untuk menjadikan mu sebagai pelampiasan sesaat. Kalau aku boleh jujur, aku sudah mulai menyukai mu. Walaupun belum ada kata cinta diantara kita. Setidaknya kau membuatku merasa nyaman saat didekatmu. Maafkan aku telah menyakitimu!" Ucap Matahari pada bumi yang hanya menatap kosong ke sembarang arah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
#jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment mu, dan langkahkan vote dalam ceritaku....
thanks 💕💕💕💕