Matahari

Matahari
Aku bukan Tuhan


__ADS_3

Mereka duduk dibawah pohon yang sangat besar dan kokoh. Bunganya yang berjatuhan masih begitu wangi untuk sekedar mengesap aromanya.


Menikmati setiap kebersamaan yang terjalin dari tiap detikan waktu yang berlalu. Seakan tak ingin sirna begitu cepat dan beranjak. Bagi Matahari menikmati indahnya pemandangan dunia sudah menjadi hal biasa baginya


berbeda dengan Langit yang sedari dulu hanya fokus bekerja dan akhir-akhir ini disibukkan dengan bolak-balik ke luar negeri hanya untuk mengobati penyakitnya yang berharap bisa pulih dan sembuh dari penyakit mengerikan itu.


"Bintang selalu hadir bersama bulan di malam hari membawa penikmatnya menuju sebuah mimpi hingga gelap menyapa gemerlapnya malam dan berganti pada sang mentari. Bagaikan malam yang sunyi, bak lembaran baru yang masih kosong. Padahal tidak begitu." Ucap Langit mengadahkan wajahnya menatap Langit yang sama dengannya.


"Benarkah? Tapi terkadang bintang menghilang begitu saja. Bagaikan lembaran kosong itu. Tak bersisa satupun. Yang ada hanya gelap hingga sang mentari kembali bersinar." Kata Matahari.


"Kau salah ta! Bintang yang menemanimu disetiap malam mu tetap disana, hanya saja bumi sedang berputar pada porosnya atau mungkin awan yang sedang menutupnya.


Mimpimu takkan pernah pergi kemana pun. Dia masih bisa kau gapai dengan usaha dan doa. Kamu harus tau! Ada langit disana yang bertaburan bintang yang tak tentu jumlahnya.


Dan suatu saat aku juga akan berada diantara bintang-bintang itu menyaksikanmu terseyum bahagia." Ucap Langit. Menunjuk salah satu bintang yang bersinar begitu terang diantara ribuan bintang yang lainnya.


"Dia sungguh cantik sepertimu. Seperti malam yang penuh bintang tak berawan. Bagaimana mungkin ada gadis sepertimu? Bisa bersinar terang walau dunia sedang redup!


Kamu juga sangt baik bagaikan bintang yang menyinari malam sunyi. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu seorang diri! Sedangkan hatiku semakin berdebar kencang saat berada didekatmu.


Lihatlah sorot sinar matamu! Bagimana aku mampu membantah rasa cinta yang kian hari kian membesar ini.


Tuhan ku mohon izinkan aku untuk sembuh dan hidup beberapa tahun kedepan agar aku dapat menikmati senyum indah hambamu yang berada disampingku ini. Membahagiakannya untuk hari-hari kedepannya hingga bertahun-tahun lamanya dan kami menua dengan surai yang mulai memutih terkikis oleh detak jantung waktu yang terus beranjak maju."


"Aku tau ada langit disana. Tapi aku juga berharap langit juga akan tetap ada disini bersamaku." Ucap Matahari.


Mengadah Langit yang sama. Gelap namun masih terlihat titik -titik terang akan sinar bintang yang menyinarinya dengan sangat indah. Bak Lampion yang di hamburkan ke udara berlarian terbang seperti burung Merpati.


Kepalanya bersender tepat di bahu kokoh Langit, tangannya mengalung manja pada lengan sang Langit yang menjadi tempatnya bersinar dan meredup. Bak sunrise dan sunset yang tak bisa lepas akan birunya langit dan putihnya awan yang kadang berkabut.


"Baru beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya Tuhan. Ku lihat matanya bersinar bagaikan bintang malam di ujung Timur.

__ADS_1


Dan sekarang aku melihat bahwa elok sinarnya membuatku takut


terhadap malam yang sunyi.


Aku begitu takut jika menemukannya dalam sinar bintang yang bersinar sangat terang


diantara jutaan bintang di langit itu. Dan hanya berdiam memandangku yang juga memandangnya


namun dari tempat yang berbeda.


Kenapa aku begitu sepengecut ini Tuhan! Sekian lama merenung dalam kesepian ketika bahagia pun kesepian kian menyapa kembali. Seakan-akan hambamu ini memang tak pantas mendapatkan bahagia! Kenapa harus aku Tuhan? Kenapa?


Apa aku memiliki kesalahan yang besar terhadapMu sehingga sejuta bahagia pun langsung lenyap dengan setitik asa yang membelengguku.


Apakah duniaku sekejam ini?


Aku memang hanya ciptaanMu, tapi tak bisakah aku meminta hanya untuk sekedar memupuk asaku agar pergi menjauh. Membiarkan rasa sakit ini tenggelam dengan sendirinya.


"Ata??" Seru Langit dengan memindahkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Langit.


"Hembbt.." Kini posisi keduanya sudah berhadapan saling memandang satu sama lain. Menikmati setiap inci ciptaan Tuhan yang tiada duanya di dunia ini. Begitu sempurna di mata mereka masing-masing.


Disentuhnya lembut pipi Matahari dengan tangan kosongnya dan tangan yang satunya bertumpuan pada hijaunya rerumputan yang mereka pijaki saat ini untuk menyangga tubuhnya agar tetap seimbang. Dikecupnya lembut kening Matahari begitu lama dan sangat dalam. Seperti penuh sayang atau takut akan kehilangan.


Diusapnya lembut bibir ranum Matahari itu dengan ibu jarinya. Bibir tipis nan mungil


yang terpoles indah dengan lipstik berwarna senada dengan baju yang dikenakannya itu seakan memancarkan gairah untuk mencumbunya.


Tapi itu semua hanyalah angan didalam pikirannya.


Agamanyaa membatasi setiap tindakan yang akan dilakukannya. Walaupun lama tinggal di negeri barat tak membuatnya mengikuti pergaulan bebas disana. Dia masih bisa berfikir jernih dengan semua perbuatan dan tindakan yang dilakukannya. Semua pasti ada perhitungan dan balasannya di akhirat kelak.

__ADS_1


"Berjanjilah untuk terus bahagia. Entah bersama ku ataupun tidak." Pinta Langit. Memandang lekat manik hitam Matahari.


Matahari diam. Bibirnya seakan keluh tak bersuara. Mau mengangguk pun tak ingin karena hatinya tak berkata sedemikian rupa. Ingin sekali menggeleng namun tubuhnya pun seolah kaku tak mampu untuk sekedar bergerak. Hanya kedipan mata dan diam yang mampu merespon setiap kata yang sudah terucap.


"Diammu ku anggap mengiyakannya." Sahut Langit tersenyum kearah Matahari.


"Apa abang mau ninggalin Ata lagi?" Tanya Matahari setelah berfikir lama mencoba mencerna setiap perkataan singkat itu. Walaupun bibirnya bergetar menahan rasa pilu yang menghatam hatinya secara tiba-tiba. Sudut matanya pun sudah berair dan hanya dalam satu kedipan pasti sudah roboh dengan tetesan air yang mengalir dengan sempurna membasahi pipinya.


Tuhan kenapa sesakit ini rasanya! Batin Matahari.


"Aku bukan Tuhan yang nampu menentukan takdir. Aku hanyalah hambanya yang menerima takdirnya. Aku tidak tau kapan waktu itu datang. Aku tidak mampu melawannya. Ku harap kapan pun waktu itu kau sudah siap untuk merelakanku." Ucap Langit.


Benar! setumpuk air yg berlinang diujung matanya itupun terjatuh dengan sempurna hanya dengan satu kedipan mata saja. Sakit! Itu sudah jelas. Bagaimana mungkin ini adalah hal menyakitkan untuknya bertahun-tahun terpisah lalu dipertemukan dalam lingkungan rumah sakit dan sekarang fakta yang lebih menyakitkan adalah penyakit yamg bersarangnpada tubuhnya yang sudah tak mampu dia lawan. Hanya tinggal menunggu takdir untuk menjemputnya.


"Kenapa kau menangis, Ata?"


Ucap Langit menyeka cairan bening di pipi sahabat kecilnya itu.


"Berjanjilah untuk hidup selama aku hidup, bang.. Abang harus menjaga kesehatan dan rutin medical check Up? Abang harus sembuh. Ku mohon!" Pinta Matahari.


"Atha.. Maafkan aku untuk kesekian kalinya!" Ucap Langit memohon dan menggelengkan kepalanya pelan menandakan dia tak ingin berharap lebih.


"Maafkan aku!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2