
"maaf kak, aku hanya tidak terbiasa. Aku hanya takut suatu saat nanti aku akan melukai perasaan kakak. Ketika kakak mulai terbiasa denganku tapi mungkin perasaanku masih memilikinya." batin matahari.
.
.
.
BUMI POV
Mungkin bagimu aku asing, tapi tidak bagiku. Kita sudah sering bertemu berkali-kali secara kebetulan atau memang Tuhan sudah menyeting semua kejadian itu, tapi kamu tidak menyadarinya.
Tiga tahun yang lalu ketika aku study tour ke Jogjakarta kita pernah bertemu di rumah oleh-oleh bu Eva, aku menabrakmu dan barang-barang belanjaanmu berjatuhan.
"hey apa kau buta? hah!!" teriakku kepadanya saat itu, bahkan banyak pasang mata yang menatap ke arahku dengan sinis.
Seharusnya aku yang salah tapi aku malah memakimu, tapi kau hanya diam saja mengambil satu persatu barang-barangmu yang berjatuhan. Ku kira waktu itu kau bisu sehingga tidak membalas makianku.
Waktu pun berlalu dan aku tidak menghiraukan kejadian itu. Aku berfikir itu hanya kejadian biasa yang mungkin saja memang kebetulan. Study ku pun berakhir tapi aku tidak bertemu denganmu kembali.
Hingga suatu Hari aku kembali ke Jogjakarta mengunjungi bibi ku yang baru pulang dari German, Karena hari itu akhir pekan sekalian jalan-jalan fikirku. Mungkin tepatnya dua bulan setelah study tour ku. Ternyata bibiku pulang ke Jogjakarta untuk menghadiri pelayatan kematian sahabat suaminya. Sampai disana pun aku diajak bibi untuk menemaninya menghadiri peristirahatan terakhir sahabatnya.
Betapa terkejutnya aku setelah sampai dipemakaman melihat seorang gadis terduduk simpuh ditengah-tengah gundukan tanah yang masih basah. Dua batu nisan yang berdiri sejajar seperti sepasang nama dengan gelar Rahman Kim dibelakangnya. Aku masih mengenal jelas wajah itu, teduh dan polos.
"tetap cantik, walaupun tanpa riasan make up diwajahnya." Kata itu yang keluar dari mulutku.
Aku melihat senyum itu, begitu nyaman dilihat, begitu teduh untuk terus dipandang. Gadis itu duduk diantara ribuan pelayat yang memberikan sapaan bela sungkawa, gadis itu terlihat sangat tegar. Senyumnya tak pernah lepas dari sudut bibirnya, menandakan bahwa dirinya begitu ikhlas merelakan kepergian mereka.
Pelayat pun pergi satu persatu, hingga menyisakan beberapa keluarga saja. Mereka terlihat sedang membujuk gadis itu tapi gadis itu tak bergeming dari duduknya. Lalu seorang laki-laki yang mungkin hampir seumuran denganku mendekatinya, merengkuh tubuh mungilnya dan mengecup keningnya. Kemudian semuanya pun pergi meninggalkan gadis itu seorang diri tak terkecuali laki-laki itu. Aku masih setia memperhatikannya dari kejauhan, aku juga meminta bibi untuk pulang awal dengan alasan aku masih ingin berjalan-jalan nenikmati indahnya kota pelajar ini. Padahal aku hanya ingin berlama-lama memandang wajah gadis itu.
Sekarang hanya gadis itu yang tersisa ditengah-tengah gundukan tanah merah yang masih basah itu. Tiba-tiba senyuman itu menghilang, tatapannya menjadi sendu. Seolah-olah menyimpan ribuan hasrat kepedihan yang terdalam. Tubuhnya bergetar dengan wajah menunduk. Ku perhatikan lekat-lekat gadis itu. Tapi tetap tak terlihat oleh jangkauan penglihatanku, ingin sekali rasanya aku mendekat, tapi aku terlalu takut Karena aku hanya orang asing baginya.
__ADS_1
Seketika dia mengangkat wajahnya, kulihat wajahnya lesu dengan kedua mata yang sembab. apakah gadis itu menangis? apa dia hanya berpura-pura tegar dihadapan semua orang? Ya Tuhan hatiku Terasa teriris sembilu, melihat gadis itu. Aku belum pernah melihat seorang gadis sepertinya. Dia begitu pandai menyembunyikan luka kepedihannya dibalik senyum manisnya. Dan gadis itu adalah dirimu.
Waktu pun berlalu, cuaca yang tadinya panas berubah menjadi mendung. Seakan jutaan awan-awan juga turut menikmati kepedihan gadis itu. Langit pun semakin mendung. Tiba-tiba langit pun ikut menangis, menjatuhkan butiran-butiran air asam yang menetes perlahan, semakin lama tetesan itu semakin menjadi-jadi. Aku pun berupaya berjalan mendekatinya, tapi ku urungkan niatku Karena melihat laki-laki tadi juga kembali berjalan kearahnya dengan membawa payung ditangannya. Kemudian ku putuskan untuk kembali pulang ke rumah bibi. Mungkin gadis itu akan aman bersamanya.
Dua hari aku berada disana tanpa memikirkan kejadian di pemakaman itu. Karena waktu itu aku hanya merasa iba terhadapnya, aku juga pernah berada dititik terlemahku sepertinya, merasa kehilangan akan rindu yang tak berujung pada sebuah penyampaiannya. Aku pun kembali ke Jakarta.
Detik demi detik dari menit dan Jam yang berputar. Dari waktu yang sudah berlalu dan tak mungkin dapat terulang kembali. Ku nikmati segala kerumitan kehidupanku dengan kesederhanaan dengan terus belajar dan belajar. Hari pun berlalu, minggu pun berganti bulan dan tahun yang bertambah. Aku sudah melupakanmu sigadis itu.
Tiba suatu hari ketika aku berada di perpustakaan kampus, ada dua orang gadis datang tanpa permisi dan langsung duduk pada bangku yang berada di depanku. Kulihat sekitar, memang hari ini semua bangku di perpustakaan ini sudah terpenuhi Dan hanya tersisa tiga bangku, dua didepanku dan satu disampingku. Tapi aku tidak terbiasa berbagi bangku dengan orang lain saat diperpustakaan, bahkan aku sudah menyewa khusus bangku ini untukku sendiri di jam-jam tertentu.
Aku terus memandang gadis itu, dengan tatapan sinis. Ingin sekali mengusirnya tapi sungguh aku tidak tega. Tapi membiarkannya tetap duduk didekatku pun membuatku sangat risih dan itu sama sekali tidak nyaman. Lalu aku berfikir untuk memanggil security, Dan datanglah mereka berdua. Security pun mendekat dan berbicara sopan kepada mereka berdua untuk meninggalkan bangku itu.
Tiba-tiba sigadis berambut panjang mengangkat wajahnya melihatku dan aku pun menatapnya juga, pandangan kami sempat bertemu untuk sesaat.
deg
deg
deg
Aku terus memandang gadis berambut panjang itu hingga menghilang dibalik pintu. Aku masih menatap pintu yang sudah tertutup itu, Entahlah seakan aku pernah berada didekatnya.
"aku seperti pernah melihat mata itu. Tapi dimana ya, kenapa tidak mengingatnya.." batinku saat melihatnya.
Hingga malam tiba aku masih memikirkannya. Hingga aku tiba-tiba teringat seorang gadis dipemakaman beberapa tahun lalu, ya gadis itu gadis yang sama aku yakin akan hal itu. Aku masih mengingat jelas mata itu saat di rumah oleh-oleh bu Eva. Dan itu masih dirimu.
"Ya Tuhan, kenapa Engkau pertemukan ku lagi dengannya? apa ini artinya salah satu tanda dia jodohku? jika benar, pertemukanku kembali dengannya" pintaku saat berada dibalkon kamar menatap lekat indahnya bulan dan bintang dimalam hari.
Aku pun tak sabar menanti hari esok, seakan gelap tak kunjung terang. Aku pun hanya berguling-guling diatas tempat tidur kenyamananku dengan membayangkan wajah cantikmu hingga aku terlelap dengan sendirinya.
Hari esok pun tiba. Aku bergegas berangkat ke kampus hingga melewatkan waktu sarapan agar cepat sampai dikampus. Sampai disana aku terus mencarimu dari ujung hingga ke ujung. Tak ku pedulikan betapapun besar kampus ini, yang ku inginkan hanya bertemu denganmu. Tapi aku tak menemukanmu dimana pun. Hari-hari terus ku lalui dengan mencarimu tapi sudah seminggu berlalu aku bahkan tak menemukanmu dimana pun. Hingga aku menyerah dan berhenti mencarimu.
__ADS_1
Tanpa terasa Aku sudah melewati segelintir acara untuk menyambut kegiatan ospek mahasiswa baru. Padahal aku sudah ditunjuk sebagai ketua pelaksana, tapi semua tugas kuserahkan kepada sahabatku yang menjadi wakilku dalam acara ospek nanti.
Tak terasa acara ospek pun sudah berlangsung. Ku sibukan diriku agar dapat melupakan kejadian seminggu yang lalu. Namun tiba-tiba aku menemukanmu berada di barisan mahasiswa baru itu, ku tarik sudut ujung bibirku hingga mengulas sebuah senyum. Ku Lihat dirimu tengah melakukan kesalahan dan akan menjalankan hukuman dari partner ku. Seringai licik muncul dipikiranku untuk bisa berdekatan denganmu dan mengenalmu lebih jauh lagi.
Tapi setelah ini ternyata aku salah. Kamu tak seperti gadis-gadis yang biasa mendekatiku. Kamu begitu angkuh untuk ku sentuh.
Ku pandangi terus dirimu yang mulai menjauh dari mobilku. Hingga terlihat berbelok disebuah rumah. Ku pikir itu adalah rumahmu. Dan tidak ada alasan lagi untuk ku terus berada disini. Ku putuskan kembali ke sangkarku untuk menyendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
**ah menyedihkam sekali hidupmu bumi. awal pertemuan yang rumit....
readers....
jangan lupa rate 👉 like 👉 comment 👉 vote 😘😘😘😘
thanks 🙏🙏🙏**
__ADS_1