
Art tersebut membukakan pintu yang berwarna biru laut yang diyakini matahari adalah kamar yang akan ditempatinya saat beristirah sekedar melepas Lelah dimalam hari.
Pintu kamar pun terbuka. Betapa terkejutnya Matahari melihat pemandangan dikamarnya.
"Luar biasa. " Dua Kata yang terucap dari bibir mungil Matahari untuk sebuah kamar yang akan dia tempati.
Matanya terus melihat setiap Inci dari ruangan tersebut. Banyak sekali lukisan dinding yang menyatakan bahwa ini bukan hanya sebuah kamar. Melainkan sebuah ranjang yang tertata rapi di sebuah pulau dibibir pantai. Benar benar menakjubkan.
"Teman Tuan Bintang yang mendesain dan melukisnya langsung untuk Nona, baru satu minggu yang lalu selesai non." Kata Art tersebut pada Matahari walaupun Matahari tak bertanya padanya.
"Benarkah bi. Pasti Dia sangat professional. Lihat saja lukisannya seperti nyata." Timbal Matahari tanpa menoleh pada sang Art dan masih sibuk mengamati kamar nya.
"Dia sangat tampan Non. Dia juga seumuran dengan Tuan Bintang. Katanya sahabatnya waktu kuliah di Jerman Non. " Kata sang Art kembali.
"Oh iya Non, ini kamar mandinya." Sambungnya lagi pada Matahari .
"Cantik. " Kata Matahari.
"Dan disebelah tirai itu ruang ganti Non. Tirai itu juga menghubung ke arah lemari depan tadi, jadi Non tidak perlu repot repot membawa baju ganti kedalam, karena lemari tersebut memiliki dua pintu dari arah berlawanan." Terangnya pada Matahari.
"Benar luar biasa bi. Siapa yang mendesainnya? " Tanya Matahari seraya beranjak keluar dari kamar mandi.
"Masih orang yang sama yang melukis kamar ini Non." Jawab sang Art.
"Baiklah kalau begitu saya permisi kedapur Non, mau masak untuk makan siang. " Kata Art lagi yang di iyakan oleh Matahari dengan anggukan.
"Oh, iya Non. Nama saya Lasmi. Non bisa panggil saya bi Lasmi. Dan sopir yang mengantar Non tadi namanya Pak Bagus. Dibelakang juga ada Mas Hengky dia sopir pribadi Non Bulan." Terang sang Art mengenalkan dirinya.
"Baik bi Lasmi. Terima kasih. Semoga saja saya cepat menyesuaikan tempat ini. " Kata Matahari.
"Baik Non, permisi. " Kata bi Lasmi.
Matahari pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan keras, walaupun terjatuh dengan keras dia tak terasa sakit sekalipun. Karena busa yang ditindihnya benar benar empuk seperti Sari roti.
Tadinya memang hanya rebahan tapi nyatanya Dia terlelap dalam lelahnya mimpi indah.
*********
Di ruang santai
Bintang melihat bibi Lasmi turun dari tangga seorang diri dan tidak melihat Matahari dibelakangnya. Membuatnya bertanya tanya dalam pikirannya tentang Matahari.
Saat bibi Lasmi sudah dibawah dan menuju ke dapur yang letaknya berada didekat ruang santai membuat Bintang bertanya padanya.
"Bi.. Dimana Matahari? Kenapa tidak ikut kebawah? " Tanya Bintang pada Lasmi.
"Katanya mau istirahat sebentar Tuan. " Jawab Lasmi.
"Oh.. " balas Bintang hanya ber oh ria.
"Kalau gitu permisi Tuan, saya mau kedapur masak untuk makan siang nanti. Permisi. " Kata Lasmi
yang di iyakan oleh Bintang dengan anggukan kepala.
Diapun melanjutkan aksinya menonton TV bersama sang adik.
__ADS_1
"Bang apa Matahari masih menyukai kak Langit ya? Kalau dia tau yang mendesain kamarnya itu kak Langit reaksinya kayak apa ya 🤔 " Pertanyaan Bulan sejak tau bahwa yang mendesain kamar Matahari adalah Langit yang tak lain adalah teman masa kecil Matahari.
\=> singkat cerita
Para readers masih ingatkan sepasang anak kecil yang bermain di taman dekat air mancur. Berakhir dengan perpisahan dan kata menikah.
Ini dia orangnya yang kita tunggu.
"Langit Riyadh yusuf" seorang pelukis, fotografer dan juga seorang desainer yang bergerak dibidang properti seperti ayahnya. Dia juga memiliki saudara kandung perempuan.
"Mina Ayudewi yusuf" gadis ini sekarang duduk dibangku sekolah menengah kejuruan di jurusan administrasi. Dia mengenyam pindidikan disalah Satu sekolah favorite di daerah depok.
flash end
"Biarkan waktu yang mejawab. Kita tidak perlu ikut campur masalah orang lain. Tuhan sudah menentukan takdir seseorang. Hanya waktu yang mampu menjawabnya. " Kata bintang.
"Jihhh... Abang kalo ngomong sok bener dah hihi,," Timbal bulan dengan kekehannya. Geli mendengar jawaban abangnya, entah mendapat kosa Kata itu dari mana. Padahal dia sendiri paling sensitive masalah hati, bahkan setelah putus dari pacarnya beberapa tahun yang lalu masih saja senang menyendiri.
"Apaan sih!! Pergi ke butik Sana, katanya banyak Pelanggan. Nanti pada nungguin lagi." Titah bintang.
"Astagaaa.. " Bulan menepuk jidatnya karena telah lupa bahwa hari ini dia ada janji untuk merancang gaun pernikahan seorang artis terkenal di Jakarta.
"Kenapa ga ingetin dari tadi sih." Kata bulan yang mengultimatum abangnya karena membuatnya lupa.
"Ck.. Situ yang lupa, gua yang Kena marah!! " Kesal bintang.
" Karyawan telat di omelin. Boss nya telat di bilang wajar!" Gumam bintang pada sang adik.
"Bawell lu!! " Umpat bulan.
Beranjak dari duduk nya dan berjalan menaiki tangga menuju kamar mengambil tas dan peralatan kerjanya. Setelah selesai dari kamar dia langung menuju ruang santai berpamitan dengan abangnya tak lupa menitipkan salam kepada matahari. Lalu bergegas menuju garasi berteriak memanggil sang supir pribadinya.
"Iya non. " Jawab hengky seraya membukakan pintu depan untuk ditempati bulan.
Bulan memang tidak pernah duduk dikursi belakang layaknya seorang sopir dan majikan seperti yang lainnya. Dia lebih nyaman duduk di depan bersama hengky sang supir.
Karena menurut bulan, hengky itu tidak pantas menjadi seorang supir, lebih tepatnya pantas menjadi seorang teman dan kakak baginya. Umurnya yang sepadan dengan abangnya dan wajahnya yang tampan membuatnya enggan menyebutnya dengan Kata supir.
Bulan mengenal hengky sejak lulus dari bangku SMP, lebih tepatnya tiga tahun yang lalu saat tragedi dirinya hampir di perk*sa oleh brandalan sewaktu pulang dari acara party perpisahan sekolah.
flashback
Waktu itu bulan yang belum mempunyai seorang supir, biasanya dia selalu memesan taxi online untuk berpergian kemana mana, namun naasnya HP bulan mati Karena lowbat jadi dia terpaksa menunggu taxi lewat. Hari semakin gelap tapi tak kunjung taxi yang melintas, hingga membuatnya berfikir mencoba untuk berjalan kaki sambil menanti ada taxi yang melintas.
Berjalan menyusuri jalan trotoar tapi belum juga ada taxi yang melintas. Hari pun bertambah gelap dan sepi. Bulan masih terus berjalan lurus menuju ke arah rumahnya yang mungkin masih sangat jauh. Hingga Ada segerombolan laki laki yang menghadang jalan nya.
"Hallo Nona cantik. Mau pergi kemana? Kita antar yuk sekalian jalan jalan. " Kata salah seorang laki laki itu.
"Mau apa kalian. Jangan mendekat! " Kata bulan. melangkahkan kakinya mundur kebelakang.
"Kita hanya mengajakmu bersenang senang sayang, kemarilah. Jangan takut. Aku hanya ingin membuatmu nikmat. " Kata teman laki laki itu sambil berjalan selangkah lebih dekat dengan bulan.
"Aku bilang jangan mendekaaattt!! " Titah bulan yang mulai cemas dan takut tapi sebisa mungkin dia berusaha tenang dan tidak menunjukkan ketakutannya.
Melirik kesegala arah, mencoba untuk mencari seseorang yang bisa dimintainya bantuan, tapi sialnya tempat itu benar benar sepi, bahkan tak ada satu mobil pun yang melintas disana. Sebenarnya bulan bisa saja melawan, dia dulu juga atlet bela diri di tempatnya bersekolah, tapi dengan dirinya yang hanya seorang diri sedangkan mereka berlima, apakah bulan sanggup menghadapinya?
"Berteriaklah sayang, tak kan ada orang yang mendegarkanmu. " Kata yang lainnya. Yang hampir saja mereka menyentuh Tanganya bulan.
Bulan pun menghempaskan tangan brandalan itu dengan kuat, berbalik arah dan mulai berlari.
__ADS_1
"Toloooonnnnggggggg!!!!
.
.
.
.
.
.
.
bersambung....
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
hay para readers 😘😘 💕💕
jangan lupa buat mampir ya, sempetin Baca.
jangan lupa...
read -> like -> comment -> vote -> follow me -> share
satu like dan comment kalian sangat berarti untuk author... Dan cerita ini juga ikut lomba nih, semoga kalian yang membaca sempetin vote nya 😊😊
trimakasih 😘😘😘💕💕💕
"janganlah engkau angkuh dalam ber sedekah. ingatlah satu sapa kalian dalam cerita ini mengundang satu seyuman dibalik ponsel seseorang. percayalah meyapa seseorang agar dapat tersenyum itu sebagian dari Ibadah yang tak kita sadari"
(venthy venosa)
__ADS_1