
Setelah sepuluh menit berlalu Akhirnya mobil itu berhenti tepat didepan pintu besar bercat putih klasik. Pemiliknya pun mematikan mesin mobilnya dan mulai membuka pintunya lalu menjatuhkan kakinya dengan perlahan diatas tatanan marmer berwarna coklat tanah itu.
"Pagi tuan Han." Sapa seorang penjaga yang berada didepan pintu utama itu seraya membungkukan tubuhnya sopan.
"Pagi pak. Apa tuan muda ada? Ada hal penting yang harus kami bicarakan. Tapi maaf sebelumnya saya hanya membuat janji pribadi dengan beliau beberapa hari lalu." ucap laki-laki yang bernama Han tersebut.
"Tuam muda memang sudah menanti anda Tuan. Mari saya antarkan kedalam." ucap sang penjaga tersebut.
"Baik pak. Terima kasih." ucap han
"jack, tolong parkirkan mobil tuan han di tempatnya." ucap penjaga itu kepada salah satu temannya.
"baik pak." jawab teman penjaga itu yang namanya jack.
Mereka pun memasuki pintu bercat putih itu.
****
"Pagi Tuan Muda" sapa asisten han saat sudah sampai di ruang keluarga. Dimana anak laki-laki yang di panggil Tuan Muda itu berada. Dia adalah anak laki-laki yang berdarah campuran indonesia dan Jepang. Tak lain dan tak bukan adalah seseorang yang bernama Bumi Putra Atmaja.
Bumi mengernyit heran. Orang yang berada di hadapannya ini benar masih Muda. Lalu bagaimana sang kakek bisa bilang kalau dia sudah bekerja puluhan tahun? Bahkan jika dilihat dari wajahnya mungkin usianya baru belasan tahun tak berbeda jauh dengannya. Bumi pun masih menatap intens dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Yang benar saja sih kek! Bahkan dia seperti seumurku! lalu bagaimana bisa kakek bilang dia sudah bekerja lama dengannya? apa dia operasi plastik biar terlihat awet muda ya?" batin bumi.
"Benar Tuan saya memang seumuran dengan tuan. Mungkin hanya terpaut dua atau tiga tahun saja. Saya memanh sudah bekerja lama dengan Tuan Besar. Bahkan saat saya masih dalam kandungan ibu saya. Dan ini wajah asli saya Tuan." kata han.
"hah" bumi terkejut dengan mulutnya yang terlihat sedikit terbuka.
Dia bisa baca pikiran orang!" batin bumi kembali.
"Benar Tuan. Saya bisa membaca pikiran seseorang. Tapi hanya saat tertentu saja." ucap hans.
"Jadi apa kita akan terus berdiri seperti ini terus tuan?" tanya han dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"tentu tidak. Mari duduk." jawab bumi dan mendudukkan dirinya di sofa. Lalu di ikuti hal yang sama dengan han.
Mereka pun langsung membicarakan hal-hal yang di sampaikan Tuan Besar sebelum beliau menghembuskan napasnya. Dari urusan aset-aset berharga dan berbagai urusan pekerjaan. Lalu tentang bibi nya yang pergi dari rumah.
Mereka pun berbincang-bincang cukup lama hingga tak terasa waktu kuan berlalu dan tibalah saatnya jam makan siang.
"Baiklah Tuan saya harus pamit segera. Kita sudah berbicara cukup lama. Saya juga harus mengurus segalanya." ucap han sambil berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Apa tidak makan siang disini saja han?" tanya bumi
"Terimakasih Tuan, tapi saya harus segera kembali. Dan melakukannya dengan cepat." jawab han.
"oh baiklah. Mari saya antar ke depan." ajak bumi.
"saya merasa sangat terhormat sebagai bawahan hingga mengharuskan sang majikan mengantar kepulangan saya." ucap han dengan tertawa kecil.
"Seperti yang kau bilang han. Cukup panggil nama karena kita hanya terpaut beberapa tahun saja. Dan anggaplah sama dengan perkataanmu tadi. Anggaplah aku seperti adikmu dan temanmu." ucap bumi dengan tersenyum lebar.
"Saya akan sangat lancang akan hal itu Tuan." ucap han sungkan.
"paman tak akan memarahimu hanya karena memanggil namaku saja." jelas bumi.
"tetap saja Tuan itu tidak baik untuk sebuah hubungan pekerjaan." ucap han dengan menundukkan kepalanya.
Sepertinya dia selalu takut jika semua menyangkut tentang ayahnya. Apa ayahnya semenakutkan itu? Atau mungkin karena dia hanya ingin bersikap profesional saja? Ah entahlah..
"baiklah. Terserah kau saja. Ayo aku antar kedepan." ajak bumi kembali.
"Secara tidak sengaja anda berniat mengusir saya Tuan." ucap han dengan tersenyum.
"ya Aku memang ingin mengusirmu. Aku sudah sangat lapar. Ingin sekali rasanya memakanmu jika terus cerewet seperti itu...." ucap bumi dengn tertawa dan han pun juga ikut tertawa denganya.
******
"hallo " sapa han pada seseorang diseberang yang berada di balik tekfon genggamnya.
"............." jawabnya.
"Tolong kamu cek email kamu dan kerjakan semua sesuai perintah ku. Ku harap bisa cepat selasai, paling tidak hingga lusa." ucap han datar namun perkataannya penuh harap agar cepat terselesaikan.
".............." ucap nya kembali dari benda pipih itu.
"Terserah padamu apapun caranya." ucap han dengan dinginnya lalu mematikan panggilan itu.
Johanes mark louis POV
Tuhan kenapa hidupku serumit ini? Aku bahkan tak ingin mengurus hidupku sendiri! Tapi sekarang malah aku harus mengasuh bayi besar.
Benar apa kata almahrum tuan Kim bahwa anaknya itu memang keras kepala dan egois.
__ADS_1
Memang menyebalkan tapi tetap membuatku menyayanginya.
#flashback
"nak mulai sekarang kamu harus belajar tentang bisnis. Ayah sudah tua, Tidakk mungkin selamanya dapat mengabdi dengan Tuan besar dan Tuan Kim. Kamulah satu-satunya harapan ayah nak." ucap seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di samping anak laki-lakinya di sebuah taman. Mereka sedang mengamati seorang anak kecil yang sedang bermain perosotan.
"Kamu tau, berkat Tuan besarlah hingga sekarang kita bisa dititik ini. Beliau begitu berjasa kepada keluarga kita jadi balas budilah dengan baik tanpa orang itu memintanya." ucapnya kembali.
"ayah tau mungkin ini berat untukmu. Tapi jika Semua kamu jalani dengan ikhlas, semuanya pasti akan baik-baik saja." ucap sang ayah kembali dengan mengusap lembut punggung anak laki-lakinya itu.
"anggaplah dia seperti adikmu, sayangilah dia dengan sepenuh jiwa dan ragamu. Jagalah dia jangan sampai dia terluka." ucap sang ayah anak itu.
"flashend
Bahkan dia sama sekali tidak ingat jika pernah bertemu denganku. Sunguh konyol. Apa wajahku berubah drastis hingga dia tak mengenali wajah tampanku ini? ah biarlah. Mungkin dia memang lupa jika pernah bertemu, karena memang pertemuan itu yang pertama juga menjadi yang terakhir.
*******
tok tok tok
Terdengar jelas suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Membuyarkan lamunannya di masa lalunya. Dia pun bergegas menuju pintu dan akan membukanya.
ceklek...
"kamu....... !!!!"
.
.
.
.
.
.
~Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan membawa kita kembali saat susah. yang jelas roda waktu terus berputar. kadang dibawah kadang diatas.
~
__ADS_1
#jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment mu, dan langkahkan vote dalam berandaku..
thanks 💕💕💕💕