
Mereka pun menyelesaikan sarapan mereka dalam keheningan. Sarapan selesai dan mereka kembali menuju kamar dan bersiap siap Karena jam sudah menunjukkan pukul 7.15 am, jadi sebentar lagi mereka akan segera dijemput.
Selesai bersiap siap mereka kembali kebawah, menuju lobby dan menunggu bulan menjemput mereka. Bintang menyuruh Matahari menunggu dilobby, sedangkan dia menuju resepsionis mengembalikan id card kamar untuk check out.
Setelah urusan check out selesai Bintang kembali menghampiri matahari dilobby. Sudah setengah jam lebih menunggu tapi yang ditunggu tak kunjung terlihat. Bintang yang sudah tak sabaran akhirnya mulai menelpon adiknya agar segera menjemputnya. Bintang pun menekan nomer ponsel adiknya lalu menempelkan benda pipih berwarna hitam itu dipipinya.
Tuuut tuut tut
"Hallo bang! " Jawab seseorang dari seberang sana yang tak lain adalah adik bintang yang bernama Bulan.
"Jadi jemput ga sih! Kalau ga niat bilang. Jangan buat kita nunggu kayak gini. " Teriak Bintang pada Bulan.
"Yaelah, ini juga udah dijalan. Baru masuk lobby nih. abang dimana?" Tanya Bulan.
Belum sempat menjawab Bintang melihat Bulan masuk dari pintu lobby dan mengakhiri sambungan ponselnya. Bintang pun berjalan mendekati sambil melambaikan tangan. Berharap adiknya bisa melihatnya.
Mereka pun bertemu saling pandang dan akhirnya berpelukan. Matahari pun masih ditempat yang sama, duduk dibangku pengunjung yang ada di lobby tersebut. Melihat sepasang saudara yang sedang melepas rindu.
Mereka berdua memang saudara tapi jarang sekali bersama.
Bulan sejak masuk bangku SD ikut dengan nenek tinggal di Jakarta, dengan alasan menemani nenek. Itu semua atas permintaan neneknya sendiri dan diiyakan oleh papa dan mama nya.
Sedangkan Bintang sendiri selalu pindah pindah sekolah mengikuti kemana orang tuannya pergi dan hanya sekedar menetap. Itu pula yang menjadi alasan kenapa Bulan ditinggal dengan neneknya. Karena mereka takut Bulan akan lebih Lama menyesuaikan tempat tempat yang baru. Beda dengan bintang yang anak laki laki, mungkin dengan mudahnya mengenal lingkungan yang baru.
Matahari pun beranjak dari duduknya, berjalan mendekati mereka dengan menggendong tas ranselnya dan menarik koper milik Bintang.
Saking asiknya dua saudara yang sedang berpelukan tadi sampai tidak melihat Matahari sudah berada dibelakang bintang.
"Jadi cuma abang nih yang dipeluk? Aku gak? " Tanya Matahari dan sukses membuat mereka berdua mengurai pelukannya.
"Matahari kuuu....." Teriak Bulan padanya. Matahari dan Bulan bercipika cipiki lalu mereka pun berpelukan melepas rasa rindu mereka. Tak begitu Lama Matahari mulai mengurai pelukannya. Menatap lekat wajah bulan.
"Cantik dan manis." Kata Matahari. Dua Kata yang membuat Bulan tersipu malu.
"Kau ini bicara apa? Untung saja kau perempuan. kalau Laki laki udah gua jabahin balik nih. " Timpal Bulan pada Matahari dengan menutup mulutnya sambil menahan tawa.
__ADS_1
Mereka bertiga pun terkekeh geli mendengar jawaban Bulan.
"Kau juga cantik. Sudahlah ayoo kita pulang. Hari ini gua harus kebutik banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan. " Kata Bulan.
"Ke butik? " Tanya Matahari.
"Lu punya butik Bul? Kok gua ga tau sih? " Tanyanya lagi.
"Entar gua ceritain bawel. Buruan pulang aja yuk. " Pinta Bulan. Mulai menggandeng tangan Matahari dan berjalan keluar.
Sedangkan Bintang membawa kopernya sendiri. Matahari memang tidak membawa koper, hanya tas ransel saja. Karena dia tidak ingin terlalu ribet saat berpergian. Toh nanti sampai di Kota dia bisa membeli keperluannya. Hitung hitung memcoba mengurangi debit tabungannya haha..
Mereka bertiga pun berjalan keluar Hotel menuju parkiran dimana mobil mereka berada. Sampai dimobil Bintang meminta sopir membukakan bagasi dan menaruh koper dan ransel matahari disana. Bintang duduk di depan bersama sang sopir. Sedangkan Bulan dan Matahari duduk dikursi penumpang.
Perlu waktu cukup Lama hingga sampai ke rumah mereka. Apalagi dijam sekarang yang menunjukkan hampir pukul delapan. Banyak kendaraan yang berlalu lalang menuju tempat tujuan mereka masing masing.
Mobil mereka berjalan sangat lambat seperti keong. Matahari yang sudah lelah pun menggerutu dalam batinnya. Waktu yang harusnya ditempuh hanya sekitar satu jam setengah, kini menjadi dua jam lebih.
***********
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai didepan komplek perumahan mewah. Bulan pun membuka jendela Mobil dan menempelkan sebuah ID Card menandai bahwa kita memiliki akses untuk memasuki kompleks tersebut. Seorang satpam mulai berdiri. Ada 4 orang satpam yang berjaga dan mulai menyapa kami semua yang berada didalam Mobil. Pagar pembatas pun terbuka dan mulai berjalan lurus menuju sebuah rumah yang berada paling ujung Di komplek ini. Mobil pun berhenti didepan sebuah rumah mewah.
Mereka berempat pun turun dari mobil. Tak terkecuali sang sopir yang membantu majikannya membukakan bagasi dan membantunya membawa tas ransel juga koper kedalam rumah.
Seorang Art dari dalam rumah yang mendengar suara Mobil berhenti langsung berjalan mendekati pintu dan membukakan pintu agar majikannya bisa masuk.
"Selamat pagi menjelang siang tuan, Nona." Sapa sang Art pada kedua majikannya.
"Pagi juga bi." Sapa balik Bulan dan Bintang.
"Selamat datang Nona Matahari semoga betah tinggal disini. " Art itu kembali menyapa majikan barunya.
"Pagi kembali. " Sapa balik Matahari dengan seutas senyum.
__ADS_1
Bintang berjalan menuju sofa ruang santai untuk beristirahat sebentar yang di ikuti oleh Bulan dan Matahari. Tak lupa diikuti oleh sang Art dan sopir yang masih membawa koper, sedangkan tas Matahari berpindah pada sang Art.
Setelah mereka bertiga duduk. Mata bintang menoleh ke arah sang sopir juga Art nya. Kenapa sang sopir dan Art nya juga mengekorinya sampai ruang santai.
"Kenapa kalian ngikutin kesini? Ga ada kerjaan emang? " Tanya Bintang pada Art dan sopirnya dengan bingung. Bukannya pada bekerja tapi malah ngikutin majikannya santai santai.
"Ii ini Tuan, tas sama kopernya ditaruh dimana? Tuan kan belom kasih tau tadi. " Jawab sang sopir dengan gugup.
Bintang pun menepuk jidatnya, menghakimi dirinya sendiri yang lalai karena tadi waktu di garasi sang sopir sudah bertanya barang bawaannya mau taruh dimana. Bukan menjawab tadi malah pergi begitu saja.
"Maaf pak saya lupa." Jawab Bintang yang terkekeh geli dengan kelakuannya sendiri.
"Kopernya taruh saja dikamar saya diatas Pak. Kalau ransel nya itu milik Matahari jadi bibi bawakan ke kamarnya. Tolong sekalian tunjukan kamarnya Matahari. " Pinta Bintang
"Baik Tuan. " Jawab sang art.
"Mari Nona Matahari ikuti saya. " Sambungnya.
Matahari pun beranjak dari tempatnya duduk dan mulai nengikuti sang Art. Berjalan menaiki tangga. Disana terlihat ada 3 pintu kamar, yang satu berwarna putih ada di pinggir sebelah kanan, sedangkan yang satunya lagi berwarna soft pink berada ditengah dan yang satunya berwarna biru langit berada disisi kiri dekat dengan pintu tangga.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1