Matahari

Matahari
Tapi dia berhak bahagia


__ADS_3

Bumi POV


Disinilah aku. Tempat dimana aku di besarkan dengan seluruh kasih sayang mereka semua. Mommy, daddy dan kakek. Sedangkan nenekku sudah tiada ketika aku masih kecil, besar kemungkinan jika aku sedikit lupa akan kasih sayang yang sama seperti mereka berikan kepadaku. Ah iya para pelayan dirumahku, bahkan mereka menyayangi ku melebihi keluarga ku sendiri.


Hah...


Bahkan setiap hari aku selalu bersama mereka, sedangkan keluarga ku? Kemana lagi kalau bukan mencari uang dan uang. Time is money mungkin itu yang akan mereka bicarakan setiap waktu.


Aku sudah menyiapkan hari-hari menyakitkan ini sejak hari lalu. Benar, ini lebih menyakitkan dari yang ku duga. Terjebak dalam cinta yang tak terbalaskan. Hanya sebelah pihak.


Sungguh memilukan, mencintai tanpa dicintai. Menginginkan tanpa diinginkan. Mengharapkan tanpa kepastian. Sebuah harapan tanpa arah tujuan.


Huh...


Kata apa lagi yang bisa untuk mengungkapkan kehancuran isi hati ini? Benar sakit, bahkan lebih dari kata sakit. Ingin rasanya aku berhenti bernapas. Seakan nafas ini tertutup akan kenyataan yang perihnya terlalu dalam. Rasanya aku ingin berhenti melangkah, karena kaki ini sudah sangat lelah untuk tetap bertahan. Ingin rasanya aku melakukan hal bodoh itu, namun otak kecilku masih berfungsi dengan baik disaat-saat terpurukku.


Bukankah mencintai seseorang bukan berarti aku harus memilikinya? Bahkan dengan melihatnya bisa tertawa lepas bersama orang lain seharusnya aku juga bahagia. Setidaknya dia begitu bahagia meski itu tak bersamaku. Bisa melihatnya seperti itu saja sudah membuatku bahagia. Jadi untuk apa lagi aku harus bersedih?


Memang benar, tidak ada pertemanan yang baik antara seorang pria dan wanita. Karenanya akan ada satu hati yang terpaut perasaan diantara pertemanan itu. Walaupun aku dan dia sudah mengetahui dari awal perasaanku dengannya. Tapi dia tetap membiarkanku berteman baik dengannya.


Dia tidak membenciku. Tidak pula menjauhiku. Dia begitu baik dan sangat baik. Bukankah seharusnya aku bersyukur?


Disaat orang lain menyatakan cinta terhadap teman dekat atau sahabatnya dan berujung pada penolakan, kemudian esoknya mereka tak bertegur sapa. Bahkan tak menjalin hubungan dengan baik.


Tapi dia berbeda. Dia sangat istimewa. Sungguh dia wanita yang begitu sempurna dalam hati dan pikiranku.


Apa kalian juga berfikir begitu?


Tentu tidak. Karena kakian tak ada hati dengannya. Hanya orang yang mencintai yang mengatakan bahwa dia lebih dari segalanya.


Aku sudah bertekad untuk merelakan dia. Walaupun ini menyakitkan tapi dia berhak bahagia. Bukankah kebahagiaan sepasang kekasih terletak pada hati mereka yang saling mengasihi dan mencintai? Dan dia begitu mencintainya. Begitu pun sebaliknya. Mereka saling mengasihi dan mencintai. Tidak sepertiku yang berjuang seorang diri.


~Mencintai seorang diri dan berjuang sendirian. Ternyata aku masih manusia biasa. Yang bisa rapuh karena cinta sepihak....•••Bumi


@venthy_venosa22


********


Matahari POV


Morning to the world. Pagi yang cerah secerah hari ini. Hari yang aku impikan bertahun-tahun lamanya. Hari dimana aku dapat bersamanya. Bersama sahabat dimasa kecilku.

__ADS_1


Sungguh aku sangat bahagia. Tidakkah kalian tau, bahwa hari ini akan ku mulai kembali kisahku yang belum sempat ku rangkai indah bersamanya. Kenangan yang hampir saja membuatku menyerah dan kalah. Ya, seperti inilah cinta. Jika kita sudah mencintai seseorang maka kita harus siap untuk kalah dan menyerah. Kalah karena terkadang cinta mampu membuat kita tak bisa mengendalikan diri kita sendiri dan mulai menyerahkan segala apa yang kita punya untuk mereka. Dan inilah yang terjadi padaku.


Aku kadang tidak mengerti, kenapa cinta bisa membuat orang bahagia hanya karena kata-kata manis semata? Tapi kenapa kata-kata manis itu pula yang membuat orang terluka dan bersedih?


Dan kini aku mulai merasakannya.


Bukankah cinta itu artinya kalah dan menyerah? Tapi kenapa mereka mengartikan hal konyol ini. Harusnya mereka perlu menggaris bawahi kata kalah dan menyerah.


Kalah?


Karena kita yang memulainya lebih awal. Maka dari itu seharusnya kita harus siap menerima segala sesuatu yang menjatuhkan cinta itu. Entah itu hal baik atau hal buruknya!


Menyerah?


Jika memang semua tak bisa disatukan karena sebuah alasan maka jangan pernah berpikir untuk tetap bertahan. Relakanlah dan serahkan segalanya kepada sang pemberi kasih dan sayang. Dialah yang menyatukan dan memisahkan cinta itu.


Bukankah begitu? Ya, aku rasa begitu. 😊


Dan disinilah, tempat kami akan memulainya segalanya. Di Kota Yogyakarta, Kota dengan julukan Kota pelajar. Kota dimana kami dilahirkan. Setelah dua hari lalu dokter menyatakan keadaannya semakin baik dan diperbolehkan pulang kami pun merencanakan liburan panjang semesterku.


Sungguh tak pernah kuduga hari ini. Ku ira semua sudah berakhir tapi ternyata tidak. Setelah dua belas tahun akhirnya takdir mempertemukan kami. Walaupun besar kemungkinan dia akan meninggalkan ku kembali.


Aku tidak akan berdoa agar umurnya bisa diperpanjang, karena aku tau mungkin dia sudah lelah dengan rasa sakitnya. Aku tau dia berbohong, tidak ada kata baik-baik saja setelah terjadi musibah. Pasti ada kata tidak diantara kedua kata itu. Tapi setidaknya biarkan dia merasakan bahagia walau sesaat. Walaupun ini menyakitkan tapi semua harus tau yang sebenarnya.


~Perkataan memang bisa dimanipulasi, tapi tidak dengan mata dan hati ••Matahari


*************


"Akhirnya sampai juga." Ucap Langit saat suda keluar dari stasiun.


"Sudah enam bulan lebih satu minggu aku tidak datang kesini." Ucap Matahari lirih namun masih terdengar jelas di telinga Langit.


"HAH"


"Selama itu?" Tanya Langit.


"Hemm." Singkat Matahari tanpa menoleh ke arahnya. Matanya masih fokus melihat-lihat sekelilingnya yang tidak berubah.


"Why? Kamu kan bisa pulang kesini di akhir pekan?" Tanya Langit kembali sambil merangkul pundak Matahari.


"Sibuk saja." Singkat Matahari kembali.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mau naik pesawat saja. Kan lebih cepat sampai kesininya!" Ucap Langit menyarankannya.


"Lebih nyaman menggunakan kareta saja." Jawab Matahari santai.


"Chek in hotel atau go home?" Tanya Langit saat sudah berada di dalam taxi yang sudah dipesan olehnya sebelum keluar dari stasiun tadi.


"Pulang ke rumah saja." Ucap Matahari dan duduk di bangku penumpang bersama Langit.


"Bang? Bisakah kita ke tempat papa dan mama sebentar?" Tanya Matahari ragu.


"Tentu." Singkat Langit.


"Pak tolong putar balik ke arah TPU Kalimu*ya 1 ya!" Ucap Langit kepada sopir taxi.


"Baik Tuan." Jawab pak sopir sopan.


Dan taxi pun berbalik arah menuju tempat yang diingkan sang penumpangnya. Sebelum mereka sampai tujuan, Matahari meminta sang sopir taxi untuk berhenti di toko bunga membeli oleh2 kepada kedua orangtuanya. Akhirnya setelah bergulat dengan kemacetan kota ini dia bisa bernafas lega karena sudah sampai di rumah baru orangtaunya.


"Pagi menjelang siang pa ma?" Ucap Matahari bertanya pada batu nisan yang dianggapnya kedua orangtuanya dan meletakkan bunga itu disampingnya.


"Pa ma ku bawakan bunga lily untuk kalian." Ucapnya kembali dan menaruh bunga itu di atasnya tanah yg kotor.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


~Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 💕💕

__ADS_1


__ADS_2