
"Sudahlah jangan mengungkitnya kembali." Sahut Matahari.
"Tapi aku.....!!" Ucap Langit tapi terpotong oleh Matahari.
"Sssssttttt!! Diamlah. Makan dan pulang!" Cercah Matahari.
Mereka pun menyelesaikan makannya dengan lahap dan sesegera mungkin meninggalkan area Rumah Sakit ini. Karena jujur Matahari paling tidak suka dengan bau obat dan rumah sakit. Walaupun sebentar lagi dia akan menggeluti dunia perumah sakitan karena jabatannya sebagai Presdir di perusahaannya yang juga mengelola berbagai bidang penunjang kemakmuran masyarakat seperti rumah sakit dan pusat perbelanjaan.
Setelah selesai mengurus administrasi mereka pun meninggalkan Rumah Sakit dan bergegas menuju sebuah taxi yang sudah menunggu mereka di loby Rumah Sakit. Tentunya taxi datang karena permintaan sang pelanggan yang sudah dipesan melalui salah satu aplikasi di smartphone mereka.
Mereka pun memasuki mobil berseragam itu. Menikmati perjalanan menuju rumah besar Matahari yang mungkin saat ini masih terawat dengan baik karena dia juga mempekerjakan beberapa pelayan untuk mengurus rumah yang tak berpenghuni majikannya itu dan hanya di isi oleh mereka pelayan-pelayan dan juga satpam penjaga.
"Ata.." Panggil Langit.
"Hemmm..."
"Bagaimaa kalo kita tidak usah pulang kerumah saja?"
"Hah? Kenapa?" Tanya Matahari memicingkan matanya ke arah Langit.
"Iya! Bagaimana kalo kita menginap saja di Hotel Manohara yang ada kompleks wisata Borobudur?"
"Kenapa harus Manohara? Tidak itu jauh sekali dari sini. Kita butuh sejaman untuk sampai sana! Bentar lagi juga sampai rumah kan?" Ucap Matahari menolak akan usul Langit itu. Bukan tak ingin tapi Matahari lebih mementingkan keadaan sahabat kecilnya ini mengingat dia baru saja meninggalkan Rumah Sakit dan seharusnya mereka segera beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh mereka agar vit kembali.
"Aku tidak apa-apa. Sungguh!" Sahut Langit dengan mengacungkan jarinya yang berbentuk v karena dia tau apa yang membuat wanitanya menolak permintaannya yang tak lain karena takut akan keadaannya saat ini.
"Aku hanya ingin melihat sunrise bersamamu besok! Hanya Hotel itu yang memiliki akses untuk memasuki Candi Borobudur di pagi buta. Dengan menginap disana kita bisa memulai petualangan kita untuk mengelilingi Kota ini. Melihat Matahari terbit super cantik dari atas Candi Borobudur. Seperti Matahari ku ini." Ucap tulus Langit.
Menatap lekat manik Matahari dan disentuhnya pipi yang bersemu merah jambu itu membuat Langit ingin sekali merengkuh tubuh mungil itu.
Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktu yang ku miliki bersamamu! Biarlah ini terlambat daripada tidak sama sekali! menyentuhmu seperti ini sudah membuatku tenang dan nyaman! Bantin Langit.
Candi Borobudur adalah Candi terbesar didunia ini terletak di kabupaten Magelang, sekitar 40km sebelah utara Kota Yogyakarta. Candi dengan 1460 relief dan 504 stupa itu merupakan salah satu spot paling hits untuk melihat sunrise di Yogyakarta, tak hanya dari kalangan wisatawan lokal tetapi juga turis asing yang berlibur ke Jogja!
Namun pintu masuk Candi Borobudur baru di buka pukul 6.00 pagi yang artinya sunrise sudah terlewat jauh. Satu-satunya cara untuk akses kesana di pagi buta ya hanya Hotel Manohara. Hotel yang terletak di komplek Taman Wisata Borobudur itu.
Hotel Manohara memiliki akses langsung bagi tamunya naik ke candi Borobudur untuk mengejar sunrise. Ini adalah kesempatan emas untuk memulai petualangan di Jogja dengan awalan sunrise yang super cantik
dari atas Borobudur.
Matahari tampak menimang-nimang permintaan Langit sampai akhirnya pun dia mengangguk dengan lemah karena melihat sahabatnya itu dengan tatapan yang memelas. "Baiklah" Ucapnya pasrah.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Ke esokan harinya di Kota Pelajar,
Yogyakarta Istimewa. Begitulah slogan yang menjadi ikon di Kota ini.
Kota yang damai dan tenang. Sejuk dan menentramkan. Itulah yang ada dipikiran Matahari. Dari sekian banyak Kota yang pernah Ia singgahi bersama kedua orang tuanya saat berbisnis, tak pernah ada yang bisa menandingi keistimewaan Kota ini. Kota dimana dia dilahirkan dan dibesarkan.
Kota yang sempit namun banyak penduduk. Bukan penduduk lokal lebih tepatnya mereka para pendatang yang ingin menyaksikan keistimewaan Kota yang digandrungi dengan ikon Kota Pendidikan. Ada yang datang untuk mencari pekerjaan, ada yang sedang menempuh pendidikan dan ada pula yang datang untuk berlibur sembari menghilangkan penat akan pekerjaan atau pun cobaan kehidupan.
Banyak wisatawan lokal maupun manca negara yang berlomba-lomba mengabadikan moment bahagia mereka di Kota ini.
Begitupun dengan dua manusia yang berdiri di antara susunan relief dan juga stupa itu. Tepat pukul 04.45 dini hari mereka sudah berada disana. Lebih tepatnya mereka datang setelah menunaikan sholat subuh di kamar Hotel yang sudah mereka pesan semalam sesaat Matahari mengiyakan akan menginap disana.
Every day e million miracle begin at sunrise!
β’β’Eric Jerome Dickey
Ya, setiap hari ada sejuta keajaiban yang dimulai saat matahari terbit.
"Look that baby!" Ucap Langit meminta Matahari untuk menatap pantulan dirinya yang begitu indah, seperti yang dipikiran Langit. Dengan posisi mereka yang begitu intim. Matahari yang berdiri menghadap sunrise sedangkan Langit berada tepat dibelakang tubuhnya, merengkuh pinggang si gadis mungil yang selalu berada dalam lingkup mimpi-mimpi malamnya. Disenderkan kepalanya pada bahu yang mungil itu.
Mungkin karena masih hawa dingin disini!
Tapi begitu hangat! Nyaman sekali! Pikir Matahari.
"Cantik!" Ucapnya Matahari.
"Seperti mu baby."
"Aku tak secantik dia yang bersinar terang diseluruh penjuru dunia ini."
"Kamu pasti bisa melakukannya."
"Tidak. Tidak akan pernah bisa. Mungkin aku hanya sebagian yang mirip dengannya. Terbit menuju puncaknya dan akan tenggelam seperti senja." Lirih Matahari. Entah kenapa dihatinya ada yang berkurang begitu saja. Seperti akan ada yang hilang darinya.
"Dan aku mencintainya. Sungguh sangat mencintai Matahari. Hanya mampu memberi dan takkan berharap kembali." Ucap Langit yang semakin mengeratkan dekapan lembut tubuh mungil itu.
"Kau seperti oppa oppa drakor!" kekeh Matahari.
"Benar baby. Ini semua ulahmu!" Tuduhnya pada Matahari.
"Aku?" Singkat Matahari.
__ADS_1
"Hemm.. Karena kamu adalah Matahari dengan caption yang terindah. Membuatku selalu ingin merangkai kata-kata manis agar kau selalu mengingatku ketika merindu."
"Kau bahkan seperti telenovela."
"Benarkah? Tapi sungguh kau adalah caption dalam album kenangan yang tercetak begitu rapi dan indah."
"gombal!!"
"Aku sedang tidak membual yeah. Ini perkataan yang tulus dari hati." Ucap Langit yang memang begitu tulus.
"Bahkan perkataanmu seperti playboy kelas teri." Kekeh Matahari dengan tertawa kecil.
"Lihatlah pantulan mh semakin naik semakin indah." Ucap Langit saat Sunrise mulai meninggi dan sesegera beranjak menuntun pagi yang dingin menjadi hangat.
"Bang Langit?" Panggil Matahari.
"Hemmbt.." Sahutnya singkat.
"Apa abang pernah punya pacar saat tidak bersamaku?" Tanya Matahari yang sudah melepas tangan kekar yang melingkar sempurna di pinggangnya itu dan membalikkan badannya lalu menatap lekat manik sahabat kecilnya. Mencari jawaban atas sebuah kebenaran yang semestinya tak harus diketahui.
Memang siapa aku harus bertanya seperti itu! Dasar bodoh!! Ucap Matahari yang hanya mampu teruap didalam batinnya.
"Pernah." Jawab Langit singkat.
"Siapa??" Tanyanya.
.
.
.
.
.
.
Siapa lagi kalo bukan kalian π€£
Semoga hari-hari kalian menyenangkan.
Salam hangat dari Joger.
bukan orang jogja hanya pencinta suasana jogja π
happy reading dan ditunggu comment dan likenya
__ADS_1
πππππ