Matahari

Matahari
pertemuan bulan Dan hengky


__ADS_3

"toloooonnnnggggggg!!!! " teriak bulan sambil berlari.


Bulan pun terus berlari sekencang kencangnya. Berharap ada seseorang yang dapat dia mintai bantuan. Para berandalan itu masih saja mengejar bulan. Terus berlari dan berkejaran di jalan itu. Hingga salah satu berandalan itu dapat menangkap tangan bulan. Bulan pun reflek menghempaskan tangannya dengan kasar.


"BRUUUKK"


Bulan menendang perut salah satu berandalan itu hingga jatuh tersungkur di tepi jalan. Melepas satu persatu sepatunya dan melemparkan ke arah muka berandalan yang lainnya. Bulan pun kembali berlari. Merasa sudah agak jauh dari mereka, dia mencoba untuk menyebrangi jalan.


Daannnnn................ !!!


TIN TIN TIN


"Aaaaaaaaaaaaaa....... "


Bulan terkejut mendengar suara klakson, melihat ke arah samping ada sebuah montor melaju sangat kencang ke arahnya. Bulan reflex menghentikan langkahnya dan menutup kedua matanya.


"sssssiiiiiittttttt....... " montor itu berhenti tepat didepan bulan, dasbor depan menabrak lutut bulan.


Ralatt!! bukan menabrak, hanya menempel di lututnya.


Badan bulan melemas ketika ada sesuatu menabrak lututnya, terasa sangat dingin, kakinya pun sudah tak mampu menahan keseimbang tubuhnnya membuatnya bergetar ketakutan.


Pikiran bulan sudah melayang kemana mana. Bak disambar petir! Dikejar oleh berandalan yang berniat melecehkan dirinya, mencoba untuk berlari mempertahankan kehormatannya. Tapi Sekarang malah maut juga ikut mengejarnya.


Adilkah dunia ini terhadapnya? Bahagiakah dunia melihatnya tersiksa seperti ini. Ujian hidup seperti apa yang dihadapinya saat ini.


Dia hanya berharap, jika memang takdirnya untuk hidup hanya sampai disini, Biarkan semua orang merelakannya dengan ikhlas, dengan senyum tanpa berpura pura. Pikirannya terus berlarian mengandai andai segala sesuatu yang terjadi setelah kematiannya nanti. Memikirkan kedua orang tuannya. Bagaimana dengan papi dan mami nya, bahkan dia belum sempat bertemu dari satu bulan yang lalu ketika mereka mengunjungi bulan di kota, pasti mereka akan sangat terpukul dengan kematiannya yang secara tiba tiba. Apalagi bang bintang! Dia pasti akan menangis histeris tiada henti sepanjang hari karena kehilangannya. Karena bulan adalah wanita kedua yang di cintainya setelah maminya. Dan sepupunya matahari pasti dia akan sangat syok melihat kejadian ini, pasti ini akan mengingatkannya kembali pada kematian kedua orang tuannya beberapa minggu lalu, ini pasti Akan membuatnya trauma berkepanjangan. Dan kakek pasti akan terkena serangan jantung tiba tiba jika dirinya pergi karena kecelakaan ini. Dan yang paling terpukul atas kepergiannya adalah nenenknya! Orang yang merawatnya benerapa tahun lalu.


Tidak ini tidak boleh terjadi!


Bulan terus menggeleng gelengkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Dia belum sempat pamit kepada mereka semua, dia juga belum pamit kepada sahabat sahabatnya, dia juga belum menggaji karyawannya dibutik, pasti kematiannya akan merugikan banyak pihak.


Pikirannya terus saja berputar putar.


satu menit...


dua menit...


Lima menit...


sepuluh menit...

__ADS_1


Matanya masih saja terpejam, tidak merasa kesakitan apapun. Tubuhnya terasa baik baik saja, hanya lututnya yang sedikit dingin dan perih yang dia rasakan. Bulan mulai sedikit membuka matanya perlahan. Menyesuaikan matanya pada arah cahaya lampu dari motor itu. Memandanginya dengan pekat lalu memandangi tubuhnya, meraba tubuhnya dari ujung bawah hingga atas. Dan dia baik baik saja tak ada bekas luka sedikit pun.


Dia mulai berfikir, bahwa saat ini dia sudah ada di dunia lain, dia berfikir bahwa dirinya sudah tiada.


Seseorang dari arah belakang menepuk pundaknya, membuat sang empu menoleh. Bulan memandanginya dengan lekat, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Matanya tidak berkedip sekali pun.


"sempurna." Kata itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya. Matanya terus menembus dalam dalam mata itu tanpa mengalihkan pandangannya.


"hey... apa kau baik baik saja cantik? " orang itu melambaikan tangan didepan wajah bulan, menanyakan keadaanya. Tapi tak ada jawaban darinya. Orang itu mulai menepuk pundak bulan kembali agar dirinya tersadar.


"eh... ka---kamu malaikat tampan?? ap---apa kamu malaikat pencabut nyawa?" Tanya bulann tanpa ragu ragu.


Orang itu hanya tersenyum, menahan tawa atas petanyaan konyol yang terlontar dari bibir mungil itu.


"Bagaimana mungkin wanita ini bisa berfikiran bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang malaikat pencabut nyawa. Apa dirinya benar benar berfikir bahwa gua benar benar menabraknya dan membuatnya meninggal seketika. Dasar wanita konyol!" batin laki laki itu.


"apa kau sudah gila? Lihatlah tubuh mungil ini tak cacat sedikit pun jangan berfikir yang aneh aneh, Apa kau memang senang jika gua benar benar menabrak lu Dan lu meninggal? Dan kau bilang apa? malaikat tampan? Apa gua setampan itu cantik 😂?" Tanya laki laki itu dengan sedikit candaan


"berarti gua masih hidup? masa sih? gua pikir kau beneran malaikat. Mana Ada manusia setampan ini, gua belum pernah melihatnya." jawab bulan penuh selidik. Memperhatikan tiap inchi tubuh yang berdiri di depannya. Bulan mencubit pipi itu membuktikan bahwa ini benar benar nyata.


"aaauuuwwww..... hey apa kau ini benar benar sudah Gila?" tanyanya.


"jadi?? masih malaikat tampan kah??" tanyanya menggoda bulan dan memainkan alisnya.


"masih." jawab bulan asal.


"eh... ma----maksut gua terima kasih." sambungmya lagi dengan gugup.


"kau se......" belum sempat bertanya ada suara dari arah belakang.


"hey bung lepaskan wanita itu, dia milik kami malam ini." Kata seseorang Dari arah belakang.


Bulan dan laki laki itu menoleh ke arah suara itu. Bulan terkejut melihatnya. Dia berfikir berandalan itu tadi sudah tidak mengejarnya tapi dugaannya salah.


Berbeda halnya dengan laki laki tadi, menanggapinya dengan santai. Berbalik arah, memandangi bulan dari ujung kaki hingga kepala, menatap mata bulan penuh curiga. Bulan yang mulai menyadarinya menjitak kening laki laki tadi, tak meninggalkan rasa sakit sedikit pun terhadapnya.


"jangan berfikir yang aneh aneh. Mana mungkin wanita secantik ini menjual harga dirinya pada berandalan tengil seperti mereka. Kau yang benar saja!" Kata bulan padanya, mejawab pertanyaan yang mungkin beredar dipikiran laki laki itu.


"lihatlah Baju yang kau pakai? apa ini bisa dipercayai?" tanyanya dengan meremehkan dan menunjuk pakaian yang dikenakan bulan.


Benar.. Bulan saat ini menggunakan dress berwarna soft pink dengan pita di bagian pinggangnya, dress tanpa lengan itu menunjukkan kulit bersih bulan, apalagi dress itu hanya selutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang begitu Indah membuat siapa saja yang melihatnya menahan liur Nya. Dan kakinya yang telanjang tanpa alas itu mebuatnya nampak lebih sexy.

__ADS_1


Bulan menatap dirinya dari ujung kaki sampai ke bagian dadanya. Lagi lagi bulan menoyor kepala laki laki tadi seraya berkacak pinggang.


"kau sudah gila hah?? Bantu Lari dari mereka dulu nanti gua jelasin." kata bulan dengan kesal.


"gua ga butuh penjelasan apapun dari mulut lu." laki laki itu berjalan ke arah montornya meninggalkan bulan dengan para berandalan tadi.


"hey kauuu..." bulan memanggilnya tapi dia tetap saja berjalan ke arah montornya tanpa menghiraukan bulan.


Bulan menghembuskan nafas dengan kasar. Menyumpah serapahi laki laki tadi dengan penuh amarah dan makian.


Para berandalan tadi mulai mendekati bulan. Bulan yang dipenuhi dengan emosi yang memuncak hingga ke ubun ubun itu pun menambah semangat gairahnya untuk berkelahi.


Jangan salah!!


Walaupun dia terlihat anggun dan lembut tapi ada Banyak sisi laki laki yang tersembunyi dari dirinya.


Dua berandalan mulai mendekat, mencoba memegang tangan bulan dan meyeretnya. Dengan hitungan detik tangan mereka terhembas dari kulit mulus bulan. Mereka yang sedang dalam pegaruh alkhohol pun tersunggur Karena tidak bisa menjaga keseimbangannya. Mereka mencoba untuk berdiri mendekati bulan lagi, tanpa aba aba kaki mulus itu menendang perut mereka dalam satu hentakan, Mereka kembali tersungkur ditengah jalan.


Ketiga temannya pun mendekat, dua orang lainnya mencoba untuk membantu mereka yang terjatuh tadi. Dan yang satu mendekat ke arah bulan.


Bulan mulai mengambil kuda kuda. Melayangkan kaki jenjangnya ke arah wajah berandalan itu, dalam satu hempasan laki laki itu juga tersungkur ke jalannan.


Bulan mendekat, menarik rambut berandalan itu lalu memukuli wajahnya dengan segala tinjuan.


Tanpa disadari, salah satu dari mereka membawa kayu dan hendak memukul bulan dari belakang.


"BRUUKKK" ....


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2