
Waktu cepat berlalu, kereta pun tiba.
"Mami papi kita berangkat ya. Jangan merindu ya hehe.. " Pamit bintang.
"Hati-hati ya kalian. Ingat pesan mami bang, jagain anak gadis mami ya. Mereka berdua sangat berharga. " Pinta sang mami.
"Baiklah komandan "
"Dan kamu matahari, ingatlah nak jangan pernah menoleh kebelakang. Lihatlah terus ke depan. Masa depan mu akan lebih panjang dari ini. Buatlah kisahmu seindah mungkin agar nanti bisa kau ceritakan pada keturunan mu nanti. " Titah sang mami.
"Baiklah mams aku akan selalu mengingat nasehat mamski. Terimakasih sudah menjaga dan merawat ku selama ini. aku takkan pernah melupakannya. " Kata matahari yang terus berterimakasih kepada nya.
"Ayooo lekas naik keteranya akan segera jalan. Bukan kebandung dan surabaya yak 😂 buruan kita harus nyari tempat duduk kita. Drama nya di udahin dulu yak. Kita sambung kapan kapan kalo mapi ke jakarta jengungkin kita orang. " Kata bintang dan menarik tangan matahari berjalan memasuki gerbong kereta dan mencari tempat duduk mereka.
__ADS_1
Akhirnya mereka menemukan tempat duduk mereka. Hanya ada dua kursi yang sejajar masih kosong disebelah kiri. Matahari memilih duduk di dekat jendela dan bintang duduk di sebelahnya.
Waktu pun berlalu dan kereta pun melaju menuju jakarta. Kota yang akan mereka tempati. mencari kesibukan dalam keramaian. Karena pasalnya di Jakarta bukanlah tempat yang pas untuk menyendiri, disana adalah kota yang terlalu sempit. Ralat bukan kota yang sempit, tapi kota yang luas tapi banyak penduduk hingga membuat kota menjadi sempit dan penuh polusi. Berbeda jauh dengan Yogyakarta yang damai dan tentram. Kota penuh para pelajar.
Tapi bagi matahari Yogyakarta akan tetap menjadi prioritasnya untuk pergi tapi akan bersemayam kembali.
Matahari melirik ke arah bintang yang didapatinya sedang tertidur pulas. Matahari kembali menoleh ke arah jendela. Merenung dan melamun itu yang selalu dilakukan gadis ini saat sendiri.
"Maa..paa.. apakah kalian tau? Apakah kalian mengerti? Tidakkah kalian memahami? Aku sebenarnya sangat benci dengan tempat keramaian. Tempat seperti ini. Di Terminal, di Bandara, di Stasiun seperti saat ini aku berada. Karena disana mereka melepas kepergian seseorang yang dicintainya tapi disana pula mereka akan memulai dan bertemu dengan orang yang mereka cintai. Antara pergi dan kembali. Antara ada dan tiada. Lihatlah ma.. pa.. Anak gadismu ini begitu rapuh serapuh rapuhnya. Apakah kalian tak ingin memintaku untuk bertemu kalian disana bertemu dengan grandma juga granpa. Aku lelah sekali, sangat sangat lelah. Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku. Tuhan memberiku kebahagian dengan berlimang harta, bahkan aku sendiri pun tak mungkin sanggup menghabiskannya. Tapi lihatlah kebahagiaanku ini? Begitu menyedihkan! Tuhan memberiku harta tapi Dia mengambil keluarga. Tuhan mengambil kalian dariku tanpa meminta izin padaku, Tuhan merenggut paksa kalian dariku hanya dengan sebuah kecelakaan. Aku terus mencoba untuk ikhlas dalam 3 tahun lalu, walaupun ku akui saat dalam keramaian pun aku masih sendiri. Aku berfikir, Setidaknya masih ada granpa yang mau merawatku hingga aku lulus SMA. Tapi lihatlah? Hanya sebentar saja aku bahagia dengan kelulusan ku dengan nilai terbaikku, hingga membuat seluruh sekolah dan keluarga bangga padaku. Tapi tak adilkah Tuhan yang tanpa izin mengambil grandpa dari sedikit bahagiaku? Kenapa seperti nya dunia tak berpihak padaku, mereka seolah membenciku tak pernah memberikan dukungan kepadaku. Apa salahku? Aku tak meminta apapun dari hidup ini, kecuali bahagia!
Merasa ada yang bergerak dari tangannya, bintang pun membuka matanya perlahan. Dan benar saja dia mendapati matahari terpejam dalam tangisnya.
Kini tangan kanan bintang menyentuh puncak kepala matahari dan mengusapnya dengan begitu lembut hingga sang empu menoleh kearahnya. Seketika itu kedua telapak tanganya menyentuh lembut kedua pipi matahari. Kedua ibu jarinya mengusap butiran butiran kristal yang berjatuhan tak beraturan itu, dia kecup kedua mata matahari secara bergantian lalu dia mengecup kening matahari dengan penuh kasih sayang. Dia tatap kedua manik matahari dengan dalam. mengalirkan hasrat kesedihannya agar berkurang.
"Dek, apapun yang kamu pikirkan saat ini, berhentilah untuk menangis. Abang tidak sanggup melihatnya. Sudah banyak kesedihan yang kau alami, saatnya kau untuk bahagia. Berjanjilah pada kakak mu ini kau tidak akan menangis lagi. " Pinta bintang
__ADS_1
Bukan senyuman yang didapat tapi malah isak tangis yang semakin mendebu. Lalu bintang pun meraih tubuh matahari dan memeluknya. Sangat erat dan Isak tangis itu semakin menjadi-jadi.
"Baiklah. Menangislah jika masih ingin menangis. Habiskan air mata mu disini untuk melepas kepergian. Setelah sampai disana berjanjilah, hanya senyum dan tawa yang harus kau perlihatkan pada mereka. Kamu tak sendirian sayang, masih ada kami semua yang menyayangi mu. " Titah bintang.
Matahari pun mulai sanggup mengontrol emosinya. Bintang pun mengurai pelukannya, menyeka sisa sisa buliran kristal yang jatuh dan mulai mengering. Mengecup kedua mata matahari bergantian lalu mengecup keningnya kembali.
"Istirahatlah. Beberapa jam lagi kita sampai. Aku akan membangunkanmu nanti. " Pinta bintang yang diangguki oleh matahari.
.
.
.
.
__ADS_1
.