
"Benarkah?" Tanya matahari dalam kebingungannya.
"Mungkin ayah dan bunda tidak punya banyak uang makanya mereka tidak pernah bertengkar apalagi berteriak." Sambung matahari
"Kenapa begitu. aku sungguh tidak mengerti. Apa serumit itu menikah? " Tanya anak itu
"Heem... Mungkin seperti itu. Biasanya papa sama mama setelah bertengkar pergi keluar cari makan walaupun sebenarnya mereka juga pergi makan bersama. Bahkan juga mengajakku lalu sampai disana mereka saling meminta maaf. Tapi besok mereka akan mengulanginya lagi. benar benar menyebalkan bukan? " Cerita matahari pada anak itu
"Dan kata papa waktu om rey minta izin buat nikahin tante syerly papa bilang kalau nikah itu butuh uang banyak. Banyak sekali. Apa kamu punya uang sebanyak itu?" Sambung matahari
"Aku punya celengan ayam di kamarku. Kita bisa memecahkannya nanti malam untuk pernikahan kita" Kata anak itu dengan serius dan bangga
"Apa itu cukup? Kata papa uang nya harus banyak sekali. Kalau hanya satu ayam mana cukup? " Jawab matahari dengan raut wajah antara bingung dan sedih.
"Entahlah. Mungkin kita bisa bertanya sama ayah. Ayah pasti sekarang sudah pulang. Ayo kerumahku dulu dan bertanya padanya. " Kata anak itu dan beranjak berdiri dari bangku sambil menggandeng tangan matahari.
"Baiklah komandan"
Matahari pun berdiri dan berjalan bersama anak itu. Tak lupa menghampiri pengasuhnya dan mengajak ke rumah anak itu.
"Bibi ayo kita kerumah ayah Bima dan bunda Bella." pinta matahari pada pengasuhnya.
"Baik nona. Tapi ini sudah sore apa tidak sebaiknya kita pulang saja. Nanti Tuan besar akan marah jika nona pulang terlalu malam. " Kata pengasuhnya.
"Tidak bibi kita hanya sebentar saja, setelah itu kita pulang. " Pinta matahari lagi.
"Baiklah nona. Janji hanya sebentar ya. Karena hari ini nona sudah bermain seharian sampai lupa makan siang." Jawab pengasuhnya dengan khawatir.
__ADS_1
"Tenanglah bi, matahari akan tetap bersinar walaupun tidak makan siang sekali saja " Jawab matahari dengan cengengesan, benar-benar begitu menggemaskan bikin siapapun yang melihat ingin sekali mencubit pipi gempalnya.
"Ayo ikuti aku bi" sambung matahari.
*********
Setelah berjalan kaki 15 menit akhirnya mereka sampai di rumah ayah Bima dan bunda bella.
Bima ardiansyah yusuf adalah seorang pengusaha. Walaupun baru pemula tapi nama dan jasanya sudah dipakai oleh banyak perusahaan perusahaan terbesar di kota Yogyakarta. Dia bekerja sebagai designer dalam bidang properti. Bahkan jasa beliau juga pernah digunakan oleh perusahaan orang tua matahari untuk mebuat design sebuah gedung hotel yang akan di dirikan di Jakarta. Itu salah satu alasan kenapa kelurga Bima pindah keluar kota. Karena perusahaan meminta beliau langsung yg menggarapnya. Sedangkan Bella ayu yusuf adalah seorang model yang rela kehilangan pekerjaannya demi mengikuti seseorang yang dia cintai karena memang saat itu beliau hanya tinggal sedirian, orang tuanya sudah meninggal kerena kecelakaan jadi setelah bertemu dengan Bima dan mulai mengenalnya lalu mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah.
"Assalamualaikum " Salam anak itu dan matahari
"Wa'alaikumsallam nak" Sahut bella dari dalam rumah.
"Apa ayah sudah pulang bun?" Tanya anak itu.
"Belum sayang. paling sebentar lagi." Jawabnya lagi.
"Terima kasih bu" kata sang pengasuh.
"Bunda apa abang boleh bertanya pada bunda? " Tanya anak itu pada bundanya seolah banyak sekali pertanyaan dalam raut wajahnya.
"Tentu. Bertanyalah, bunda pasti akan menjawabnya." Sahut bella.
"Apa abang boleh menikahi matahari dan ikut bersama kita pergi. Aku tidak tega jika harus meninggalkan matahari sendirian, dia pasti akan merindukanku nanti dan akan menangis seharian didalam kamarnya. " Tanya anak itu sambil melirik matahari.
"Hey kenapa kau berbicara seperti itu. Tadi kau sendiri yang bilang akan merindukanku. Aku tidak mungkin merindukanmu. Pergilah jika kamu mau pergi. " Sahut matahari dengan tatapan yang tajam dan menelangkupkan kedua tangannya didepan dadanya.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda. Begitu saja marah. Dasar wanita suka sekali marah. " Sahut anak itu sambil meledek matahari.
"Aku tidak marah. Kau hanya saja menyebalkan." Kata matahari mengerucutkan bibirnya kedepan.
"Lalu kalau kau tidak marah kenapa bibirmu bengkak kedepan seperti itu. Macam mainan bebek anak tetangga. " Ledek anak itu.
"Apa kau sedang menghinaku. Coba katakan sekali lagi. Akan aku cubit bibirmu sampai terbelah jadi dua. " Ancam matahari.
"Tanpa kau cubit pun bibirku sudah menjadi dua bagian. Yang satu dibawah yang satu diatas. lihatlah. " Tunjuk anak itu dengan senyum tanpa dosa.
"Terserah kau saja. Aku tak ingin membuang tenagaku untuk bertengkar denganmu. " Kata matahari.
"Memang seharusnya begitu. Wanita harus selalu mengalah kepada laki laki " Jawab anak itu dengan bangga.
"Apaaahhhhhhhhh? Kenapa harus begitu? Apa benar begitu bunda? Apa bunda selalu mengalah sama ayah. seperti yang dibilang abang? " Tanya matahari pada bella yang tak percaya.
Sedangkan yang diberi pertanyaan hanya senyum senyum saja, melihat tingkah konyol kedua ank kecil yang ada didepannya.
"Mungkin sayang. Tapi tidak semuanya harus begitu. Pasti ada alasan dibalik kita harus mengalah." Jawab
bella.
"Dan abang kenapa bertanya ingin menikahi matahari? " Sambung bella.
.
.
__ADS_1
.
.