
dinner ..
"gimana tadi pas dikampus?" tanya bintang disela kegiatan makan malamnya.
"lancar. Kan cuma jalan jalan doang." jawab bulan.
"seminggu lagi baru masuk efektif bang." sambungnya lagi.
Dimeja makan yang biasanya didominasi dengan suara kas matahari tapi kini seakan suaranya lenyap ditelan bumi. Sesekali jika bulan melayangkan lelucon dia hanya tersenyum yang dipaksakan. Dan semua itu tak lepas dari pandangan bintang. Membuatnya merasa bersalah telah menutupi semuanya. Sebenarnya dia telah kecewa padanya yang menghilang dadi sang adik tanpa kabar Dan penjelasan, membuat adiknya menunggu terlalu Lama dengan sebuah harapan yang sia sia.
singkat cerita...
Sebenarnya dia si langit Riyadh yusuf, selalu memberi kabar kepada matahari saat Dia masih tinggal dijakarta melalui Teflon rumah. Padahal saat itu sudah ada aplikasi komunikasi yang lebih modern seperti line bbm whatsapp dan berbagai aplikasi sosmed lainnya, tapi entahlah kenapa dia malah memilih Teflon rumah untuk sekedar berbagi kabar. Sering kali matahari meminta nomer ponsel atau akun sosmed nya agar lebih mudah untuk memberi kabar, tapi selalu saja banyak alasan untuk tidak memberinya. Ingin sekali matahari bertanya pada sang kakak, tapi dia terlalu takut untuk melakukannya.
Hingga tiba matahari memasuki bangku SMP, langit tidak lagi memberi kabar kepada matahari. Saat itu langit memasuki bangku SMA dan saat itu dia Pindah sekolah ke German. Berulang kali matahari mencoba menghubungi tapi tidak bisa terhubung. Setiap hari matahari terus mencoba dan hasilnya tetap sama. Matahari mulai berhenti untuk berharap lebih, walaupun hati tak dapat dipungkiri untuk tetap tinggal. Mencoba menata hati agar tetap terjaga untuk teman dimasa kecilnya itu.
Hingga tiba Dimana kecelakaan kedua orang tuanya terjadi. Kecelakaan yang merenggut kebahagiaan masa mudanya untuk bermanja dengan kedua orang tuanya. Sempat dua kali matahari mencoba mengakhiri hidupnya. Lompat dari balkon kamarnya setelah sehari kepergian kedua orang tuanya. Untung saja saat itu ada penjaga rumah yang sedang berkeliling, dengan sigap menangkapnya dari bawah. Yang kedua kalinya semingu setelah kepergiannya, mengurung diri dikamar, hanya membuka pintu saat para art mengantarkan makan. Bahkan semua orang sudah membujuknya termasuk bulan bintang Dan sahabat matahari yang bernama sinar. Setidaknya sinar mampu membujuknya untuk makan walaupun hanya beberapa suap. Hanya membuka mulut untuk sekedar mengunyah, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Hingga malam menjelang, matahari membuka sebuah laci dan menggenggam sebuah botol obat yang terisi penuh. Dia berjalan menuju tepi ranjang masih dengan menggenggam botol tersebut. Di duduk disana, tatapannya kosong seperti manusia yang hidup tak berarah. Dia buka botol itu, menuangnya hingga separuh ditelapak tangannya, dia paksa genggaman itu masuk kemulutnya. Mengambil air putih yang selalu tersedia diatas mejanya. Dia telan semua dengan air putih itu hingga berlarut masuk ke tenggorokannya. Meminum habis air itu hingga tak bersisa dan mengembalikannya diatas meja. Dia rebahkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit langit dinding kamar dengan tatapan sendu. Buliran buliran Kristal berjatuhan membasahi pipinya, tak ada suara hanya air mata yang mengungkapkannya. Hingga tatapan mata itu kian berkunang dan menutup dengan sendirinya, entah tertidur atau sedang pingsan. Hingga esok hari dia ditemukan oleh sang kakek yang baru saja pulang dari German untuk mengadakan acara tujuh hari kematian anaknya, dengan wajah yang pucat, badannya terasa dingin dan mulutnya penuh dengan busa. Matahari langsung dilarikan kerumah sakit. Dia mengalami koma hingga seminggu lamanya dan mengalami depresi berat ketika dia tersadar.
__ADS_1
kembali ke meja makan ya guys...
"jika sudah selesai makan beristirahatlah." ujar bintang menyelesaikan makannya dan beranjak berdiri meninggalkan meja makan.
"OH ya, matahari mami menanyakan anak kesayangnya. Sepertinya kau mengabaikan ponselmu beberapa hari ini." kata bintang saat berjalan didekat matahari.
"Jangan bertanya apapun tentangnya, jika dia masih mengingatmu dia pasti mencarimu. Jika sampai saat ini dia tidak mencarimu harusnya kamu mengertikan." kata bintang kembali.
Matahari tidak menjawab, hanya menoleh, lalu beranjak dari duduknya. Mencoba menahan rasa sakit dalam hatinya. Matanya terlihat berkaca kaca. Mencoba menahan setiap buliran Kristal yang siap mendinginkan wajahnya. Dia terus berlari, menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Tempat dimana dia bisa mencurahkan isi hatinya. Tempat yang nyaman untuk dapat menangisi keadaannya.
"abang kau menyakitinya!" teriak bulan. Mencoba memgejar matahari.
Matahari POV
Kamu dimana? mengapa sampai saat ini tidak menemui dan mencariku? apakah mungkin saat ini memang telah ada yang memiliki hatimu? apakah dia membuatmu bahagia? apa dia membuatmu nyaman? Jika tidak cobalah mencariku. Cobalah mengingat janji janjimu dulu. Aku akan berlapang dada untuk menyambutmu, walapun itu terlambat sekalipun. Tapi jika orang lain sudah berada dihatimu, membuatmu nyaman dan bahagia, aku ikhlas. Aku akan merelakanmu bersama yang lainnya. Walupun aku tau itu takkan mudah untuk menghilangkan rasa ini.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
*******************************************
**Hey readers yang suka Baca novel..
assalamualaikum wr wb
marhaban ya ramadhan. Hari ini kita memasuki bulan Suci ramadhan dan melaksanakan ibadah puasa bagi yang beragama Islam. Sebelumnya author mohon maaf yang sebesar besarnya apabila ada salah Kata yang disengaja ataupun tidak disengaja**.
__ADS_1
Terima kasih untuk pembaca yang sudah like comment dan memberikan vote. Bagi yang belum mohon dukungannya ya kakak, agar author nya jadi bersemangat dalam melanjutkan kisah matahari sigadis kecil ini.
salam peluk dan sayang aku dari jauh yups 😘😘😘😘💕💕💕