
Selesai dengan urusan kampus mereka langsung pulang. Kali ini bukan pak Bagus yang menjemput. Melainkan hengky dan bintang. Mereka berdua akan menghadiri pertemuan dengan clients disebuah caffe dekat kampus sekalian mengadakan makan siang. Karena sebelumnya bulan sudah mengirim pesan pada bintang akan pulang setelah makan siang, jadi sekalian mereka pulang bersama.
Setelah lebih dari setengah jam bulan dan matahari menunggu kedatangan bintang dan hengky didepan gerbang kampus, akhirnya mereka datang juga. Tanpa penyambutan bulan dan matahari langsung nyelonong masuk kursi penumpang.
Tidak ada percakapan diantara mereka, keadaan hening membuat suasana di dalam Mobil sunyi seperti tak berpenghuni.
Tapi tidak dengan matahari yang diam seribu bahasa, dalam segala pikiran yang berkecamuk mengiang dikepalanya. Tentang laki laki yang selama ini menguasai hatinya. Setelah bertemu dengan pria tadi, namanya selalu menghantui pikirannya. Hingga matahari memberanikan diri untuk bertannya tentangnya.
"bang?" panggil matahari pada bintang.
"hemmmm.." jawab bintang.
"apa abang pernah melihatnya?" tanya matahari.
"siapa?" jawab bintang singkat.
"Dia. Teman kecil abang." tanyanya kembali.
Bintang pun seketika menoleh kebelakang, melihat matahari sekilas lalu kembali menghadap lulus kedepan. Bulan yang tadinya acuh terhadap percakapan mereka pun menoleh tak beda jauh dengan sang kakak. Bintang pun menerka nerka apakah matahari sudah bertemu dengannya. Dan lagi lagi bulan juga sepemikiran dengan sang kakak. Padahal hari ini dia terus bersama matahari. Bulan memang belum pernah bertemu dengannya, jadi belum tau seperti apa wajahnya. Tapi sepertinya sejak tadi tidak bertemu dan bertegur sapa dengan seorang pria.
Bintang melihat kembali ke arah matahari, terlihat dia sedang menghembuskan nafas kasar membuat matahari menatap penuh curiga, tapi kembali focus kedepan.
Bintang pun menjawab rasa penasaran matahari.
"adik Kecil abang sepertinya sudah besar." ujar bintang tanpa memalingkan wajahnya yang terfokus pada jalanan, walaupum dia sedang tidak mengemudi. Wajahnya terlihat tegang dan penuh penyesalan.
"kenapa? apa ada yang abang sembunyikan dariku?" Tanya matahari menunggu jawaban sang kakak.
Bintang masih terdiam dalam seribu bahasa.
Seharusnya bintang memberitahu sejak awal, seharusnya Dia memperingatinya agar melupakannya, seharusnya Dia meminta untuk mencari penggantinya, bukan malah membiarkannya terus menanti tanpa kepastian. Tapi apa daya, Dia tidak bisa melakukannya. Mungkin mulut dapat berbicara, tapi tidak dengan hati. Perkataan bisa untuk melarang, tapi tidak dengan tindakan.
Semua tergantung pada hati. Hati yang merasa. Kita tidak bisa memaksa hati untuk berhenti mencintai, walaupun kita tidak dapat memilikinya. Setidaknya kita bisa memaksa hati untuk berhenti berharap. Berhenti untuk mengejar segala sesuatu yang tak pasti arah membawa. Melupakan ego untuk dapat memiliki. Percayakan pada Tuhan semua pasti sudah di atur oleh-Nya dalam setiap takdir-Nya.
Bintang pun belum menjawab sepatah kata apapun kepada matahari. Dan Tak terasa Mobil Sudah berhenti didepan rumah mereka. Akhirnya bintang bisa sedikit lega tentang pertanyaan matahari yang mendadak, setidaknya dia bisa mengumpulkan kata kata bijak untuk mengatakannya nanti.
"sudah sampai adik adik pintar. Cepat turun." perintah bintang.
"bang!" panggil matahari.
__ADS_1
"abang harus kembali ke kantor sayang, turunlah. Kita lanjutkan nanti." ujar bintang tanpa menoleh pada matahari.
"baiklah." Jawab matahari lesu.
Matahari pun turun, tanpa menghiraukan bulan dan berpamitan pada sang kakak. Dia meninggalkan mereka begitu saja.
Bulan pun menyusul matahari dan Mobil bintang Sudah pergi menuju kantor.
Didalam Mobil dia Hanya terdiam. Sesekali hengky melirik boss nya dengan seribu pertanyaan di kepalanya tapi IA urungkan, Karena saat ini dia sedang mengemudi dan sepertinya keadaan bossnya sedang sangat kacau. Mobil terus melaju, hingga tiga puluh menit kemudian Mobil sudah terparkir di depan kantor. Mengerjakan rutinas dikantor seperti biasanya hingga jam pulang menjelang.
*****************
dirumah...
tok tok tok
"ta, lu GA mau cerita sama gua? buka pintu dong!" bulan terus berusaha membujuk matahari.
"Lu yakin tetep GA mau buka pintu, baby?" terus mencoba.
"inget,, jangan melakukan hal yang aneh aneh. Gua pergi ke kamar. Kalo butuh sesuatu bilang aja ya." bulan masih berusah.
"oke kalo gitu, bye.." bulan pasrah.
cekrekk
"masuklah." ujar matahari pelan. Berjalan mendahului bulan, menghempaskan tubuh ke atas ranjang dengan kasar.
BRUKk
Bulan mendekat, Dan diapun melakukan hal yang sama.
BRUKk
"hufftttt." bulan menghela nafas kasar.
"kenapa?" tanyanya sambil memejamkan matanya.
"enggak apa apa." jawab matahari singkat.
__ADS_1
"yakin?" tanyanya lagi.
"heemmm."
"ah.. lu GA asik baby. Kita itu bukan hanya sekedar saudara, tapi udah kayak sahabat. Lu yakin GA mau cerita? Gua siap dengerin kok." tanyanya lagi.
"gua GA apa apa." Jawab matahari mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Terserahlah. Gua juga Capek mau istirahat. Capek bicara sama orang yang sok baik baik aja kayak lu. Capek ngomong sama orang yang berusaha untuk tegar padahal hatinya sedang rapuh. Berhentilah bersikap seperti ini dihadapan gua! Gua tau ta! please berbagilah, kita bisa menangis bersama, gua tau terkadang lu GA sekuat itu." Bulan beranjak duduk, menghela nafas lalu menatap matahari penuh pengharapan.
"apa salah jika menunggunya?"
Akhirnya matahari pun berbicara, tetap pada posisinya, menatap langit langit dinding kamarnya.
"apa salah jika masih berharap?"
"apa salah jika ingin memilikinya?"
"apa salah jika mencintainya?"
bertubi tubi matahari bertanya pada bulan.
Bulan merebahkan tubuhnya kembali diranjang. Menatap langit langit dinding Kamar. Apa yang dipikirkan sang kakak benar terjadi adanya. Lambat laun dia akan bertanya tentangnya. Karena yang dia tau sang kakak berteman baik dengannya. Bahkan satu universitas saat Di German. Dan matahari mengetahui itu, hanya saja kakaknya selalu saja mencoba untuk tidak membahasnya.
"Tidak ada yang salah." jawabnya singkat.
"kamu tau? Jika suatu saat nanti. Tuhan GA ngasih apa yang Lu minta dari sekarang. Itu artinya ada rencana Tuhan yang lebih baik dari yang Lu inginkan. Jauh lebih indah daripada semua yang telah ditata sebagai angan untuk masa depan Lu. Jadi Lu GA boleh keseringan mengeluh dan merasa cukup sampai disini. Karena pemahaman kita tentang apa yang Tuhan rencanakan tidak bisa jauh dan harus yakin yang Tuhan berikan GA cukup sampai disini." ujarnya panjang lebar penuh nasehat.
"Ketika kita bangkit dipagi hari, pikirkan betapa istimewanya hidup ini, diberikan kesempatan kedua di hari esok untuk membuka mata kembali. Untuk bernafas, berfikir, menikmati dan saling mencintai." Katanya lagi.
"tidak Ada yang bisa kembali dihari kemarin dengan kenangan yang sama pada awal yang baru. Tetapi siapapun dapat memulai hari ini dan membuat akhir cerita yang baru." Katanya kembali.
"berhentilah berharap pada hal yang tak pasti baby."
kembali lagi bulan menasehati matahari.
"Bila memang dia bukanlah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuk gua, setidaknya gua bersyukur sudah mencintainya, tanpa harus memiliki. Gua hanya ingin melihatnya, melihat dia tersenyum, melihat dia tertawa dan melihatnya bahagia, walaupun tak bersamaku sekalipun. Gua GA bisa maksain hati gua buat berpaling darinya, seluruh ruang hati ini sudah terpenuhi Kenangan indah masa kecil bersamanya. Ingin rasanya menghilangkannya. Tapi tidak pernah bisa. Malah semakin merindukannya" ujar matahari.
"apa yang akan lu lakuin jika dia sudah memiliki seseorang yang membuatnya nyaman?" Tanya bulan.
__ADS_1
"berhenti berharap untuk memiliki seperti kata lu tadi." jawab matahari.
Tapi apa salah jika aku percaya pada harapan, Karena keajaiban terjadi setiap hari. Mungkin aku akan kecewa jika gagal, tetapi aku bakalan lebih hancur jika tidak mencobanya kembali. Bukankah hidup selalu menawarkan kesempatan kedua? setiap hari mungkin tidak selamanya baik, namun akan selalu ada kebaikan disetiap hari. Itulah alasanku bertahan hidup dan tidak menyerah. Biarkan aku memcintaimu dalam diam jika takdir tak memihak kepadaku untuk memilikimu 💕