
"Pagi menjelang siang pa ma?" Ucap Matahari bertanya pada batu nisan yang dianggapnya kedua orangtuanya dan meletakkan bunga itu disampingnya.
"Pa ma ku bawakan bunga lily untuk kalian." Ucapnya kembali dan menaruh bunga itu di atasnya tanah yg kotor.
"Pa sekarang ata sudah menjadi wanita karier seperti yang papa inginkan. Papa pasti bangga kan? Harusnya papa memberikanku kakak laki-laki atau setidaknya adik laki-laki yang bisa membantu ku mengerjakan ini semua. Ini melelahkan pa!! Sebenarnya ata ingin sekali menyerah, tapi keluarga mereka bergantung padaku pa!! Karyawan papa banyak sekali. Aku saja sampai tak mampu mengenalnya satu persatu. Apa papa tau? Keponakan papa yang menyebalkan itu selalu mendoktrin ata untuk terus bekerja dan bekerja. Aku bahkan bekerja sampai lupa yang namanya akhir pekan dan berlibur. Dia benar-benar iblis bisnis pa!! Kata-katanya selalu di setujui para klien saat meeting. Bahkan mereka seperti terkena hipnotis, hanya bisa mengangguk dan berkata -iya-.
Pa...!! Suatu saat nanti ata juga ingin punya suami sepertinya. Jadi ata tidak perlu bekerja keras lagi." Ucap Matahari pada nisan papanya. Dia tidak menangis, air matanya sudah lelah untuk terus mengalir jika harus tetap merutuki kehidupannya.
Lalu dia berpindah pada nisan mamanya. Terlihat jelas guratan wajahnya yang berbeda dan lebih sedih. Air di ujung kelopak matanya sudah ingin terjatuh. Setiap membahas mamanya selalu saja seperti ini. Mungkin benar! Ikatan seorang ibu dan anak itu lebih kuat dibanding dengan ayahnya.
"Ma... Bagaimana disana? Apa ada banyak laki-laki tampan disana ma? Kalo ada kirimkan satu untuk ata ya ma, biar bisa jadi kakak atau adik buat ata! Ata capek ma kalo harus sendirian seperti ini. Kalo nikah aja gimana ma? Ah pasti aku bakalan dijadikan makanan hiu sama abang ma!! Ah tidak!! Mungkin aku bakal di cincang dulu ma biar jadi potongan keju yang nikmat sebagai umpan ma!! Mama pasti sudah tau dengan jelas kan gimana kerasnya abang sama adik-adiknya?
Ah tidak ma! Dia bukan keras melainkan karena dia juga tidak bisa keluar rumah saat jam malam tiba. Jadi dia melampiaskan pada kami hihi. Dia curang kan ma! Jahat sekali ya ma!
Coba aja kalo abang kakak kandung ku ma, setidaknya aku masih bisa bermain-main dan jalan-jalan sesuka hati tanpa harus memikirkan keadaan orang lain. Aku lebih rela jika seluruh warisan ini untuknya ma, setidaknya ata tidak perlu berfikir terlalu keras ma. Mana pasti sudah tau seberapa banyak karyawan papa. Kenapa mama tidak bilang dari dulu, setidaknya ata bisa mengenal mereka lebih awal.
Maaf ya ma kalo ata terlalu cerewet. Sudah lama ata tidak pernah curhat jadi semua aku titipkan sama mama saja. Akhir-akhir ini Bulan terlalu sibuk dengan butik dan kuliahnya ma. Sebenarnya kita satu kampus dan sekelas juga ma, tapi setelah mata kuliah selesai kita punya tujuan masing-masing. Dia ke butik dan aku ke kantor ma. Harusnya aku tak perlu kuliah lagi ma, karena aku sudah mengusai semuanya ma.
Ma boleh tanya ga??
Mama kan tinggalnya diatas, mama tau tidak dimana sinar berada? Katanya dia mau nyusul ata kalo dia sudah di Jakarta, tapi sampai saat ini dia tidak muncul ma. Dia juga bilang mau kuliah ditempat aku kuliah ma tapi dia juga tidak muncul ma. Bahkan nomer ponselnya juga tidak bisa dihubungi ma!
Apa dia marah sama ata ya ma? Tapi apa salah ata ma?
Atau dia lagi punya masalah ya ma? Harusnya dia memberi kabar sama ata dan tidak membuat ata berfikir yang tidak-tidak." Ucap Matahari sambil menyeka buliran bening yang menggaris lurus dipipinya.
"Oh y ma pa ata balik duluan ya? Ata sampai lupa kalo ada yang nungguin ata di taxi. Ata juga sampai lupa bilang sama kalian kalo aku sudah bertemu dengan bang Langit. Dia lagi nungguin ata di dalam taxi sana. Tadinya dia mau ikutan kesini ma cuman kepalanya agak sedikit pusing jadi ata suruh tunggu di dalam taxi saja. Kalo gitu ata pamit pulang ya pa ma! Selamat menuju siang." Ucap Matahari dan beranjak dari duduknya. Di lihatnya kembali kedua batu nisan itu.
"Ata akan jadi wanita terkuat untuk kalian berdua." Ucapnya kembali sebelum meninggalkan pemakaman kedua orangtuanya.
__ADS_1
. . . . . . .
"Maaf lama." Ucap Matahari setelah sampai didalam taxi tanpa menoleh ke arah Langit karena sibuk membersihkan sisa-sisa kotoran tanah yang menempel pada celana jeans yang dikenakannya.
"Bang! Kok diem marah ya?" Ucap Matahari kembali karena tidak mendapatkan jawaban dari Langit.
"Astaga bang!!" Pekik Matahari saat melihat ada darah yang keluar dari hidung Langit. Dia guncangkan kedua bahu Langit tapi tak ada respon darinya. Matahari pun semakin panik.
"Pak antar kami ke rumah sakit terdekat. Cepat Pak!!" Pinta Matahari pada sang sopir taxi.
"B-Baik Nona!" Ucap sang sopir tak kalah paniknya.
Mereka pun bergegas ke rumah sakit terdekat
Tak butuh waktu lama. Karena jalanan yang sepi membuat taxi ini bisa berjalan lebih cepat. Lima belas menit sudah berlalu dan mereka sudah sampai di depan UGD rumah sakit.
"Tuhan, tak ingin kah Engkau memberi ku sedikit bahagia? Kenapa mereka yang menyayangi ku harus Kau rebut paksa dari kehidupan ku? Apa salah ku?
Aku seperti mendapatkan kutukan dari alasan di masa lalu.
Kenapa? Kenapa Tuhan?" Ucap Matahari lirih di isak tangisnya.
Biarlah semua orang yang berlalu lalang di depannya melihatnya merasa iba. Merasa kasihan dengan deritanya. Dia tak ingin menghiraukan apapun kecuali kata baik-baik saja yang keluar dari mulut dokter yang menangani pujaan hatinya.
Ingin berteriak sekencang-kencangnya agar dapat melegakan hatinya yang rapuh tapi dia sadar, dia sedang berada di rumah sakit yang selalu menjaga ketenangan pasiennya.
Krek..
Terdengar jelas sebuah pintu yang terbuka. Matahari pun berjalan mendekat ke arah dokter dan para pengawalnya yang mengenakan seragam putih sama dengannya keluar dari ruangan tempat Langit berada.
__ADS_1
"Bagaimana kedaannya dok?" Tanya Matahari tidak sabar.
"Apa anda keluarga pasien?" Tanya sang dokter.
"Benar dok, saya adiknya. Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Matahari kembali dengan berbohong atas statusnya.
"Anda bisa ikut keruangan saya." Ucap sang dokter.
"Baik dok." Jawab Matahari dan mulai berjalan mengikuti sang dokter dari belakangnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
~Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 💕💕
__ADS_1